Tampilkan postingan dengan label bakti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bakti. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Mei 2016

Prajurit Kopassus Pecahkan Rekor Dunia, Melihat Orang Tua Langsung Cium Kakinya.. Masya Allah!

Mematahkan 55 buah balok es yang berderet sepanjang kira-kira 55 meter dengan tebal 15 senti meter menggunakan jidat bukan perkara mudah. Selain butuh keahlian tinggi aksi ini juga membutuhkan ketepatan dalam menempatkan posisi jidat pada titik pemecahan es balok.

Aksi ini juga butuh kecepatan gerakan dalam pematahan serta pengaturan pernafasan untuk memusatkan konsentrasi tenaga pada kepala. Namun hal itu bisa dilaksanakan salah seorang prajurit Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura, Sukoharjo, Sertu (Inf.) Kopassus Dwi Andi.

Prajurit asal Klaten ini pada Senin (4/4/2016) berhasil memecahkan rekor dunia Museum Rekor Indonesia (Muri) setelah mematahkan sederet balok es dalam waktu satu menit di Lapangan Bhirawa Yudha Grup 2 Kopassus, Kandang Menjangan, Kartasura, Sukoharjo.

“Ini berarti dia berhasll memecahkan rekor dunia Muri. Karena selama ini belum ada orang yang mematahkan balok es dengan kepala sebanyak 55 buah balok es,” ujar Senior Manager Muri, Ngadri, dikutip dari Solopos.com.

Sebelumnya acara didahului dengan atraksi demo beladiri Merpati Putih oleh 84 prajurit Grup 2 Kopassus. Acara yang diprakarsai Danjen Kopassus Myjen TNI M. Herindra ini ditutup dengan pemberian penyerahan sertifikat Muri oleh, Ngadri.

Keberhasilan ini disaksikan ratusan tamu undangan termasuk masyarakat sekitar yang diundang untuk pemberian sembako, Wakil Bupati Sukoharjo, Purwadi; Wakapolres Sukoharjo, Kompol Andika Bayu; Wadan Grup 2 Kopassus, Letkol (Inf.) Andrian Triswasana; Pamen Ahli Kopassus, Kol. (Inf.) Saleh Mustafa; Asren Kopassus, Kol. (Inf.) Agus Sasmita; Kapen Kopassus, Letkol (Inf.) Joko Tri Hadi M dan sebagainya.

Sementara itu Dwi Andi seusai mematahkan seluruh balok es mengaku puas. Namun dia mengakui hal ini berat sekali.

“Tadi pada pematahan balok es ke 42, oksigen di badan terasa nol atau tidak ada. Karena itu pada akhir pemecahan balok es ke-55 saya sempat sempoyongan,” ungkap dia sambil menambahkan dia perlu latihan empat bulan untuk mematahkan balok-balok es tersebut.

Pada bagian lain orang tua Dwi Andi mengaku sempat waswas dengan aksi ini. Karena pematahan balok es dilakukan dengan jidat dan jumlahnya cukup banyak.

”Biasaanya jumlahnya paling hanya 30 sampai 40 buah. Maka dari itu ketika sekarang harus mematahkan 55 buah balok es saya juga deg-degan,” ujar ibu Dwi Andi, Wiwik Handayani, 58, dengan mata berkaca-kaca karena terharu.

Menurut dia saat persiapan beberapa waktu lalu, Dwi sering kali menelepon dirinya untuk meminta doa restu dan mendoakannya. Hal ini membuat Wiwik selalu waswas ketika mendekati hari H pelaksanaan.

Terkait dengan hal tersebut Wiwik mengaku setiap hari mendoakan putranya yang akan mempersembahkan kebanggaan bagi korpsnya.

“Dia itu ibaratnya anak mama, jadi kalau ada apa-apa entah mau tugas ke mana atau hal penting lainnya dia selalu menelepon saya dan ayahnya,” kata dia.

Sedangkan ayah Dwi, Bambang Subianto, 64, mengatakan semula dia tak mengira Dwi Andi bisa masuk TNI. Karena fisik putra kedua dari empat bersaudara itu dinilai tak memadai, setelah menderita sakit berat.

Dia menjelaskan hal itu terjadi karena saat SMA putranya suka hidup tak teratur dan suka berkelahi. Namun sekarang dia bersyukur karena telah berhasil mencetak prestasi membanggakan.

“Dulu ketika masih SMA dia sering membela teman-temannya kalau berkelahi. Anak saya ini memang solidaritasnya kepada teman-teman tinggi,” kata dia.

Sementara itu suasana pematahan balok es berlangsung lancar. Setelah berhasil mencetak rekor Muri, Dwi langsung diangkat teman-temannya beramai-ramai sambil menyanyikan lagu-lagu penyemangat.

Terlepas dari itu semua ada adegan yang menerenyuhkan. Seusai mematahkan balok-balok tersebut Dwi yang dihampiri kedua orang tuanya langsung bersimpuh mencium kedua kaki mereka.

Kedua orang tua ini langsung mengusap kepala Dwi sehingga adegan mengharukan ini membuat mereka yang hadir hening sejenak.



(sumber: news.okezone.com)

Minggu, 08 Mei 2016

Renungan MasyaAllah.. Lelaki Ini Gendong Ayahnya Selama Berhaji

Kebaikan dan budi orang tua tidak akan pernah bisa dibalas oleh seorang anak. Walau dengan cara menggendongnya saat berhaji, Demikian seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW. Namun, bukan berarti menggendongnya waktu haji bukan sebuah pekerjaan yang mudah untuk dilaksanakan.


Suatu ketika ada salah seorang sahabat yang ingin membalas kebaikan ibunya. Kemudian dia menggendong ibunya untuk pergi haji. Ketika ibundanya bergerak sedikit saja, terlukalah kulit sang anak tersebut. Tapi dia selalu mengatakan, "Aku Ikhlas untuk ibundaku".

Dia berjalan di bawah terik sinar mentari padang pasir hingga sampai di Ka'bah. Bahkan ketika thawaf pun, terus digendongnya ibunya penuh dengan kasih sayang. Meskipun harus tertatih dan terluka, dia ikhlas karena inilah yang bisa dilakukan untuk ibundanya.

Kemudian dia bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, aku telah menggendong ibuku untuk berthawaf dan berhaji. Apakah aku sudah bisa membalas jasa ibundaku? Rasulullah SAW menjawab, ketahuilah wahai anak muda. Apa yang sudah kamu lakukan itu belum mampu membalas setetes darah pun waktu ibumu melahirkanmu.

MasyaAllah..
Dari sabda nabi tersebut kita bisa mengambil hikmah, salah satunya


adalah kenapa Nabi tidak mengatakan walaupun kamu menggendong saat shalat atau puasa?

Karena pada hakikatnya haji adalah ibadah yang paling berat daripada ibadah yang lain, karena selain dituntut istitho'ah, jamaah haji juga harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, secara lahir maupun batin. termasuk menjaga diri dari perbuatan fasiq, berbantah-bantahan dan perbuatan yang tidak diperbolehkan dalam agama selama prosesi haji berlangsung.

Baru-baru ini dilansir dari laman Emirates 24/7, Salah satu lelaki Pakistan yang tidak ingin disebutkan namanya tertangkap kamera sedang menggendong ayahnya yang lumpuh. Kejadian itu terungkap saat lelaki berusia sekitar 50 tahun itu melakukannya selama shalat Jumat di Arab Saudi.

Ia menceritakan ayahnya telah lumpuh sejak lama dan tidak bisa lagi berjalan layaknya manusia pada umumnya. ayahnya sejak dulu bermimpi ingin menunaikan ibadah haji. namun karena kondisi ekonomi dia harus menabung selama 15 tahun agar bisa mewujudkan keinginannya itu. Dia berjanji akan melakukan hal yang sama terhadap ayahnya (menggendongnya) saat beribadah haji nanti.

"Sebenarnya saya bisa mendorongnya dengan menggunakan kursi roda tetapi tidak ada yang lebih nyaman dan enak saya atau orangtua rasakan selain bahu saya" Kata lelaki tersebut.

Foto mengagumkan tersebut beredar di media sosial dan menuai pujian di sosial media seperti facebook dan Twitter. Mereka memuji perilaku anaknya yang shaleh tersebut, dan memuji ayahnya yang mampu mendidik anaknya dengan baik. Semoga kisah diatas mampu menginspirasi kita untuk bisa membalas kebaikan dan budi orangtua. Walaupun kebaikan mereka tidak akan pernah terbalaskan sampai kapanpun.

 


(Sumber muslimsatu.com)

Kamis, 21 April 2016

Kisah Bakti Seorang Anak Pada Orang Tuanya

Di antara sekian banyak orang yang lebih memilih memasukkan orang tuanya ke panti jompo atau menyewa suster untuk merawat… Dia… Lebih memilih melakukannya sendiri… Bakti anak kepada orang tuanya…

Tadi sore… Di sebuah masjid di perumahan elit kota bogor, “wan… Mau kemana… Gak makan makan dulu?” “lain kali aja… Udah sore… Pulang dulu… Sampai ketemu lagi ya… Salam buat keluarga”.

Saya lihat dia pergi tergesa gesa… Seseorang dari belakang saya berkata “gak usah aneh Rief… Dia itu subuh dan sore biasa mandiin ibu nya semenjak terkena stroke. Gantiin dan bersihin pampers kalo pup dan ngajak jalan jalan setiap pagi biar kena sinar matahari. Padahal dia kaya… Nyewa perawat juga bisa… Tapi dia gak mau… Malah dia urus sendiri semuanya… Dia gak pernah mau ambil job yang bikin dia harus nginap ninggalin rumah… Padahal proyek-proyek besar banyak yang perluin dia… Sabar banget dia.”

Saya tersenyum… Di antara sekian banyak orang yang lebih memilih memasukkan orang tuanya ke panti jompo atau menyewa suster untuk merawat… Dia… Lebih memilih melakukannya sendiri… Bakti anak kepada orang tuanya…

“pernah gak anda tanya kenapa dia mau seperti itu?”

” Pernah… Dia bilang… 9 bulan mengandung penuh beban, 2 tahun menyusui penuh menahan banyak hal dan larangan. Mengorbankan masa mudanya untuk bersabar membesarkan saya, menahan amarah atas kejahilan saya, kesalahan saya, kebodohan saya, keisengan saya. Mengorbankan kebebasannya untuk menjaga saya. Memastikan perut saya terisi makanan dan tidur dengan pulas disaat sering beliau tidur dalam keadaan menahan lapar dan tak tidur menjaga saya dari gigitan nyamuk. Tak kenal lelah memperhatikan saya. Menasehati dan memperjuangkan hidup saya dengan mengesampingkan perasaan ingin menikmati kesenangan kesenangan pribadinya.

Lalu…

Anak macam apa saya kalau membiarkan ibu diurus oleh bukan anak yang dibela belanya dulu?

Anak macam apa saya jika merasa berat mengurus ibu yang telah mati matian menyamankan dan mengamankan saya?

Anak macam apa saya jika membiarkan masa tuanya tanpa menerima kebaikan anaknya sebagai balasan atas pengorbanan hidupnya?

Anak macam apa saya jika pekerjaan dan uang lebih saya pentingkan daripada mengurus orang tua yang sudah jelas jelas sangat berjasa atas kehidupan saya?

Saya tak ingin menyesal jika ibu saya meninggal di saat saya belum buktikan cinta dan rasa sayang serta bakti saya kepadanya”

Sungguh sebuah bahan renungan yang sangat berharga bagi kita semua.



(Sumber: Islam Institute)

Kamis, 14 April 2016

Ternyata Menyeduh Secangkir Kopi untuk Suami Ini Mengalahkan Pahala Sunnah Setahun

Bakti seorang istri kepada suami sungguh mendapatkan keistimewaan dari Allah SWT dan telah disediakan keutamaan dan pahala yang luar biasa, walau untuk pekerjaan yang sepele.

“Hanya dengan menyeduh secangkir kopi kemudian menyajikannya untuk suami, pahalanya lebih utama dari si istri mengerjakan ibadah-ibadah sunnah selama setahun,” ujar Ustad Bawai ketika menyampaikan tausiah peringatan Maulid Rasulullah SAW di mejelis bulanan karyawati Banjarmasin Post Group.

Ulama di Banjarmasin ini mengingatkan ibu-ibu agar tidak menyia-nyiakan jalan menuju surga yang mudah diraih ini, dalam sehari-harinya.

“Beruntung sekali para istri dan ibu rumah tangga ini, banyak jalan menuju surga yang bisa diperoleh hanya dengan taat pada suami, karena itu nilainya kewajiban” ujarnya.

Catatannya, menurut dia, menyeduhkan kopi untuk suami dengan ikhlas dan menyajikannya dengan wajah manis .

“Misalnya tersenyum hingga menentramkan dan menyenangkan suami. Jangan sambil cemberut karena merasa terpaksa,” ujarnya.


Sumber: siraman_com

Kamis, 05 November 2015

Menikah dulu atau membahagiakan orang tua dulu ?

Pernah ketemu orang yang bimbang dengan pilihan antara membahagiakan orang tua dulu atau menikah dulu? , sehingga tak sedikit juga yang akhirnya menunda pernikahannya dengan dalih ingin membahagiakan orang tua terlebih dahulu, atau mungkin itu anda sendiri yang merasakannya? hehe.
Bagi anda yang jadi anak pertama, ditambah dengan memiliki banyak adik sementara orang tua sendiri memiliki penghasilan yang tidak mencukupi tentu ini menjadi masalah yang serius karena orang tua dan adik-adik menjadi. Dan yang lain adalah ketika seseorang yang punya impian seperti mau mengajak orang tua umroh dulu sebelum menikah, membelikan orang tua barang mahal dulu sebelum menikah serta alasan-alasan lainnya.

Sebelum menjawab pertanyaan “menikah dulu atau membahagiakan orang tua dulu”, ada satu hal yang harus kita perhatikan dan ingat yaitu tentang membahagiakan orang tua. Ada paradigma yang mesti diluruskan tentang hal ini apalagi ketika membuat pilihan menikah dulu atau membahagiakan orang tua?, seolah-seolah setelah menikah kita tidak bisa lagi membahagiakan orang tua, seolah-olah pernikahan menjadi “pemisah” antara anak dan orang tua. Padahal berbakti kepada orang tua adalah kewajiban anak hingga akhir hayat, tidak ada alasan untuk tidak berbakti kepada orang tua walaupun sudah menikah.

Bagi laki-laki kewajiban berbakti kepada orang tua tetap diutamakan setelah menikah apalagi kepada ibunya. Karena salah satu tanggung jawab laki-laki adalah bertanggung jawab atas ibunya. Apalagi jika orang tua sudah renta dan tidak lagi bisa bekerja maka jadi kewajibannya untuk menjaga dan merawat orang tua. Sementara bagi wanita setelah menikah kewajiban utamanya yang awalnya harus patuh dan taat kepada orang tua berpindah kepada suami, jadi bagi wanita ketaatan kepada suami jauh lebih utama dibanding dengan ketaatan kepada orang tua. Nah, agar tetap bisa berbakti kepada orang tua setelah menikah, maka carilah suami yang shaleh dan taat serta memahami keutamaan dan kewajiban berbakti kepada orang tua.

Sementara bagi anda yang memiliki tanggungan seperti membantu orang tua, membiayai adik atau keluarga, tidak ada masalah tetap melanjutkan menikah, jadi sembari menikah tetap membantu orang tua tentu dengan catatan harus dibicarakan dengan pasangan dan andapun memiliki kemampuan. Namun jika belum mampu untuk menjalankan keduanya, maka menunda pernikahan untuk sementara demi prioritas membantu adik-adik dan orang tua bisa menjadi pilihan terbaik.
Sumber: Elmina

Kamis, 08 Oktober 2015

Wahai Anak Lelaki, Lakukanlah Ini Ketika Orang Tua mu Meninggal

Inilah beberapa hal, khususnya buat anak laki-laki, ketika orang tuanya meninggal ...
Apabila Ibu Ayah kita meninggal, turunlah dalam liang kubur dan sambutlah mayat beliau, buka papan penutup keranda (tempat usungan mayat), angkat mayat Ibu Ayah kita.

Biarkan kita yang memutarkan mayat Ibu Ayah kita menghadap ke kiblat. Kita yang melakukan!!! Bukan hanya menyaksikan saja orang lain yang melakukan.

Allahu Robbi... " Ibu.. Terakhir kali ini aku melihat Ibu". Biarkan kita yang merelai ikatan di kepala dan di tubuh beliau.. Pegang perlahan-lahan badan Ibu kita, arahkan beliau dengan baik-baik, ambil gumpalan tanah dan letakanlah di belakang tengkok Ibu kita.

"Ibu, terakhir kali inilah aku melihat engkau". Terlintas dalam hati kita sambil memegang Ibu kita... Ingat sejak kita bayi, tangan Ibu kita ini yang mensuapi makanan ke mulut kita.

Ingat hari pertama
kita bisa berjalan, muntah, berak, beliau lah orang yang tidak pernah sedikit pun untuk menolak. Sebagaimana pun jahatnya anak terhadap beliau, kita tetap anak beliau dan selalu terima sebagai anak beliau.

Naiklah ke atas dan duduklah di tepi makam beliau serta dengarkanlah "Talqin" yang di sampaikan teruntuk Ibu kita. Hari terakhir ini lihatlah, tidak ada benda apapun yang bisa kita berikan untuk bekal beliau kecuali hanya Doa:

"Ya Allah.. Aku angkat tanganku Ya Allah.. Aku ridho Kau ambil Ibu ku Ya Allah..
Dia yang melahirkan aku.. Ya Allah hari ini aku tinggal dia Ya Allah, aku serahkan dia atas urusan Mu belaka Ya Allah. Aku tadahkan tanganku Ya Allah.. Aku memohon dengan sangat-sangat Kau ampunkan dosa-dosa Ibu ku, tolong Ya Allah.. Kasihani Ibu ku Ya Allah.. Aku adalah hasil didikan dari dia. Ya Allah sayangi dia Ya Allah.

Maka akan beruntunglah Ibu kita, apakah Allah akan menolak doa itu? Allah tak akan menolak doa ikhlas yang datang dari seorang anak.

Pesan ini bagi sahabat-sahabat yang selagi punya Ibu Ayah masih hidup. Dan Bagi sahabat-sahabat yang Ibu Ayah telah tiada...
Semoga bermanfaat....