Tampilkan postingan dengan label sakinah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sakinah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 April 2016

6 Langkah Membina Keluarga Sakinah Hingga Ke Surga

Rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah adalah idaman semua orang. Faktanya, menuju sakinah ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam perjalanannya akan banyak onak dan duri yang ditemui ketika dua pribadi disatukan dalam ikatan pernikahan. Tak jarang perbedaan kepribadian ini akan membawa perselisihan bila tak segera disikapi dengan bijak.


Pernikahan yang begitu indah di awal, lambat laun akan berhadapan dengan kenyataan. Pasangan yang dulu ketika masa taaruf terlihat begitu indah, menjadi sosok yang berbeda saat hidup seatap berdua. Di sinilah dibutuhkan saling memaklumi, pengertian, penerimaan, dan ketulusan dalam balutan takwa untuk menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan.

Sakinah bukan ada secara tiba-tiba. Ia butuh upaya terbaik dari dua manusia yang terikat di dalamnya. Apalagi ketika pernikahan ini tujuannya adalah mencapai jannah, maka butuh langkah tertentu untuk meraihnya. Di bawah ini adalah beberapa hal yang bisa diupayakan untuk menciptakan sakinah dalam rumah tangga.

1. Komunikasi. Tak ada masalah tak bisa diselesaikan selama terjalin komunikasi yang baik. Luangkan waktu bersama untuk duduk dan berbicara dari hati ke hati. Ungkapkan dengan jujur dan terbuka apa harapan masing-masing terhadap pasangannya.

2. Berpikir positif. Seberat apa pun masalah menghadang, biasakan berpikir positif tentang pasangan.
Ketika suami sedang murung, jauhkan prasangka negatif bahwa dia sedang marah pada istrinya. Bisa jadi dia hanya lelah atau sedang berpikir untuk mencari sumber baru bagi nafkah keluarga. Begitu sebaliknya, bila istri uring-uringan sikapi dengan tenang. Istri itu hanya butuh lebih diberi perhatian, sentuhan bahkan sekadar pelukan untuk meredakan bad moodnya. Stay positive, inilah yang akan menyelamatkan banyak hal insya Allah.

3. Hargai kepercayaan yang telah diberikan. Jangan mudah mengumbar rahasia, masalah atau aib pasangan terutama ketika hal tersebut adalah hal yang sangat penting baginya. Bila hal tersebut adalah masalah berat yang bahkan kita pun tak sanggup memikulnya sendirian, curhat pada Allah jauh lebih baik.

4. Jadilah pendengar yang baik. Ketika pasangan sedang berbicara, usahakan segala macam gadget, smartphone, HP, laptop dan semacamnya dijauhkan sementara. Fokuskan perhatian padanya saja karena itu menunjukkan betapa penting arti dirinya bagi kita.

5. Memaafkan. Manusia tempat salah dan lupa. Begitu juga dengan suami/istri kita. Memaafkan adalah kunci untuk membuka gerbang sakinah agar jannah sedia menerima kita, insya Allah.
Selingi dengan canda. Saling menggoda pasangan agar ia tersenyum dan berwajah ceria adalah garam untuk membuat rumah tangga terasa lezat. Jangan kaku, tegang atau terlalu serius ketika kekasih hati ada di sisi. Sebaliknya, rilekslah. Suami/istri kita adalah belahan jiwa yang kita merasa tentram di sampingnya. Nikmati kebersamaan yang ada.

6. Pernikahan adalah ibadah, sarana kita untuk semakin mendekat padaNya. Maka di setiap langkahnya, seharusnya nilai ketakwaan  terus menyertai. Satu sama lain adalah partner yang akan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Semoga upaya untuk menciptakan sakinah di dunia ini akan berujung jannah di akhirat kelak, amin. Wallahu alam.



Sumber : voa-islam.com

Jumat, 04 Desember 2015

Saling Mengerti Dan Berjanji Kunci Keluarga Sakinah dan Mawaddah

Mewujudkan rumah tangga yang bahagia tidaklah mudah. Perlu diketahui, rumah tangga yang sakinah dan mawaddah haruslah didasari dengan saling pengertian dan tidak mengingkari janji.

Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap permasalahan rumah tangga dengan menjelaskan asas pembentuknya dan sebab yang dapat melanggengkan ikatan rumah tangga tersebut. Tujuannya, agar rumah tangga itu menjadi kuat dan tidak tergoyahkan sehingga diliputi dengan rahmat dan kebahagiaan dari Allah Swt.

Janji pertama seorang suami kepada istrinya adalah ketika terjadinya akad pernikahan. Keduanya berjanji untuk saling setia berlabuh dalam bahtera keluarga. Janji itu digenggamnya erat-erat supaya tidak lepas. Namun anehnya, sebagian pasangan ada yang sengaja melepaskan janji-janjinya demi sebuah kesenangan sesaat.

Padahal, menepati janji hukumnya adalah wajib. Wajib bagi seorang suami untuk memberikan kenyamanan dan kebahagiaan kepada istrinya. Wajib pula bagi seorang istri untuk menjalankan amanah sebagai pasangan suami dalam menjaga kehormatannya dan mendidik anak-anak mereka.

Dan masih banyak lagi janji-janji dalam hidup ini yang harus ditepati oleh suami maupun istri. Orang yang tidak menepati janji akan tergolong sebagai orang munafik, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.
"Tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu bila berbicara dia berbohong, apabila berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanat dia mengkhianati." (HR. Bukhari dan Muslim)

Bila kita renungkan, sungguh janji itu mempunyai kedudukan yang penting untuk menilai kualitas keimanan seorang muslim. Maka, apabila seorang suami berjanji kepada istrinya, hendaklah ia menepati. Hendaklah seorang istri menepati janji-janjinya kepada suami agar kelak ia menepati surga Allah.

Begitu besar kedudukan janji dalam syariat Islam dan kehidupan berkeluarga. Oleh sebab itu, berhati-hatilah apabila membuat janji. Anda harus mengingat janji itu dan menepatinya. Namun, apabila ragu dan tidak dapat menunaikan atau menepatinya, maka janganlah sekali-kali membuat sebuah janji walaupun kepada pasangan sendiri.[reportaseterkini]

Sumber: http_www_reportaseterkini_com/2015/12/saling-mengerti-dan-berjanji-kunci.html