Tampilkan postingan dengan label AADC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AADC. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Mei 2016

Menguak 4 Pesan Tak Bermoral Film AADC 2

Sekuel film layar lebar Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) yang tayang akhir April lalu memang cukup bombastis. Raihan jumlah penontonnya dalam tempo delapan hari mencapai dua juta penonton. Namun film tersebut nyatanya menyisakan beberapa pesan yang bisa dikatakan tak bermoral untuk adab ketimuran.

Berikut beberapa adegan atau scene film yang disutradarai Riri Reza dan diproduseri oleh Mira Lesmana.
1. Keluyuran Berduaan Semalam Suntuk

Rangga (Nicholas Saputra) mengajak jalan Dian Sastrowardoyo (Cinta) berjalan satu hari satu malam penuh. Mereka menyusuri tempat wisata Jogjakarta hanya berdua saja. Dua orang berlain jenis berdua seharian tanpa ikatan pernikahan tentu sangat “bahaya”. Diam-diam scene ini membawa ke alam bawah sadar penonton seakan memberikan pesan bahwa berjalan berduaan dengan seorang “kekasih” itu tidak apa-apa dan hal yang positif bagi seorang tokoh protagonis. It’s not important message for cuek people!
2. Kissing Scene

Setelah puas keluyuran berdua, Rangga mengantarkan ke villa, tempat di mana Cinta menginap. Dalam adegan tersebut Rangga mencium Cinta.

French kiss tentu jauh dari nilai ketimuran dan ke-Pancasila-an sama sekali. Jika ada yang bilang film ini lokalitasnya tinggi ada benarnya karena ada Jogjanya sebagai lokasi syuting, tapi bagaimana dengan budaya bebas (maaf) nyosor? Apakah punya nilai lokalitas? It’s big no!
3. Kehadiran yang Merusak

Kehadiran Rangga merusak hubungan Cinta dengan kekasihnya, Trian, yang sudah dalam proses tunangan. Meski kita setuju tunangan tidak ada dalam Islam, yang ada itu khitbah. Paling tidak, jika sudah dipinang oleh seseorang, lelaki gentleman tentu tidak akan merebut begitu saja. Hanya gara-gara Rangga dan Cinta tak tahan menahan gejolak hati.
4. Puisi yang Beracun

Keberadaan sastra, seperti puisi itu untuk melembutkan hati. Bahkan di zaman perang puisi menjadi sebuah senjata simbolik yang mampu menggugah perasaan seseorang untuk mengangkat senjata dan menjadi pahlawan di medan perang. Bukan untuk menyerang hati orang yang sudah terpaut dengan hati yang lain. Hal itu yang dilakukan Rangga dengan membuat secarik puisi untuk meracuni hati Cinta yang sudah dipinang orang. Ini melayani keegoisan namanya.

AADC 2 memang bukan film religi dan kita tak berharap film ini mereligi, namun kita perlu menyelamatkan mereka yang sudah menonton agar tidak mengcopy paste perilaku Cinta dan Rangga.

Ok, don’t give up for love. Why? Because you have Allah who loves you, and that’s all you need. Wallahua’alam. [Paramuda/ BersamaDakwah]




(sumber: bersamadakwah.net)

Rabu, 11 Mei 2016

Ada Apa dengan Cinta (Al-Quran) ?

Perempuan itu menatap jendela taksi, di luar hujan begitu deras. Macet yang panjang bagai parkir raksasa juga tak terbantahkan. Sekali waktu menatap jam di pergelangan tangannya. Di saat itu ia ingin mengejar sang kekasih hati. Tanpa ba-bi-bu lagi, ia membuka pintu taksi. Menerobos hujan dengan berlari, botol air minum yang diacungkan sang sopir tidak ia gubris.

Di sebuah bandara, seorang laki-laki berbaju kotak-kotak panjang berlengan panjang berjalan lamban. Di saat bersamaan dan tempat yang sama ada perempuan mengejarnya. Nafasnya masih tersengal-sengal, baju dan rambut begitu runyam nan lepek.

Dengan muka yang pucat dominasi lelah, perempuan mengucapkan sesuatu kepada lelaki berbaju kotak-kotak itu yang ia duga adalah kekasih klasiknya. Inti ucapan tersebut adalah mengapa ia harus menghabiskan waktu belasan tahun untuk menunggu cinta yang tak jelas itu.

Bandara mendadak lengang. Detik kemudian, laki-laki berambut gondrong itu menoleh ke arah perempuan itu. Gotcha! Ternyata laki-laki itu bukan kekasih klasik sang perempuan. Hanya ada longoan.

***

Itulah adegan sebuah iklan minuman mineral yang menggambarkan bahwa sang perempuan salah memanggil kekasih karena gagal fokus. Kegagalan fokus tersebut disebabkan karena kurangnya minum air mineral.

Tidak, tidak. Di sini tidak akan mengajarkan untuk memperjuangkan cinta yang tak punya landasan kuat, cinta yang penuh per-PHP-an, cinta yang penuh gangguan serangga di hati hingga menguing dan mengganggu pagi malam. Tapi di sini ingin gambarkan, kondisi kita kurang lebih seperti itu jika jauh dari Al-Qurán. Seperti tubuh yang kurang air. Tak ada cinta terhadap Al-Qurán hingga ratusan purnama.

Kita jadi tidak fokus karena bolong-bolong membaca Al-Qur’an. Tidak fokus menata hati, sehingga tiada hari rasanya ada yang kurang kalau tidak nyinyir di duni maya. Suka mengharamkan segala cara yang dilakukan orang yang beda pergerakan. Hati sering ditimpa galau karena tak kunjung menemukan tambatan hati.

Seorang Asy Syahid Sayyid Quthub pernah mengatakan dalam muqaddimah tafsirnya,

“Hidup dalam naungan Al-Quran adalah nikmat. Nikmat yang hanya diketahui oleh siapa yang telah merasakannya. Nikmat yang akan menambah usia, memberkahi dan menyucikannya.“

Kenikmatan itu meliputi banyak hal, termasuk diri yang gampang fokus menata diri, fokus mengerjakan sesuatu karena mendapatkan ketenangan pasca membaca Al-Qur’an.

Sebuah penelitian dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan bahwa Al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.

Hal tersebut juga diperkuat dengan hasil uji coba oleh seorang peneliti bernama Muhammad Salim yang diorbitkan oleh Boston University. Objek penelitian dilakukan terhadap 5 orang yang terdiri dari 3 laki-laki dan 2 perempuan. Mereka tidak tahu sama sekali dengan bahasa Arab dan juga tidak diberi tahu bahwa yang bakal diperdengarkannya adalah kitab suci umat Islam yakni Al-Qur’an.

Allah juga mengingatkan kita dengan lembut, sebagaimana firmanNya dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28, yang artinya :

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram“

Jika mushaf Al-Quran bisa bicara, mungkin ia akan mengatakan kepada mereka yang jarang membacanya, yang tak mencintainya.  “Apa yang kamu lakukan ke saya itu JAHAT!”

***

Perempuan itu masih menatap jendela taksi. Gamang, ia pun keluar, menerobos hujan dengan menggunakan payung. Ia memanggil laki-laki berbaju kotak-kotak di ujung sana.

“Bisa antarkan saya? Saya harus pergi sekarang. Ada ujian masuk tahsin Al-Qur’an. Segera antarkan saya sebelum ratusan purnama!” ucapnya sambil membenahi jilbabnya kepada tukang ojek pangkalan.

Mungkin begitu penggambarannya. Wallahua’lam. [Paramuda/ BersamaDakwah]



(sumber: bersamadakwah.net)