Tampilkan postingan dengan label ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibadah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juli 2016

Tidurnya Orang Puasa Adalah Ibadah Ternyata Hadits Palsu, Benarkah Silahkan Baca Penjelasan Berikut

persoalan:

aku sempat mendengar orang mengatakan kalau tidurnya orang berpuasa itu merupakan ibadah. tetapi hingga dikala ini aku tidak ketahui, benarkah perihal itu? bahwa benar benar, apakah itu menggambarkan hadits nabi ataupun bukan? dan juga bahwa benar hadits nabi, riwayatnya dan statusnya gimana?
terima kasih atas jawabannya ustadz



jawaban:

assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

ungkapan serupa yang kamu sampaikan, ialah tidurnya orang berpuasa menggambarkan ibadah benar sudah acapkali kita dengar, baik di pengajian ataupun juga di bermacam peluang. dan juga amat kerap kita dengar di bulan ramadhan.

di antara lafadznya yang amat terkenal merupakan demikian:

" tidurnya orang puasa menggambarkan ibadah, diamnya menggambarkan tasbih, amalnya dilipat - gandakan (pahalanya) , doanya dikabulkan dan juga dosanya diampuni. "

walaupun di dalam isi hadits ini terdapat sebagian perihal yang setimpal dengan hadits - hadits yang shahih, serupa permasalahan dosa yang diampuni dan pahala yang dilipat - gandakan, tetapi spesial lafadz ini, para ulama setuju berkata status kepalsuannya.

merupakan al - imam al - baihaqi yang menuliskan lafadz itu di dalam kitabnya, asy - syuab al - iman. kemudian dinukil oleh as - suyuti di dalam kitabnya, al - jamiush - shaghir, seraya mengatakan kalau status hadits ini dhaif (lemah).

tetapi status dhaif yang dikasih oleh as - suyuti malah dikritik oleh para muhaddits yang lain. bagi mayoritas mereka, status hadits ini bukan cuma dhaif namun sudah hingga derajat hadits maudhu (palsu).

hadits palsu

al - imam al - baihaqi telah mengatakan kalau ungkapan ini bukan menggambarkan hadits nabawi. karna di dalam jalan periwayatan hadits itu ada perawi yang bernama sulaiman bin amr an - nakhahi, yang perannya merupakan pemalsu hadits.

perihal senada
di informasikan oleh al - iraqi, ialah kalau sulaiman bin amr ini tercantum ke dalam catatan para pendusta, di mana pekerjaannya merupakan pemalsu hadits.

pendapat al - imam ahmad bin hanbal rahimahullah pula terus menjadi memantapkan kepalsuan hadits ini. dia berkata kalau sang sulaiman bin amr ini benar betul - betul seseorang pemalsu hadits.

terlebih lagi lebih keras lagi merupakan ungkapan yahya bin main, dia bukan cuma berkata kalau sulaiman bin amr ini pemasu hadits, namun dia meningkatkan kalau sulaiman ini merupakan " manusia amat pendusta di wajah bumi ini! ".

berikutnya, kita pula mendengar pendapat al - imam al - bukhari tentang tokoh kita yang satu ini. dia berkata kalau sulaiman bin amr merupakan matruk, ialah haditsnya semi palsu lantaran ia seseorang pendusta.

saking tercelanya perawi hadits ini, sampai - sampai yazid bin harun berkata kalau siapapun tidak halal meriwayatkan hadits dari sualiman bin amr.

iman ibnu hibban pula turut mengomentari, " sulaiman bin amran - nakhai merupakan orang baghdad yang secara lahiriyah menggambarkan orang shalih, sayangnya ia memalsu hadits. penjelasan ini dapat kita mampu di dalam kitab al - majruhin minal muhadditsin wadhdhuafa wal - matrukin. pula dapat kita dapati di dalam kitab mizanul itidal.

kerasanya penjelasan tegas dari para pakar hadits senior tentang kepalsuan hadits ini sudah cukup lengkap, hingga kita tidak butuh lagi ragu - ragu buat lekas membuang ungkapan ini dari dalil - dalil kita. dan juga tidak benar kalau tidurnya orang puasa itu menggambarkan ibadah.

oleh karna itu, aksi sebagian kerabat kita buat banyak - banyak tidur di tengah hari bulan ramadhan dengan sebab kalau tidur itu ibadah, jelas - jelas tidak terdapat dasarnya. terlebih mengingat rasulullah saw juga tidak sempat mencontohkan buat menghabiskan waktu siang hari buat tidur.

bahwa juga terdapat sebutan qailulah, hingga prakteknya rasulullah saw cuma sejenak memejamkan mata. dan juga yang namanya sejenak, paling - paling cuma dekat 5 hingga 10 menit aja. tidak berjam - jam hingga meninggalkan tugas dan juga pekerjaan.

wallahu alam bishshawab, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

ahmad sarwat, lc

sumber: rumahfiqih. com




(sumber: yukbagi_com)

Jumat, 15 April 2016

Beriman dan Percayalah!!! Allah Telah Berjanji Menambah Rezeki Bagi Orang Yang Menikah

Satu tujuan yang menjadi mimpi setiap orang adalah bersanding di pelaminan dengan pasangan idaman. Apalagi jika jumlah umur sudah semakin banyak, rasanya ada harap-harap cemas terus menggelayut dikepala setiap malam. Namun tak bisa dipungkiri, bahwa selalu ada beberapa masalah krusial yang seringkali menerpa sebagian orang untuk menyegerakan berlayar dalam bahtera rumah tangga. salah satunya adalah masalah dompet. Ya! Keuangan.

Masalah keuangan adalah salah satu faktor yang membuat banyak orang merasa takut membina rumah tangga dengan pasangan yang telah mereka agung-agungkan. Membiayai diri sendiri saja sudah jungkir balik apalagi membiayai anak dan istri? Jangan panik dulu tapi. Perkara rezeki sudah diatur oleh Allah. Tinggal bagaimana cara kita menjemputnya.
Allah berfirman :

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengayakan mereka dengan karunia-Nya. Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” Q.S An-Nur:32)

Ayat tersebut telah jelas menyatakan bahwa dengan menikah maka Allah akan membantu memberikan rezeki untuk anak dan istri. Percayalah bahwa perkara rezeki adalah hal yang sangat mudah bagi Allah. Menghidupkan orang mati saja Allah bisa, apalagi hanya memunculkan rezeki dari arah yang tak pernah sekalipun kita duga.

Jadi jangan pernah takut tak bisa mencukupi anak dan istri kelak. Istri dan anak mempunyai rezeki masing-masing, dan jika dikumpulkan maka akan menyatu dengan rezeki suami. Kita hanya perlu berdoa, percaya dan lakukan ikhtiar semampu kita bisa. Ingat, bahwa Allah tak akan pernah merubah nasib suatu kaum, sebelum kaum tersebut berusaha untuk mengubahnya.


Sumber: cerminan_com

Kamis, 08 Oktober 2015

Apakah Diterima Ibadah Seorang Perempuan yang Tidak Berjilbab?

Oleh: Luqyana Hayate Mawadhah

SAUDARIKU yang dirahmati Allah Swt., berjilbab saat ini mulai digandrungi kaum hawa. Bisa jadi ada yang hanya ikut-ikutan trend atau juga yang memang memahami dan ingin melaksanakan perintah-Nya.

Berbagai jenis dan model jilbab saat ini banyak didapati, ada yang sesuai dengan syariat ada juga yang tidak. Bahkan terbilang syubhat jika dipakai, jilbab memang digunakan tapi tidak terhulur sampai ke dada serta bagian kaki malah tampak ketat dan terlihat.

Banyak kaum hawa yang menyangka bahwa tidak memakai jilbab adalah dosa kecil. Yang dapat tertutupi dengan pahala yang banyak dari shalat, puasa, zakat dan haji yang mereka lakukan. Ini adalah cara berpikir yang salah dan harus diluruskan. Kaum wanita yang tidak memakai jilbab, tidak saja telah berdosa besar kepada Allah, tetapi telah hapus seluruh pahala amal ibadahnya.

Seperti yang termaktub dalam firman Allah SWT, “….. Barang siapa yang mengingkari hukum-hukum syariat Islam sesudah beriman, maka hapuslah pahala amalnya bahkan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Maidah: 5).

Na’udzubillah. Semoga kita terjauh dari adzab Allah SWT, ada sebuah kisah menggetarkan tentang seorang perempuan yang menganggap bahwa dosa meninggalkan jilbab itu adalah dosa kecil.

Ada seorang wanita yang dikenal taat beribadah. Ia kadang menjalankan ibadah sunnah. Hanya satu kekurangannya, ia tak mau berjilbab. Menutup auratnya. Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum dan menjawab, ”Insya Allah yang penting hati dulu yang berjilbab.” Ini adalah jawaban yang sering terdengar dari kaum Hawa. Sudah banyak orang menanyakan maupun menasihatinya, tapi jawabannya tetap sama.

Hingga di suatu malam, ia bermimpi sedang di sebuah taman yang sangat indah. Rumputnya sangat hijau, berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bisa merasakan segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih hingga dasarnya kelihatan, melintas dipinggir taman. Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya.

Ia tak sendiri. Ada beberapa wanita disitu yang terlihat juga menikmati keindahan taman. Ia pun menghampiri salah satu wanita. Wajahnya sangat bersih seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.

“Assalamu’alaikum, Saudariku….”

“Wa’alaikum salam. Selamat datang, Saudariku.”

“Terima kasih. Apakah ini surga?”

Wanita itu tersenyum. “Tentu saja bukan, Saudariku. Ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga.”

“Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini.”

Wanita itu tersenyum lagi, ”Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, Saudariku?”

“Aku selalu menjaga waktu shalat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah.”

“Alhamdulillah…”

Tiba-tiba jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka. Dan ia melihat beberapa wanita yang berada di taman mulai memasukinya satu-persatu.

“Ayo kita ikuti mereka,” kata wanita itu setengah berlari.

“Ada apa di balik pintu itu?” katanya sambil mengikuti wanita itu.

“Tentu saja surga, Saudariku,” larinya semakin cepat.

“Tunggu…tunggu aku…” teriak si wanita itu. Dia berlari namun tetap tertinggal, padahal wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum kepadanya.

Ia tetap tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari. Ia lalu berteriak, “Amalan apa yang telah kaulakukan hingga engkau begitu ringan?”

“Sama dengan engkau, Saudariku,” jawab wanita itu sambil tersenyum

Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu. “Amalan apalagi yang ka lakukan yang tidak kulakukan?”

WANITA itu menatapnya dan tersenyum. Lalu berkata, “Apakah kau tak memperhatikan dirimu, apa yang membedakan dengan diriku?”

Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab.

“Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke Surga-Nya tanpa jilbab menutup auratmu?”

Tubuh wanita itu telah melewati pintu. Tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar, memandangnya dan berkata, ”Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini untuk dirimu. Cukuplah surga hanya sampai hatimu karena niatmu adalah menghijabi hati.”

Ia tertegun lalu terbangun, beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan shalat malam. Menangis dan menyesali perkataannya dulu. Berjanji pada Allah sejak saat itu ia akan menutup auratnya.

Saudariku, “Sesungguhnya seorang mukmin dosanya itu bagaikan bukit besar yang kuatir jatuh padanya, sedang orang kafir memandang dosanya bagaikan lalat yang hinggap di atas hidungnya.”

Sekarang kaum wanita yang tak mau berjilbab, dapat menanyakannya ke dalam hati nurani mereka masing-masing. Apakah terasa berdosa bagaikan gunung yang sewaktu-waktu jatuh menghimpitnya atau bagaikan lalat yang hinggap dihidung mereka?

Kalau kaum wanita yang tak mau memakai jilbab, menganggap enteng dosa mereka bagaikan lalat yang hinggap dihidungnya, maka tak akan bertobat di dalam hidupnya. Atau dalam perkataan lain tidak ada perasaan takut kepada Allah, sebab itu mereka kekal didalam neraka. Dan mereka tak akan mendapatkan syafaat atau pertolongan Nabi Muhammad SAW nanti di akhirat.

Sesungguhnya banyak kaum wanita yang hapus pahala shalatnya yang hidup di zaman ini dan di zaman yang akan datang. Semata-mata karena mereka tidak memakai jilbab didalam hidup mereka, telah diisyaratkan Nabi Muhammad SAW dikala hidup beliau sebagaimana bunyi hadits dibawah ini yang artinya sebagai berikut: “Ada satu masa yang paling aku takuti, dimana ummatku banyak yang mendirikan shalat, tetapi sebenarnya mereka bukan mendirikan shalat, dan neraka jahanamlah bagi mereka”.

Dari hadits diatas, ada sepenggal kalimat “sebenarnya bukan mendirikan shalat” maksudnya ialah nilai shalat mereka tidak ada di sisi Allah. Karena telah hapus pahalanya disebabkan kaum wanita mengingkari ayat tentang perintah jilbab.

Begitulah Nabi Muhammad SAW memberi peringatan kepada kita semua, bahwa banyak ummatnya dari kaum wanita yang masuk neraka biarpun mereka mendirikan shalat, tetapi tidak memakai jilbab semasa hidupnya. Apakah kita yang mengaku mencintai sesama ummat Nabi Muhammad SAW akan diam berpangku tangan membiarkan kaum wanita berada dalam dosa yang bergelimpangan? Tentu tidak. Mari saling mengingatkan.

Selasa, 01 September 2015

3 Kisah Jamaah Haji Paling Menyentuh Tahun 2015, Subhanallah!!!


Man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil. Kiranya ungkapan ini banyak menemukan bukti pada pelaksanaan ibadah haji. Meskipun hidupnya sederhana, mereka yang telah berniat dan berusaha bersungguh-sungguh untuk menunaikan ibadah haji, akhirnya bisa menunaikan rukun Islam yang kelima ini.

1. Pasutri penjual gorengan, menabung 20 tahun

 

Orang-orang kaya yang belum mendaftar naik haji seharusnya malu dengan pasangan suami istri ini. Seneman (70) dan Juni (60) akhirnya bisa berangkat ke tanah suci setelah menabung selama 20 tahun.
Warga Kelurahan Mangli Krajan, Kecamatan Kaliwates, Jember, Jawa Timur ini menyisihkan Rp 1000 atau Rp 2.000 dari pendapatannya setiap hari khusus demi naik haji. Setelah terkumpul cukup banyak kemudian mereka membawanya ke bank untuk dimasukkan tabungan haji. Demikian mereka lakukan terus menerus tabungan seperti itu selama 20 tahun.
Selain itu, Seneman dan Juni juga menyisihkan sebagian pendapatan berjualan gorengan tersebut untuk ikut arisan. Dari uang arisan itu mereka kemudian bisa melunasi biaya naik haji untuk berdua yang besar ongkos naik haji (ONH)-nya mencapai total Rp 80 juta.
Juni mengungkapkan, dirinya sangat bersyukur kepada Allah karena impian naik haji bersama suaminya kini terwujud. Sebenarnya, mereka akan masuk dalam daftar jamaah haji tahun lalu. Namun karena ada pengurangan kuota, haji mereka ditunda tahun ini. “Alhamdulillah…” kata Juni.

 

2. Pencari rumput, menabung 10 tahun


Kisah Achmad Sukarto, warga Sidoarjo, tak kalah mengharukan. Kesungguhannya untuk menunaikan ibadah haji patut ditiru oleh seluruh muslim.
Pria berusia 62 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai pencari rumput ini akhirnya bisa berangkat haji tahun ini setelah menabung selama 10 tahun. Awalnya, Sukarto menganggap naik haji adalah hal yang tak mungkin baginya. Sebab kondisi perekonomiannya yang jauh dari kaya. Sukarto hanya mencari rumput. Sedangkan sapinya milik orang lain. Bukan miliknya sendiri.
Niat naik haji muncul ketika pada tahun 2003 ada orang yang menitipkan seekor sapi kepadanya. Sukarto yang memelihara dan mencarikan rumput untuk sapi tersebut. Dua tahun kemudian, Sukarto mendapatkan bagi hasil sebesar Rp 5 juta.
Rp 5 juta adalah uang yang sangat banyak bagi Sukarto. Ia bingung uang itu mau diapakan. Ia pun bertanya pada anaknya yang kemudian menyarankan untuk ditabung guna menunaikan ibadah haji.
Setelah membuka tabungan haji, Sukarto lebih serius bekerja agar bisa melunasinya dan bisa berangkat ke tanah suci. Ia lebih giat mencari rumput. Ia mencari rumput lebih banyak dari biasanya. Selain untuk sapi titipan orang, ia juga mencari rumput untuk ia jual. Sehari ia bisa mendapatkan Rp 15.000 hingga Rp 75.000.
“Kalau untuk makan sehari-hari istri saya jualan rujak ulek,” kata Sukarto seperti dikutip Detik.
Dengan izin Allah, usaha keras Sukarto berhasil. Akhirnya ia bisa berangkat haji tahun ini setelah menabung selama 10 tahun.

3. Jamaah haji termuda, menabung sejak SD

 Ilham menjadi salah satu jamaah haji termuda tahun ini. Remaja berusia 18 tahun ini masih duduk di kelas 12 SMAN 6 Surabaya.
Dengan kesadaran sendiri, Ilham mulai menabung sejak kelas 6 SD. Lulus dari SDIT Al Uswah, Ilham meneruskan ke SMPIT Al Uswah. Sejak saat itu, ia mencari uang sendiri untuk bisa naik haji. Mulai dari jualan pulsa, aksesoris, hingga mendirikan distro kecil-kecilan.
Usahanya semakin meningkat ketika ia duduk di bangku SMA. Dan akhirnya kini Ilham bisa berangkat naik haji. Kisah Ilham pun menghiasi halaman Metropolis Jawa Pos.