Tampilkan postingan dengan label karier. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karier. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 April 2016

Kisah Menyentuh Wanita Yang Telat Menikah Karena Karir

Semua wanita ingin menikah, tetapi kapan waktunya, siapa yang tahu? Menikah adalah keputusan yang serius, tidak dapat diputuskan hanya dalam waktu semalam. Karena itu, diperlukan kesiapan di dalamnya.

Beberapa orang merencanakan bahwa dia akan menikah di usia muda (sekitar 18 – 23 tahun). Sebagian lagi, merencanakan menikah di usia yang matang atau saat kehidupan ekonominya telah mapan. Ada berbagai pertimbangan untuk mengambil kapan waktu pernikahan terbaik.




Berikut, ada kisah dan pengalaman seorang wanita yang memilih untuk menunda menikah dan lebih memilih karir dibandingkan menikah yang dibagikan lewat akun Facebook Cirebon Tanpa Pacaran.



Aku sudah lulus dari kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus. Lamaran kepada diriku untuk menikah juga mulai berdatangan, akan tetapi aku tidak mendapatkan seorangpun yang bisa membuatku tertarik.



Kemudian kesibukan kerja dan karir memalingkan aku dari segala hal yang lain. Hingga aku sampai berumur 34 tahun.



Ketika itulah aku baru menyadari bagaimana susahnya terlambat menikah. Pada suatu hari datang seorang pemuda meminangku. Usianya lebih tua dariku 2 tahun. Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku ikhlas menerima dirinya apa adanya.



Kami mulai menghitung rencana pernikahan. Dia meminta kepadaku photo copy KTP untuk pengurusan surat-surat pernikahan. Aku segera menyerahkan itu kepadanya.



Setelah berlalu dua hari ibunya menghubungiku melalui telepon. Beliau memintaku untuk bertemu secepat mungkin.

Aku segera menemuinya. Tiba-tiba ia mengeluarkan photo copyan KTPku. Dia bertanya kepadaku apakah tanggal lahirku yang ada di KTP itu benar?




Aku menjawab: Benar.
Lalu ia berkata: Jadi umurmu sudah mendekati usia 40 tahun?!
Aku menjawab: Usiaku sekarang tepatnya 34 tahun.
Ibunya berkata lagi: Iya, sama saja.
Usiamu sudah lewat 30 tahun.
Itu artinya kesempatanmu untuk memiliki anak sudah semakin tipis.
Sementara aku ingin sekali menimang cucu.



Dia tidak mau diam sampai ia mengakhiri proses pinangan antara diriku dengan anaknya.



Masa-masa sulit itu berlalu sampai 6 bulan. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi melaksanakan ibadah umrah bersama ayahku, supaya aku bisa menyiram kesedihan dan kekecewaanku di Baitullah.



Akupun pergi ke Mekah. Aku duduk menangis, berlutut di depan Ka’bah. Aku memohon kepada Allah supaya diberi jalan terbaik.



Setelah selesai shalat, aku melihat seorang perempuan membaca al Qur’an dengan suara yang sangat merdu. Aku mendengarnya lagi mengulang-ulang ayat:



“Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar”. (An Nisa’: 113)



Air mataku menetes dengan derasnya mendengar lantunan ayat itu.

Tiba-tiba perempuan itu merangkulku ke pangkuannya. Dan ia mulai mengulang-ulang firman Allah:




“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas”. (Adh Dhuha: 5)



Demi Allah, seolah-olah aku baru kali itu mendengar ayat itu seumur hidupku. Pengaruhnya luar biasa, jiwaku menjadi tenang.



Setelah seluruh ritual umrah selesai, aku kembali ke Cairo. Di pesawat aku duduk di sebelah kiri ayahku, sementara disebelah kanan beliau duduk seorang pemuda.



Sesampainya pesawat di bandara, akupun turun. Di ruang tunggu aku bertemu suami salah seorang temanku. Kami bertanya kepadanya, dalam rangka apa ia datang ke bandara?



Dia menjawab bahwa ia lagi menunggu kedatangan temannya yang kembali dengan pesawat yang sama dengan yang aku tumpangi. Hanya beberapa saat, tiba-tiba temannya itu datang. Ternyata ia adalah pemuda yang duduk di kursi sebelah kanan ayahku tadi.



Selanjutnya aku berlalu dengan ayahku…..



Baru saja aku sampai di rumah dan ganti pakaian, lagi asik-asik istirahat, temanku yang suaminya tadi aku temui di bandara meneleponku. Langsung saja ia mengatakan bahwa teman suaminya yang tadi satu pesawat denganku sangat tertarik kepada diriku. Dia ingin bertemu denganku di rumah temanku tersebut malam itu juga. Alasannya, kebaikan itu perlu disegerakan.



Jantungku berdenyut sangat kencang akibat kejutan yang tidak pernah aku bayangkan ini.

Lalu aku meminta pertimbangan ayahku terhadap tawaran suami temanku itu. Beliau menyemangatiku untuk mendatanginya. Boleh jadi dengan cara itu Allah memberiku jalan keluar.




Akhirnya…..aku pun datang berkunjung ke rumah temanku itu. Hanya beberapa hari setelah itu pemuda tadi sudah datang melamarku secara resmi.



Dan hanya satu bulan setengah setelah pertemuan itu kami betul-betul sudah menjadi pasangan suami-istri. Jantungku betul-betul mendenyutkan harapan kebahagiaan.



Kehidupanku berkeluarga dimulai dengan keoptimisan dan kebahagiaan. Aku mendapatkan seorang suami yang betul-betul sesuai dengan harapanku. Dia seorang yang sangat baik, penuh cinta, lembut, dermawan, punya akhlak yang subhanallah, ditambah lagi keluarganya yang sangat baik dan terhormat.



Namun sudah beberapa bulan berlalu belum juga ada tanda-tanda kehamilan pada diriku. Perasaanku mulai diliputi kecemasan. Apalagi usiaku waktu itu sudah memasuki 36 tahun.



Aku minta kepada suamiku untuk membawaku memeriksakan diri kepada dokter ahli kandungan. Aku khawatir kalau-kalau aku tidak bisa hamil.



Kami pergi untuk periksa ke seorang dokter yang sudah terkenal dan berpengalaman. Dia minta kepadaku untuk cek darah.

Ketika kami menerima hasil cek darah, ia berkata bahwa tidak ada perlunya aku melanjutkan pemeriksaan berikutnya, karena hasilnya sudah jelas. Langsung saja ia mengucapkan “Selamat, anda hamil!”




Hari-hari kehamilanku pun berlalu dengan selamat, sekalipun aku mengalami kesusahan yang lebih dari orang biasanya. Barangkali karena aku hamil di usia yang sudah agak berumur.



Sepanjang kehamilanku, aku tidak punya keinginan mengetahui jenis kelamin anak yang aku kandung. Karena apapun yang dikaruniakan Allah kepadaku semua adalah nikmat dan karunia-Nya.



Setiap kali aku mengadukan bahwa rasanya kandunganku ini terlalu besar, dokter itu menjawab: Itu karena kamu hamil di usia sudah sampai 36 tahun.



Selanjutnya datanglah hari-hari yang ditunggu, hari saatnya melahirkan. Proses persalinan secara caesar berjalan dengan lancar. Setelah aku sadar, dokter masuk ke kamarku dengan senyuman mengambang di wajahnya sambil bertanya tentang jenis kelamin anak yang aku harapkan. Aku menjawab bahwa aku hanya mendambakan karunia Allah. Tidak penting bagiku jenis kelaminnya. Laki-laki atau perempuan akan aku sambut dengan beribu syukur.



Aku dikagetkan dengan pernyataannya:



“Jadi bagaimana pendapatmu kalau kamu memperoleh Hasan, Husen dan Fatimah sekaligus?



Aku tidak paham apa gerangan yang ia bicarakan. Dengan penuh penasaran aku bertanya apa yang ia maksudkan?

Lalu ia menjawab sambil menenangkan ku supaya jangan kaget dan histeris bahwa Allah telah mengaruniaku 3 orang anak sekaligus. 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.




Seolah-olah Allah berkeinginan memberiku 3 orang anak sekaligus untuk mengejar ketinggalanku dan ketuaan umurku.



Sebenarnya dokter itu tahu kalau aku mengandung anak kembar 3, tapi ia tidak ingin menyampaikan hal itu kepadaku supaya aku tidak merasa cemas menjalani masa-masa kehamilanku.

Lantas aku menangis sambil mengulang-ulang ayat Allah:

“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas”. (Adh Dhuha: 5)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami…” (Ath Thur: 48)

Bacalah ayat ini penuh tadabbur dan penghayatan, terus berdoalah dengan hati penuh yakin bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan pernah menelantarkanmu. Bila artikel ini ada manfaatnya silahkan di-share.



(sumber: yangunik.com)

Kamis, 21 April 2016

Salah Satu Ciri Wanita Bodoh Menurut Buya Yahya Memilih Meninggalkan Anaknya Bersama Pengasuh Sementara Ia Mengejar Karir Bantu Share Ya..

Buya Yahya di 1 Muharram 1437 H lalu, isi kajian teratur di Mesjid Raya Al-Azhom, Kota Tangerang. Di mauidzohnya, pemimpin Majlis serta LPD Al-Bahjah Cirebon ini menyebutkan berkenaan mengenai demikian banyak ciri wanita yang paling bodoh.

Satu Ciri Wanita Bodoh Menurut Buya Yahya


Buya memaparkan elemen tersebut di penghujung acara sebentar sebelumnya doa penutup, yang disebut jawaban pertanyaan darisatu orang mustami’ wanita.

Menjawab pertanyaan yangg di tanyakan oleh muslimah itu, Buya mengemukakan kalau memanglah lah harusnya satu orang muslim ataupun muslimah memiliki keharusna buat pelajari selama hidupnya dan dalam pencarian pengetahuan itu tidak terbatas pada satu buah sisi pengetahuan saja. Yang paling penting yaitu bagaimana bebrapa pengetahuan itu akan bikin diri lebih dekat pada Allah SWT, intinya bebrapa pengetahuan yg mengenai hukum syar’i.

Kemauan yang baik dalam mencari pengetahuan itu sebaiknya dibicarakan berbarengan ke-2 orang-tua yang telah melahirkan kita. Buya berikan contoh, orang-tua yang ingin sesegera mungkin saja menikahkan anak gadisnya. Tentu sang anak harus menuruti tekad orangtuanya itu. Lebih-lebih lagi jika kriteria buat menuju satu buah pernikahan sudah dapat terpenuhi.

Satu orang wanita tidak memiliki keharusan dalam penuhi nafkah keluarga. Yang jadi keharusan untuk satu orang wanita yaitu mematuhi perintah dari suaminya seandainya cocok dengan hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya.
Dengan pernikahan, satu orang wanita akan memiliki benteng yang berimbas jadi terhindarnya diri dari bahaya zina
pacaran ataupun dosa yang melebihi dari itu.

Dianya juga bercerita cerita hidupnya pada beberapa mustami’ dimana dulu Beliau menyelenggarakan pernikahan saat tengah kuliah. Namun ternyata, pernikahannya tidak menyebabkan gerak langkahnya tertahan dalam mendakwahkan agama maupun berprestasi dalam berbagai bidang yang lain.

Dia menerangkan sebenarnya dengan pilih menikah, satu orang dapat merasakan ketenangan batin maupun fikiran hingga selanjutnya dengan gampang meraih prestasi.

Balik dimuka cerita, tentang pertanyaan yang dipertanyakan seseorang muslimah berkaitan dengan wanita yang paling bodoh, Buya Yahya menisbatkan aspek ini pada beberapa wanita yang pilih melakukan pendidikan supaya dapat memiliki gelar sarjana, master, doktoral hingga profesor. Dengan gelar yang sudah dipunyainya, dianya lebih tentukan buat berkarir dan meninggalkan anak-anaknya supaya diasuh oleh pembantu ataupun pengasuh.

Di ujung pembicaraan, Kyai yang selalu berkeliling untuk berdakwah tentang agama hingga ke Malaysia itu, menyampaikan kalau muslimah janganlah berdoa agar Allah memberikannya pekerjaan setelah lulus dari perkuliahan. Tetapi, berdoalah untuk doa yang sebenarnya yaitu umpamanya “Ya Allah, berikanlah saya jodoh yang dapat memenuhi kepentingan hidup saya dan juga keluargaku”

Seandainya Allah mengijinkan dan mengabulkan doa itu, satu orang istri tidak perlu lagi yang namanya bekerja diluar rumah, hingga bisa berkonsentrasi untuk mengurusi suami dan anak-anaknya saja dirumah.

Teman dekat Muslimah, masihkah ada yang salah dalam berdoa pada Allah sampai kini??



(Sumber: beritaterpercayaku.com)

Selasa, 23 Februari 2016

Kisah Nyata: Inilah Alasanku Berhenti Menjadi Wanita Karir

 Sore itu sambil menunggu kehadiran sahabat yang hendak menjemputku di masjid ini sesudah ashar. Kulihat seorang yang berpakaian rapi, berjilbab dan juga tertutup lagi duduk disamping masjid. Kelihatannya dia lagi menunggu seorang juga. saya berupaya menegurnya dan juga duduk disampingnya, mengucapkan salam, sambil berkenalan.

Dan kesimpulannya pembicaraan hingga pula pada persoalan itu. “Anti sudah menikah?”.
“Belum ”, jawabku datar.

Kemudian perempuan berjubah panjang (Akhwat) itu bertanya lagi “kenapa?”
Pertanyaan yang cuma dapat ku jawab dengan senyuman. mau kujawab karna masih bakal melanjutkan pendidikan, tetapi kerasanya itu bukan alasan.

“Mbak menunggu siapa?” saya berupaya bertanya.
“Menunggu suami” jawabnya pendek.

Aku memandang kesamping kirinya, suatu tas laptop dan juga suatu tas besar lagi yang tidak dapat kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya - tanya, dari mana mbak ini? kayaknya perempuan karir. kesimpulannya kuberanikan pula buat bertanya “Mbak kerja di mana?”

Entah kepercayaan apa yang membuatku demikian percaya bila mbak ini benar seseorang perempuan pekerja, sementara itu setahu ku, akhwat - akhwat serupa ini mayoritas cuma mengabdi bagaikan bunda rumah tangga.

“Alhamdulillah 2 jam yang kemudian aku formal tidak bekerja lagi” jawabnya dengan muka yang aneh menurutku, muka yang bersinar dengan ketulusan hati.

“Kenapa?” tanyaku lagi.
Dia cuma tersenyum dan juga menanggapi “karena inilah PINTU dini kita perempuan karir yang dapat membikin kita lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.

Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi - lagi ia cuma tersenyum.

Saudariku, boleh aku cerita sedikit? dan juga aku berharap ini dapat jadi pelajaran berharga buat kita para perempuan yang Insya Allah cuma mau dikunjungi oleh pria yang baik - baik dan juga sholeh saja.

“Saya bekerja di kantor, bisa jadi tidak butuh aku sebutkan nama kantornya. honor aku 7 juta/bulan. Suami aku bekerja bagaikan penjual roti bakar di pagi hari dan juga es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan juga kemarinlah buat kesatu kalinya aku menangis karna terasa durhaka padanya. kalian ketahui mengapa ?

Waktu itu jam 7 malam, suami aku menjemput aku dari kantor, hari ini lembur, lazimnya sore jam 3 sudah pulang. Setibanya dirumah, bisa jadi cuma rehat yang terlintas dibenak kami perempuan karir. Ya, aku akui aku begitu letih sekali ukhty. dan juga kebetulan dikala itu suami pula bilang bila ia masuk angin dan juga kepalanya pusing. Celakanya kerasa pusing itu pula melanda saya. berubah dengan saya, suami aku cuma memohon diambilkan air putih buat minum, tetapi aku malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil seorang diri lah !!”.

Pusing membikin aku tertidur sampai kurang ingat sholat isya. Jam 23.30 aku terbangun dan juga cepat - cepat sholat, Alhamdulillah pusing juga telah hilang. Beranjak dari sajadah, aku memandang suami aku tidur dengan pulasnya.

Menuju ke dapur, aku liat seluruh piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami aku (kami benar berkomitmen buat tidak mempunyai khodimah)? nampak lagi seluruh pakaian kotor telah di cuci. Astagfirullah, mengapa abi mengerjakan seluruh ini? Bukankah abi pula pusing tadi malam? aku lekas masuk lagi ke kamar, berharap abi siuman dan juga ingin menjelaskannya, tetapi kerasanya abi sangat lelah, sampai tidak siuman juga.

Rasa iba mulai penuhi jiwa saya, aku pegang muka suami aku itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, besar sekali panasnya. aku teringat perkataan terakhir aku pada suami tadi. cuma disuruh mengambilkan air putih aja aku membantahnya. Air mata ini menetes, air mata karna telah melupakan hak - hak suami saya.”

Subhanallah, saya memandang mbak ini cerita dengan semangatnya, membikin hati ini merinding. dan juga kulihat pula terdapat tetesan air mata yang di usapnya.

“Kamu ketahui berapa honor suami saya? amat berubah jauh dengan honor saya. dekat 600 - 700 rb/bulan. Sepersepuluh dari honor aku sebulan. Malam itu aku betul - betul terasa amat durhaka pada suami saya.

Dengan honor yang aku miliki, aku terasa tidak butuh memohon nafkah pada suami, walaupun suami senantiasa membagikan hasil jualannya itu pada aku dengan ikhlas dari lubuk hatinya. tiap kali membagikan hasil jualannya, dia senantiasa mengatakan “Umi, ini terdapat titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. dan juga tidak banyak jumlahnya, mudah - mudahan Umi ridho”, begitulah katanya. dikala itu aku baru merasakan dalamnya perkata itu. Betapa harta ini membikin aku sombong dan juga durhaka pada nafkah yang dikasih suami saya, dan juga aku percaya kira - kira tidak terdapat perempuan karir yang selamat dari fitnah ini”

“Alhamdulillah aku saat ini memutuskan buat menyudahi bekerja, mudah - mudahan dengan jalur ini, aku lebih dapat menghargai nafkah yang dikasih suami. perempuan itu kerap begitu sulit bila tanpa harta, dan juga karna harta pula perempuan kerap kurang ingat kodratnya” Lanjutnya lagi, tidak membagikan peluang bagiku buat berbicara.

“Beberapa hari yang lalu, aku berkunjung ke rumah orang tua, dan juga menggambarkan hasrat aku ini. aku sedih, karna orang tua, dan juga saudara - saudara aku malah tidak terdapat yang menunjang hasrat aku buat menyudahi berkerja. setimpal perkiraan saya, mereka malah membanding - bandingkan pekerjaan suami aku dengan yang lain.”

Aku masih terdiam, bisu mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa saya dapat serupa dia? Menerima wujud pangeran apa adanya, terlebih lagi rela meninggalkan pekerjaan.

“Kak, bukankah kita wajib memikirkan masa depan? Kita kerja pula kan buat kanak - kanak kita kak. pengeluaran hidup saat ini ini mahal. Begitu banyak orang yang perlu pekerjaan. Nah kakak malah pengen menyudahi kerja. Suami kakak juga penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai - santai saja di rumah.

Salah kakak pula sih, kalo ingin jadi bunda rumah tangga, sepatutnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang bernazar melamar kakak duluan saat sebelum sama yang ini. tetapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, hanya suami kakak yang tidak memiliki pemasukan senantiasa dan juga yang amat buat kami kesal, kayaknya suami kakak itu lebih suka hidup serupa ini, ditawarin kerja di bank oleh kerabat seorang diri yang mau membantupun tidak mau, hingga heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya berulang mengalir, menggambarkan perkataan adik perempuannya dikala dimintai pendapat.

“anti tau, aku cuma dapat menangis dikala itu. aku menangis bukan karna apa yang dikatakan adik aku itu benar, Demi Allah bukan karna itu. tetapi aku menangis karna imam aku sudah ditatap RENDAH olehnya.

Bagaimana bisa jadi ia menyepelehkan tiap tetes keringat suami saya, sementara itu dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia ?
Bagaimana bisa jadi ia menghina orang yang tetap membangunkan aku buat sujud dimalam hari ?
Bagaimana bisa jadi ia menghina orang yang dengan perkata lembutnya senantiasa menenangkan hati aku ?
Bagaimana bisa jadi ia menghina orang yang berani tiba pada orang tua aku buat melamar saya, sementara itu dikala itu orang tersebut belum memiliki pekerjaan ?
Bagaimana bisa jadi seorang yang begitu aku muliakan, nyatanya begitu rendah di hadapannya cuma karna suatu pekerjaaan ?

Saya memutuskan menyudahi bekerja, karna tidak mau memandang orang membanding - bandingkan honor aku dengan honor suami saya.
Saya memutuskan menyudahi bekerja pula buat menghargai nafkah yang dikasih suami saya.
Saya pula memutuskan menyudahi bekerja buat penuhi hak - hak suami saya.

Saya berharap dengan begitu aku tidak lagi membantah perintah suami saya. Mudah - mudahan aku pula ridho atas besarnya nafkah itu. aku bangga dengan pekerjaan suami aku ukhty, amat bangga, terlebih lagi begitu menghormati pekerjaannya, karna tidak seluruh orang memiliki keberanian dengan pekerjaan serupa itu.

Disaat mayoritas orang lebih memilah jadi pengangguran dari pada melaksanakan pekerjaan yang serupa itu. namun suami saya, tidak terdapat kerasa malu menurutnya buat menafkahi istri dengan nafkah yang halal. seperti itu yang membikin aku begitu bangga pada suami saya.

Suatu dikala bila anti memperoleh suami serupa suami saya, anti tidak butuh malu buat menceritakannya pekerjaan suami anti pada orang lain. Bukan permasalahan pekerjaannya ukhty, tetapi permasalahan halalnya, berkahnya, dan juga kita meminta pada Allah, mudah - mudahan Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sembari tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptopnya, bergegas mau meninggalkanku.

Kulihat dari kejauhan seseorang pria dengan memakai sepeda motor butut mendekat ke arah kami, mukanya ditutupi kaca helm, walaupun tidak terdapat niatku memandang mukanya. sembari mengucapkan salam, perempuan itu meninggalkanku. muka itu tenang sekali, muka seseorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah….
Sekarang giliran saya yang menangis. Hari ini saya mampu pelajaran amat berkesan dalam hidupku. Pelajaran yang membuatku menghapus wujud pangeran kaya yang terdapat dalam benakku..Subhanallah..Walhamdulillah..Wa Laa ilaaha illallah…Allahu Akbar

Semoga pekerjaan, harta dan juga kekayaan tidak sempat menghalangimu buat tidak menerima pinangan dari pria yang baik agamanya..


Sumber:
http_www_akhwatmuslimah_com/2013/11/19/1451/kisah-nyata-inilah-alasanku-berhenti-menjadi-wanita-karir