Tampilkan postingan dengan label kewajiban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kewajiban. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Mei 2016

Saat Kamu Diberi Pinjaman Uang, Bukan Berarti Temanmu Banyak Uang. Jadi Jangan Lupa Mengembalikannya

Persahabatan yang sudah berjalan lama, kedekatan yang sudah terasa sangat erat terkadang membuat kita sangat mudah untuk merasa peduli pada teman ataupun sahabat yang selalu ada didekat kita. Tak jarang hal itu membuat kita tidak sungkan untuk berbagi banyak hal pada mereka yang kita sebut teman. Sampai-sampai karena saking seringnya bersama, bermain bersama, dan kadang sama-sama mengalami masa-masa yang sulit membuat kita tidak sungkan untuk berbagi dalam hal materi walupun dia yang kita sebut sebagai teman itu adalah orang yang tidak ketahui dimana rumahnya. Perasaan persaudaraan ini akan semakin terasa jika orang yang kita sebut teman itu sama-sama merupakan anak rantau.

Namun apa yang kita dapatkan setelah kebaikan yang kita berikan, terkadang beberapa dari mereka membalasnya dengan kepahitan. Jika soal uang mereka bisa saja berubah dalam waktu seketika. Dari yang biasa-biasa saja menjadi sangat dekat dan itu hanya akan terjadi kalau lagi butuh uang. Dan dari yang awalnya dekat mendadak menjauh hanya gara-gara kita menagih uang yang mereka pinjam. Hal itulah yang membuat kita kadang bertanya-taanya apa yang sedang mereka pikirkan? Apakah mereka teman atau penipu?
Meminjamkan Materi Pada Teman Yang Kesulitan Itu Bukan Karena Rejeki yang Berlebih

Meminjamkan Materi Pada Teman Yang Kesulitan Itu Bukan Karena Rejeki yang Berlebih

Bukankah kalian sudah tahu mengenai keuanganku, jika pun aku memberikan pinjaman uang kepadamu itu bukan berarti karena aku banyak memiliki uang tapi itu karena aku peduli padamu. Karena awalnya aku percaya kamu akan menggantinya bukankah seperti itu janjimu saat meminjam uang. Bahkan aku sampai rela berhemat agar bisa memberikanmu pinjaman karena kamu bilang sangat mendesak. Saat itu aku juga kekurangan karena aku mengerti dengan apa yang mendesakmu kupikir tidak masalah memberikanmu pinjaman meski diriku sebenarnya dalam keadaan kekurangan.
Uang yang Kamu Pinjam Jumlahnya Memang Tidak Banyak, Tapi Bukankah Seharusnya Kamu Segera Mengembalikan Uang Tersebut Disaat Aku Membutuhkan?

Uang yang Kamu Pinjam Jumlahnya Memang Tidak Banyak, Tapi Bukankah Seharusnya Kamu Segera Mengembalikan Uang Tersebut Disaat Aku Membutuhkan?

Jumalah uang yang kamu pinjam itu memang tidak seberapa, bagi sebagian orang kehilangan uang dengan jumlah tersebut mungkin tidak akan masaslah, tapi bagiku jumlah uang yang kamu pinjam itu sangat banyak, dan karena aku sangat membutuhkahnya nilainyapun menjadi semakin berkalilipat. Lagi pula keuanganku memang tidak banyak bukan, jadi sudah wajar kiranya jika jumlah yang kamu pinjam itu bernilai sangat besar bagi diriku.
Tanpa Ragu Aku Memberikanmu Pinjaman Uang Karna Kita Sama-sama Sebagai Perantau

Tanpa Ragu Aku Memberikanmu Pinjaman Uang Karna Kita Sama-sama Sebagai Perantau

tanpa berfikir panjang mengenai keadaanku sendiri aku langsung memberikanmu pinjaman materi, karena saat itu aku berfikir karena sesama teman jika nanti aku membutuhkan bantuanmu kamu akan membantuku juga. Saat itu aku mencoba membayangkan jika aku ada pada posisimu yang tidak memiliki jalan lain untuk menyelesaikan masalahmu itu.
Namun Apa yang Kamu Lakukan Saat Aku Mencoba Managihnya? Aku Malah Terlihat Seperti Pengemis

Maaf Ku Tak Bisa Memilih Dirimu

Saat aku mencoba meminta kembali uang yang kupinjamkan karena aku juga terdesak masalah keuangan, apa yang aku dapatkan hanyalah janji-janji yang tidak pernah ditepati. Kamu pura-pura lupa, saatku tagih langsung kamu bilangnya ada tapi sedang tidak dibawa lalu kamu kembali menjanjikan akan membayarnya esok hari. Janji-janji seperti terus saja kamu ucapkan sampai-sampai aku bosan menagihnya karena aku terlihat seperti orang yang mengemisnya.
Terkadang Kamu Terkesan Meremahkan Jumlah Uang yang Kupinjamkan Lalu Emosi Sendiri

Terkadang Kamu Terkesan Meremahkan Jumlah Uang yang Kupinjamkan Lalu Emosi Sendiri

Karena aku membutuhnya tentu saja aku terus-terusan managihnya padamu. Bahkan kamu sendiri sampai bosan dan menghindariku kan karena kamu malu. Lalu ditempat umum kamu akan berkata ‘akan aku bayar cuma uang segitu kok’. Kamu terkesan meremehkan, kalau memang jumlahnya tidak seberapa mengapa tidak membayarnya saja dengan sesegera mungkin. Jumlah yang kamu anggap tidak seberapa itu bagiku sangatlah penting.
Akhirnya Gara-gara Tak Mau Mengembalikan Pinjaman Kamu Menghindar Lalu Memutuskan Pertemanan

Akhirnya Gara-gara Tak Mau Mengembalikan Pinjaman Kamu Menghindar Lalu Memutuskan Pertemanan

Ini sangat sering terjadi, aku rasa bukan hanya temanku saja yang akan melakukan hal ini, banyak teman-teman orang di dunia ini habis pinjam uang lalu gak mau bayar kemudian memutuskan pertemanan, disms, telpon, imel serta akun sosmednya semua kalau dikirimi pesan mau meminta uang yang dulu dipinjam pesannya hanya dibaca saja paling buruk adalah sama sekali tidak dibaca karena sudah tau isi pesannyaberisi pesan mau menagih hutan. Dan pada akhirnya aku tidak memiliki pilihan lain selain mengiklaskannya saja, walau sebenarnya tidak ikhlas.





(sumber: duapah.com)

Ketahuilah Wahai Suami, Ternyata, Itu Semua Bukan Kewajiban Istri

Di subuh yang dingin, kudapati mommy sudah sibuk memasak untuk keluarga..
“Mom masak apa? Bisa ku bantu?”
“Ini masak gurame goreng. Sama sambal tomat kesukaan ayah.” Sahutnya.

“Alhamdulillah.. mantap pasti.. mari ku bantu. Eh mom.. calon istriku dia tidak bisa masak loh..”

“Iya terus kenapa,,?” Sahut mommy..
“Ya tidak kenapa-kenapa sih mom.. hanya cerita aja… hehehe.”
“Jangan dipikir memasak, mencuci, menyapu, mengurus rumah dan lain-lain itu KEWAJIBAN WANITA lho…”

“HAH.? Maksudnya mom..?” (Kaget..)
“Itu semua adalah KEWAJIBAN LELAKI.”
“Tapi bukankah Mommy setiap hari melakukannya?”
“KEWAJIBAN ISTRI adalah TAAT pada SUAMI.
Karena Ayah itu TIDAK MUNGKIN bisa mengurusi rumah, maka Mommy bantu mengurusi semuanya.


Sebagai wujud CINTA dan juga wujud istri yang mencari RIDHO SUAMINYA.”
Aku makin bingung mom.
“Bukankah kewajiban lelaki untuk menafkahi istri? Baik itu sandang, pangan, dan papan?” tanya Mommy..

“Iya tentu aja, mom..”
“Menurutmu PENGERTIAN NAFKAH itu yang seperti apa?
Pakaian yang bersih adalah nafkah. Sehingga mencuci adalah kewajiban suami. Makanan adalah nafkah. Kalau beras. Itu masih setengah nafkah. Karena belum bisa di makan. Sehingga memasak adalah kewajiban suami. Lalu rumah adalah kewajiban suami. Sehingga kebersihan rumah adalah kewajiban suami.”

“Waaaaah.. sampai segitunya mom..? Lalu jika itu semua kewajiban suami, kenapa mommy tetap melakukan itu semuanya tanpa menuntut Ayah sekalipun?”

“Karena mommy juga seorang istri yang mencari ridha dari suaminya.
Mommy juga mencari pahala agar selamat di akhirat sana.
Karena mommy mencintai Ayahmu, mana mungkin mommy  TEGA menyuruh ayahmu yang sibuk dengan pekerjaannya untuk melakukan tugas itu semua?

Jika ayahmu ber-‘punya’ mungkin pembantu bisa jadi solusi.
Tapi jika belum ada, ini adalah LADANG PAHALA untuk mommy.”
Aku hanya diam..

“Pernah dengar cerita Fatimah yang meminta pembantu kepada Nabi karena tangannya lebam karena menumbuk tepung? Tapi Nabi tidak memberinya.

Atau pernah dengar juga saat Umar diomeli istrinya? Umar diam saja karena TAHU BETUL.
Wanita tercintanya sudah melakukan tugas macam-macam yang sebenarnya itu BUKANLAH tugas istri.
TAPI karena PATUH dan TAATNYA WANITA, semua Ridha dikerjakannya”.
“Iya mom…”
“Jadi laki-laki selama ini salah sangka ya mom? Seharusnya setiap lelaki berterimakasih pada istrinya. Lebih sayang dan lebih menghormati jerih payah istri.”

“Eh, terus kenapa mommy tetap mau melakukan semuanya padahal itu bukan kewajiban mommy?”

“Menikah bukan hanya soal menuntut HAK kita. Atau menuntut KEWAJIBAN suami kita.

Tapi banyak hal lain.

~ MENURUNKAN EGO.
~ MENJAGA KEHARMONISAN.
~ MENGALAH.
~ KERJA SAMA.
~ KASIH SAYANG.
~ CINTA dan PERSAHABATAN.

Menikah itu perlombaan untuk berusaha MEM-BAIK-KAN satu sama lain.
Yang wanita sebaik mungkin membantu suaminya.
Yang lelaki sebaik mungkin membantu istrinya.

Toh IMPIANNYA rumah tangga sampai SURGA.”
“Subhanallah.. eeh kalo calon istriku tahu hal ini dan dia malas ngapa-ngapain mom?”

“WANITA BERAGAMA tentu tau bahwa ia harus mencari KERIDHOAN SUAMINYA. Sehingga tidak mungkin setega itu.
Sedang LELAKI BERAGAMA tentu tau bahwa istrinya telah banyak membantu.

Sehingga tidak ada cara lain selain LEBIH MENCINTAINYA.”
“Hening…”
(fauziya/muslimahzone)

Semoga Bermanfaat.




(sumber: 7trending.blogspot.com)