Tampilkan postingan dengan label neraka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label neraka. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Juli 2016

Naudzubillah... Sumur Ini Berisi Para Penghuni Neraka ((Kisah Sahih))... Silahkan Dibagikan..!!!

inilah sumur barohut yang terletak cukup dekat dengan makam nabiyulloh hud alaihis salam di hadramaut yaman (cuma sebagian km jaraknya).

serupa dikisahkan dalam kitab irsyadul ibad kalau:

seseorang laki - laki yang kaya menunaikan ibadah haji ke baitullah. sesampainya di mekah dia menitipkan uangnya sebesar 1000 dinar pada seseorang yang populer dapat dipercaya dan juga shalih hingga tuntas wuquf di arafah.

dikala dia sudah merampungkan wuquf, dia berulang pada mekah dan merasakan orang yang dititipinya sudah meninggal. dia bertanya tentang uangnya pada keluarganya. tampaknya tidak seorang pula dari anggota keluarganya yang ketahui. orang itu pula mengantarkan perkaranya pada sebagian ulama mekah.

mereka mengatakan: " bila setengah malam sudah lalu, mendekatlah ke sumur zam zam, lihatlah, dan panggil namanya. apabila dia tercantum pula penunggu surga tentu dia hendak menanggapi panggilanmu pada kali kesatu. "

jadi orang itu simaklah anjuran mereka menghadiri sumur zamzam dan memanggilnya. namun tidak terdapat jawaban.

karna itu dia berulang pada mereka, menceritakannya. mereka mengatakan, " innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun. kami takut bebrapa janganlah temanmu itu tercantum pula penunggu neraka. pergilah ke tanah yaman, di situ terdapat satu sumur yang bernama sumur barohut. tuturnya sumur itu terdapat di pinggir jahannam. lihatlah di dikala malam, dan panggilah temanmu. apabila dia tercantum pula penunggu neraka, tentu dia hendak menanggapi panggilanmu. jadi orang itu pula berangkat ke yaman dan ajukan persoalan menimpa sumur itu.

seseorang menunjukkannya dan pula mendatanginya pada malam hari. dia memandang ke dalamnya dan berseru: " hai fulan! ". nyatanya terdapat jawaban.
dia ajukan persoalan, " di mana uang emasku? ".
terdapat jawaban : " aku tanam dibagian " ini - ini " dalam rumahku. aku memanglah belum memberitahukannya pada anakku. galilah tentu kamu memperolehnya. "
dia ajukan persoalan : " apa yang menyebabkanmu terdapat di mari sementara itu bagi prasangka kami, kamu ialah seorang yang baik. "
terdapat jawaban : " aku mempunyai seorang kerabat perempuan yang fakir. aku menjauhinya dan tidak menaruh belas kasihan padanya. jadi allah menghukumku dan merendahkan kedudukanku serupa ini. "
perihal ini setimpal sama sabda nabi saw dalam hadits yang shahih, " hendak tidak masuk surga orang yang memutus jalinan r4h1m. " (diriwayatkan oleh al - bukhari (5984) , muslim (2556) , abu dawud (1696) , dan at - tirmidzi ( 1909) dari jabir bin muthim).
tujuannya memutuskan jalinan r4h1m serupa kerabat wanita, bibi, keponakan, dan yang lain dari pada kerabat
hadits tentang sumur barohut:
rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
thnx abn nhma
allah abbas, berkata: rasulullah dan juga damai lyh: khyr bunda ali vjh alarz bunda zmzm
santapan huhusay de alt lagi vshfa de alsqm, bunda berpihak ali vjh alarz bunda bvady brhvt bqyh hzrmvt krjl aljrad de alhvam ysbh ytdfq kelahiran c la bilal bangkrut.

maksudnya: dari abdullah bin abbas radhiyallahu anhuma mengatakan: rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

" sebaik baik air yang terdapat di wajah bumi ialah air zam - zam, karna air itu (serupa) santapan yang dapat mengenyangkan, dan air itu mampu menyembuhkan bermacam - macam penyakit. dan seburuk - buruknya air yang terdapat di wajah bumi ialah air yang berposisi di sumur lembah barohut, letak sumur ini di posisi hadhramaut, serupa kaki belalang (yang tunjukkan sumur itu begitu dalam) , tiap pagi air di sumur itu naik keatas, dan tiap sore di sumur itu airnya kering karna airnya turun lagi kedasar sumur ".

(shahih, hr thabrani dalam mujam al - kabir (11004, 11167) dan dalam mujam al - ausat (3912, 8129) , di shahihkan oleh ibnu hibban, tabrani, dan al - haitsami)

atsar anas bin malik radhiallhu anu:



anas ra dengan ia: kehidupan umat beriman buat jabiya, dan juga kehidupan orang - orang kafir mati wade bhoudr mengatakan kepadanya brhot

" dari anas radhiallahu anhu, " ruh kalangan beriman (ditempatkan) ke jabiyah, dan ruh kalangan kafir (ditempatkan) ke bukit hadramaut yang diartikan barhut "



ali bin abi thalib pula mengantarkan:

orang baik lembah lembah mekah, dan juga orang - orang jahat lembah lembah ahqaf, kata hadramout lembah kepadanya: brhot kehidupan orang - orang kafir

" sebaik - baik bukit manusia ialah bukit di makkah, dan seburuk - buruk bukit manusia ialah bukit al - ahqab ialah bukit di hadramaut yang diartikan dengan barhut, di dalamnya terdapat ruh kalangan kafir ".



abdullah bin umar mengantarkan:

kehidupan orang - orang kafir berkumpul berhot, rawa hadramout, dan juga kehidupan yang setia di jabiya, brhot yaman, dan juga jabiya baham

" sesungguhnya ruh kalangan kafir dikumpulkan di barhut, satu lembah di hadramaut. dan ruh mukmin di jabiyyah. telaga barhut terdapat di yaman dan jabiyah terdapat di syam "





(sumber: yoksebarkan_com)

Minggu, 10 Juli 2016

WANITA BACA INI : Lebih Baik Panasnya Hijabku Dibandingkan Panasnya Neraka

mbak tidak merasa kepanasan ya? ” satu nada perempuan tiba - tiba mengagetkanku. seorang mahasiswi menyapaku di depan rubrik layanan foto - kopi di universitas.



“pake demikian kan mampu buat gerah, ” perempuan itu berulang menguberku dengan persoalan. sempat kulirik, ke - 2 matanya tidak terlepas menyapu seluruh pakaian yang kubiarkan menjutai hingga ke dasar.

serupa universal, aku gunakan stelan jubah longgar yang kupadu dengan hijab besar sampai menutupi ke - 2 tanganku. mungkin ia mendengarkan pakaian yang kupakai.

sambil tersenyum, aku balik memandang. seorang wanita berjilbab pendek dan transparan. bajunyapun ketat. dia pula menggunakan celana yang seluruh menampakkan lekuk tubuhnya dengan cerah. yap, berikut stylelist muslimah jaman dikala ini. hijab gaul dan trendi, kata sebagian orang.

dengan ramah, aku menanggapi pertanyaannya, “iya panas pula sih. tetapi tidak jadi permasalahan apabila telah miliki kerutinan, ” ujarku tersenyum. “lagipula, dari pada panasnya neraka tambah baik panas disini lho, ” imbuhku santun.

sejenak dia terdiam dalam tatapanku. hingga kesimpulannya dia pula mengangguk sambil tersenyum. kujabat tangannya, dikala ini aku hendak pamit. foto - kopi pekerjaan makalah telah beres. dia berulang tersenyum.

tidak ketahui apa di fikirannya waktu ini. tuturnya, aku terasa plong mampu menanggapi satu pada sebagian puluh persoalan yang biasa menghampiriku.

dari kejauhan nada merdu azan dzuhur telah berkumandang memanggil sebagian orang beriman mengarah kemenangan. aku bergegas ke masjid.

budaya arab?

dapat jadi ilustrasi diskusi diatas sempat dialami sebagian orang muslimah. cerita yang acapkali hampiri banyak muslimah yang coba istiqamah berhijab setimpal sama tuntunan syariat. sebagian gelar dan stigma negatif seolah jadi makan wajib mereka. dari mulai julukanninja, teroris hingga mendapatkan sorakan “aisyah ayat - ayat cinta”.

pendapat sinis pula tidak henti mengenai, bahwa baju dan hijab lebar itu cocoknya di negara timur tengah bagaikan budaya arab, tidaklah dipakai di indonesia.

tidak kalah beratnya dari pihak keluarga, sebagian orang - tua dan keluarga masihlah menentang keinginan sebagian muslimah yang menginginkan menyempurnakan hijabnya. alasan susah dapat jodoh, kecil peluang kerja, hingga pada anggapan susah berteman di area keluarga.

di kelompok sebaya pula sekian. sebagian muslimah itu siap - siap dijuluki serupa emak - emak, rempong, sok suci, sok alim, belum layak, dsb.

please don’t bully me

dalam sistem ekspedisi keimanan seorang muslimah, memakai jilbab syar’i tentu jadi dini langkah yang baik. memilik pakaian tercantum pula opsi dari pemikiran hidup. hatta, mereka hoby telanjang ditempat universal (nudist) walaupun itu cerah aksi amoral, apabila di tanya argumennya, ujungnya tentu buat ‘menunjukkan jati diri dan ideologi’. yang tentu ‘ideologi ketelanjangan’.

dalam novel “dress and ideology - fashioning identity from antiquity to the present”, orang barat seorang diri yakini, gaun dan mode ialah sarana visual yang kokoh buat mengkomunikasikan pandangan hidup, politik,


sosial ataupun agama seseorang atau
tim.

terlebih lagi pula sejauh revolusi prancis, memakai celana ataupun gaun mampu melambangkan ortodoksi ideologis dan pemberontakan. revolusi prancis th. 1789 dan revolusi amerika, diisyarati kemerdekaanya th. 1776 satu antara lain perobahan pola hidup ; model rambut dan pakaian.

terlebih lagi pula bennett, a. (2005) sempat mengantarkan, “fashion sajikan satu diantara langkah yang amat siap dimana pribadi orang dapat buat statment visual yang ekspresif menimpa jati diri mereka. ”

karenanya, apabila opsi aku dengan hijab panjang (hijab syar’i) tentu pula dengan opsi yg tidak asal - asalan. karena opsi ini didasarkan firman allah ;

قُل لِّل�مُؤ�مِنِينَ يَغُضُّوا مِن� أَب�صَارِهِم� وَيَح�فَظُوا فُرُوجَهُم� ذَلِكَ أَز�كَى لَهُم� إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَص�نَعُونَ

“katakanlah pada perempuan yang beriman : hendaknya mereka menahan pemikirannya, dan kemaluannya, dan jangan hingga mereka memperlihatkan perhiasannya, terkecuali yang (universal) nampak dari kepadanya …” (qs. an - nur 24 : 31).

diluar itu, basic yang lain ialah firman allah subhanahu wa ta’ala (swt) ;

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَز�وَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء ال�مُؤ�مِنِينَ يُد�نِينَ عَلَي�هِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَد�نَى أَن يُع�رَف�نَ فَلَا يُؤ�ذَي�نَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“hai nabi, katakanlah pada istri - istrimu, kanak - kanak perempuanmu dan istri - istri orang mukmin : hendaknya mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. yang sekian itu supaya mereka lebih mudah buat di tahu, karenanya mereka tidak diganggu. dan allah ialah maha pengampun lagi maha penyayang. ” (qs. al - ahzab 33 : 59).

berikut landasan terkuat, mengapa bagi aku seorang muslimah mesti berhijab. terdapat perintah allah yang tertuang cerah dalam al - qur’an. siapa yang menuruti perintah - nya, tentu allah mencintainya.

tengah yang tidak mematuhi perintahnya, jadi bersiaplah terima murka allah. karenanya, tolong janganlah usik dan hakimi sebagian muslimah yang tengah coba menyempurnakan hijabnya. karena tersebut usaha mereka buat patuh pada perintah rabbnya, si pencipta.

tetap mengharapkan jadi perempuan shalehah ialah alasan amat utama seorang muslimah berhijab, tercantum pula aku. dengan jilbab yang benar, muslimah itu belajar patuh pada allah subhanahu wata’ala. dengan jilbab yang syar’i, muslimah itu belajar melindungi ifffah (kesucian) dianya. dengan jilbab yang setimpal sama, muslimah itu belajar akhlak dan beradab.

rasulullah shallallahu alaihi wasallam (saw) bersabda : “dunia ialah perhiasan dan sebaik - baik perhiasan ialah perempuan shalihah. ” (hr. muslim). jadi panas ataupun gerah, ini ialah opsi.

untukmu saudariku

amat akhir, ijinkan aku sharing nasehat pada diriku dan saudariku sekaligus ;

tidaklah aku baik sampai aku berhijab. malah dengan hijabku, aku berupaya biar mampu mengambil langkah dalam kebaikan.

tidaklah lantaran aku suci sampai aku berhijab. namun dengan hijabku, aku berupaya melindungi kesucian.

tidaklah lantaran aku santun sampai aku berhijab. namun dengan hijabku, aku berupaya jadi individu yang santun.

tidaklah lantaran aku berpemahaman luas sampai aku berhijab. namun dengan hijabku, aku berupaya meluaskan uraian.

tidaklah lantaran aku alim sampai aku berhijab. namun dengan hijabku, aku berupaya jadi wujud yang alim.

oleh karenanya, tidaklah salah hijabku apabila aku khilaf dan berbuat salah. akupun berupaya melaksanakan revisi diri jadi seorang muslimah yang kaffah, buat taatku pada rabbku. (sebarkanlah)






(sumber: pelangimuslim_com )

Jumat, 10 Juni 2016

Beginilah Siksa Neraka untuk Orang yang Tidak Berpuasa

puasa ramadhan diharuskan untuk segala umat islam yang telah baligh, berakal, sehat, tidak lagi haidh dan juga nifas. tetapi dalilnya, masih aja terdapat orang - orang yang meninggalkan puasa ramadhan. sementara itu, terdapat ancaman dahsyat untuk orang - orang yang tidak melangsungkan puasa ramadhan tanpa sebab yang dibenarkan syariat.

rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditunjukkan oleh allah lewat malaikatnya, gimana siksa neraka buat orang - orang yang tidak berpuasa.

dalam suatu hadits shahih yang diriwayatkan oleh ibnu khuzaimah dan juga ibnu hibban, rasulullah bersabda tentang satu keadaan penunggu neraka yang dilihatkan kepada dia:
فإذا أنا بقوم معلقين بعراقيبهم مشققة أشداقهم تسيل أشداقهم دما قال قلت : من هؤلاء ؟ قال : هؤلاء الذين يفطرون قبل تحلة صومهم

”aku memandang orang - orang yang bergantung di tumit - tumit mereka, tulang rahang mereka rusak dan juga meneteskan darah. saya bertanya, ‘siapa mereka? ’ ia menanggapi, ‘orang - orang yang berbuka saat sebelum halal untuk mereka buat berbuka’” (hr. ibnu khuzaimah dan juga ibnu hibban)

dalam shahih at targhib wa at tarhib dipaparkan kalau iktikad orang - orang yang berbuka saat sebelum halal untuk mereka buat berbuka merupakan berbuka saat sebelum waktunya. secara universal, artinya merupakan tidak berpuasa. karenanya bab hadits ini diberi judul “ancaman tidak berpuasa di bulan ramadhan tanpa udzur. ”

demikianlah ancaman siksa neraka buat orang yang tidak berpuasa. sebaliknya untuk umat islam yang berpuasa atas landasan iman dan juga semata mengharap pahala dari allah subhanahu wa ta’ala, ia hendak membagikan ampunan buat dosa - dosa hamba tersebut yang telah kemudian.

sebagaimana sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“barangsiapa berpuasa di bulan ramadhan atas landasan iman dan juga mengharap pahala dari sisi allah, tentu diampuni dosa - dosanya yang telah lalu” (hr. angkatan laut (AL) bukhari dan juga muslim)

tidak hanya itu, untuk umat islam yang menunaikan puasa, allah sediakan kegembiraan kala nanti hamba tersebut berjumpa dengannya. allah pula sediakan satu pintu spesial di surga bernama ar rayan untuk hamba - hambanya yang pakar puasa.






(sumber: bersamadakwah.net)

Rabu, 01 Juni 2016

Mengapa Orang Kafir Masuk Neraka Meskipun Suka Berbuat Baik? Ini Jawaban Dr Zakir Naik

salah satu kepercayaan dalam islam merupakan orang kafir, walaupun suka berbuat baik, dia hendak masuk neraka dan juga kekal di dalamnya. terlebih bila sudah kafir lalu memusuhi dan juga memerangi islam.

allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“sesungguhnya orang - orang yang kafir ialah pakar kitab dan juga orang - orang yang musyrik (hendak masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu merupakan seburuk - buruk makhluk” (qs. angkatan laut (AL) bayyinah: 6)

dokter zakir naik sempat ditanya tentang prinsip tersebut. karna yang bertanya merupakan non muslim, pakar perbandingan agama itu juga memakai analogi buat menjelaskannya.

“saudara, bila kita menjajaki tes, semisal saya tes ke akademi besar, terdapat 6 tes yang wajib kuikuti: sains, matematika, bahasa inggris, bahasa india, sejarah dan juga geografi, saya wajib lulus seluruhnya. bila saya menemukan nilai 100 dalam 5 mata pelajaran tetapi dalam satu pelajaran, sains, saya menemukan nilai 20, apakah saya hendak lulus? saya hendak kandas, ” kata dokter zakir naik.

“jadi sama serupa itu, persyaratan buat berangkat ke surga yang kesatu kau wajib mempunyai iman, setelah itu amal saleh, mengajak teman kepada kebenaran dan juga menasehati teman supaya bersabar.

kau bisa jadi orang yang baik, kau bisa jadi bersedekah dan juga sebagainya, tetapi bila kau tidak memiliki iman, bila kau tidak beriman kepada tuhan yang maha esa, bila kau tidak menyembah si pencipta yang sejati, kau kandas dalam ujiannya.

jadi supaya engkau lulus, kau wajib lulus dalam keempat persyaratan ini: iman kepada tuhan yang maha esa, jangan menyembah berhala, tidak beriman kepada tuhan yang salah. yang kedua, melaksanakan amal kebaikan. yang ketiga, mengajak teman dalam jalur kebenaran (dakwah). yang keempat, menasehati teman supaya bersabar.

bila kau tidak beriman kepada tuhan yang maha esa dan juga kau menyekutukannya, hingga kau tidak lulus dalam tes akhirat. kau kandas. ” [ibnu k/tarbiyah]



(sumber: tarbiyah.net)

Kamis, 19 Mei 2016

SUBHANALLAH....AYAT PENDEK INI MEMBANTU KITA JAUH DARI NERAKA,....SEBARKAN!!!!!!!!! SEMOGA BERMANFAAT...

Neraka yaitu tempat terburuk serta penuh rasa sakit. Ditujukan untuk mereka yang hidup bergelimang dengan dosa didunia. Penuh kobaran api yang panasnya sungguh dahsyat. Batu yang dilemparkan ke dalamnya baru bakal meraih dasarnya 70 th. lalu. Bahan bakarnya yaitu manusia serta batu. Dan minuman buat beberapa penghuninya yaitu air kental yang berbau busuk serta membakar.

Sebagai manusia yang beriman pastinya kita akan tidak pernah ingin dijerumuskan kedalam neraka lantaran dosa-dosa yang sudah dikerjakan. Rasulullah saw juga tak pernah ikhlas umatnya jadi bahan bakar neraka. Oleh karena itu Rasulullah saw kerapkali bicara dalam suara tarhib (peringatan) pada beberapa teman dekat supaya waspada dengan amalan-amalan pakar neraka yang bakal menjerumuskan mereka pada siksa.

Diluar itu Rasulullah SAW banyak memberi langkah pada umatnya supaya terlepas dari lubang yang begitu dalam itu. Satu diantaranya dengan doa perlindungan seperti yang ada pada suatu hadits hasan di bawah ini.

Dari Alharits bin Muslim Attamimi ra, ia berkata : Nabi saw bersabda kepadaku : “Apabila anda usai salat Subuh jadi ucapkanlah sebelumnya bicara : “Ya Allah, lindungilah saya dari api neraka (Allahumma ajirni minannar) ”, tujuh kali ; lantaran sebenarnya bila anda wafat pada harimu itu pasti Allah menulis bagimu perlindungan dari api neraka, serta jika anda usai salat Magrib jadi ucapkanlah
sebelumnya bicara, “Ya Allah, lindungilah saya dari api neraka (Allahumma ajirni minannar) ”, tujuh kali ; lantaran sebenarnya bila anda wafat pada malammu itu pasti Allah menulis bagimu perlindungan dari api neraka. ”

Dalam kitab Almuntaqa min Kitab Attarghib wa Attarhib Lil Mundziri karya Dr. Yusuf Alqaradhawi, dijelaskan kalau hadis ini diriwayatkan oleh Nasa’i, lafaz ini baginya, serta Abu Dawud dari Alharits bin Muslim dari bapaknya Muslim bin Alharits. Alhafizh Almundziri berkata : “Ia benar, lantaran Alharits bin Muslim yaitu tabi’i. Abu Zar’ah serta Abu Hatim Arrazi mengatakannya. ” Catatan kaki dalam kitab itu tercatat : Alhafizh berkata, “Ia yaitu hadis hasan (sumber yang lain sama yaitu Syarh Alazhar, hal. 68). ”

Hadits ini mengajarkan pada kita banyak hal. Pertama, berlindung dari api neraka bisa dengan berdoa memakai kalimat yang pendek serta dapat dihafal dengan gampang dan tak memerlukan saat yang lama. Segera pada maksud serta sasarannya. Tak seperti umumnya doa pada manusia jaman saat ini yang bersajak-sajak serta terlalu berlebih.

Ke-2, Islam mengajarkan umatnya untuk berlaku istikamah. Kalau doa ini menuntut pada pembacanya untuk di baca sehari-hari serta malam. Cukup membacanya sejumlah tujuh kali sesudah salat Subuh serta Magrib.

Ketiga, karakter menepati janji menempel pada semuanya nabi serta pastinya Rasulullah SAW. Manusia mulia ini memberi jaminan kalau Allah bakal membuat perlindungan dari api neraka bila si pembaca kalimat ini wafat di hari atau malam itu.

Mudah-mudahan kita terlepas dari siksa api neraka.

Wallahua’lam bishshawab.




(sumber: pusatberitaharian.com)

Sabtu, 14 Mei 2016

Tanpa Kita Sadari Ternyata Jarak Neraka Dengan Kita Begitu Dekat, Ini Buktinya!!

Aku kenal seorang pemuda yang dulu termasuk orang yang lalai dari mengingat Allah. Dulu dia bersama dengan teman-teman yang buruk sepanjang masa mudanya. Pemuda itu meriwayatkan kisahnya sendiri:

Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, aku dulu keluar dari Riyadh bersama teman-temanku menuju kota Dammam, dan tidak ada satu pun niat dalam diriku untuk melakukan satu ketaatan untuk Allah, apakah untuk shalat atau yang lain.

Ketika kami melewati papan penunjuk jalan, teman-teman membacanya “Dammam, 300 Km”, aku katakan kepada mereka aku melihat papan itu bertuliskan “Jahannam, 300 Km”. Aku bersumpah kepada mereka atas hal itu, akan tetapi mereka tidak percaya, mereka pun menertawakan ucapanku.

Berlalulah waktu dalam canda tawa, sementara aku bingung dengan papan yang kubaca tadi. Selang beberapa waktu, kami mendapatkan papan penunjuk jalan lain, mereka berkata “Dammam, 200 Km”, kukatakan “Jahannam, 200 Km”. Merekapun menertawakan aku dan menyebutku gila. Kukatakan: “Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, sesungguhnya aku melihatnya bertuliskan 'Jahannam, 200 Km'.” Mereka pun menertawakanku kembali dan berkata: “Diamlah, kamu membuat kami takut.” Akupun diam diliputi rasa keheranan memikirkan perkara aneh ini.

Kemudian kami bertemu dengan papan penujuk jalan yang ketiga. Mereka berkata: “Tinggal sedikit lagi 'Dammam, 100 Km'.” Kukatakan: “Demi Allah yang Maha Agung, aku melihatnya 'Jahannam, 100 Km'.” Mereka berkata: “Tinggalkanlah kedustaan, engkau telah menyakiti kami sejak awal perjalanan kita.” Kukatakan: “Turunkan aku, aku ingin kembali.” Mereka berkata: “Apakah engkau sudah gila?” Kukatakan: “Turunkan aku, demi Allah, aku tidak akan menyelesaikan perjalanan ini bersama kalian.” Mereka pun menurunkanku, aku pun berjalan ke arah lain. Dalam jalan kaki, aku memberikan isyarat kepada mobil-mobil untuk berhenti, tetapi tidak ada yang berhenti untukku. Hingga beberapa saat, berhentilah mobil dengan sopirnya yang sudah tua, aku pun menumpang dalam mobilnya. Ia tampak diam, sedih, dan tidak berkata-kata satu kalimat pun sepanjang perjalanan.

Kubertanya: “Ada apa dengan Anda, kenapa tidak berbicara?” Dia menjawab: “Sesungguhnya aku sangat terkesima dengan sebuah kecelakaan maut yang kulihat beberapa saat lalu, demi Allah aku belum pernah melihat yang lebih buruk darinya selama kehidupanku.” Kubertanya: “Apakah mereka itu satu keluarga atau tidak?” Ia menjawab: “Mereka sekumpulan anak-anak muda, tidak ada seorangpun dari mereka yang selamat.” Dia menceritakan ciri-ciri mobilnya, akupun mengenalnya, mereka adalah teman-temanku tadi. Aku meminta ia bersumpah atas apa yang telah dia ceritakan, maka ia pun bersumpah dengan nama Allah.

Ternyata Allah telah mencabut roh teman-temanku setelah aku turun dari mobil mereka tadi. Dia telah menjadikan mereka sebagai pelajaran bagi diriku. Aku pun memuji Allah yang telah menyelamatkanku di antara mereka.”

Pemilik kisah ini menjadi seorang laki-laki yang baik. Padanya terdapat tanda-tanda  kebaikan. Setelah ia kehilangan teman-temannya, ia bertaubat dengan taubat nashuha.”

Wahai saudaraku, apakah engkau akan menunggu kehilangan empat atau lima temanmu seperti perjalanan itu agar engkau bisa mengambil pelajaran darinya? Tahukah kamu, bahwa terkadang bukan engkau yang bertaubat karena sebab kematian teman-temanmu, melainkan engkaulah yang menjadi sebab pertaubatan teman-temanmu karena kematianmu di atas maksiat dan kerusakan…  Na’udzu billah.

Ya Allah, jangan jadikan kami sebagai pelajaran buruk bagi manusia, tetapi jadikanlah kami sebagai orang yang mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada mereka, dan dari apa saja yang terjadi di sekitar kami. Allahumma Amin.


👤  Syaikh Abu Khalid al-Jadawy
🌐 Mutiara Risalah Islam




(sumber: wajibbaca.com)

Selasa, 10 Mei 2016

WANITA BACA INI : Lebih Baik Panasnya Hijabku Dibandingkan Panasnya Neraka

“MBAK gak merasa kepanasan ya?” sebuah suara perempuan tiba-tiba mengejutkanku. Seorang mahasiswi menyapaku di depan ruang jasa foto-kopi di kampus.

“Pake begitu kan bisa bikin gerah,” perempuan itu kembali mengejarku dengan pertanyaan. Sempat kulirik, kedua matanya tak lepas menyapu seluruh pakaian yang kubiarkan menjutai hingga ke bawah.

Seperti biasa, aku memakai stelan jubah longgar yang kupadu dengan jilbab besar hingga menutupi kedua tanganku. Mungkin dia memperhatikan pakaian yang kupakai.

Sambil tersenyum, aku balik menatap. Seorang gadis berjilbab pendek dan transparan. Bajunyapun ketat. Ia juga memakai celana yang semuanya menampakkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Yup, inilah stylelist muslimah zaman sekarang. Jilbab gaul dan trendy, kata sebagian orang.

Dengan ramah, aku menjawab pertanyaannya, “Iya panas juga sih. Tapi tidak masalah kalau sudah terbiasa,” ujarku tersenyum. “Lagipula, daripada panasnya Neraka lebih baik panas di sini lho,” imbuhku santun.

Sejenak ia terdiam dalam tatapanku. Hingga akhirnya ia juga mengangguk sambil tersenyum. Kujabat tangannya, kini aku hendak pamit. Foto-kopi tugas makalah sudah beres. Ia kembali tersenyum.

Entah apa di pikirannya saat ini. Jelasnya, aku merasa plong bisa menjawab satu di antara puluhan pertanyaan yang biasa menghampiriku.

Dari kejauhan suara merdu azan Dzuhur sudah berkumandang memanggil orang-orang beriman menuju kemenangan. Saya bergegas ke masjid.

Budaya Arab?

Boleh jadi ilustrasi dialog di atas pernah dialami beberapa orang Muslimah. Kisah yang kerap menghampiri para Muslimah yang mencoba istiqamah berhijab sesuai tuntunan syariat. Sejumlah gelar dan stigma negatif seolah menjadi sarapan wajib mereka. Mulai dari julukanninja, teroris hingga mendapat sorakan “Aisyah Ayat-Ayat Cinta”.

Komentar sinis juga tak henti menerpa, bahwa baju dan jilbab lebar tersebut cocoknya di negeri Timur Tengah sebagai budaya Arab, bukan dipakai di Indonesia.

Tak kalah beratnya dari pihak keluarga, sebagian orangtua dan keluarga masih menentang niat para Muslimah yang ingin menyempurnakan hijabnya. Alasan susah dapat jodoh, sempit peluang kerja, hingga kepada anggapan susah bergaul di lingkungan keluarga.

Di kalangan sebaya pun demikian. Para Muslimah tersebut siap-siap dijuluki kayak emak-emak, rempong, sok suci, sok alim, belum pantas , dan sebagainya.

Please Don’t Bully Me

Dalam proses perjalanan keimanan seorang Muslimah, memakai hijab syar’i tentu menjadi awal langkah yang baik. Memilik pakaian termasuk pilihan dari pandangan hidup. Hatta, mereka hobi telanjang di tempat umum (nudist) meski itu jelas tindakan amoral, jika ditanya alasannya, ujungnya pasti untuk ‘menunjukkan identitas dan ideologi’. Yang pasti ‘ideologi ketelanjangan’.

Dalam buku “Dress and Ideology- Fashioning Identity from Antiquity to the Present”, orang Barat sendiri meyakini,  gaun dan fashion adalah sarana visual yang kuat untuk mengkomunikasikan ideologi, politik,
sosial atau agama seseorang atau kelompok.

Bahkan selama Revolusi Prancis, memakai celana atau gaun bisa melambangkan ortodoksi ideologis dan pemberontakan. Revolusi Prancis tahun 1789 dan Revolusi Amerika, ditandai kemerdekaanya tahun 1776 salah satunya perobahan gaya hidup; mode rambut dan pakaian.

Bahkan Bennett, A. (2005) pernah mengatakan, “Fashion menyediakan salah satu cara yang paling siap di mana individu dapat membuat pernyataan visual yang ekspresif tentang identitas mereka.”

Karena itu, jika pilihan saya dengan jilbab panjang (jilbab syar’i) juga pasti dengan pilihan yang tidak sembarangan. Sebab pilihan ini didasarkan firman Allah;

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya …” (QS. An-Nur [24]: 31).

Selain itu, dasar lainnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) ;

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab [33]: 59).

Inilah landasan terkuat, mengapa menurut saya seorang Muslimah harus berhijab. Ada perintah Allah yang tertuang jelas dalam al-Qur’an. Siapa yang menuruti perintah-Nya, niscaya Allah mencintainya.

Sedang yang melanggar perintahnya, maka bersiaplah menerima murka Allah. Untuk itu, tolong jangan usik dan hakimi para Muslimah yang sedang mencoba menyempurnakan hijabnya. Sebab itulah upaya mereka untuk taat kepada perintah Rabbnya, Sang Pencipta.

Selalu berharap menjadi wanita shalehah adalah alasan utama seorang Muslimah berhijab, termasuk saya. Dengan hijab yang benar, Muslimah itu belajar taat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dengan hijab yang syar’i, Muslimah itu belajar menjaga ifffah (kesucian) dirinya. Dengan hijab yang sesuai, Muslimah itu belajar akhlak dan beradab.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (Saw) bersabda: “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim). Jadi panas atau gerah, ini adalah pilihan.

Untukmu Saudariku

Terakhir, izinkan aku berbagi nasihat kepada diriku dan saudariku sekalian;

Bukan aku baik sehingga aku berhijab. Justru dengan hijabku, aku berusaha agar bisa melangkah dalam kebaikan.

Bukan karena aku suci sehingga aku berhijab. Namun dengan hijabku, aku berusaha menjaga kesucian.

Bukan karena aku santun sehingga aku berhijab. Namun dengan hijabku, aku berusaha menjadi pribadi yang santun.

Bukan karena aku berpemahaman luas sehingga aku berhijab. Namun dengan hijabku, aku berusaha meluaskan pemahaman.

Bukan karena aku alim sehingga aku berhijab. Namun dengan hijabku, aku berusaha menjadi sosok yang alim.

Oleh karena itu, bukan salah hijabku jika aku khilaf dan berbuat salah. Akupun berusaha memperbaiki diri menjadi seorang muslimah yang kaffah, demi taatku kepada Rabbku. (sebarkanlah)



(Sumber: pelangimuslim.com)

Minggu, 24 April 2016

Saudariku...Tinggalkanlah Model jilbab Punuk Unta, Karena Kelak Engkau Tak Akan Mencium Bau Surga

Di zaman yang serba modern ini, banyak sekali gaya-gaya yang menurut kebanyakan orang adalah gaya yang lagi ngetrend. Seperti halnya dalam penggunaan hijab. Salah satu yang lagi trend sekarang ini adalah adanya hijab punuk unta. Seperti layaknya unta, hijab punuk unta ini adalah gaya kerudung yang sengaja dibuat tonjolan di belakang kepala. Lalu, bagaimana hukumnya dalam Islam?

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

( صنفان من أهل النار لم أرهما قوم معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس ونساء كاسيات عاريات مائلات مميلات رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة لايدخلن الجنة ولا يجدن ريحها وان ريحها لتوجد من مسيرة كذاوكذا )
رواه أحمد ومسلم في الصحيح .

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya yaitu kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia (maksudnya penguasa yang dzalim), dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu (jarak jauh sekali),” (HR. Muslim dan yang lain).

Maksud dari hadits “kepala mereka seperti punuk unta,” adalah wanita yang menguncir atau menggulung rambutnya sehingga tampak sebuah benjolan di bagian belakang kepala dan tampak dari balik hijabnya.

Ancaman yang sangat keras bagi setiap wanita yang keluar rumah menonjolkan rambut yang tersembunyi di balik hijabnnya adalah tidak dapat mencium bau wangi surga, padahal bau wangi surga bisa dicium dari jarak yang sangat jauh.

Apabila telah ada ketetapan dari Allah baik berupa perintah atau pun larangan, maka seorang mukmin tidak perlu berpikir-pikir lagi atau mencari alternatif yang lain. Terima dengan sepenuh hati terhadap apa yang ditetapkan Allah tersebut dalam segala permasalahan hidup.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata,” (QS. Al-Ahzab: 36)
Allah subhanahu w ta’ala juga berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu,” (QS. Al Hujaraat: 15).

Kalau kita cermati dengan seksama maka akan jelas sekali bahwa saat ini banyak kaum wanita yang telah melakukan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam hadits tersebut, yaitu memakai jilbab yang dibentuk sehingga mirip punuk unta. Kalau berjilbab seperti ini saja tidak masuk surga, bagaimana pula yang tidak berjilbab?

Inti dari larangan dalam hadits tersebut adalah bertabarruj, yaitu keluar rumah dengan berdandan yang melanggar aturan syari’at dan berjilbab yang tidak benar sebagaimana firman Allah, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu (bertabarruj) berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu,” (QS. Al-Ahzaab: 33).



(Sumber: infoduniaislam.info)

Senin, 18 April 2016

Wanita Wajib Baca! Inilah Mengapa Banyak Wanita Masuk Neraka Karena Lisannya

Sahabat, jangan merasa aman dan yakin di dunia apalagi di akhirat karena merasa sudah rajin sholat, mengaji dan berpuasa jikalau tak mampu menjaga lisan.  Maksudnya?


Abu Hurairah r.a pernah menyampaikan, ada yang menanyakan kepada Rosulullah SAW begini, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya si Fulanah suka sholat malam, shoum di siang hari, mengerjakan (berbagai kebaikan) dan bersedekah, hanya saja ia suka mengganggu para tetangganya dengan lisannya?”

Dijawab oleh beliau, “Tiada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka”.  Nah Mereka pun bertanya lagi, “Sesungguhnya si Fulanah (yang lain) mengerjakan (hanya) sholat wajib dan bersedekah dengan sepotong keju, namun tidak pernah mengganggu seorangpun?”. Bersabda Rosulullah, “Dia termasuk penghuni surga”. [HR al-Bukhari)

Berarti soal menjaga lisan ini bukan perkara kecil bukan?. Amat menentukan nasib seorang hamba di dunia, terlebih-lebih di akhirat kelak.  Intinya Ibadah vertikal sesorang juga harus dimplementasikan dengan ibadah horizontal dia kepada sesama. Terutama saudara terdekat seperti tetangga dengan menjaga lisannya.

Urusan lisan buat perempuan memang bukan perkara gampang.  Banyak yang mengatakan memang dari “sono”nya perempuan dilahirkan sebagai sosok cerewet dan banyak omong. Betulkah?

Sebenarnya nggak 100% valid,  tapi setidaknya kalau ada penyebutan “perempuan”  secara khusus oleh Allah SWT dalam kaitannya menjaga lisan, itu tandanya para wanita harus lebih berhati-hati.

Di Surat Al Hujurat ayat 11 disebut jelas, “…dan janganlah perempuan-perempuan (mengolok-ngolok) perempuan lain , kerena boleh jadi perempuan (yang diolok-olok) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-ngolok)”.

Nah Sahabat Ummi, peringatan Allah ini pertanda bahwa siapa saja khususnya perempuan harus benar-benar menjaga lisannya dengan baik. Karena ada istilah mengatakan lidah lebih tajam daripada pedang. Pukulan hanya membekas di badan barang sebentar tapi omongan bisa terpendam di hati hingga terbawa mati. Serem kan?

Tahukah apa saja petaka lisan yang bisa menjauhkan wanita dari surga?

Mencibir atau mengolok-ngolok. Ini masuk petaka besar karena dibalik cibiran biasanya tersembunyi kesombongan. Orang yang mengolok-ngolok seringnya merasa dirinya lebih baik dan sempurna dari orang lain. Padahal barang siapa membawa kesombongan atau ujub maka ia tak akan diperkenankan masuk  surga.

Menggunjing atau  membicarakan aib orang. Wah ini juga jangan dianggap sepele karena jatuhnya bisa ghibah maupun fitnah. Ghibah jika apa yang disampaikan benar, fitnah jika ternyata salah.  Bila tak ingin amal yang sudah kita kumpulkan susah payah di’debet’ orang lain, maka mulai dari sekarang berhentilah menggunjing.

Banyak mengeluh.  Konon perempuan gudangnya keluhan terutama mengeluhkan pasangan hidup alias suaminya.  Sahabat Ummi, waspadalah…waspadalah jangan sampai tercecer keluhan mengenai pasangan hidup kita di depan teman hatta urusan sepele sekalipun. “Suami saya orangnya ceroboh…naroh barang suka sembarangan.  Sudah gitu malas bangun pagi sekalinya bangun pengennya sudah tersedia kopi!”

Karena mendengar keluhan menantunya mengenai kondisi perekonomian keluarga tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, diriwayatkan Nabi Ibrahim AS akhirnya menyuruh Nabi Ismail menceraikan istrinya.  Bagaimanapun seorang istri harus menjaga kehormatan suaminya.

Keluhan istri juga bisa diartikan ia tidak ikhlas dengan keadaan.  Mengeluhkan suami sama saja ia
tidak ikhlas mendampingi.  Itulah yang kata Rasulullah SAW mengapa banyak wanita jadi penghuni neraka karena sering berkeluh kesah mengenai suaminya baik soal uang maupun tabiatnya.

Dalam hadits riwayat Al Bukhari dikatakan banyaknya wanita dalam neraka karena mereka kufur terhadap suaminya. Kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Meskipun suaminya berbuat baik sebanyak apa pun namun tatkala sedikit saja seorang istri menemukan kekurangannya yang tidak ia sukai para istri ini dengan mudahnya mengucap, “Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.”

Pernahkah terucap demikian?...buru-buru minta maaf segera deh para istri.

Gampang mencela dan ngata-ngatain orang.  Perempuan juga paling jago memberi label jelek pada sesama perempuan. “dasar jablay.  Sundel bolong…,perusak rumah tangga orang” dan sederetan cap jelek lainnya. Sss..ingatlah pepatah mulutmu harimaumu.

Nyinyir dan over penilaian.  Nah ini dia penyakit lisan lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan.  Bukan karena perfeksionis, tapi dasarnya perempuan memang doyan menilai. “Makanan di situ nggak enak. Asiiin. Ih amit-amit mampir ke situ lagi”. Tapi  ludes juga tuh masuk ke perut.  Apalagi kalau arisan, “ah bu, bajunya ini sudah bagus sayangnya kerudungnya kurang matching..”. Adaaaa saja yang dinilai dan kadang tidak prinsipil.

Basa-basi tapi tak mengenakkan. Menanyakan sesuatu boleh-boleh saja asal jangan berlebihan dan kadang kala bikin susah orang untuk menjawab.  Basa-basi tapi minus empati. Contohnya begini:

“Kapan menikah? Saya nggak sabar nih pengen jadi panitia.” Padahal tahu dia lagi nunggu jodoh.

“Kapan punya anak?..sudah setahun belum isi juga?”

“Kapan nambah anak lagi? Cuma dua mah masih sepi rumah”

“Kapan mantu?”

Bla…bla…

Tidak tahukah kadang basa-basi terkesan sepele bisa membekas dalam pikiran seseorang dan membuatnya stress?. Berempati sajalah dan doakan saja secara diam-diam tak usah menanyakan berulang-ulang kayak siaran iklan.

Menghasut dan manas-manasi teman. 

“Bu, jangan biarkan anaknya main sama anaknya si A..dia itu celamitan persis kayak ibunya”

“Ibu harus segera menurunkan berat badan biar nggak gampang sakit.  Tetangga saya kemarin meninggal di usia 45 tahun. Masih muda kan, sakit jantung karena kegemukan”.

Yakin deh sahabat, bukannya mengena malah antipati. Kadang ada orang yang dijauhi karena sikap dan ucapannya tidak memberi kenyamanan bagi yang mendengar.

Sahabat Ummi, betapa lisan yang tak terjaga akan menjatuhkan seseorang ke dalam neraka sudah sering diingatkan oleh Rasulullah SAW di hadits yang lain.

“Tiada lain yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka itu hanyalah karena hal-hal yang diucapkan oleh lidah mereka” (HR. Ashhabu ‘s Sunan dan Ahmad)

Lalu bagaimana cara mencegah lisan dari perkataan yang menyakitkan?.

Jawaban tergampang adalah latihan mengendalikan diri.Jangan berdalih ucapan buruk itu karena karakter (sifat) bawaan, atau kesukuan.  Tidak, lisan itu merupakan gambaran karakter seseorang.  Karenanya saring-saringlah dulu ucapan sebelum kelepasan.  Berfikir sebelum bicara, bukan di balik ngomong dulu baru mikir. 

Cara lain adalah mulai berkomitmen untuk tidak berdusta, menggunjing, mencela dan lainnya yang berindikasi menyakiti orang lain.  Hal yang juga memungkinkan adalah meninggalkan lingkungan pergaulan yang tidak kondusif.

Banyak di kalangan kita ikutan ghibah karena teman-teman sekeliling kita biasa demikian. Tinggalkan pergaulan yang buruk dan bergantilah mencari kawan-kawan yang mendukung kita dalam kebaikan.

Tentunya dengan cara mensiasatinya karena pada dasarnya kita pun dilarang pilah pilih teman karena kesombongan atau merasa lebih suci. Dan terakhir, isilah waktu dengan kesibukan yang bermanfaat. Insya Allah dengan banyak beraktivitas positif akan menghindarkan kita dari waktu luang yang kadang sia-sia.


(sumber: ummi-online)

Rabu, 13 April 2016

Lebih Baik Panasnya Hijabku Dibandingkan Panasnya Neraka

 “MBAK gak merasa kepanasan ya?” sebuah suara perempuan tiba-tiba mengejutkanku. Seorang mahasiswi menyapaku di depan ruang jasa foto-kopi di kampus.
“Pake begitu kan bisa bikin gerah,” perempuan itu kembali mengejarku dengan pertanyaan. Sempat kulirik, kedua matanya tak lepas menyapu seluruh pakaian yang kubiarkan menjutai hingga ke bawah.

Seperti biasa, aku memakai stelan jubah longgar yang kupadu dengan jilbab besar hingga menutupi kedua tanganku. Mungkin dia memperhatikan pakaian yang kupakai.
Sambil tersenyum, aku balik menatap. Seorang gadis berjilbab pendek dan transparan. Bajunyapun ketat. Ia juga memakai celana yang semuanya menampakkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Yup, inilah stylelist muslimah zaman sekarang. Jilbab gaul dan trendy, kata sebagian orang.
Dengan ramah, aku menjawab pertanyaannya, “Iya panas juga sih. Tapi tidak masalah kalau sudah terbiasa,” ujarku tersenyum. “Lagipula, daripada panasnya Neraka lebih baik panas di sini lho,” imbuhku santun.

Sejenak ia terdiam dalam tatapanku. Hingga akhirnya ia juga mengangguk sambil tersenyum. Kujabat tangannya, kini aku hendak pamit. Foto-kopi tugas makalah sudah beres. Ia kembali tersenyum.

Entah apa di pikirannya saat ini. Jelasnya, aku merasa plong bisa menjawab satu di antara puluhan pertanyaan yang biasa menghampiriku.
Dari kejauhan suara merdu azan Dzuhur sudah berkumandang memanggil orang-orang beriman menuju kemenangan. Saya bergegas ke masjid.

Budaya Arab?
Boleh jadi ilustrasi dialog di atas pernah dialami beberapa orang Muslimah. Kisah yang kerap menghampiri para Muslimah yang mencoba istiqamah berhijab sesuai tuntunan syariat. Sejumlah gelar dan stigma negatif seolah menjadi sarapan wajib mereka. Mulai dari julukanninja, teroris hingga mendapat sorakan “Aisyah Ayat-Ayat Cinta”.
Komentar sinis juga tak henti menerpa, bahwa baju dan jilbab lebar tersebut cocoknya di negeri Timur Tengah sebagai budaya Arab, bukan dipakai di Indonesia.
Tak kalah beratnya dari pihak keluarga, sebagian orangtua dan keluarga masih menentang niat para Muslimah yang ingin menyempurnakan hijabnya. Alasan susah dapat jodoh, sempit peluang kerja, hingga kepada anggapan susah bergaul di lingkungan keluarga.
Di kalangan sebaya pun demikian. Para Muslimah tersebut siap-siap dijuluki kayak emak-emak, rempong, sok suci, sok alim, belum pantas , dan sebagainya.

Please Don’t Bully Me
Dalam proses perjalanan keimanan seorang Muslimah, memakai hijab syar’i tentu menjadi awal langkah yang baik. Memilik pakaian termasuk pilihan dari pandangan hidup. Hatta, mereka hobi telanjang di tempat umum (nudist) meski itu jelas tindakan amoral, jika ditanya alasannya, ujungnya pasti untuk ‘menunjukkan identitas dan ideologi’. Yang pasti ‘ideologi ketelanjangan’.
Dalam buku “Dress and Ideology- Fashioning Identity from Antiquity to the Present”, orang Barat sendiri meyakini, gaun dan fashion adalah sarana visual yang kuat untuk mengkomunikasikan ideologi, politik, sosial atau agama seseorang atau kelompok.
Bahkan selama Revolusi Prancis, memakai celana atau gaun bisa melambangkan ortodoksi ideologis dan pemberontakan. Revolusi Prancis tahun 1789 dan Revolusi Amerika, ditandai kemerdekaanya tahun 1776 salah satunya perobahan gaya hidup; mode rambut dan pakaian.

Bahkan Bennett, A. (2005) pernah mengatakan, “Fashion menyediakan salah satu cara yang paling siap di mana individu dapat membuat pernyataan visual yang ekspresif tentang identitas mereka.”
Karena itu, jika pilihan saya dengan jilbab panjang (jilbab syar’i) juga pasti dengan pilihan yang tidak sembarangan. Sebab pilihan ini didasarkan firman Allah;
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya …” (QS. An-Nur [24]: 31).

Selain itu, dasar lainnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) ;
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab [33]: 59).

Inilah landasan terkuat, mengapa menurut saya seorang Muslimah harus berhijab. Ada perintah Allah yang tertuang jelas dalam al-Qur’an. Siapa yang menuruti perintah-Nya, niscaya Allah mencintainya.
Sedang yang melanggar perintahnya, maka bersiaplah menerima murka Allah. Untuk itu, tolong jangan usik dan hakimi para Muslimah yang sedang mencoba menyempurnakan hijabnya. Sebab itulah upaya mereka untuk taat kepada perintah Rabbnya, Sang Pencipta.

Selalu berharap menjadi wanita shalehah adalah alasan utama seorang Muslimah berhijab, termasuk saya. Dengan hijab yang benar, Muslimah itu belajar taat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dengan hijab yang syar’i, Muslimah itu belajar menjaga ifffah (kesucian) dirinya. Dengan hijab yang sesuai, Muslimah itu belajar akhlak dan beradab.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (Saw) bersabda: “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim). Jadi panas atau gerah, ini adalah pilihan.
Untukmu Saudariku
Terakhir, izinkan aku berbagi nasihat kepada diriku dan saudariku sekalian;
Bukan aku baik sehingga aku berhijab. Justru dengan hijabku, aku berusaha agar bisa melangkah dalam kebaikan.

Bukan karena aku suci sehingga aku berhijab. Namun dengan hijabku, aku berusaha menjaga kesucian.

Bukan karena aku santun sehingga aku berhijab. Namun dengan hijabku, aku berusaha menjadi pribadi yang santun.

Bukan karena aku berpemahaman luas sehingga aku berhijab. Namun dengan hijabku, aku berusaha meluaskan pemahaman.

Bukan karena aku alim sehingga aku berhijab. Namun dengan hijabku, aku berusaha menjadi sosok yang alim.

Oleh karena itu, bukan salah hijabku jika aku khilaf dan berbuat salah. Akupun berusaha memperbaiki diri menjadi seorang muslimah yang kaffah, demi taatku kepada Rabbku. (sebarkanlah)


Sumber: http_kabarislaminews_blogspot_co_id

Kamis, 31 Maret 2016

Lebih Baik Panasnya Hijabku Dibandingkan Panasnya Neraka

 “MBAK gak merasa kepanasan ya?” sebuah suara perempuan tiba-tiba mengejutkanku. Seorang mahasiswi menyapaku di depan ruang jasa foto-kopi di kampus.
“Pake begitu kan bisa bikin gerah,” perempuan itu kembali mengejarku dengan pertanyaan. Sempat kulirik, kedua matanya tak lepas menyapu seluruh pakaian yang kubiarkan menjutai hingga ke bawah.

Seperti biasa, aku memakai stelan jubah longgar yang kupadu dengan jilbab besar hingga menutupi kedua tanganku. Mungkin dia memperhatikan pakaian yang kupakai.
Sambil tersenyum, aku balik menatap. Seorang gadis berjilbab pendek dan transparan. Bajunyapun ketat. Ia juga memakai celana yang semuanya menampakkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Yup, inilah stylelist muslimah zaman sekarang. Jilbab gaul dan trendy, kata sebagian orang.
Dengan ramah, aku menjawab pertanyaannya, “Iya panas juga sih. Tapi tidak masalah kalau sudah terbiasa,” ujarku tersenyum. “Lagipula, daripada panasnya Neraka lebih baik panas di sini lho,” imbuhku santun.

Sejenak ia terdiam dalam tatapanku. Hingga akhirnya ia juga mengangguk sambil tersenyum. Kujabat tangannya, kini aku hendak pamit. Foto-kopi tugas makalah sudah beres. Ia kembali tersenyum.

Entah apa di pikirannya saat ini. Jelasnya, aku merasa plong bisa menjawab satu di antara puluhan pertanyaan yang biasa menghampiriku.
Dari kejauhan suara merdu azan Dzuhur sudah berkumandang memanggil orang-orang beriman menuju kemenangan. Saya bergegas ke masjid.

Budaya Arab?
Boleh jadi ilustrasi dialog di atas pernah dialami beberapa orang Muslimah. Kisah yang kerap menghampiri para Muslimah yang mencoba istiqamah berhijab sesuai tuntunan syariat. Sejumlah gelar dan stigma negatif seolah menjadi sarapan wajib mereka. Mulai dari julukanninja, teroris hingga mendapat sorakan “Aisyah Ayat-Ayat Cinta”.
Komentar sinis juga tak henti menerpa, bahwa baju dan jilbab lebar tersebut cocoknya di negeri Timur Tengah sebagai budaya Arab, bukan dipakai di Indonesia.
Tak kalah beratnya dari pihak keluarga, sebagian orangtua dan keluarga masih menentang niat para Muslimah yang ingin menyempurnakan hijabnya. Alasan susah dapat jodoh, sempit peluang kerja, hingga kepada anggapan susah bergaul di lingkungan keluarga.
Di kalangan sebaya pun demikian. Para Muslimah tersebut siap-siap dijuluki kayak emak-emak, rempong, sok suci, sok alim, belum pantas , dan sebagainya.

Please Don’t Bully Me
Dalam proses perjalanan keimanan seorang Muslimah, memakai hijab syar’i tentu menjadi awal langkah yang baik. Memilik pakaian termasuk pilihan dari pandangan hidup. Hatta, mereka hobi telanjang di tempat umum (nudist) meski itu jelas tindakan amoral, jika ditanya alasannya, ujungnya pasti untuk ‘menunjukkan identitas dan ideologi’. Yang pasti ‘ideologi ketelanjangan’.
Dalam buku “Dress and Ideology- Fashioning Identity from Antiquity to the Present”, orang Barat sendiri meyakini, gaun dan fashion adalah sarana visual yang kuat untuk mengkomunikasikan ideologi, politik, sosial atau agama seseorang atau kelompok.
Bahkan selama Revolusi Prancis, memakai celana atau gaun bisa melambangkan ortodoksi ideologis dan pemberontakan. Revolusi Prancis tahun 1789 dan Revolusi Amerika, ditandai kemerdekaanya tahun 1776 salah satunya perobahan gaya hidup; mode rambut dan pakaian.

Bahkan Bennett, A. (2005) pernah mengatakan, “Fashion menyediakan salah satu cara yang paling siap di mana individu dapat membuat pernyataan visual yang ekspresif tentang identitas mereka.”
Karena itu, jika pilihan saya dengan jilbab panjang (jilbab syar’i) juga pasti dengan pilihan yang tidak sembarangan. Sebab pilihan ini didasarkan firman Allah;
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya …” (QS. An-Nur [24]: 31).

Selain itu, dasar lainnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) ;
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab [33]: 59).

Inilah landasan terkuat, mengapa menurut saya seorang Muslimah harus berhijab. Ada perintah Allah yang tertuang jelas dalam al-Qur’an. Siapa yang menuruti perintah-Nya, niscaya Allah mencintainya.
Sedang yang melanggar perintahnya, maka bersiaplah menerima murka Allah. Untuk itu, tolong jangan usik dan hakimi para Muslimah yang sedang mencoba menyempurnakan hijabnya. Sebab itulah upaya mereka untuk taat kepada perintah Rabbnya, Sang Pencipta.

Selalu berharap menjadi wanita shalehah adalah alasan utama seorang Muslimah berhijab, termasuk saya. Dengan hijab yang benar, Muslimah itu belajar taat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dengan hijab yang syar’i, Muslimah itu belajar menjaga ifffah (kesucian) dirinya. Dengan hijab yang sesuai, Muslimah itu belajar akhlak dan beradab.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (Saw) bersabda: “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim). Jadi panas atau gerah, ini adalah pilihan.
Untukmu Saudariku
Terakhir, izinkan aku berbagi nasihat kepada diriku dan saudariku sekalian;
Bukan aku baik sehingga aku berhijab. Justru dengan hijabku, aku berusaha agar bisa melangkah dalam kebaikan.

Bukan karena aku suci sehingga aku berhijab. Namun dengan hijabku, aku berusaha menjaga kesucian.

Bukan karena aku santun sehingga aku berhijab. Namun dengan hijabku, aku berusaha menjadi pribadi yang santun.

Bukan karena aku berpemahaman luas sehingga aku berhijab. Namun dengan hijabku, aku berusaha meluaskan pemahaman.

Bukan karena aku alim sehingga aku berhijab. Namun dengan hijabku, aku berusaha menjadi sosok yang alim.

Oleh karena itu, bukan salah hijabku jika aku khilaf dan berbuat salah. Akupun berusaha memperbaiki diri menjadi seorang muslimah yang kaffah, demi taatku kepada Rabbku. (sebarkanlah)


Sumber:
http_8kabar_blogspot_com/2016/01/lebih-baik-aku-memilih-panasnya-hijab.html

Jumat, 25 Maret 2016

SUBHANALLAH......... AYAT PENDEK INI MEMBANTU KITA JAUH DARI NERAKA,,,,,, SEBARKAN!!!!!!!!! SEMOGA BERMANFAAT

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

Sebuah seruan dari Dzat Yang Maha Agung kepada orang-orang yang beriman, berisi perintah dan peringatan berikut kabar tentang bahaya besar yang mengancam. Seruan ini ditujukan kepada insan beriman, karena hanya mereka yang mau mencurahkan pendengaran kepada ajakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, berpegang dengan perintah-Nya dan mengambil manfaat dari ucapan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan mereka agar menyiapkan tameng untuk diri mereka sendiri dan untuk keluarga mereka guna menangkal bahaya yang ada di hadapan mereka serta kebinasaan di jalan mereka. Bahaya yang mengerikan itu adalah api yang sangat besar, tidak sama dengan api yang biasa kita kenal, yang dapat dinyalakan dengan kayu bakar dan dipadamkan oleh air. Api neraka ini bahan bakarnya adalah tubuh-tubuh manusia dan batu-batu. Ia berbeda sama sekali dengan api di dunia. Bila orang terbakar dengan api dunia, ia pun meninggal berpisah dengan kehidupan dan tidak lagi merasakan sakitnya pembakaran tersebut. Beda halnya bila seseorang dibakar dengan api neraka, na’udzubillah. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنَاهُمْ سَعِيرًا

“Setiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi nyalanya bagi mereka.” (Al-Isra’: 97)

كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ

“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka terus merasakan azab.” (An-Nisa’: 56)

لَا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا

“Mereka tidak dibinasakan dengan siksa yang dapat mengantarkan mereka kepada kematian (mereka tidak mati dengan siksaan di neraka bahkan mereka terus hidup agar terus merasakan siksa) dan tidak pula diringankan azabnya dari mereka.” (Fathir: 36) [Al-Khuthab Al-Minbariyyah fil Munasabat Al-‘Ashriyyah, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, dengan sub judul Fit Tahdzir minan Nar wa Asbab Dukhuliha, 2/164-165]

Orang yang masuk ke dalam api yang sangat besar ini tidak mungkin dapat lari untuk meloloskan diri, karena yang menjaganya adalah para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka serta selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ

“Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, yang keras.” (At-Tahrim: 6)

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu menjelaskan, “Penjaganya adalah para malaikat Zabaniyah yang hati mereka keras, kaku, tidak mengasihi jika dimohon kepada mereka agar menaruh iba…

Kata شِدَادٌ maksudnya keras tubuh mereka. Ada yang mengatakan, para malaikat itu kasar ucapannya dan keras perbuatannya. Ada yang berpendapat, malaikat tersebut sangat kasar dalam menyiksa penduduk neraka, keras terhadap mereka. Bila dalam bahasa Arab dinyatakan:

فُلاَنٌ شَدِيْدٌ عَلَى فُلاَنٍ,

maksudnya Fulan menguasainya dengan kuat, menyiksanya dengan berbagai macam siksaan.

Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan غِلَاظٌ adalah sangat besar tubuh mereka, sedangkan maksud شِدَادٌ adalah kuat.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Jarak antara dua pundak salah seorang dari malaikat tersebut adalah sejauh perjalanan setahun. Kekuatan salah seorang dari mereka adalah bila ia memukul dengan alat pukul niscaya dengan sekali pukulan tersebut tersungkur 70.000 manusia ke dalam jurang Jahannam.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 18/128)

Al-‘Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata menafsirkan ayat ke-6 surah At-Tahrim di atas, “Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka, yang disebutkan dengan sifat-sifat yang mengerikan. Ayat ini menunjukkan perintah menjaga diri dari api neraka tersebut dengan ber-iltizam (berpegang teguh) terhadap perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, menunaikan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan bertaubat dari perbuatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala murkai serta perbuatan yang menyebabkan azab-Nya. Sebagaimana ayat ini mengharuskan seseorang menjaga keluarga dan anak-anak dari api neraka dengan cara memberikan pendidikan dan pengajaran kepada mereka, serta memberitahu mereka tentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang hamba tidak dapat selamat kecuali bila ia menegakkan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan terhadap dirinya dan orang-orang yang di bawah penguasaannya, baik istri-istrinya, anak-anaknya, dan selain mereka dari orang-orang yang berada di bawah kekuasaan dan pengaturannya.

Dalam ayat ini pula Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan neraka dengan sifat-sifat yang mengerikan agar menjadi peringatan terhadap manusia jangan sampai meremehkan perkaranya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“…Yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (At-Tahrim: 6)

Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ

“Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah (patung-patung) adalah bahan bakar/kayu bakar Jahannam, kalian sungguh akan mendatangi Jahannam tersebut.” (Qs Al-Anbiya: 98)

Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras. Yaitu akhlak mereka kasar dan hardikan mereka keras. Mereka membuat kaget dengan suara mereka dan membuat ngeri dengan penampilan mereka. Mereka melemahkan penghuni neraka dengan kekuatan mereka dan menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap penghuni neraka, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memastikan azab atas penghuni neraka ini dan mengharuskan azab yang pedih untuk mereka.

Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Di sini juga ada pujian untuk para malaikat yang mulia dan terikatnya mereka kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala serta ketaatan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam seluruh perkara yang diperintahkan-Nya.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 874)

Penjagaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Keluarganya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai uswah hasanah bagi orang-orang yang beriman telah memberikan arahan dan peringatan kepada kerabat beliau dalam rangka menjaga mereka dari api neraka. Tatkala turun perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat.” (Asy Syu’ara: 214)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi bukit Shafa dan menaikinya, lalu menyeru manusia untuk berkumpul. Maka orang-orang pun berkumpul di sekitar beliau. Sampai-sampai yang tidak dapat hadir mengirim utusannya untuk mendengarkan apa gerangan yang akan disampaikan oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memanggil kerabat-kerabatnya, “Wahai Bani Abdil Muththalib! Wahai Bani Fihr! Wahai Bani Lu’ai! Apa pendapat kalian andai aku beritakan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda dari balik bukit ini akan menyerang kalian. Adakah kalian akan membenarkan aku?” Mereka serempak menjawab, “Iya.” Beliau melanjutkan, “Sungguh aku memperingatkan kalian sebelum datangnya azab yang pedih.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Aisyah radhiyallahu ‘anha memberitakan bahwa ketika turun ayat di atas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit seraya berkata, “Wahai Fathimah putri Muhammad! Wahai Shafiyyah putri Abdul Muththalib! Wahai Bani Abdil Muththalib! Aku tidak memiliki kuasa sedikit pun di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menolong kalian kelak. (Adapun di kehidupan dunia ini) maka mintalah harta dariku semau kalian.” (HR. Muslim)

Al-Imam Muslim rahimahullahu meriwayatkan dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa bila hendak shalat witir, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membangunkan Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullahu:

رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ، وَرَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

“Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya lalu si istri mengerjakan shalat. Bila istrinya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah istrinya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suami lalu si suami mengerjakan shalat. Bila suaminya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah suaminya.” (Sanad hadits ini shahih kata Asy-Syaikh Ahmad Syakir rahimahullahu dalam tahqiqnya terhadap Al-Musnad)

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengabarkan, suatu malam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun dari tidur beliau. Beliau pun membangunkan istri-istri beliau untuk mengerjakan shalat. Kata beliau:

أَيْقِظُوْا صَوَاحِبَ الْحُجْرِ

“Bangunlah, wahai para pemilik kamar-kamar (istri-istri beliau yang sedang tidur di kamarnya masing-masing)!” (HR. Al-Bukhari)

Tidak luput pula putri dan menantu beliau juga mendapatkan perhatian beliau. Suatu malam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi rumah Ali dan Fathimah radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata, “Tidakkah kalian berdua mengerjakan shalat malam?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu)

Jagalah Dirimu dan Keluargamu dari Api Neraka

Seorang suami sebagai kepala rumah tangga selain menjaga dirinya sendiri dari api neraka, ia juga bertanggung jawab menjaga istri, anak-anaknya, dan orang-orang yang tinggal di rumahnya. Satu cara penjagaan diri dan keluarga dari api neraka adalah bertaubat dari dosa-dosa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat nashuha. Mudah-mudahan Rabb kalian menghapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya, sedang cahaya mereka memancar di depan dan di sebelah kanan mereka, seraya mereka berdoa, ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu’.” (At-Tahrim: 8)

Seorang suami sekaligus ayah ini bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya, taubat yang murni, kemudian ia membimbing keluarganya untuk bertaubat. Taubat yang dilakukan disertai dengan meninggalkan dosa, menyesalinya, berketetapan hati untuk tidak mengulanginya, dan mengembalikan hak-hak orang lain yang ada pada kita. Taubat yang seperti ini tentunya menggiring pelakunya untuk beramal shalih. Buah yang dihasilkannya adalah dihapuskannya kesalahan-kesalahan yang diperbuat, dimasukkan ke dalam surga, dan diselamatkan dari kerendahan serta kehinaan yang biasa menimpa para pendosa dan pendurhaka.

Melakukan amal ketaatan dan menjauhi maksiat harus diwujudkan dalam rangka menjaga diri dari api neraka. Seorang kepala rumah tangga menerapkan perkara ini dalam keluarganya, kepada istri dan anak-anaknya. Ia punya hak untuk memaksa mereka agar taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak berbuat maksiat, karena ia adalah pemimpin mereka yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak dalam urusan mereka, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Ia harus memaksa anaknya mengerjakan shalat bila telah sampai usianya, berdasar sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مُرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنٍ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun dan pukullah mereka bila enggan melakukannya ketika telah berusia sepuluh tahun serta pisahkanlah di antara mereka pada tempat tidurnya.” (HR. Abu Dawud dari hadits Abdullah ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud, “Hadits ini hasan shahih.”)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah keluargamu untuk mengerjakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (Thaha: 132)

Seorang ayah bersama seorang ibu harus bekerja sama untuk menunaikan tanggung jawab terhadap anak, baik di dalam maupun di luar rumah. Anak harus terus mendapatkan pengawasan di mana saja mereka berada, dijauhkan dari teman duduk yang jelek dan teman yang rusak. Anak diperintahkan untuk mengerjakan yang ma’ruf dan dilarang dari mengerjakan yang mungkar.

Orangtua harus membersihkan rumah mereka dari sarana-sarana yang merusak berupa video, film, musik, gambar bernyawa, buku-buku yang menyimpang, surat kabar, dan majalah yang rusak.

Seluruh perkara yang telah disebutkan di atas dilakukan dalam rangka menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Karena, bagaimana seseorang dapat menyelamatkan dirinya dari api neraka bila ia meninggalkan shalat padahal shalat adalah tiang agama dan pembeda antara kafir dengan iman?

Bagaimana seseorang dapat menyelamatkan dirinya dari api neraka bila ia selalu melakukan perkara yang diharamkan dan mengentengkan amalan ketaatan? Bagaimana seseorang dapat menyelamatkan dirinya dari api neraka bila ia selalu berjalan di jalan neraka, siang dan malam?

Hendaknya ia tahu bahwa neraka itu dekat dengan seorang hamba, sebagaimana surga pun dekat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْجَنَّةُ أَدْنَى إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ

“Surga lebih dekat kepada salah seorang dari kalian daripada tali sandalnya dan neraka pun semisal itu.” (HR. Al-Bukhari dari hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Maksud hadits di atas, siapa yang meninggal di atas ketaatan maka ia akan dimasukkan ke dalam surga. Sebaliknya, siapa yang meninggal dalam keadaan bermaksiat maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka. (Al-Khuthab Al-Minbariyyah, 2/167)

Bagaimana seseorang dapat menjaga keluarganya dari api neraka sementara ia membiarkan mereka bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan kewajiban?

Bagaimana seorang ayah dapat menyelamatkan anak-anaknya dari api neraka bila ia keluar menuju masjid sementara ia membiarkan anak-anaknya masih pulas di atas pembaringan mereka, tanpa membangunkan mereka agar mengerjakan shalat? Atau anak-anak itu dibiarkan asyik dengan permainan mereka, tidak diingatkan untuk shalat?

Anak-anak yang seyogianya merupakan tanggung jawab kedua orangtua mereka, dibiarkan berkeliaran di mal-mal, main game, membuat kegaduhan dengan suara mereka hingga mengusik tetangga, kebut-kebutan di jalan raya dengan motor ataupun mobil. Sementara sang ayah tiada berupaya meluruskan mereka. Malah ia penuhi segala tuntutan duniawi si anak. Adapun untuk akhirat mereka, ia tak ambil peduli. Sungguh orangtua yang seperti ini gambarannya tidaklah merealisasikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah At-Tahrim di atas. Wallahul musta’an.

Maka, marilah kita berbenah diri untuk menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka. Bersegeralah sebelum datang akhir hidup kita, sebelum datang jemputan dari utusan Rabbul Izzah, sementara kita tak cukup ‘bekal’ untuk bertameng dari api neraka, apatah lagi meninggalkan ‘bekal’ yang memadai untuk keluarga yang ditinggalkan. Allahumma sallim!

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Dikutip dari http_www_asysyariah_com

Kamis, 24 Maret 2016

KETAHUILAH 36 BALASAN INILAH YANG HARUS DIPERTANGGUNG JAWABKAN BAGI YANG SUKA BERBUAT MAKSIAT BANTU SEBARKAN AGAR DAPAT DIJADIKAN UNTUK RENUNGAN MAHALNYA NERAKA, MURAHNYA SURGA

 Dalam hidup ini, kita tidak mampu lepas dari yang namanya salah dan juga pula khilaf. namun apabila sering berbuat maksiat, itu lain cerita. Maksiat menggambarkan perbuatan yang sifatnya disengaja, sebaliknya khilaf dan juga salah bisa jadi menggambarkan sesuatu yang tidak disengaja.

Berbuat takwa ataupun maksiat memiliki konsekuensi masing - masing buat para pelakunya. apabila berbuat kebaikan ataupun takwa mampu mendatangkan pahala dan juga pula kemudahan dalam hidup di dunia, setelah itu bagaimanakah akibat buat orang yang melakukan maksiat tidak hanya berbuah dosa?

Syeikh Abdul fatah Abu Ghuddah mengutip penjelasan Imam Ibnul Qayyim angkatan laut (AL) Jauziyah dalam angkatan laut (AL) Jawab angkatan laut (AL) Kafi berkaitan tentang akibat kurang baik yang hendak diterima oleh orang yang melakukan maksiat. tidak tanggung - tanggung dalam penjelasan itu disebutkan ada 36 akibat yang hendak dirasakan oleh mereka yang tetap berbuat maksiat, entah itu yang besar maupun yang kecil. Berikut merupakan rinciannya.

Inilah 36 Balasan buat Yang Suka Berbuat Maksiat:


1. Rejeki jadi seret

2. hendak merasa asing dengan Allah dan juga merasa asing dengan orang lain

3. segala urusannya hendak disempitkan

4. Hati dan juga pula wajahnya hendak terlihat gelap

5. tubuh dan juga pula hatinya hendak lemah dan mudah terombang ambing

6. sangat sulit buat mengerjakan kebaikan

7. Sia - sia sudah umurnya

8. Dosa yang diperbuat hendak turun temurun hingga ke anak cucu

9. hendak sulit buat bertaubat karna lemahnya hati buat dekat pada Allah

10. Merasakan maksiat jadi semacam kesenangan

11. bakal dihinakan di hadapan Allah

12. jadi orang yang beresiko buat manusia dan juga pula makhluk lainnya

13. hendak mendapatkan kehinaan

14. benak dan juga pula akalnya rusak

15. Hatinya tidak teraliri kebaikan sedikit juga karna dosa yang mengendap

16. menemukan laknat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

17. Tidak mendapatkan doa dari Rasulullah dan juga pula Malaikat Allah

18. Siap - siap mendapatkan siksa kubur

19. jadi orang yang suka berbuat kehancuran di bumi

20. Tidak memiliki rasa perasaan malu dan juga pula cemas hendak Allah

21. masing - masing perbuatannya hendak dijauhkan dari segala perihal yang baik

22. Terhalang pribadinya dari mendapatkan pahala

23. Allah hendak melupakan pribadinya dan juga pula membinasakannya

24. sudah lenyap nikmat dalam diri berupa nikmat iman, ibadah dan juga pula hidup

25. hendak mendapatkan malapetaka jadi adzab dari Allah

26. Hatinya hendak tetap ketakutan tanpa sebab

27. Hatinya hendak mudah terombang ambing dimana dikala hatinya sudah hidup, hingga hendak dimatikan

28. sudah ketiadaan mata hati

29. hendak tetap dibimbing hidupnya oleh syetan dan juga pula nafsu diri yang tiap dikala mengajak pada keburukan dan juga pula kehidupan duniawi semata

30. Martabat dan juga pula harga pribadinya hendak dicabut

31. Julukan baik hendak berbeda jadi julukan yang buruk

32. Keberkahan hendak lenyap dalam perihal rezeki, umur, ilmu maupun amal

33. memiliki sifat berkhianat pada suatu yang dibutuhkannya

34. hendak didekati oleh setan dan juga pula dijauhi malaikat

35. Dalam hatinya hendak tersimpan kekejian, kemunafikan dan juga pula sifat buruk

36. Hatinya hendak tetap bimbang, ragu dan juga pula penyakit hati yang membikinnya terpuruk

Jadi masih inginkah buat berbuat maksiat secara terus menerus?

Ya Allah hilangkanlah keinginan diri ini buat berbuat maksiat dan juga pula berikanlah keahlian dan keinginan buat tetap taat dan juga beribadah cuma kepadaMu.. Amiin 


Sumber:
http_silahkanshare-ya_blogspot_co_id/2016/03/ketahuilah-36-balasan-inilah-yang-harus.html

Sabtu, 02 Januari 2016

Pedihnya Siksa Neraka! Tidak Ada Kesejukan Dan Tidak Ada Minuman Selain Air Panas Yang Mendidih Dan Nanah

Siksaan Bagi Ahli Neraka Berdasarkan Atas Amalnya . Allah swt berfirman: "Neraka Wail diperuntukkan bagi orang yang merusak janji dan amanat, engkau akan melihat mereka, wahai Musa!, mereka disalip diatas pohon zaqum, api neraka masuk dari duburnya lalu keluar dari mulutnya, juga keluar dari kedua telinganya dan kedua matanya".

Allah berfirman: "Wahai Musa, jika kamu mengetahui orang yang merusak janji dan amanat, orang itu akan bergandengan dengan setan dalam satu rantai dan belenggu. Mereka digantung dengan lisannya sampai otaknya mengalir dari kedua lubang hidungnya. Ia tidak bisa tidur, meski hanya sekejap mata. Mereka tidak menemukan kenikmatan meskipun hanya sekejap mata, sehingga orang kafir mengharapkan aman dengan kematian dari pada siksaan. Itulah salah satu bentuk siksaan orang yang merusak janji".

Demikian pula orang berzina, suka memakan barang riba dan meninggalkan shalat. Mereka akan disiksa dineraka dalam beberapa abad lamanya. Allah berfirman: "Wahai Musa, jika sekiranya air lautan itu menjadi tinta, pepohonan menjadi penanya, sedangkan manusia dan jin adalah yang menulis, maka pasti akan habis pena-pena itu, sampai manusia dan jin menjadi sirna, seluruh lautan menjadi kering, bilangan abad jahanam masih belum habis untuk ditulisi".

Oleh sebab itu Allah berfirman: "Mereka tinggal didalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan didalamnya dan tidak pula mendapat minuman. Selain air panas yang mendidih dan nanah. Sebagai pembalas yang setimpal". (Surat An-Naba': 23, 24, 25, 26)

Rasulullah saw pernah bertanya kepada Jibril: "Apa Huqub itu?". Jibril menjawab: "Yaitu masa 4.000 tahun". Beliau bertanya lagi: "Dalam setahun ada berapa bulan?" Jibril menjawab: "Ada 4.000 bulan". Beliau bertanya: "Dalam satu bulan ada berapa hari?". Jibril menjawab: "Ada 4.000 hari". Beliau lalu bertanya: "Dalam satu hari ada berapa jam?". Jibril menjawab: "Ada 70.000 jam dan setiap jam itu lamanya setahun dari hitungan waktu dunia".

Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda: "Ketika terjadi hari kiamat, ada satu makhluk yang bernama "Harisy" keluar dari neraka, ia dilahirkan oleh kalajengking. Kepalanya dilangit ke tujuh dan ekornya dibumi yang paling bawah. Harisy ini memanggil-manggil dengan 70 kali: "Dimanakah orang yang melakukan kesombongan pada Dzat Yang Maha Penyayang?. Dimana kah orang yang memerangi Dzat Yang Maha Penyayang?".

Jibril lantas berkata: "Apa yang kamu inginkan, wahai Harisy?" Harisy menjawab: "Aku menginginkan 5 hal:
1) Dimanakah orang yang meninggalkan shalat?
2) Dimanakah orang tidak mau membayar zakat?
3) Dimanakah orang yang meminum khamer?
4) Dimanakah orang yang makan barang riba?
5) Dimanakah orang yang membicarakan hal keduniaan sewaktu didalam masjid?".

Harisy mengumpulkan mereka dalam mulutnya, lalu menyemburkan keneraka Jahanam. Untuk itu, kami selalu memohon perlindungan kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang celaka. [reportaseterkini]

Sumber:http_www_reportaseterkini_com/2015/12/pedihnya-siksa-neraka-tidak-ada.html