Tampilkan postingan dengan label sikap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sikap. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Mei 2016

Buat Apa Berkerudung, Jika Kelakuan Rusak, Benarkah?

buat apa berkerudung bila kelakuan rusak�. statment ini kerap keluar dari mulut kalangan hawa dengan iktikad bagaikan pembenaran hendak prinsip hidupnya yang tidak ingin mengenakan kerudung. terlebih lagi statment itu dikuatkannya dengan mengatakan: �kan kasihan, islam nanti jadi kurang baik di mata dunia. jadi lebih baik kita perbaiki kelakuan kita aja dahulu saat sebelum memutuskan menggunakan kerudung�.

sekilas perkata ini terdengar benar dan juga bijak sampai banyak kalangan hawa yang menjajaki jalur ini. sementara itu dibalik perkata ini terdapat bahaya besar mengintai yang pada kesimpulannya mendatangkan kebinasaan demi kebinasaan untuk kalangan hawa itu seorang diri. terlebih lagi akibat mengganggu yang mencuat dari uraian ini pula berefek pada kalangan adam.

betapa tidak, terus menjadi hari terus menjadi banyak kalangan hawa yang tidak menutup auratnya. mereka terasa kalau rambut tidaklah rambut/aurat, sampai mereka santai aja keluar rumah tanpa menggunakan kerudung. ditambah lagi trend busana yang mereka kenakan menjajaki style para artis sinetron yang serba - serbi sedikit dan juga ketat. walhasil, lekuk - lekuk badan tergambar jelas. perihal ini jadi godaan besar untuk kalangan adam yang melihatnya.

saudariku muslimah marilah kita menyudahi dari berkata �kerudungin hati dahulu, baru deh kerudungin rambut�. bila juga hati benar belum seluruhnya dapat diperbaiki, hingga menutup rambut alias berkerudung merupakan senantiasa harus hukumnya. belum bisanya kita menata hati supaya jadi islami ataupun belum bisanya kita membetulkan kelakuan, tidak jadi karena gugurnya kewajiban tersebut.

dzat yang maha agung yang telah menghasilkan wanita, sudah keluarkan sk formal hendak perihal ini. firman - nya dalam alquran:
�wahai nabi, katakanlah kepada istri - istrimu, kanak - kanak perempuanmu dan juga istri - istri orang mukmin: �hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke segala badan mereka�. yang demikian itu biar mereka lebih gampang buat diketahui, karna itu mereka tidak diganggu. dan juga allah merupakan maha pengampun lagi maha penyayang. � (qs. angkatan laut (AL) ahzaab: 59)

jadi perkenankan aja kerudung itu menempel di kepala dan juga menjuntai menutupi dada. karna dengan demikian, saudariku muslimah telah menunaikan salah satu kewajibannya terhadap si pencipta.

saat ini ayo kita amati dari sudut pandang lain. katakanlah mereka yang berpaham �perbaiki kelakuan dahulu, barulah berkerudung� benar sukses jadi perempuan berkelakuan baik. mereka senantiasa mendirikan sholat yang 5 waktu plus sholat - sholat sunnah yang lain. tidak kurang ingat tiap hari mereka juga mengaji alquran. zakat, infaq dan juga sedekah juga senantiasa mereka keluarkan. mereka pula senantiasa ramah dan juga menjalakan silaturahmi dengan seluruh orang.

tetapi wahai saudariku, seluruh itu tidak jadi karena gugurnya dosa yang dipikul akibat dia tidak menutup auratnya. dia senantiasa dicatat bagaikan hamba allah yang berdosa karna tidak ingin melakukan salah satu perintah - nya. sementara itu perintah itu sudah begitu jelas terpampang di depan batang hidungnya dan juga tidak pula terdapat udzur yang menghalanginya.

coba kita bayangkan, kala ia tengah asik mengaji membaca ayat - ayat suci alquran, setelah itu dia hingga pada ayat ke - 59 tulisan angkatan laut (AL) ahzaab di atas:

�wahai nabi, katakanlah kepada istri - istrimu, kanak - kanak perempuanmu dan juga istri - istri orang mukmin: �hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke segala badan mereka�. yang demikian itu biar mereka lebih gampang buat diketahui, karna itu mereka tidak diganggu. dan juga allah merupakan maha pengampun lagi maha penyayang. �

�emhh make jilbabnya ntar - ntar dahulu deh tuhan. hamba ingin perbaikin kelakuan dulu�. ucapnya.

tidak disangka cuma berselang hitungan hari, dia tutup umur. allah mencabut ruh dari raganya. kemudian sebab apa yang bakal dia sodorkan nanti di yaumul hisab menimpa keengganannya berkerudung dan juga menggunakan hijab?


�buat apa berkerudung, bila kelakuan rusak�, sebaiknya tidak lagi jadi mengerti yang dianut oleh perempuan muslimah supaya tidak menutup auratnya. janganlah perbuatan rusak segelintir muslimah membikin kita menghitung suatu secara totalitas. ibarat pepatah, �karena nila setitik, rusak susu sebelanga�. tetaplah menggunakan kerudung meski belum dapat membetulkan diri. tetapi, dari hari ke hari hendaklah terdapat usaha buat mengarah ke arah revisi diri itu. [kabarmakkah]

wallahu a�lam



(sumber : tolongsebarkan.id)

Kamis, 19 Mei 2016

Subhanallah.. Jika Ada Istri Yang Bersikap Seperti Ini Pada Suami, Insyaallah Surga Menantinya!

Sebelum pulang kantor, sang suami telp istrinya, "Sayang, alhamdulillah, bonus akhir tahun dari perusahaan sudah turun, Rp. 150 juta." Dibalik telp, sang istri tentu saja mengungkapkan rasa syukurnya, "Alhamdulillah, semoga barokah ya mas". Sejak beberapa bulan yg lalu mereka sudah merencanakan beli mobil sederhana untuk keluarga kecilnya. Dan uang yg turun mereka rasa cukup pas sesuai budget.

Jika Ada Istri Yang Bersikap Seperti Ini Pada Suami, Insyaallah Surga Menantinya Kelak

Namun dalam perjalanan pulang, dia ditelp oleh ibunya di kampung, "Nak, kamu ada tabungan? Tadi ada orang datang ke rumah. Ternyata almarhum ayahmu punya hutang ke dia cukup besar, Rp. 50 juta." Tanpa pikir panjang, ia pun bilang ke ibunya, "Iya, Bu, insyaAllah ada." Dalam perjalanan pulang ia pun sambil berpikir, "Nggak apa-apa lah, masih cukup untuk beli mobil yg 100 jutaan. Mungkin ini lebih baik."

Ia pun melanjutkan perjalanan. Belum tiba di rumah, HP-nya kembali berdering. Seorang sahabat karibnya semasa SMA tiba-tiba menghubunginya sambil menangis. Sahabatnya itu sambil terbata mengabarkan bahwa anaknya harus segera operasi minggu ini. Banyak biaya yg tidak bisa dicover oleh asuransi kesehatan dari pemerintah. Tagihan dari rumah sakit Rp. 80 juta.

Ia pun berpikir sejenak. Uang bonusnya tinggal 100 juta. Jika ini diberikan
kepada sahabatnya, maka tahun ini ia gagal membeli mobil impiannya. Tapi nuraninya mengetuk, "Berikan padanya. Mungkin kamu memang jalan Allah untuk menolong sahabatmu itu. Mungkin ini memang rezekinya yang datang melalui perantara dirimu." Ia pun menuruti panggilan
nuraninya.

Setibanya di rumah, ia menemui istrinya dg wajah yg lesu. Sang istri bertanya, "Kenapa, mas? Ada masalah? Nggak seperti biasanya pulang kantor murung gini?" Sang suami mengambil napas panjang, "Tadi ibu di kampung telp, butuh 50 juta untuk bayar utang almarhum bapak. Nggak lama, sahabat abang juga telp, butuh 80 juta untuk operasi anaknya. Uang kita tinggal 20 juta. Maaf ya, tahun ini kita nggak jadi beli mobil dulu."

Sang istri pun tersenyum, "Aduh, mas, kirain ada masalah apaan. Mas, uang kita yg sebenarnya bukan yg 20 juta itu, tapi yg 130 juta. Uang yg kita infakkan kepada orang tua kita, kepada sahabat kita, itulah harta kita yg sesungguhnya. Yg akan kita bawa menghadap Allah, yg tidak mungkin bisa hilang jika kita ikhlas. Sedangkan yg 20 juta di rekening itu, masih belum jelas, benaran harta kita atau akan menjadi milik orang lain."

Sang istri pun memegang tangan suaminya, "Mas, insyaAllah ini yg terbaik. Bisa jadi jika kita beli mobil saat ini, jsutru menjadi keburukan bagi kita. Bisa jadi musibah besar justru datang ketika mobil itu hadir saat ini. Maka mari baik sangka kepada Allah, karena kita hanya tahu yg kita inginkan, sementara Allah-lah yg lebih tahu apa yg kita butuhkan."

Kawan, ada tiga pilihan hidup yg harus kita pilih dg sangat hati-hati. Yakni: pendidikan, pekerjaan, dan pendamping hidup. Bukan sekadar yg favorit kampusnya, tapi yg sesuai dg bidang yg ingin kita pelajari. Bukan sekadar yg gajinya besar, tapi yg sesuai dg passion yg ada pada diri. Bukan sekadar yg indah parasnya, tapi yg bisa menjadi penasehat, sahabat, serta perantara untuk mendekat pada Sang Pencipta.


(Sumber: kabarinformasi.com)