Tampilkan postingan dengan label tukang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tukang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Mei 2016

Siapa Sangka Tukang becak Lusuh Ini Sedekahkan 300 Juta Untuk Amal

Pandangan manusia seringkali tertuju pada penampilan maupun harta yang nyata dipakainya. Manusia lebih menghargai mereka yang menaiki mobil mewah, berbusana mahal dan penampilan fisik yang rupawan. Sementara itu, orang yang memiliki fisik tidak terlalu rupawan, harta yang tidak seberapa serta kendaraan yang apa adanya seringkali menjadi buah ejekan bahkan hinaan. Padahal manusia terbaik dalam pandangan Allah adalah manusia yang memiliki akhlak dan ketakwaan yang baik.

Terkisah di sebuah daerah perkotaan yang tengah merencanakan pembangunan masjid, pengurus masjid kekurangan dana dalam mencapai pembangunan tersebut. Segala upaya yang dilakukan sudah dikerahkan sekuat tenaga, namun hanya sedikit saja warga yang mau menyumbang dan itu pun dalam jumlah dana yang kecil sehingga pembangunan yang harusnya bisa beres dalam waktu yang cepat akhirnya harus ditunda dahulu karena kekurangan dana.

Di tengah kebingungan tersebut, ketua panitia pembangunan masjid didatangi oleh seseorang yang menggunakan pakaian yang seadanya. Si ketua panitia segera menjawab salam dan menengok dahulu dari jendela siapakah gerangan yang berkunjung ke rumahnya tersebut. Dengan sifat orang perkotaan yang sedikit melihat materi, si ketua panitia tersebut hanya fokus mengecek apakah tamu yang datang kepadanya menggunakan kendaraan seperti mobil atau motor.

Namun rupanya tamu yang datang tersebut tidak menggunakan kendaraan apapun dan sempat terbesit dalam benak si empunya rumah, “Untuk apa sih orang miskin tersebut datang kesini?” Karena memang tamu tersebut sudah ada di depan pintu, akhirnya si ketua panitia mempersilakannya untuk masuk dan menyuruhnya untuk duduk.

Setelah beberapa menit menanyakan tentang kedatangannya ke kediaman ketua panitia pembangunan masjid, akhirnya tamu tersebut bertanya, “Kira-kira berapa dana yang dibutuhkan Pak untuk pembangunan masjid tersebut?” Karena merasa bahwa tamunya bukanlah orang kaya, dengan ketus dan sedikit meremehkan, si ketua panitia berkata, “Sekitar 300 jutaan sih.”

Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkannya, akhirnya tamu tersebut berpamitan dengan sebelumnya memberikan nomor ponsel miliknya. Ia berpesan kepada ketua panitia, “Pak kalo bisa besok atau lusa sempatkan waktu untuk datang ke kantor Agama untuk mengurusi surat-surat pembangunan. Namun sebelum itu sebaiknya bapak menelepon saya terlebih dahulu ke nomor ini. Insyaallah mudah-mudahan ada rezeki untuk pembangunan tersebut.”

Meski sempat sedikit tidak percaya, namun si ketua panitia mengiyakan dan malam harinya ia berkata kepada panitia lainnya tentang kedatangan tamu yang dialaminya sore tadi. Sebagian dari panitia tersebut ada yang berkata ketus, “Sudahlah jangan urusin orang itu. Biarkan saja. Coba, darimana orang tersebut bisa dapat uang segitu untuk pembangunan masjid kita ini?” Karena omongan beberapa rekannya tersebut, sang ketua panitia akhirnya memutuskan untuk tidak datang ke kantor Agama esok harinya.

Siang harinya, dengan izin Allah seorang warga yang sekaligus jamaah yang ada di sana ingin mengambil sebuah mobil di show room dan ingin ditemani oleh sang ketua panitia. Maka berangkatlah mereka berdua ke show room yang ternyata berdekatan dengan kantor Agama. Saat telah selesai mengurus transaksi pengambilan mobil, mereka berdua pun beranjak pulang.

Saat melihat ke arah kantor Agama, ketua panitia merasa penasaran dan berkata kepada rekannya tersebut, “Gimana kalau kita datang aja ke kantor Agama da menelepon tamu yang kemarin?” Meski sempat ragu, akhirnya rekannya tersebut mengiyakan juga. “Assalamualaikum pak! Gimana jadi mau menyumbangkan untuk pembangunan masjid yang kemarin? Saya tunggu Bapak sampai jam 11 pas. Jika Bapak terlambat, saya tidak akan menunggu karena saya banyak urusan.”

Saat jam menunjukkan pukul 11 lebih 5 menit, keduanya berinisiatif untuk pulang. Namun dari kejauhan tampak sosok tamu yang kemarin datang dan tengah menaiki becak menghampiri kantor Agama. Ia pun berkata, “Maaf Pak saya sedikit telat. Mari kita sama-sama langsung masuk saja ke kantor Agama.”

Mereka pun masuk dengan didahului oleh tamu tersebut. Saat berada di ruangan yang dituju, tamu yang telah ditunggu oleh ketua panitia dan rekannya tersebut langsung mengeluarkan uang dari tasnya dan menyuruh kepada petugas kantor Agama agar segera menghitungnya dan membuat kuitansi serah terimanya.

Dengan santai ia berkata, “Tulis saja sumbangan ini atas nama Hamba Allah dan tidak usah menulis nama saya. Pencatatan ini memang diperlukan sebagai arsip dan memang Allah menyuruh agar setiap transaksi haruslah dicatat, apalagi menyangkut harta benda.” Yang paling membuat kedua panitia pembangunan masjid terkejut adalah jumlah uang yang dikeluarkan oleh orang tersebut yang berjumlah 300 juta rupiah.

Dengan sedikit rasa malu bercampur rendah diri, keduanya menundukkan pandangan karena kemarin dan pas datang tadi mereka sempat meremehkan orang tersebut yang dikira orang miskin. Namun setelah diselidiki, ternyata sosok sederhana tersebut adalah seorang pengusaha kebun kopi yang sudah memiliki kekayaan melimpah namun tetap tidak sombong dengan kekayaannya.

Masya Allah.... semoga Allah mengkaruniakan rezeki yang melimpah kepada kita semua tanpa sedikit pun membuat kita jauh dari beribadah kepadaNya serta mudah-mudahan dijauhkan dari sikap bermewah-mewahan akan titipan Allah tersebut. Semoga juga Allah membersihkan hati kita dari memandang seseorang karena materi yang dimilikinya di dunia karena sebaik-baik harta adalah amal shaleh dan ketakwaan yang akan dibawa hingga mati. Aamiin...



(sumber: cerminan.com)

Senin, 02 Mei 2016

Subhanallah...Jika Allah Berkehendak !!! Tukang Ojek Renta Bertarif Seikhlasnya Pergi Umrah...

Menjelang akhir tahun lalu, kabar haru datang dari seorang tukang ojek bernama Soleh. Dia merupakan tukang ojek yang sudah berusia 65 tahun.

Soleh membuat haru publik lantaran tidak hanya karena usianya yang sudah lanjut, tetapi karena dia tidak menerapkan tarif setiap kali mengantar penumpang dari Stasiun Palmerah. Setiap kali ditanya tarif, dia selalu berkata 'Terserah. Seikhlas penumpang aja.'

Atas keikhlasan itu, Soleh mendapatkan balasan yang luar biasa besar. Dia bersama istrinya diberangkatkan umrah oleh para netizen dan kemarin sore, Selasa, 26 April 2016 keduanya terbang menuju Tanah Suci.

"Sore ini Pak Soleh, bapak ojek bertarif seikhlasnya, berangkat menuju Tanah Suci," tulis pemilik akun Facebook Dewi Rachmayani, diakses pada Rabu, 27 April 2016.

Kisah Soleh diabadikan oleh Dewi melalui Facebook. Pada awal September tahun lalu, Dewi bertemu dengan Soleh di suatu siang.

Saat itu, Dewi hendak menempuh perjalanan dari Stasiun Palmerah menuju kantornya di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Dia sempat membatalkan pesanan ojek online, kemudian ada seorang kakek mengendarai sepeda motor menyodorkan helm kepadanya.

Sepanjang perjalanan, Dewi sempat berbincang dengan Soleh. Kakek itu menceritakan pengalamannya setiap hari mengojek dan hanya mendapat uang sekitar Rp60.000.

Dewi terharu lantaran sesampai di depan kantornya, Soleh tidak mau mengatakan berapa tarif yang harus dibayar penumpang. Dewi mendesak agar Soleh menyebut angka.

"Kalau 20 ribu kemahalan nggak Neng?" kata Soleh kala itu.

Dewi sempat ingin menangis mendengar jawaban tersebut. Dia lalu menyerahkan uang sebesar Rp150.000 dan bergegas pergi agar tangisnya harunya tidak diketahui Soleh. (Ism)



(sumber: trendingpagi.blogspot.co.id)

Sabtu, 30 April 2016

Buat yang Masih Suka Ngeluh Hidup Berat, Coba Lihat Nenek Berumur 86 Tahun Ini!

Tambal ban motor atau mobil biasanya digeluti oleh para pria dengan tubuh yang berotot dan dengan tenaga yang amat kuat. Tapi apa yang ada di foto ini sungguh menggambarkan yang sebaliknya!

Adalah seorang nenek tua berusia sekitar 86 tahun yang menggeluti profesi sebagai tukang tambal ban. Nama nenek tersebut adalah Darmi, dan usaha yang ditekuninya tersebut telah eksis sejak tahun 1963.

Awalnya usaha tersebut dijalankan bersama sang suami, namun diteruskannya sendiri usaha tersebut lantaran sang suami telah meninggal. Sementara itu anak-anaknya telah bekerja, terkadang mbah Darmi dibantu oleh beberapa orang cucunya.

Mbah Darmi memiliki bengkel yang dibuka sejak pagi hingga sore di daerah Semarang. Lebih tepatnya di daerah MT Haryono Semarang.

"Kadang-kadang ya dibantu cucu tapi ini cucu saya lagi sekolah. Cucu saya banyak ada belasan, wah sampai lupa ada berapa jumlahnya," ujar Mbah Darmi menggunakan Bahasa Jawa dilansir dari Brilio.

Menurut pengakuannya, bisa saja mbah Darmi berhenti untuk bekerja karena banyak anak cucunya telah mampu untuk membiayainya. Namun mbah Darmi justru merasa badannya sakit semua. Semangat mbah Darmi!


(sumber: cerminan.com)

Sabtu, 16 April 2016

Tak Kusangka Tukang Kerupuk Buta itu Membuatku Malu

Lelaki tua itu melaju pelan. Menyusur tepian aspal jalan. Tangan kanan memegang tongkat. Meraba tanah. Di kiri, sebuah besi penopang badan terkempit, membantunya berjalan.

Di leher, terkalung tulisan “Jual Kerupuk”. Nyaris tertutup keranjang plastik di depan dada. Punggung kakek bertubuh mungil itu juga tak sepi. Beberapa bungkus kerupuk dia gendong di sana.

Dia adalah penjual kerupuk di Ciputat, Tangerang Selatan. Saya menemuinya pekan lalu. Saat hendak pulang ke Yogyakarta, setelah mengikuti Semifinal Dream Girls 2015 di Jakarta. Hanya satu kata terlontar dari bibirku: “Subhanallah.”

Ya, hanya kalimat itu yang terucap. Saya kagum melihat kakek itu. Meski mengalami cacat ganda, buta dan kaki yang tak lagi sempurna, masih tetap menyimpan bara asa. Tak menyerah, berusaha survive di tengah kerasnya hidup kota.

Lihatlah kulitnya. Legam terbakar matahari. Peluhnya mengalir deras. Bak baju diperas dari pencucian. Sungguh membuat saya malu dan takjub melihat kebesaran Tuhan yang luar biasa ini.

Rasa kagum itu menuntun kakiku untuk menghampirinya. Dari loket bus itu, perlahan saya dekati dia. Pada saat itu, saya merasa sangat iba. Tidak banyak hal yang sempat saya tanyakan. Saya hanya sempat bertanya, “Harga kerupuk berapaan Pak?”

Raut muka ikhlas tampak jelas di wajah kakek itu. Dia tak peduli berapa orang akan membayar kerupuk yang dibeli. Dia percaya kepada semua pelanggan. Para pembeli hanya meletakkan uang di tas plastik yang juga terkalung di lehernya.

“Bagaimana Bapak mengetahui orang yang membeli dagangan Bapak berbohong atau tidak?” tanyaku. “Saya serahkan saja sama Allah Yang Kuasa, Mba. Karena jika ada orang yang menzalimi kita, kita tidak tahu, insya Allah, Allah yang akan membalasnya dengan yang lebih baik,” jawab dia.

Perjuangan kakek ini sungguh luar biasa. Bagi orang yang tak memiliki kekurangan fisik, berjalan di bawah tikaman matahari sangatlah melelahkan. Apalagi buat kakek ini, yang tak bisa melihat dan juga pincang.

Rasa penasaran terus mengalir di benak. Saya pun kembali menyodorkan tanya, “Bapak setiap hari harus berjalan sampai mana?” Dan saya terkejut mendengar jawaban kakek itu. “Saya berjalan sampai kerupuk jualan saya habis, Mbak,” katanya.

Dalam hati, saya trenyuh. Masya Allah, sungguh sedih. Bagaimna jika kerupuk itu tidak laku-laku. Tak terbayang berapa kilometer beliau harus berjalan menyusuri panas dan ramainya Kota Ciputat.

Namun, selain sedih, ada rasa kagum yang terselip di hati ini. Mungkin sudah banyak di luar sana para difabel yang berjualan kerupuk atau melakukan usaha lainya. Tapi ketika difabel yang mengalami keterbatasan fisik ganda itu masih jarang saya lihat.

Apalagi dengan usaha beliau berjalan kaki, hal yang cukup sulit bagi beliau. Karena tidak hanya mengalami kesulitan berjalan, namun juga beliau adalah seorang tuna netra.

Sungguh pengalaman yang sangat mengiapirasi saya. Kecacatan fisik ternyata tidak menghalangi seseorang untuk memiliki keutuhan. Malah sebaliknya, terkadang orang-orang yang punya fisik utuh memiliki cacat mental, karena tidak kuat menghadapi badai yang menerpa di kehidupan ini.

Semoga kisah yang saya bagi bisa bermanfaat dan menginspirasi bagi sahabat semua ya. Mari introspeksi diri kita masing-masing. Sudahkah kita sekuat mereka yang tak seberuntung kita? Sudahkah kita bersyukur sehingga tidak ada rasa iri hati atau membanding-bandingkan dengan kondisi orang lain dengan motif yang negati?

Appun keadaan kita, di manapun musim kita berada, dan appun tantangan yang sedang kita hadapi, dengan fisik dan mental yang utuh kita sanggup melaluinya dengan rasa syukur dan mendapat tuntunan dari Sang Illahi.

Mari sama-sama kita do’akan semoga kakek itu selalu diberi kesehatan, kelancaran dalam usahanya, kekuatan dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin. [Dream]



Sumber: siraman.com

Selasa, 05 April 2016

MasyaAllah.. Kok Ada Ya Tukang Soto Seperti ini? (Bacanya Sampai Merinding)

Sore itu sehabis pulang kantor, saya mampir di sebuah kedai Soto Ayam Madura di Jl.Raya Halim, Cililitan-Jakarta Timur...Saya memesan semangkok soto ayam dan duduk membaca koran menunggu macet yg belum juga terurai...maklum nasib karyawan yang pulang kerja selalu terjebak macet. Saya suka sekali makan soto apalagi di musim hujan begini hehehe..


Seorang ibu setengah tua dengan 2 anaknya yang masih Balita dengan penampilan sederhana tiba-tiba masuk ke kedai, " Pak, berapa harga semangkok soto ?" tanya si ibu tersebut.
.
"10.000, Bu" jawab penjual soto sambil tersenyum...
" Kedua anak saya sungguh ingin makan soto, tapi uang saya hanya ada 7000 rupiah, maaf pak apa bisa dibuat 2 porsi walau hanya kuah dan sedikit sohun, gak jadi masalah " tanya si ibu sedikit ragu-ragu...
.
" Oh, mari bu silakan duduk " kata bapak penjual soto.. lalu nggak sampai 5 menit, tiga mangkok soto berukuran besar sudah dihidangkan di depan...
.
" Tapi uang saya hanya 7000... Pak ?" Tanya ibu sekali lagi dengan sedikit ragu,..sang ibu masih punya harga diri untuk tidak meminta penuh...
.
" Oh..nggak apa apa bu, ibu bertiga makan saja dan simpan uang ibu ". .Ibu itu tersenyum dan kemudian membungkukkan tubuhnya...
.
Saya tersenyum kagum, melihat kebaikan penjual soto.. saya pun kembali meneruskan makan saya...sekitar 15 menit, si ibu dan kedua anaknya pun beranjak pergi sambil mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga kepada si bapak penjual soto.
.
Kemudian seorang pemuda sepertinya keturunan Tionghoa yang dari tadi duduk cuek di pojokan yg sambil main smartphonenya tiba-tiba membayar kepada si penjual soto dengan uang Rp. 100.000 dan kemudian pergi begitu saja.
.
"Mas, ini kembaliannya", ujar si penjual soto.
"Saya makan 1 mangkok dan 1 bungkus kerupuk sama teh manis ya, nah sisanya untuk bayar soto si ibu dan 2 anaknya tadi ya bang", kata pemuda itu sambil menghidupkan sepeda motor maticnya dan kemudian beranjak pergi sambil menerobos hujan...
.
Saya benar-benar terpesona, dengan kebaikan-kebaikan yang dihadirkan Tuhan di depan mata saya...
.
Si ibu miskin yang jujur serta tidak meminta-minta, si bapak penjual soto yang baik hati serta pemuda yang pemurah. Dan saya sendiri ikut kecipratan kebahagiaan karena melihat kejadian itu...
.
Jika saja setiap orang tidak melulu menggunakan Hukum Dunia, Untung dan Rugi.. Tentu pintu-pintu kesempatan, keberkahan akan banyak dibuka oleh Tuhan YME...
.
Jika saja setiap orang lebih dahulu MEMBERI bukan meminta, dunia akan punya banyak WARNA yang INDAH.."
.
*Silakan SHARE supaya kisah ini lebih bermanfaat lagi...


Sumber: http_www_reportaseterkini_net