Tampilkan postingan dengan label durhaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label durhaka. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juni 2016

5 Ciri-ciri Istri Durhaka Kepada Suami, Silahkan Dicek, Mungkin Anda Salah Satunya..

 di dasar ini merupakan 10 sikap yang wajib dihindari oleh para istri, supaya tidak jadi kalangan istri durhaka kepada suami, antara lain merupakan:

1. menuntut keluarga yang sempurna dan juga sempurna
saat sebelum menikah, seseorang perempuan membayangkan perkawinan yang begitu indah, kehidupan yang amat romantis sebagaimana dia baca dalam novel ataupun dia saksikan dalam sinetron - sinetron.

dia mempunyai cerminan yang amat sempurna dari suatu perkawinan. keletihan yang amat, cape, permasalahan keuangan, dan juga segudang problematika di dalam suatu keluarga luput dari cerminan nya.

dia cuma membayangkan yang indah - indah dan juga enak - enak dalam suatu pernikahan.

kesimpulannya, kala dia wajib mengalami seluruh itu, dia tidak siap. dia kurang dapat menerima kondisi, perihal ini terjalin berlarut - larut, dia senantiasa aja menuntut suaminya supaya keluarga yang mereka bina setimpal dengan cerminan sempurna yang tetap dia impikan semenjak muda.

seseorang perempuan yang bakal menikah, alangkah baiknya bila dia memandang lembaga pernikahan dengan uraian yang utuh, tidak sepotong - potong, romantika keluarga beserta problematika yang terdapat di dalamnya.

2. nusyus (tidak taat kepada suami)
nusyus merupakan perilaku membangkang, tidak patuh dan juga tidak taat kepada suami. perempuan yang melaksanakan nusyus merupakan perempuan yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan juga tidak ridha pada peran yang allah subhanahu wa ta’ala telah tetapkan untuknya.

nusyus mempunyai sebagian wujud, antara lain merupakan:

menolak ajakan suami kala mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang - terangan ataupun secara samar.
mengkhianati suami, semisal dengan menjalakan ikatan hitam dengan laki - laki lain.
memasukkan seorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah
lalai dalam melayani suami
mubazir dan juga menghambur - hamburkan duit pada yang bukan tempatnya
menyakiti suami dengan tutur kata yang kurang baik, mencela, dan juga mengejeknya
keluar rumah tanpa izin suami
menyebarkan dan juga mencela rahasia - rahasia suami.

seseorang istri shalihah hendak tetap menempatkan ketaatan kepada suami di atas segala - galanya. tentu aja bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada allah, karna tidak terdapat ketaatan dalam maksiat kepada allah subhanahu wa ta’ala. dia hendak taat kapan juga, dalam suasana whatever, bahagia ataupun sulit, luas ataupun kecil, suka maupun duka. ketaatan istri serupa ini amat besar pengaruhnya dalam meningkatkan cinta dan juga memelihara kesetiaan suami.

3. tidak menggemari keluarga suami
sering - kali seseorang istri menginginkan supaya segala atensi dan juga kasih sayang si suami cuma tercurah pada pribadinya. tidak boleh sedikit juga waktu dan juga atensi dikasih kepada selebihnya. tercantum pula kepada orang tua suami. sementara itu, di satu sisi, suami wajib berbakti dan juga memuliakan orang tuanya, terlebih ibunya.

salah satu wujudnya merupakan cemburu terhadap bunda mertuanya. dia menyangka bunda mertua bagaikan pesaing utama dalam memperoleh cinta, atensi, dan juga kasih sayang suami. sering - kali, sebagian istri berani menghina dan juga melecehkan orang tua suami, terlebih lagi dia tidak tidak sering berupaya merayu suami buat berbuat durhaka kepada orang tuanya. sering - kali istri terencana mencari - cari kesalahan dan juga kelemahan orang tua dan juga keluarga suami, ataupun membesar - besarkan sesuatu permasalahan, terlebih lagi tidak segan buat memfitnah keluarga suami.

terdapat pula seseorang istri yang menuntut suaminya supaya lebih menggemari keluarga istri, dia berupaya menjauhkan suami dari keluarganya dengan bermacam trik.

jalinan perkawinan bukan cuma menyatukan 2 insan dalam suatu lembaga perkawinan, tetapi pula ‘pernikahan antar keluarga’. kedua orang tua suami merupakan orang tua istri, keluarga suami merupakan keluarga istri, demikian kebalikannya. menjalakan ikatan baik dengan keluarga suami menggambarkan salah satu keharmonisan keluarga. suami hendak terasa tenang dan juga senang bila istrinya sanggup memposisikan pribadinya dalam kelurga suami. perihal ini hendak menaikkan cinta dan juga kasih sayang suami.

4. tidak melindungi penampilan
sering - kali, seseorang istri berhias, berdandan, dan juga menggunakan baju yang indah cuma kala dia keluar rumah, kala bakal bepergian, mendatangi undangan, ke kantor, mendatangi kerabat ataupun sahabatnya, berangkat ke tempat perbelanjaan, ataupun kala terdapat kegiatan yang lain di luar rumah. kondisi ini begitu berputar kala dia di depan suaminya. dia tidak hirau dengan badannya yang kotor, cukup cuma menggunakan baju seadanya: sering - kali kotor, lusuh, dan juga berbau, rambutnya kusut masai, dia pula cuma mencukupkan dengan aroma dapur yang menusuk.

bila kondisi ini terus menerus dipelihara oleh istri, jangan heran bila suami tidak betah di rumah, dia lebih suka menghabiskan waktunya di luar dibanding di rumah. semestinya, berhiasnya ia lebih diperuntukan kepada suami janganlah keelokan yang telah dianugerahkan oleh allah dikasih kepada teman , sementara itu suami nya di rumah lebih berhak buat itu.

5. kurang berterima kasih
tidak tidak sering, seseorang suami tidak sanggup penuhi kemauan si istri. apa yang dikasih suami jauh dari apa yang dia harapkan. dia tidak puas dengan apa yang dikasih suami, walaupun suaminya sudah berupaya secara optimal buat penuhi kebutuhan keluarga dan juga keinginan - keinginan istrinya.

istri kurang terlebih lagi tidak mempunyai kerasa terima kasih kepada suaminya. dia tidak bersyukur atas karunia allah yang dikasih kepadanya melalui suaminya. dia tetap terasa kecil dan juga ketiadaan. watak qona’ah dan juga ridho terhadap apa yang dikasih allah kepadanya amat jauh dari pribadinya.

seseorang istri yang shalihah pastinya sanggup mengerti keterbatasan keahlian suami. dia tidak hendak membebani suami dengan suatu yang tidak sanggup dicoba suami. dia hendak berterima kasih dan juga mensyukuri apa yang telah dikasih suami. dia bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan allah kepadanya, dengan bersyukur, insya allah, nikmat allah hendak meningkat.

“sesungguhnya bila kalian bersyukur, tentu kami hendak menaikkan (nikmat) kepadamu, dan juga bila kalian mengingkari (nikmat - ku) , hingga sebetulnya adzab - ku amat pedih. ”

6. mengingkari kebaikan suami
“wanita menggambarkan kebanyakan penduduk neraka. ” demikian di informasikan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehabis shalat gerhana kala terjalin gerhana matahari.

ajaib! ! perempuan amat dimuliakan di mata islam, terlebih lagi seseorang bunda mendapatkan hak buat dihormati 3 kali lebih besar dibanding bapak. wujud yang dimuliakan, tetapi malah jadi penunggu kebanyakan neraka. gimana ini terjalin?

“karena kekufuran mereka, ” jawab rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam kala para sabahat bertanya kenapa perihal itu dapat terjalin. apakah mereka mengingkari allah?

bukan, mereka tidak mengingkari allah, tetapi mereka mengingkari suami dan juga kebaikan - kebaikan yang telah diperbuat suaminya. andaikata seseorang suami berbuat kebaikan sejauh masa, setelah itu seseorang istri memandang suatu yang tidak disenanginya dari seseorang suami, hingga sang istri hendak berkata kalau dia tidak memandang kebaikan sedikitpun dari suaminya. demikian uraian rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan bukhari (5197).

mengingkari suami dan juga kebaikan - kebaikan yang telah dicoba suami! !

inilah pemicu banyaknya kalangan perempuan berposisi di dalam neraka. ayo kita amati diri tiap kita, kita silih introspeksi, apa dan juga gimana yang telah kita jalani kepada suami - suami kita?

bila kita terbebas dari yang demikian, alhamdulillah. seperti itu yang kita harapkan. berita gembira untukmu wahai saudariku.

tetapi bila tidak, kita (kerap) mengingkari suami, mengingkari kebaikan - kebaikannya, hingga berhati - hatilah dengan apa yang telah disinyalir oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. bertobat, salah satunya opsi utuk bebas dari pedihnya siksa neraka. sepanjang matahari belum terbit dari barat, ataupun napas telah terdapat di tenggorokan, masih terdapat waktu buat bertobat. tetapi kenapa mesti nanti? kenapa mesti menunggu sakaratul maut?

janganlah engkau katakan esok dan juga esok wahai saudariku; kejarlah ajalmu, bukankah engkau tidak ketahui kapan engkau hendak menemui robb mu?

“tidaklah seseorang isteri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan isterinya (di akhirat nanti) : bidadari yang jadi pendamping suaminya (mengatakan) : “jangan engkau menyakitinya, nanti kalian dimurkai allah, seseorang suami begimu cumalah seseorang tamu yang dapat lekas berpisah dengan kalian mengarah kami. ” (hr. at tirmidzi, hasan)

wahai saudariku, ayo kita amati, apa yang telah kita jalani sepanjang ini , jangan sempat bosan dan juga henti buat introspeksi diri, jangan hingga apa yang kita jalani tanpa kita sadari bawa kita kepada neraka, yang kedahsyatannya tentu sudah engkau tahu.

bila sesuatu dikala, timbul suatu yang tidak kita gemari dari suami; janganlah kita mengingkari dan juga melupakan seluruh kebaikan yang telah suami kita jalani.

“maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. sebetulnya suamimu merupakan surga dan juga nerakamu. ” (hr. ahmad)

7. mengungkit - ungkit kebaikan
tiap orang pastinya mempunyai kebaikan, tidak terkecuali seseorang istri. yang jadi permasalahan merupakan bila seseorang istri menyebut kebaikan - kebaikannya di depan suami dalam rangka mengungkit - ungkit kebaikannya semata.

“hai orang - orang yang beriman, janganlah kalian menyirnakan (pahala) sedekahmu dengan menyebut - nyebutnya dan juga menyakiti (perasaan sang penerima). ” [al baqarah: 264]

abu dzar radhiyallahu’anhu meriwayatkan, bahwasanya nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “ada 3 kelompok manusia dimana allah tidak hendak berdialog dan juga tidak hendak memandang mereka pada hari kiamat. ia tidak mensucikan mereka dan juga buat mereka adzab yang pedih. ”

abu dzar radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak 3 kali. ” kemudian abu dzar bertanya, “siapakah mereka yang rugi itu, wahai rasulullah? ” dia menanggapi, “orang yang menjulurkan kain sarungnya ke dasar mata kaki (isbal) , orang yang suka mengungkit - ungkit kebaikannya dan juga orang yang suka bersumpah palsu kala menjual. ” [hr. muslim]

8. padat jadwal di luar rumah
seseorang istri sering - kali mempunyai banyak banyak aktivitas di luar rumah. banyak aktivitas ini tidak terdapat salahnya, asalkan menemukan izin suami dan juga tidak hingga mengabaikan tugas dan juga tanggung jawabnya.

jangan hingga kegiatan tersebut melalaikan tanggung jawab nya bagaikan seseorang istri. jangan hingga amanah yang sudah dipikulnya terabaikan.

kala suami kembali dari mencari nafkah, dia mengalami rumah belum beres, cucian masih menumpuk, hidangan belum siap, kanak - kanak belum mandi, dan juga lain sebagainya. bila hni terjalin terus menerus, dapat jadi suami tidak betah di rumah, dia lebih suka menghabiskan waktunya di luar ataupun di kantor.

9. cemburu buta
cemburu menggambarkan tabiat perempuan, dia menggambarkan sesuatu ekspresi cinta. dalam batas - batas tertentu, mampu dikatakan normal apabila seseorang istri terasa cemburu dan juga memendam kerasa curiga kepada suami yang tidak sering berposisi di rumah. tetapi bila kerasa cemburu ini kelewatan, melampaui batasan, tidak mendasar, dan juga cuma berasal dari praduga; hingga kerasa cemburu ini mampu berbeda jadi cemburu yang tercela.

cemburu yang disyariatkan merupakan cemburunya istri terhadap suami karna kemaksiatan yang dikerjakannya, semisal: berzina, kurangi hak - hak nya, menzhaliminya, ataupun lebih mendahulukan istri lain dibanding pribadinya. bila ada isyarat yang membetulkan perihal ini, hingga ini merupakan cemburu yang terpuji. bila cuma perkiraan belaka tanpa dalil dan juga fakta, hingga ini merupakan cemburu yang tercela.

bila kecurigaan istri kelewatan, tidak berdasar pada dalil dan juga fakta, cemburu buta, perihal ini pastinya hendak mengundang kekesalan dan juga kejengkelan suami. dia tidak hendak sempat terasa aman kala terdapat di rumah. terlebih lagi, tidak menutup mungkin, kejengkelannya hendak dilampiaskan dengan trik melaksanakan apa yang disangkakan istri kepada pribadinya.

10. kurang melindungi perasaan suami
kepekaan suami ataupun istri terhadap perasaan pendampingnya amat dibutuhkan buat menjauhi terbentuknya konflik, kesalahpahaman, dan juga ketersinggungan. seseorang istri sebaiknya tetap berwaspada dalam tiap perkataan dan juga perbuatannya supaya tidak menyakiti perasaan suami, dia sanggup melindungi lisannya dari kerutinan mencaci, mengatakan keras, dan juga mengkritik dengan trik memojokkan. istri senantiasa berupaya buat menampakkan muka yang ramah, mengasyikkan, tidak bermuka masam, dan juga melegakan kala ditatap suaminya.

demikian sebagian perbuatan yang wajib dihindari oleh para istri, yang sudah berjanji menerima suaminya dihadapan allah swt kala didepan penghulu, buat dapat menerima apa terdapatnya kondisi suaminya. mudah - mudahan dengan membaca informasi ini kita mampu menyadarinya betapa perbuatan - perbuatan di atas amat rusak sekali, dengan menjauhi perbuatan - perbuatan tersebut, hingga hendak memunculkan akibat keluarga yang sakinah, mawadah dan juga warohmah. dapat berkumpul di surganya allah berbarengan suami. jadi suami istri hingga surga.
amiin yaa robbal’alamiin…

rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “maukah saya beritahukan kepada kamu, istri - istri kamu yang jadi penunggu surga ialah istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, senantiasa berulang kepada suaminya. di mana bila suaminya marah, ia menghadiri suaminya dan juga meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya mengatakan: “aku tidak mampu tidur saat sebelum engkau ridha. ” (hr. an - nasai dalam isyratun nisa nomor. 257. silsilah al - ahadits ash shahihah, asy - syaikh angkatan laut (AL) albani rahimahullah, nomor. 287)




(sumber: kabarmuslimah.com )

Sabtu, 14 Mei 2016

Kisah Anak Durhaka: Sengsara setelah Menikah

Keluarga ini memiliki bisnis di bidang logam. Fabrikasi besi. Sejenis bengkel. Lengkap dengan alat-alat yang berhubungan dengan cutting, bending, sampai las dan seterusnya. Mereka hidup dalam kecukupan materi. Alhamdulillah.

Sebagai buah hati semata wayang, anak laki-laki ini juga menjadi satu-satunya pewaris tunggal usaha keluarga. Dia tumbuh menjadi sosok yang cerdas, cepat belajar, mudah memahami persoalan dan penyelesaiannya.

Memasuki usia dewasa, ayah dan ibunya mengusulkan agar ia segera mencari pendamping hidup. Rupanya, si anak laki-lakinya itu sudah memiliki target. Seorang gadis telah berhasil mencuri hati, menyita perhatian, dan benar-benar ingin dijadikannya sebagai istri.

Malangnya, ayah dan ibunya tidak sepakat ketika gadis itu diajak ke rumah untuk berkenalan. Dasar keras kepala, sang anak berupaya sekuat tenaga untuk meyakinkan kedua orang tuanya. Berbagai cara ditempuh, demi bersandingnya sang gadis di pelaminan bersamanya.

Lantaran mengetahui sikap anaknya yang keras kepala, sang ibu pun mengalah. Wanita berhati sutra ini menyampaikan nasihat, “Nak, jika tekadmu bulat, ibu mustahil melarangnya. Namun, ingatlah satu hal; kualitas kecantikan fisik bukanlah jaminan bahwa kalian akan menjalani hidup bahagia setelah pernikahan.”

Pernikahan dihelat. Sang istri diboyong ke rumah kedua orang tuanya. Bersama untuk beberapa masa.

Berbilang bulan kemudian, sang istri berkonflik dengan ibunya. Berhasil diredam. Namun, kembali terulang. Ayahnya mengusulkan agar mereka menjalani hidup di rumah sendiri. Lantas dibelilah sebuah hunian yang cukup mewah.

Memasuki hunian baru, sang istri tidak mau membeli barang-barang murah. Segala jenis perabotan mahal dibeli. Demi memuaskan kehendak nafsu dan gengsi dengan teman-temannya. Selain itu, sepasang suami istri ini juga sering dilanda konflik. Sang suami semakin terpuruk ketika usahanya di bidang logam besi menurun.

Lama-kelamaan, usaha sang suami bangkrut. Menganggur. Dengan semangat menghidupi sang istri, dia berkeliling dari satu gedung ke gedung lain untuk melamar pekerjaan. Namun, semua perusahaan menolak lamarannya.

Dalam tempo yang lama, dia menganggur. Hanya di rumah. Satu persatu perabotannya dijual. Untuk menyambung hidup. Parahnya, sang istri tetap cuek. Dia tidak mengubah kebiasaan. Hidup dengan caranya; berfoya-foya.

“Dasar laki-laki tidak berguna. Mirip perempuan. Hanya di rumah. Tidak bekerja.” Kalimat itulah yang dia alamatkan kepada suami yang telah memeras seluruh kemampuan demi hidup bersamanya.

Perhatikanlah, jangan abaikan hak ayah dan ibumu dalam hal jodoh. Tetaplah berbakti kepadanya setelah menikah. Jangan hanya karena kecantikan fisik, lantas engkau lebih membela pasanganmu dengan menzalimi orang yang telah melahirkan dan membesarkanmu.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Sumber: Kisah-kisah Anak Durhaka, Khalid Abu Shalih.



(sumber: kisahikmah.com)

Kamis, 14 April 2016

Wahai Para Istri,Hindari 10 Perilaku Ini Agar Tak Durhaka Kepada Suami

Di bawah ini adalah 10 perilaku yang harus dihindari oleh para istri, agar tidak menjadi golongan istri durhaka kepada suami, diantaranya adalah:

1. Menuntut keluarga yang ideal dan sempurna
Sebelum menikah, seorang wanita membayangkan pernikahan yang begitu indah, kehidupan yang sangat romantis sebagaimana ia baca dalam novel maupun ia saksikan dalam sinetron-sinetron.

Ia memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah pernikahan. Kelelahan yang sangat, cape, masalah keuangan, dan segudang problematika di dalam sebuah keluarga luput dari gambaran nya.


Ia hanya membayangkan yang indah-indah dan enak-enak dalam sebuah perkawinan.

Akhirnya, ketika ia harus menghadapi semua itu, ia tidak siap. Ia kurang bisa menerima keadaan, hal ini terjadi berlarut-larut, ia selalu saja menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan gambaran ideal yang senantiasa ia impikan sejak muda.

Seorang wanita yang hendak menikah, alangkah baiknya jika ia melihat lembaga perkawinan dengan pemahaman yang utuh, tidak sepotong-potong, romantika keluarga beserta problematika yang ada di dalamnya.

2. Nusyus (tidak taat kepada suami)
Nusyus adalah sikap membangkang, tidak patuh dan tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak ridha pada kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan untuknya.

Nusyus memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah:

    Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.
    Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan pria lain.
    Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah
    Lalai dalam melayani suami
    Mubazir dan menghambur-hamburkan uang pada yang bukan tempatnya
    Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknya
    Keluar rumah tanpa izin suami
    Menyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.

Seorang istri shalihah akan senantiasa menempatkan ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada Allah, karena tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia akan taat kapan pun, dalam situasi apapun, senang maupun susah, lapang maupun sempit, suka ataupun duka. Ketaatan istri seperti ini sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan cinta dan memelihara kesetiaan suami.

3. Tidak menyukai keluarga suami
Terkadang seorang istri menginginkan agar seluruh perhatian dan kasih sayang sang suami hanya tercurah pada dirinya. Tak boleh sedikit pun waktu dan perhatian diberikan kepada selainnya. Termasuk juga kepada orang tua suami. Padahal, di satu sisi, suami harus berbakti dan memuliakan orang tuanya, terlebih ibunya.

Salah satu bentuknya adalah cemburu terhadap ibu mertuanya. Ia menganggap ibu mertua sebagai pesaing utama dalam mendapatkan cinta, perhatian, dan kasih sayang suami. Terkadang, sebagian istri berani menghina dan melecehkan orang tua suami, bahkan ia tak jarang berusaha merayu suami untuk berbuat durhaka kepada orang tuanya. Terkadang istri sengaja mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang tua dan keluarga suami, atau membesar-besarkan suatu masalah, bahkan tak segan untuk memfitnah keluarga suami.

Ada juga seorang istri yang menuntut suaminya agar lebih menyukai keluarga istri, ia berusaha menjauhkan suami dari keluarganya dengan berbagai cara.

Ikatan pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan dalam sebuah lembaga pernikahan, namun juga ‘pernikahan antar keluarga’. Kedua orang tua suami adalah orang tua istri, keluarga suami adalah keluarga istri, demikian sebaliknya. Menjalin hubungan baik dengan keluarga suami merupakan salah satu keharmonisan keluarga. Suami akan merasa tenang dan bahagia jika istrinya mampu memposisikan dirinya dalam kelurga suami. Hal ini akan menambah cinta dan kasih sayang suami.

4. Tidak menjaga penampilan
Terkadang, seorang istri berhias, berdandan, dan mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar rumah, ketika hendak bepergian, menghadiri undangan, ke kantor, mengunjungi saudara maupun teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan, atau ketika ada acara lainnya di luar rumah. Keadaan ini sungguh berbalik ketika ia di depan suaminya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang kotor, cukup hanya mengenakan pakaian seadanya: terkadang kotor, lusuh, dan berbau, rambutnya kusut masai, ia juga hanya mencukupkan dengan aroma dapur yang menyengat.

Jika keadaan ini terus menerus dipelihara oleh istri, jangan heran jika suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar ketimbang di rumah. Semestinya, berhiasnya dia lebih ditujukan kepada suami Janganlah keindahan yang telah dianugerahkan oleh Allah diberikan kepada orang lain, padahal suami nya di rumah lebih berhak untuk itu.

5. Kurang berterima kasih
Tidak jarang, seorang suami tidak mampu memenuhi keinginan sang istri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa yang ia harapkan. Ia tidak puas dengan apa yang diberikan suami, meskipun suaminya sudah berusaha secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan keinginan-keinginan istrinya.

Istri kurang bahkan tidak memiliki rasa terima kasih kepada suaminya. Ia tidak bersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepadanya lewat suaminya. Ia senantiasa merasa sempit dan kekurangan. Sifat qona’ah dan ridho terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya sangat jauh dari dirinya.

Seorang istri yang shalihah tentunya mampu memahami keterbatasan kemampuan suami. Ia tidak akan membebani suami dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan suami. Ia akan berterima kasih dan mensyukuri apa yang telah diberikan suami. Ia bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya, dengan bersyukur, insya Allah, nikmat Allah akan bertambah.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”

6. Mengingkari kebaikan suami
“Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka.” Demikian disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari.

Ajaib!! wanita sangat dimuliakan di mata Islam, bahkan seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali lebih besar ketimbang ayah. Sosok yang dimuliakan, namun malah menjadi penghuni mayoritas neraka. Bagaimana ini terjadi?

“Karena kekufuran mereka,” jawab Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa Sallam ketika para sabahat bertanya mengapa hal itu bisa terjadi. Apakah mereka mengingkari Allah?

Bukan, mereka tidak mengingkari Allah, tapi mereka mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat suaminya. Andaikata seorang suami berbuat kebaikan sepanjang masa, kemudian seorang istri melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari seorang suami, maka si istri akan mengatakan bahwa ia tidak melihat kebaikan sedikitpun dari suaminya. Demikian penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari (5197).

Mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan suami!!

Inilah penyebab banyaknya kaum wanita berada di dalam neraka. Mari kita lihat diri setiap kita, kita saling introspeksi, apa dan bagaimana yang telah kita lakukan kepada suami-suami kita?

Jika kita terbebas dari yang demikian, alhamdulillah. Itulah yang kita harapkan. Berita gembira untukmu wahai saudariku.

Namun jika tidak, kita (sering) mengingkari suami, mengingkari kebaikan-kebaikannya,  maka berhati-hatilah dengan apa yang telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bertobat,  satu-satunya pilihan utuk terhindar dari pedihnya siksa neraka. Selama matahari belum terbit dari barat, atau nafas telah ada di kerongkongan,  masih ada waktu untuk bertobat. Tapi mengapa mesti nanti? Mengapa mesti menunggu sakaratul maut?

Janganlah engkau katakan besok dan besok wahai saudariku; kejarlah ajalmu,  bukankah engkau tidak tahu kapan engkau akan menemui Robb mu?

“Tidaklah seorang isteri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan isterinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi pasangan suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah, seorang suami begimu hanyalah seorang tamu yang bisa segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR. At Tirmidzi, hasan)

Wahai saudariku, mari kita lihat, apa yang telah kita lakukan selama ini , jangan pernah bosan dan henti untuk introspeksi diri,  jangan sampai apa yang kita lakukan tanpa kita sadari membawa kita kepada neraka, yang kedahsyatannya tentu sudah Engkau ketahui.

Jika suatu saat, muncul sesuatu yang tidak kita sukai dari suami; janganlah kita mengingkari dan melupakan semua kebaikan yang telah suami kita lakukan.

“Maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR.Ahmad)

7. Mengungkit-ungkit kebaikan
Setiap orang tentunya memiliki kebaikan, tak terkecuali seorang istri. Yang jadi masalah adalah jika seorang istri menyebut kebaikan-kebaikannya di depan suami dalam rangka mengungkit-ungkit kebaikannya semata.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” [Al Baqarah: 264]

Abu Dzar radhiyallahu’Anhu meriwayatkan, bahwasanya Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga kelompok manusia dimana Allah tidak akan berbicara dan tak akan memandang mereka pada hari kiamat. Dia tidak mensucikan mereka dan untuk mereka adzab yang pedih.”

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga kali.” Lalu Abu Dzar bertanya, “Siapakah mereka yang rugi itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang menjulurkan kain sarungnya ke bawah mata kaki (isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang suka bersumpah palsu ketika menjual. ” [HR. Muslim]

8. Sibuk di luar rumah
Seorang istri terkadang memiliki banyak kesibukan di luar rumah. Kesibukan ini tidak ada salahnya, asalkan mendapat izin suami dan tidak sampai mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.

Jangan sampai aktivitas tersebut melalaikan tanggung jawab nya sebagai seorang istri. Jangan sampai amanah yang sudah dipikulnya terabaikan.

Ketika suami pulang dari mencari nafkah, ia mendapati rumah belum beres, cucian masih menumpuk, hidangan belum siap, anak-anak belum mandi, dan lain sebagainya. Jika hni terjadi terus menerus, bisa jadi suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar atau di kantor.

9. Cemburu buta
Cemburu merupakan tabiat wanita, ia merupakan suatu ekspresi cinta. Dalam batas-batas tertentu, dapat dikatakan wajar bila seorang istri merasa cemburu dan memendam rasa curiga kepada suami yang jarang berada di rumah. Namun jika rasa cemburu ini berlebihan, melampaui batas, tidak mendasar, dan hanya berasal dari praduga; maka rasa cemburu ini dapat berubah menjadi cemburu yang tercela.

Cemburu yang disyariatkan adalah cemburunya istri terhadap suami karena kemaksiatan yang dilakukannya, misalnya: berzina, mengurangi hak-hak nya, menzhaliminya, atau lebih mendahulukan istri lain ketimbang dirinya. Jika terdapat tanda-tanda yang membenarkan hal ini, maka ini adalah cemburu yang terpuji. Jika hanya dugaan belaka tanpa fakta dan bukti, maka ini adalah cemburu yang tercela.

Jika kecurigaan istri berlebihan, tidak berdasar pada fakta dan bukti, cemburu buta, hal ini tentunya akan mengundang kekesalan dan kejengkelan suami. Ia tidak akan pernah merasa nyaman ketika ada di rumah. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, kejengkelannya akan dilampiaskan dengan cara melakukan apa yang disangkakan istri kepada dirinya.

10. Kurang menjaga perasaan suami
Kepekaan suami maupun istri terhadap perasaan pasangannya sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya konflik, kesalahpahaman, dan ketersinggungan. Seorang istri hendaknya senantiasa berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya agar tidak menyakiti perasaan suami, ia mampu menjaga lisannya dari kebiasaan mencaci, berkata keras, dan mengkritik dengan cara memojokkan. Istri selalu berusaha untuk menampakkan wajah yang ramah, menyenangkan, tidak bermuka masam, dan menyejukkan ketika dipandang suaminya.

    Demikian beberapa perbuatan yang harus dihindari oleh para istri, yang sudah berjanji menerima suaminya dihadapan Allah SWT ketika didepan penghulu, untuk bisa menerima apa adanya keadaan suaminya. Semoga dengan membaca artikel ini kita dapat menyadarinya betapa perbuatan-perbuatan di atas sangat rusak sekali, dengan menghindari perbuatan-perbuatan tersebut, maka akan menimbulkan akibat keluarga yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah. Bisa berkumpul di SurgaNya Allah bersama suami. Menjadi suami istri sampai Surga.
    Amiin Yaa Robbal’alamiin…

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy- Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)



Sumber: siraman_com

Selasa, 05 April 2016

Kisah Anak Yang Diazab Allah Karena Suka Kasar Pada Ibunya

Seorang anak berlaku kasar kepada ibunya. Dia tidak hanya suka teriak-teriak di wajahnya, akan tetapi suka mencaci dan memakinya. Ibunya yang telah tua, seringkali berdoa kepada Allah ta’ala agar Allah meringankan kekerasan dan kekejaman anaknya. Dia menjadikan ibunya sebagai pembantu yang membantu dan mengurusi segala kebutuhannya, sedangkan ibunya sendiri tidak membutuhkan pengurusan dan bantuannya. Betapa sering air matanya mengalir di kedua pipinya, berdoa kepada Allah ta’ala agar memperbaiki belahan hatinya dan memberikan hidayah kepada hatinya.

Pada suatu hari dia menemui ibunya dengan raut wajah kejahatan yang terlihat dari kedua matanya. Dia berteriak-teriak di wajah ibunya, “Apakah ibu belum menyiapkan makanan juga?” Dengan segera ibunya mempersiapkan dan menghidangkan makanan untuknya. Akan tetapi tatkala dia melihat makanan yang tidak dia suka, maka dia melemparnya ke tanah.

Dia marah dan berucap, “Sungguh, aku kena musibah dengan wanita yang sudah tua renta, aku tidak tahu, kapan aku bisa berlepas diri darinya.” Ibunya menangis seraya berkata, “Wahai anakku, takutlah kamu kepada Allah terhadapku. Tidakkah kamu takut kepada Allah? Tidakkah kamu takut akan murka dan kemarahanNya?” Karena mendengar kata-kata ibunya, maka kemarahannya pun memuncak, dia memegang baju ibunya dan mengangkatnya. Dia mengguncang-guncang ibunya dengan kuat seraya menghardik, “Dengar, aku tidak mau dinasihati. Bukan aku yang mesti dibilang harus bertakwa kepada Allah.”

Lalu dia melempar ibunya. Ibunya jatuh tersungkur. Tangisnya bercampur dengan tawa anaknya yang penuh dengan kepongahan seraya mengatakan, “Ibu pasti akan mendoakan kecelakaan bagiku. Ibu mengira Allah akan mengabulkannya.” Kemudian dia keluar rumah sambil mengolok-olok ibunya. Sementara sang ibu, dia berlinangan air mata kesedihan, menangis siang dan malam tiada henti.

Adapun anaknya, dia lalu menaiki mobilnya. Bergembira dan bersuka cita sambil mendengarkan musik. Dia kencangkan volume tapenya. Dia lupa akan apa yang telah dia perbuat terhadap ibunya yang malang. Dia meninggalkan ibunya dalam keadaan bersedih hati sendirian, hatinya menelan rasa sakit, mengalami kesedihan yang sangat mendalam.

Dia punya acara ke luar kota. Tatkala mobilnya melaju di jalan raya dengan kecepatan membabi buta, tiba-tiba ada seekor unta berada di tengah jalan. Dia terguncang dan kehilangan keseimbangan. Dia mencoba untuk menguasai keadaan, akan tetapi tidak ada jalan keluar dari takdir. Dalam kecelakaan itu, ada potongan besi mobil yang masuk ke dalam perutnya, akan tetapi dia tidak langsung tewas. Allah ta’ala menangguhkan kematiannya. Dia berpindah dari operasi satu ke operasi yang lain, hingga akhirnya terbaring di tempat tidur, tidak bisa bergerak sama sekali. (Aqibah Uquq al-Walidain, hal. 69-71.)

Sumber: Sungguh Merugi Siapa yang Mendapati Orang Tuanya Masih Hidup Tapi Tidak Meraih Surga, karya Ghalib bin Sulaiman bin Su’ud al-Harbi. Edisi terjemah cet. Pustaka Darul Haq Jakarta.
Artikel www.KisahMuslim.com