Tampilkan postingan dengan label jilbab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jilbab. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juli 2016

WANITA BACA INI : Lebih Baik Panasnya Hijabku Dibandingkan Panasnya Neraka

mbak tidak merasa kepanasan ya? ” satu nada perempuan tiba - tiba mengagetkanku. seorang mahasiswi menyapaku di depan rubrik layanan foto - kopi di universitas.



“pake demikian kan mampu buat gerah, ” perempuan itu berulang menguberku dengan persoalan. sempat kulirik, ke - 2 matanya tidak terlepas menyapu seluruh pakaian yang kubiarkan menjutai hingga ke dasar.

serupa universal, aku gunakan stelan jubah longgar yang kupadu dengan hijab besar sampai menutupi ke - 2 tanganku. mungkin ia mendengarkan pakaian yang kupakai.

sambil tersenyum, aku balik memandang. seorang wanita berjilbab pendek dan transparan. bajunyapun ketat. dia pula menggunakan celana yang seluruh menampakkan lekuk tubuhnya dengan cerah. yap, berikut stylelist muslimah jaman dikala ini. hijab gaul dan trendi, kata sebagian orang.

dengan ramah, aku menanggapi pertanyaannya, “iya panas pula sih. tetapi tidak jadi permasalahan apabila telah miliki kerutinan, ” ujarku tersenyum. “lagipula, dari pada panasnya neraka tambah baik panas disini lho, ” imbuhku santun.

sejenak dia terdiam dalam tatapanku. hingga kesimpulannya dia pula mengangguk sambil tersenyum. kujabat tangannya, dikala ini aku hendak pamit. foto - kopi pekerjaan makalah telah beres. dia berulang tersenyum.

tidak ketahui apa di fikirannya waktu ini. tuturnya, aku terasa plong mampu menanggapi satu pada sebagian puluh persoalan yang biasa menghampiriku.

dari kejauhan nada merdu azan dzuhur telah berkumandang memanggil sebagian orang beriman mengarah kemenangan. aku bergegas ke masjid.

budaya arab?

dapat jadi ilustrasi diskusi diatas sempat dialami sebagian orang muslimah. cerita yang acapkali hampiri banyak muslimah yang coba istiqamah berhijab setimpal sama tuntunan syariat. sebagian gelar dan stigma negatif seolah jadi makan wajib mereka. dari mulai julukanninja, teroris hingga mendapatkan sorakan “aisyah ayat - ayat cinta”.

pendapat sinis pula tidak henti mengenai, bahwa baju dan hijab lebar itu cocoknya di negara timur tengah bagaikan budaya arab, tidaklah dipakai di indonesia.

tidak kalah beratnya dari pihak keluarga, sebagian orang - tua dan keluarga masihlah menentang keinginan sebagian muslimah yang menginginkan menyempurnakan hijabnya. alasan susah dapat jodoh, kecil peluang kerja, hingga pada anggapan susah berteman di area keluarga.

di kelompok sebaya pula sekian. sebagian muslimah itu siap - siap dijuluki serupa emak - emak, rempong, sok suci, sok alim, belum layak, dsb.

please don’t bully me

dalam sistem ekspedisi keimanan seorang muslimah, memakai jilbab syar’i tentu jadi dini langkah yang baik. memilik pakaian tercantum pula opsi dari pemikiran hidup. hatta, mereka hoby telanjang ditempat universal (nudist) walaupun itu cerah aksi amoral, apabila di tanya argumennya, ujungnya tentu buat ‘menunjukkan jati diri dan ideologi’. yang tentu ‘ideologi ketelanjangan’.

dalam novel “dress and ideology - fashioning identity from antiquity to the present”, orang barat seorang diri yakini, gaun dan mode ialah sarana visual yang kokoh buat mengkomunikasikan pandangan hidup, politik,


sosial ataupun agama seseorang atau
tim.

terlebih lagi pula sejauh revolusi prancis, memakai celana ataupun gaun mampu melambangkan ortodoksi ideologis dan pemberontakan. revolusi prancis th. 1789 dan revolusi amerika, diisyarati kemerdekaanya th. 1776 satu antara lain perobahan pola hidup ; model rambut dan pakaian.

terlebih lagi pula bennett, a. (2005) sempat mengantarkan, “fashion sajikan satu diantara langkah yang amat siap dimana pribadi orang dapat buat statment visual yang ekspresif menimpa jati diri mereka. ”

karenanya, apabila opsi aku dengan hijab panjang (hijab syar’i) tentu pula dengan opsi yg tidak asal - asalan. karena opsi ini didasarkan firman allah ;

قُل لِّل�مُؤ�مِنِينَ يَغُضُّوا مِن� أَب�صَارِهِم� وَيَح�فَظُوا فُرُوجَهُم� ذَلِكَ أَز�كَى لَهُم� إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَص�نَعُونَ

“katakanlah pada perempuan yang beriman : hendaknya mereka menahan pemikirannya, dan kemaluannya, dan jangan hingga mereka memperlihatkan perhiasannya, terkecuali yang (universal) nampak dari kepadanya …” (qs. an - nur 24 : 31).

diluar itu, basic yang lain ialah firman allah subhanahu wa ta’ala (swt) ;

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَز�وَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء ال�مُؤ�مِنِينَ يُد�نِينَ عَلَي�هِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَد�نَى أَن يُع�رَف�نَ فَلَا يُؤ�ذَي�نَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“hai nabi, katakanlah pada istri - istrimu, kanak - kanak perempuanmu dan istri - istri orang mukmin : hendaknya mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. yang sekian itu supaya mereka lebih mudah buat di tahu, karenanya mereka tidak diganggu. dan allah ialah maha pengampun lagi maha penyayang. ” (qs. al - ahzab 33 : 59).

berikut landasan terkuat, mengapa bagi aku seorang muslimah mesti berhijab. terdapat perintah allah yang tertuang cerah dalam al - qur’an. siapa yang menuruti perintah - nya, tentu allah mencintainya.

tengah yang tidak mematuhi perintahnya, jadi bersiaplah terima murka allah. karenanya, tolong janganlah usik dan hakimi sebagian muslimah yang tengah coba menyempurnakan hijabnya. karena tersebut usaha mereka buat patuh pada perintah rabbnya, si pencipta.

tetap mengharapkan jadi perempuan shalehah ialah alasan amat utama seorang muslimah berhijab, tercantum pula aku. dengan jilbab yang benar, muslimah itu belajar patuh pada allah subhanahu wata’ala. dengan jilbab yang syar’i, muslimah itu belajar melindungi ifffah (kesucian) dianya. dengan jilbab yang setimpal sama, muslimah itu belajar akhlak dan beradab.

rasulullah shallallahu alaihi wasallam (saw) bersabda : “dunia ialah perhiasan dan sebaik - baik perhiasan ialah perempuan shalihah. ” (hr. muslim). jadi panas ataupun gerah, ini ialah opsi.

untukmu saudariku

amat akhir, ijinkan aku sharing nasehat pada diriku dan saudariku sekaligus ;

tidaklah aku baik sampai aku berhijab. malah dengan hijabku, aku berupaya biar mampu mengambil langkah dalam kebaikan.

tidaklah lantaran aku suci sampai aku berhijab. namun dengan hijabku, aku berupaya melindungi kesucian.

tidaklah lantaran aku santun sampai aku berhijab. namun dengan hijabku, aku berupaya jadi individu yang santun.

tidaklah lantaran aku berpemahaman luas sampai aku berhijab. namun dengan hijabku, aku berupaya meluaskan uraian.

tidaklah lantaran aku alim sampai aku berhijab. namun dengan hijabku, aku berupaya jadi wujud yang alim.

oleh karenanya, tidaklah salah hijabku apabila aku khilaf dan berbuat salah. akupun berupaya melaksanakan revisi diri jadi seorang muslimah yang kaffah, buat taatku pada rabbku. (sebarkanlah)






(sumber: pelangimuslim_com )

Jumat, 27 Mei 2016

4 Cara Berjilbab Yang Malah Bikin Dosa, Hati Hati Ya Kaum Hawa, SEBARKAN JIKA ANDA PEDULI!

 baru - baru ini hijab telah jadi trend warga indonesia spesialnya kalangan hawa.

dari mereka terdapat yang rela keluarkan isi dompet buat memperdalam ilmu membuat cantik diri dengan hijab. tetapi, apakah mereka ketahui aturan - aturan berjilbab yang sebetulnya? karna, tidak seluruh pemakai hijab telah betul - betul menutup aurot sampai - sampai bebas dari dosa.

terdapat sebagian style berjilbab yang malah menaikkan koleksi dosa untuk pemakai hijab tersebut.

1. hijab dengan olahan tipis terlebih lagi transparan


mengenakan hijab dengan olahan yang tipis benar nampak modis. dan juga olahan ini amat sesuai untuk para muslimah yang berposisi di wilayah yang panas. sampai - sampai kerasa panas tidak begitu menewaskan mereka. tetapi, hijab dengan olahan inilah yang malah membikin dosa.

rosulullah saw menyebut perihal serupa ini dengan istilah " berpakaian tetapi tellaanjangg ".

2. hijab ketat

muslimah diharuskan mengenakan hijab bertujuan supaya menutupi kulit dan lekuk badan yang menggoda para kalangan adam. tetapi, baru - baru ini para muslimah seakan - akan mengacuhkan syarat berjilbab tersebut. mereka benar berjilbab setimpal perintah, namun lekuk - lekuk badan mereka masih aja nampak.

terlebih lagi sebagian dari muslimah tersebut berjilbab cuma buat menonjolkan lekuk badan mereka. perihal serupa inilah yang menaikkan isi dompet dosa mereka.




3. hijab yang mirip baju lelaki

celana jeans dan juga kaos lengan panjang merupakan identik baju pria. pakaian - pakaian tersebut tidak tidak sering pula digunakan oleh para muslimah. meski mereka mengenakan kerudung, tetapi kerudungnya tidak menjuntai sampai dada. terlebih lagi dipadu dengan kaos lengan panjang dan celana jeans. serupa seseorang pria yang mengenakan kerudung.

style serupa ini tidak boleh dirpaktekkan oleh para muslimah. karna style serupa ini merupakan dosa untuk para muslimah. serupa yang tertera dalam al - quran tulisan an nuur ayat 31.



4. hijab yang menyamai perempuan kafir

jaman benar sudah tumbuh, begitu pula dengan model - model berbusana. tetapi, peraturan tidak lah berbeda sedikitpun. begitu halnya peraturan berlilbab. para muslimah sebaiknya betul - betul mengenali gimana tata trik berjilbab yang benar. karna, perihal yang amat membikin dosa merupakan salah penafsiran tentang berjilbab.

bagaikan contoh apabila mereka berjilbab namun membikin serupa perempuan kafir. serupa berkerudung tetapi pa.. . cuma masih jelas nampak, berjilbab tetapi da.. da senantiasa dipamerkan. dengan demikian, berjilbab malah membikin mereka terus menjadi berdosa aja. jadi, pelajarilah peraturan - peraturannya terlebih dulu saat sebelum berperan.



[sumber: halounik. blogspot. com]

Rabu, 18 Mei 2016

Menurut Islam, Ini Hukumnya Melepas Jilbab Demi Karir atau Pekerjaan

Setiap umat memiliki ujian. Dan ujian terbesar bagi Umatku adalah harta. HR. Ahmad, Tirmidzi .

Ketahuilah ukhti, Jilbab adalah kehormatan wanita. Allah mewajibkan wanita berjilbab bertujuan untuk menjunjung tinggi kedudukan dan martabat wanita.

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. Al Ahzab: 59 .

Rasulullah bersabda : Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik. HR. Ahmad .

Soal Rezeki tak perlu khawatir, Allah berfirman : Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Ankabut: 60). []



(sumber: reportaseterkini.net)

Senin, 16 Mei 2016

Teruntuk Para Muslimah... Sebenarnya Kalian Menutup atau Membungkus Aurat????

Saat ini banyak sekali para kaum hawa yang berhijab masih belum tau bagaimana sih berhijab yang benar . justru antara berhijab syar’i dengan menutup aurat dan membungkus banyak sekali yang membungkus aurat artinya apa?,artinya para kaum hawa memakai jilbab hanya sekedar memakai tetapi belum tahu arti berhijab sesungguhnya.

Fenomema seperti ini biasanya disebut jilboobs yang sekarang ini masih ngetren dikalangan kaum hawa.kita sebagai kaum wanita seharusnya tahu perbedaan membungkus badan danmenutup badan .membungkus badan adalah menutup badan dengan pakaian-pakain yang ketat yang masih menampakkan keindahan lekuk tubuh nya seperti kaos ketat ,kemeja ketat,menggunakan celana jeans ketat serta menggunakan laging tanpa ditutupi oleh pakaian longgar dan juga menggunakan jilbab yang super kecil tanpa menutupi dadanya.

Sedangkan berjilbab syar’i atau jilbab dengan cara menutup adalah menutup semua aurat seluruhnya dengan pakaian yang longgar yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali telapak tangan ,sedangkan telapak kaki bisa menggunakan kaos kaki.sedangkan bagian kepala menggunakan jilbab yang besar tidak nerawang dan menutupi dada kecuali muka.

Apakah kita para kaum hawa tidak menyayangkan diri kita jika kita membungkus lekukan tubuh kita dan bukanya saling mendapatkan pahala , antara kita yang memakai dan melihat justru kita akan dosa dan saling mendosakan buat lelaki yang bukan muhrim kita untuk melihatnya.
Sekarang para kaum wanita tinggal memilih mau membungkus atau menutup aurat ?




(sumber: jurnalmuslim.com)

Minggu, 01 Mei 2016

Pakai Jilbab di Luar Rumah, Lepas Jilbab di Dalam Rumah, Sudah Benarkah?

Manusia itu terlahir sebagai makhluk yang tidak tahu apa-apa. Tapi Allah memberinya akal sebagai modal untuk mempelajari ilmu. Ilmu menjadi bekal untuk beramal.


Dengan mengetahui bumbu dapur dan teknik mengolah makanan, seseorang insya Allahakan lihai dalam memasak.

Dengan kemampuan membaca, seorang anak insya Allah bisa memperluas cakrawala lewat berbagai buku.

Dengan mengetahui ilmu medis, seorang dokter insya Allah akan mampu mengobati pasien.

Dengan ilmu teknik, seorang ilmuwan insya Allah bisa membangun jembatan yang kokoh.

Demikian pula dengan ilmu agama. Hari ini mungkin kita sudah mengetahui perkara A, maka kita mengamalkannya. Kemudian esok, kita mengetahui perkara B, kemudian kita mengamalkannya. Begitulah terus hingga kita wafat. Ilmu itu bermanfaat karena berbuah amal salih. Apa gunanya ilmu kalau tidak diamalkan?

18 golongan orang

Jilbab adalah salah satu syariat Islam yang bermanfaat menjaga kehormatan wanita. Seluruh aurat ditutup dari pandangan lelaki yang bukan mahram, di mana pun itu.

Oleh sebab itu,

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاء وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada para wanita beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka. Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara lelaki mereka, putra-putra saudara perempuan mereka, wanita-wanita Islam, budak-budak yang mereka miliki, pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Ayat di atas merinci beberapa orang. Seorang wanita muslimah boleh melepas jilbab di hadapan mereka. Mari kita runut kembali:

Suami.
Ayah.
Ayah suami (mertua).
Putra (anak lelaki kandung).
Putra suami (anak lelaki tiri).
Saudara laki-laki.
Putra saudara lelaki (keponakan lelaki dari saudara lelaki).
Putra saudara perempuan (keponakan lelaki dari saudara perempuan).
Wanita-wanita Islam.
Budak-budak.
Pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) *)
Anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ الأَخِ وَبَنَاتُ الأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُم مِّن نِّسَآئِكُمُ اللاَّتِي دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُواْ دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ وَأَن تَجْمَعُواْ بَيْنَ الأُخْتَيْنِ إَلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُوراً رَّحِيماً

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan, ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri. Tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu)
isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. An-Nisa: 23)

Adapun pada surat An-Nisa di atas, disebutkan wanita yang menjadi mahram bagi seorang lelaki. Mari kita runut kembali.

Ibu.
Anak perempuan.
Saudara perempuan.
Saudara bapakmu yang perempuan (tante/bibi).
Saudara ibumu yang perempuan (tante/bibi).
Anak perempuan dari saudaramu yang laki-laki (keponakan perempuan).
Anak perempuan dari saudaramu yang perempuan (keponakan perempuan).
Ibu susuan.
Saudara perempuan sepersusuan.
Mertua perempuan (ibu mertua).
Anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri (anak tiri yang ibunya telah dinikahi oleh sang lelaki dan telah dia setubuhi dalam ikatan nikah tersebut).
Dari rincian dalam surat An-Nisa tersebut, bisa dipahami bahwa mahram bagi seorang wanita adalah:

Anak lelaki kandung.
Ayah kandung.
Saudara lelaki kandung.
Keponakan lelaki.
Om/paman.
Anak susuan.
Saudara lelaki sepersusuan.
Menantu lelaki.
Ayah tiri (Ibu si anak perempuan telah menikah lalu berhubungan badan dengan suami barunya tersebut. Dengan demikian, si ayah tiri telah menjadi mahram bagi si anak perempuan. Namun, bila si ibu dan suami barunya [si ayah tiri] tersebut belum berhubungan badan lalu akhirnya bercerai, maka si ayah tiri bukan mahram bagi si anak perempuan).
Untuk mengetahui di hadapan siapa saja seorang wanita muslimah boleh melepas jilbabnya, surat An-Nur: 31 dan surat An-Nisa: 23 saling melengkapi satu sama lain. Oleh sebab itu, bila kita gabungkan keduanya, maka bisa kita ketahui bahwa seorang wanita muslimah boleh melepas jilbabnya di hadapan:

Suami.
Ayah kandung.
Ayah suami (mertua).
Putra-putra (anak lelaki).
Putra-putra suami (anak tiri).
Saudara lelaki kandung.
Putra-putra saudara lelaki (keponakan lelaki).
Putra-putra saudara perempuan (keponakan lelaki).
Anak lelaki kandung.
Om/paman.
Anak susuan.
Saudara lelaki sepersusuan.
Menantu lelaki.
Ayah tiri (Ibu si anak perempuan telah menikah lalu berhubungan badan dengan suami barunya tersebut. Dengan demikian, si ayah tiri telah menjadi mahram bagi si anak perempuan. Namun, bila si ibu dan suami barunya [si ayah tiri] tersebut belum berhubungan badan lalu akhirnya bercerai, maka si ayah tiri bukan mahram bagi si anak perempuan).
Selain 14 orang mahram tersebut, ada lagi beberapa orang yang di hadapannya seorang wanita muslimah boleh membuka jilbab, yaitu:

Wanita-wanita Islam.
Budak-budak.
Pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita).
Anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.
Dengan demikian, totalnya menjadi 18 golongan orang.

Berjilbab tanpa mengenal tempat

Hanya di hadapan 18 golongan di atas saja seorang wanita muslimah boleh membuka jilbabnya. Adapun di hadapan selainnya, maka aurat wajib ditutup. Itu berlaku di mana pun, tanpa mengenal tempat; di dalam maupun di luar rumah.

Jika ada lelaki non mahram di dalam rumah, sang muslimah wajib menutup auratnya agar tak terlihat oleh si lelaki. Namun jika si lelaki sudah pergi, dia boleh kembali melepaskan jilbabnya.

Contohnya dalam keseharian:

– Hindun dan suaminya kedatangan tamu, sepasang suami-istri. Hindun mesti berjilbab dan menutup auratnya ketika berada di hadapan tamunya itu.

– Zainab, ayah, dan ibunya berkunjung ke rumah kakak perempuan Zainab yang telah menikah. Selama beberapa jam mereka berada di sana. Abang ipar Zainab bukanlah mahram bagi Zainab, sehingga Zainab tetap wajib menutup aurat ketika di hadapan abang iparnya, meskipun itu di dalam rumah kakaknya sendiri.

– Sarah sedang berada di kamar ketika adik lelakinya datang bersama teman lelakinya. Mereka berdua kemudian masuk rumah dan duduk mengobrol di ruang tamu. Kamar Sarah berada di samping ruang tamu, sehingga pintu kamarnya terhubung dengan ruang tamu. Karenanya, bila Sarah ingin keluar kamar saat itu, dia wajib berjilbab dan menutup aurat karena teman adiknya sedang berada di ruang tamu.

– Maryam selalu menyapu pekarangan rumahnya setiap pagi. Pekarangan rumah itu tepat berada di tepi jalan; kendaraan lalu-lalang di sana. Dengan demikian, Maryam wajib berjilbab dan menutup aurat ketika menyapu pekarangan rumahnya.

Jadi, seorang muslimah wajib mengenakan jilbab dan menutup auratnya bila ada lelaki yang bukan mahramnya atau orang yang tidak tergolong dalam 18 golongan yang telah kita sebutkan di atas. Itu wajib dilakukan di dalam rumah maupun di luar rumah.

Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.

–

Catatan:

*) mengenai poin pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita (’التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَال ’) ada 3 kriterianya, yaitu:

lelaki baligh (Allah sebut rijal),
hidupnya bergantung ke orang lain (tidak bisa mandiri),
tidak memiliki syahwat terhadap wanita. Seperti orang ideot, orang impoten yang tidak punya gairah, atau orang gila. (Tafsir as-Sa’di, 566)



(Sumber: wanitasalihah.com)

Luar Biasa, Sains Pun Membuktikan Hikmah Memakai Hijab

ALLAH SWT. memerintahkan sesuatu pasti ada manfaatnya untuk kebaikan manusia. Dan setiap yang benar-benar manfaat dan diperlukan manusia dalam kehidupannya, pasti disyariatkan atau diperintahkan oleh-Nya. Diantara perintah Allah itu adalah berjilbab bagi wanita muslimah. Berikut ini beberapa manfaat berjilbab menurut Islam dan ilmu pengetahuan.

1. Selamat dari adzab Allah (adzab neraka)

“Ada dua macam penghuni neraka yang tak pernah kulihat sebelumnya; sekelompok laki-laki yang memegang cemeti laksana ekor sapi, mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, sesat dan menyesatkan, yang dikepala mereka ada sesuatu mirip punuk unta. Mereka (wanita-wanita seperti ini) tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya. Sedangkan bau surga itu tercium dari jarak yang jauh” (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi ra. menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang” ialah mereka yang menutup sebagian tubuhnya dan menampakkan sebagian lainnya dengan maksud menunjukkan kecantikannya.

“Wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang” ialah mereka yang menutup sebagian tubuhnya dan menampakkan sebagian lainnya dengan maksud menunjukkan kecantikannya.

2. Terhindar dari pelecehan

Banyaknya pelecehan seksual terhadap kaum wanita adalah akibat tingkah laku mereka sendiri. Karena wanita merupakan fitnah (godaan) terbesar. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW,

“Sepeninggalku tak ada fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (HR. Bukhari).

Jikalau wanita pada jaman Rasul merupakan fitnah terbesar bagi laki-laki padahal wanita pada jaman ini konsisten terhadap jilbab mereka dan tak banyak lelaki jahat saat itu, maka bagaimana wanita pada jaman sekarang? Tentunya akan menjadi target pelecehan. Hal ini telah terbukti dengan tingginya pelecehan di negara-negara Eropa (wanitanya tidak berjilbab).

3. Memelihara kecemburuan laki-laki

Sifat cemburu adalah sifat yang telah Allah SWT tanamkan kepada hati laki-laki agar lebih menjaga harga diri wanita yang menjadi mahramnya. Cemburu merupakan sifat terpuji dalam Islam.

“Allah itu cemburu dan orang beriman juga cemburu. Kecemburuan Allah adalah apabila seorang mukmin menghampiri apa yang diharamkan-Nya.” (HR. Muslim).

Bila jilbab ditanggalkan, rasa cemburu laki-laki akan hilang. Sehingga jika terjadi pelecehan tidak ada yang akan membela.

4. Akan seperti bidadari surga

“Dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang menundukkan pandangannya, mereka tak pernah disentuh seorang manusia atau jin pun sebelumnya.” (QS. Ar-Rahman: 56).

“Mereka laksana permata yakut dan marjan.”(QS.Ar Rahman: 5).

“Mereka laksan telur yang tersimpan rapi.”(QS.Ash Shaffaat: 49).

Dengan berjilbab, wanita akan memiliki sifat seperti bidadari surga. Yaitu menundukkan pandangan, tak pernah disentuh oleh yang bukan mahramnya, yang senantiasa dirumah untuk menjaga kehormatan diri. Wanita inilah merupakan perhiasan yang amatlah berharga.

Dengan berjilbab, wanita akan memiliki sifat seperti bidadari surga.

5. Mencegah penyakit kanser kulit

Kanser adalah sekumpulan penyakit yang menyebabkan sebagian sel tubuh berubah sifatnya. Kanser kulit adalah tumor-tumor yang terbentuk akibat kekacauan dalam sel yang disebabkan oleh penyinaran, zat-zat kimia, dan sebagainya.

Penelitian menunjukkan kanser kulit biasanya disebabkan oleh sinar Ultra Violet (UV) yang menyinari wajah, leher, tangan, dan kaki. Kanser ini banyak menyerang orang berkulit putih, sebab kulit putih lebih mudah terbakar matahari.

Kanser tidaklah membeda-bedakan antara laki-laki dan wanita. Hanya saja, wanita memiliki daya tahan tubuh lebih rendah daripada laki-laki. Oleh karena itu, wanita lebih mudah terserang penyakit khususnya kanser kulit.

Oleh karena itu, cara untuk melindungi tubuh dari kanser kulit adalah dengan menutupi kulit. Salah satunya dengan berjilbab. Karena dengan berjilbab, kita melindungi kulit kita dari sinar UV. Melindungi tubuh bukan dengan memakai kerudung gaul dan baju ketat. Kenapa? Karena hal itu percuma saja. Karena sinar UV masih bisa menembus pakaian yang ketat apalagi pakaian transparan. Berjilbab disini haruslah sesuai kriteria jilbab.

6. Memperlambat gejala penuaan

Penuaan adalah proses alamiah yang sudah pasti dialami oleh semua orang yaitu lambatnya proses pertumbuhan dan pembelahan sel-sel dalam tubuh. Gejala-gejala penuaan antara lain adalah rambut memutih, kulit keriput, dan lain-lain.

Penyebab utama gejala penuaan adalah sinar matahari. Sinar matahari memang penting bagi pembentukan vitamin Dyang berperan penting terhadap kesehatan kulit. Namun, secara ilmiah dapat dijelaskan bahwa sinar matahari merangsang melanosit (sel-sel melanin) untuk mengeluarkan melanin, akibatnya rusaklah jaringan kolagen dan elastin. Jaringan kolagen dan elastin berperan penting dalam menjaga keindahan dan kelenturan kulit.

Krim-krim pelindung kulit pun tidak mampu melindungi kulit secara total dari sinar matahari. Sehingga dianjurkan untuk melindungi tubuh dengan jilbab.

Jilbab adalah kewajiban untuk setiap muslimah. Dan jilbab pun memiliki manfaat. Ternyata tak sekedar membawa manfaat ukhrawi namun banyak juga manfaat duniawinya. Jilbab tak hanya sekedar menjaga iman dan takwa pemakainya, namun juga membuat kulit terlindungi dari penyakit kanker dan proses penuaan.

Ternyata jilbab tak sekedar membawa manfaat ukhrawi namun banyak juga manfaat duniawinya.

Jilbab tak hanya sekedar menjaga iman dan takwa pemakainya, namun juga membuat kulit terlindungi dari penyakit kanser dan proses penuaan.

Demikianlah Allah memberi kasih sayangnya kepada wanita melalui syariat islam yang sempurna.


(sumber: islampos.com)

Minggu, 24 April 2016

Saudariku...Tinggalkanlah Model jilbab Punuk Unta, Karena Kelak Engkau Tak Akan Mencium Bau Surga

Di zaman yang serba modern ini, banyak sekali gaya-gaya yang menurut kebanyakan orang adalah gaya yang lagi ngetrend. Seperti halnya dalam penggunaan hijab. Salah satu yang lagi trend sekarang ini adalah adanya hijab punuk unta. Seperti layaknya unta, hijab punuk unta ini adalah gaya kerudung yang sengaja dibuat tonjolan di belakang kepala. Lalu, bagaimana hukumnya dalam Islam?

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

( صنفان من أهل النار لم أرهما قوم معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس ونساء كاسيات عاريات مائلات مميلات رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة لايدخلن الجنة ولا يجدن ريحها وان ريحها لتوجد من مسيرة كذاوكذا )
رواه أحمد ومسلم في الصحيح .

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya yaitu kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia (maksudnya penguasa yang dzalim), dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu (jarak jauh sekali),” (HR. Muslim dan yang lain).

Maksud dari hadits “kepala mereka seperti punuk unta,” adalah wanita yang menguncir atau menggulung rambutnya sehingga tampak sebuah benjolan di bagian belakang kepala dan tampak dari balik hijabnya.

Ancaman yang sangat keras bagi setiap wanita yang keluar rumah menonjolkan rambut yang tersembunyi di balik hijabnnya adalah tidak dapat mencium bau wangi surga, padahal bau wangi surga bisa dicium dari jarak yang sangat jauh.

Apabila telah ada ketetapan dari Allah baik berupa perintah atau pun larangan, maka seorang mukmin tidak perlu berpikir-pikir lagi atau mencari alternatif yang lain. Terima dengan sepenuh hati terhadap apa yang ditetapkan Allah tersebut dalam segala permasalahan hidup.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata,” (QS. Al-Ahzab: 36)
Allah subhanahu w ta’ala juga berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu,” (QS. Al Hujaraat: 15).

Kalau kita cermati dengan seksama maka akan jelas sekali bahwa saat ini banyak kaum wanita yang telah melakukan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam hadits tersebut, yaitu memakai jilbab yang dibentuk sehingga mirip punuk unta. Kalau berjilbab seperti ini saja tidak masuk surga, bagaimana pula yang tidak berjilbab?

Inti dari larangan dalam hadits tersebut adalah bertabarruj, yaitu keluar rumah dengan berdandan yang melanggar aturan syari’at dan berjilbab yang tidak benar sebagaimana firman Allah, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu (bertabarruj) berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu,” (QS. Al-Ahzaab: 33).



(Sumber: infoduniaislam.info)

Selasa, 19 April 2016

Ukthi..Wajib Tau.. Jilbab Seperti ini HARAM Dipakai Oleh Muslimah...Tolong Bantu Sebarkan Ya

Jilbab seharusnya tidak hanya menjadi gaya-gayaan, namun juga menjadi ajang gaya hidup modern yang sederhana, romantis dan positif(tutup aurat). Namun bagaimana jika jilbabnya seperti ini?

Jilbab telah menjadi trend masyarakat Indonesia khususnya kaum hawa. Bahkan mereka ada yang rela mengeluarkan isi dompet untuk memperdalam ilmu mempercantik diri dengan jilbab tersebut. Tetapi pertanyaannya, apakah mereka telah mengetahui aturan-aturan berjilbab yang sesungguhnya?

Mengingat kenyataan saat ini sangat banyak yang jauh dari kata jilbab/ hijab sehingga mereka digelari oleh orang-orang yang mengetahuinya sebagai jilbob.wanita berjilbob bukan jilbab
Ada beberapa gaya berjilbab yang justru menambah dosa bagi pemakai jilbab tersebut yakni kau hawa.

Jilbab ketat
Diwajibkannya memakai jilbab bagi Muslimah dengan tujuan agar menutupi kulit serta lekuk tubuh yang menggoda para kaum adam. Namun yang terjadi saat ini, muslimah seakan-akan mengacuhkan ketentuan berjilbab tersebut. Mereka pada dasarnya memang berjilbab, namun tidak sesuai dengan aturannya karena lekuk tubuh mereka masih sangat nampak. Bahkan sebagian dari muslimah tersebut berjilbab hanya untuk menonjolkan lekuk tubuh mereka. Hal seperti inilah yang menambah dosa mereka.

Jilbab yang mirip pakaian lelaki
Celana jeans dan kaos lengan panjang pada dasarnya pakaian yang biasa dipakai oleh laki-laki. Namun, muslimah saat ini seakan tidak tahu dengan hal tersebut. Walaupun mereka memakai kerudung, namun kerudung yang mereka pakai tidak menutupi lekuk tubuh seperti dada
dan punggungnya, terlebih lagi dipadu dengan pakaian kaos lengan panjang serta celana jeans, akhirnya tubuh mereka yang harusnya tertutup dan tidak nampak lekukannya, malah semakin menonjol kemana-mana.

Model yang demikian itu tidak boleh dirpaktekkan oleh para muslimah. Karena gaya seperti ini merupakan sumber dosa bagi para muslimah. Sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an surat An Nuur ayat 31.

Jilbab dengan bahan tipis bahkan transparan
Memakai jilbab dengan bahan tipis alias transparan memang terlihat modis. Dan bahan ini sangat cocok bagi para muslimah yang berada di daerah yang panas. Namun, jilbab dengan bahan inilah yang justru membuat dosa dan tidak diperbolehkan oleh agama. Rosulullah SAW menyebut hal seperti ini dengan sebutan “berpakaian tapi tellaanjangg”.

Jilbab yang menyerupai wanita selain muslimah
Jaman memang sudah berkembang, begitu juga dengan model-model berbusana. Tetapi tidak berlaku bagi aturan agama, terutama tentang berjilbab. Para muslimah hendaknya benar-benar mengetahui bagaimana tata cara berjilbab yang benar. Agar yang dilakukan oleh mereka tidak sia-sia bahkan hanya menghasilkan dosa bukan pahala. Sebagai contoh, berkerudung namun pa…hanya masih jelas terlihat, berjilbab namun da..da tetap dipamerkan. Dengan demikian, berjilbab justru membuat mereka semakin berdosa saja.

Jadi, sebaiknya nih sahabat betul-betul harus tahu bagaimana dan seperti apa berjilbab dan menjadi muslimah yang baik tersebut.



(Sumber: siraman.com)

Selasa, 12 April 2016

Pakai Jilbab di Luar Rumah, Lepas Jilbab di Dalam Rumah, Sudah Benarkah?

Manusia itu terlahir sebagai makhluk yang tidak tahu apa-apa. Tapi Allah memberinya akal sebagai modal untuk mempelajari ilmu. Ilmu menjadi bekal untuk beramal.

Dengan mengetahui bumbu dapur dan teknik mengolah makanan, seseorang insya Allahakan lihai dalam memasak.

Dengan kemampuan membaca, seorang anak insya Allah bisa memperluas cakrawala lewat berbagai buku.

Dengan mengetahui ilmu medis, seorang dokter insya Allah akan mampu mengobati pasien.

Dengan ilmu teknik, seorang ilmuwan insya Allah bisa membangun jembatan yang kokoh.

Demikian pula dengan ilmu agama. Hari ini mungkin kita sudah mengetahui perkara A, maka kita mengamalkannya. Kemudian esok, kita mengetahui perkara B, kemudian kita mengamalkannya. Begitulah terus hingga kita wafat. Ilmu itu bermanfaat karena berbuah amal salih. Apa gunanya ilmu kalau tidak diamalkan?

18 golongan orang

Jilbab adalah salah satu syariat Islam yang bermanfaat menjaga kehormatan wanita. Seluruh aurat ditutup dari pandangan lelaki yang bukan mahram, di mana pun itu.

Oleh sebab itu,

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاء وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada para wanita beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka. Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara lelaki mereka, putra-putra saudara perempuan mereka, wanita-wanita Islam, budak-budak yang mereka miliki, pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Ayat di atas merinci beberapa orang. Seorang wanita muslimah boleh melepas jilbab di hadapan mereka. Mari kita runut kembali:

    Suami.
    Ayah.
    Ayah suami (mertua).
    Putra (anak lelaki kandung).
    Putra suami (anak lelaki tiri).
    Saudara laki-laki.
    Putra saudara lelaki (keponakan lelaki dari saudara lelaki).
    Putra saudara perempuan (keponakan lelaki dari saudara perempuan).
    Wanita-wanita Islam.
    Budak-budak.
    Pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) *)
    Anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ الأَخِ وَبَنَاتُ الأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُم مِّن نِّسَآئِكُمُ اللاَّتِي دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُواْ دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ وَأَن تَجْمَعُواْ بَيْنَ الأُخْتَيْنِ إَلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُوراً رَّحِيماً

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan, ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri. Tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. An-Nisa: 23)

Adapun pada surat An-Nisa di atas, disebutkan wanita yang menjadi mahram bagi seorang lelaki. Mari kita runut kembali.

    Ibu.
    Anak perempuan.
    Saudara perempuan.
    Saudara bapakmu yang perempuan (tante/bibi).
    Saudara ibumu yang perempuan (tante/bibi).
    Anak perempuan dari saudaramu yang laki-laki (keponakan perempuan).
    Anak perempuan dari saudaramu yang perempuan (keponakan perempuan).
    Ibu susuan.
    Saudara perempuan sepersusuan.
    Mertua perempuan (ibu mertua).
    Anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri (anak tiri yang ibunya telah dinikahi oleh sang lelaki dan telah dia setubuhi dalam ikatan nikah tersebut).

Dari rincian dalam surat An-Nisa tersebut, bisa dipahami bahwa mahram bagi seorang wanita adalah:

    Anak lelaki kandung.
    Ayah kandung.
    Saudara lelaki kandung.
    Keponakan lelaki.
    Om/paman.
    Anak susuan.
    Saudara lelaki sepersusuan.
    Menantu lelaki.
    Ayah tiri (Ibu si anak perempuan telah menikah lalu berhubungan badan dengan suami barunya tersebut. Dengan demikian, si ayah tiri telah menjadi mahram bagi si anak perempuan. Namun, bila si ibu dan suami barunya [si ayah tiri] tersebut belum berhubungan badan lalu akhirnya bercerai, maka si ayah tiri bukan mahram bagi si anak perempuan).

Untuk mengetahui di hadapan siapa saja seorang wanita muslimah boleh melepas jilbabnya, surat An-Nur: 31 dan surat An-Nisa: 23 saling melengkapi satu sama lain. Oleh sebab itu, bila kita gabungkan keduanya, maka bisa kita ketahui bahwa seorang wanita muslimah boleh melepas jilbabnya di hadapan:

    Suami.
    Ayah kandung.
    Ayah suami (mertua).
    Putra-putra (anak lelaki).
    Putra-putra suami (anak tiri).
    Saudara lelaki kandung.
    Putra-putra saudara lelaki (keponakan lelaki).
    Putra-putra saudara perempuan (keponakan lelaki).
    Anak lelaki kandung.
    Om/paman.
    Anak susuan.
    Saudara lelaki sepersusuan.
    Menantu lelaki.
    Ayah tiri (Ibu si anak perempuan telah menikah lalu berhubungan badan dengan suami barunya tersebut. Dengan demikian, si ayah tiri telah menjadi mahram bagi si anak perempuan. Namun, bila si ibu dan suami barunya [si ayah tiri] tersebut belum berhubungan badan lalu akhirnya bercerai, maka si ayah tiri bukan mahram bagi si anak perempuan).

Selain 14 orang mahram tersebut, ada lagi beberapa orang yang di hadapannya seorang wanita muslimah boleh membuka jilbab, yaitu:

    Wanita-wanita Islam.
    Budak-budak.
    Pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita).
    Anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

Dengan demikian, totalnya menjadi 18 golongan orang.

Berjilbab tanpa mengenal tempat

Hanya di hadapan 18 golongan di atas saja seorang wanita muslimah boleh membuka jilbabnya. Adapun di hadapan selainnya, maka aurat wajib ditutup. Itu berlaku di mana pun, tanpa mengenal tempat; di dalam maupun di luar rumah.

Jika ada lelaki non mahram di dalam rumah, sang muslimah wajib menutup auratnya agar tak terlihat oleh si lelaki. Namun jika si lelaki sudah pergi, dia boleh kembali melepaskan jilbabnya.

Contohnya dalam keseharian:

– Hindun dan suaminya kedatangan tamu, sepasang suami-istri. Hindun mesti berjilbab dan menutup auratnya ketika berada di hadapan tamunya itu.

– Zainab, ayah, dan ibunya berkunjung ke rumah kakak perempuan Zainab yang telah menikah. Selama beberapa jam mereka berada di sana. Abang ipar Zainab bukanlah mahram bagi Zainab, sehingga Zainab tetap wajib menutup aurat ketika di hadapan abang iparnya, meskipun itu di dalam rumah kakaknya sendiri.

– Sarah sedang berada di kamar ketika adik lelakinya datang bersama teman lelakinya. Mereka berdua kemudian masuk rumah dan duduk mengobrol di ruang tamu. Kamar Sarah berada di samping ruang tamu, sehingga pintu kamarnya terhubung dengan ruang tamu. Karenanya, bila Sarah ingin keluar kamar saat itu, dia wajib berjilbab dan menutup aurat karena teman adiknya sedang berada di ruang tamu.

– Maryam selalu menyapu pekarangan rumahnya setiap pagi. Pekarangan rumah itu tepat berada di tepi jalan; kendaraan lalu-lalang di sana. Dengan demikian, Maryam wajib berjilbab dan menutup aurat ketika menyapu pekarangan rumahnya.

Jadi, seorang muslimah wajib mengenakan jilbab dan menutup auratnya bila ada lelaki yang bukan mahramnya atau orang yang tidak tergolong dalam 18 golongan yang telah kita sebutkan di atas. Itu wajib dilakukan di dalam rumah maupun di luar rumah.

Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.

–

Catatan:

*) mengenai poin pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita (’التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَال ’) ada 3 kriterianya, yaitu:

    lelaki baligh (Allah sebut rijal),
    hidupnya bergantung ke orang lain (tidak bisa mandiri),
    tidak memiliki syahwat terhadap wanita. Seperti orang ideot, orang impoten yang tidak punya gairah, atau orang gila. (Tafsir as-Sa’di, 566)



Penulis: Athirah Mustadjab (Ummu Asiyah)
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits





Sumber: wanitasalihah.com

MasyaAllah, Inilah Sebabnya Mengapa Wanita Muslimah Wajib Berjilbab

MasyaAllah, Inilah Sebabnya Mengapa Wanita Muslimah Wajib Berjilbab. (An-Nūr): 31 - Katakanlah kpd wanita yg beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yg (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya.


(Al-'Aĥzāb): 59 - Hai Nabi, katakanlah kpd isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu & isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Imam Ali bin Abi Thalib Ra berkata:
“Saya dan Fathimah menghadap Rasulullah SAW dan kami melihat beliau dlm keadaan menangis tersedu-sedu dan kami berkata kpd beliau: “Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu, apa yg membuat anda menangis
tersedu-sedu?”
Rasulullah bersabda: “wahai Ali pada malam mi’raj ketika aku pergi ke langit, aku melihat wanita–wanita umatku dlm azab & siksa yg sangat pedih sehingga aku tidak mengenali mereka. Oleh karena itu, sejak aku melihat pedihnya azab & siksa mereka, aku menangis.

Kemudian beliau bersabda: "Aku melihat wanita yg digantung dgn rambutnya & otak kepalanya mendidih. Wanita yg digantung dgn rambutnya & otak kepalanya mendidih adalah wanita yg tidak mau menutupi rambutnya dari pandangan laki-laki yg bukan mahram"

Rasulullah bersabda: "Tidak di terima sholat wanita yg telah dewasa kecuali ia memakai khimar (jilbab)." (HR. Ahmad, Abu Daud, Thirmidzi, Ibn Majah).

Hadits dari Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dgn pakaian yg tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata, “Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil balig) maka tidak ada yg layak terlihat kecuali ini dan ini,” (sambil beliau menunjuk wajah & telapak tangan). (HR Abu Daud & Baihaqi).

Hal apa lagi yg membuat mu enggan memakai hijab?
Berpikirlah.
Kita ini hidup di akhir zaman
Dimana dunia semakin tua dan akhirat pun semakin mendekat.
Tiada yg bisa menjamin esok engkau masih bisa bernapas
Bertobatlah,
Kenakan hijabmu
Tutup auratmu sebelum kain kafan yg menjadi hijab pertamamu.

Sumber : mulpix_com

Minggu, 10 April 2016

Mengapa Perempuan Kristiani Mulai Berjilbab, Mengapa Lihat Alasannya Di Sini!!!


Jilbab merupakan hal yang wajib buat muslimah, hal ini sudah lumrah diketahui sejak belasan abad lalu. Bahwa seorang wanita Islam tidak boleh sembarang menampakkan auratnya di depan orang asing atau yang bukan muhrim (selain suami, saudara kandung, ayah, paman, kakek, dll).
Tapi bagaimana jika kejadiannya seperti foto yang diunggah salah seorang netizen diatas? Perempuan berjilbab syar'i menggunakan kalung salib sebagai simbol kepercayaan agama kristen, saat ditanya ia menjawab bahwa memang dirinya beragama kristen. Dan merasa tidak ada yang salah dengan busana yang dikenakannya, untuk menutup aurat.

"Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau menubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya" (1 Korintus 11:5).

"Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menutupkan kudung ke kepalanya" (11:6)


Apabila ditelusuri, ternyata perintah menutup aurat bukan hanya dalam Islam saja, melainkan pada ajaran nasrani, tepatnya di dalam Alkitab/Bible tegas memerintahkan wanita nasrani untuk 'berjilbab'.

"Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat" (11:10)
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

"Pertimbangkanlah sendiri : patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala tidak bertudung" (11: 13)



Mengapa Bunda Theresa dan para biarawati selalu menutup aurat? Sebab mereka ingin mengamalkan perintah Tuhan yang tertera dalam Injil.

Kejadian di atas sekaligus menjadi tamparan bagi para muslimah, non-muslim saja tidak sungkan mengenakan jilbab , kenapa masih getol mempertahankan hobi jahiliyah berlabel YouCanSee?

Bagaimana pendapat anda mengenai fenomena ini ? Bantu Share Yuuuk... 

sumber : http_9redaksii_blogspot_co_id/   

Kamis, 08 Oktober 2015

Apakah Diterima Ibadah Seorang Perempuan yang Tidak Berjilbab?

Oleh: Luqyana Hayate Mawadhah

SAUDARIKU yang dirahmati Allah Swt., berjilbab saat ini mulai digandrungi kaum hawa. Bisa jadi ada yang hanya ikut-ikutan trend atau juga yang memang memahami dan ingin melaksanakan perintah-Nya.

Berbagai jenis dan model jilbab saat ini banyak didapati, ada yang sesuai dengan syariat ada juga yang tidak. Bahkan terbilang syubhat jika dipakai, jilbab memang digunakan tapi tidak terhulur sampai ke dada serta bagian kaki malah tampak ketat dan terlihat.

Banyak kaum hawa yang menyangka bahwa tidak memakai jilbab adalah dosa kecil. Yang dapat tertutupi dengan pahala yang banyak dari shalat, puasa, zakat dan haji yang mereka lakukan. Ini adalah cara berpikir yang salah dan harus diluruskan. Kaum wanita yang tidak memakai jilbab, tidak saja telah berdosa besar kepada Allah, tetapi telah hapus seluruh pahala amal ibadahnya.

Seperti yang termaktub dalam firman Allah SWT, “….. Barang siapa yang mengingkari hukum-hukum syariat Islam sesudah beriman, maka hapuslah pahala amalnya bahkan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Maidah: 5).

Na’udzubillah. Semoga kita terjauh dari adzab Allah SWT, ada sebuah kisah menggetarkan tentang seorang perempuan yang menganggap bahwa dosa meninggalkan jilbab itu adalah dosa kecil.

Ada seorang wanita yang dikenal taat beribadah. Ia kadang menjalankan ibadah sunnah. Hanya satu kekurangannya, ia tak mau berjilbab. Menutup auratnya. Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum dan menjawab, ”Insya Allah yang penting hati dulu yang berjilbab.” Ini adalah jawaban yang sering terdengar dari kaum Hawa. Sudah banyak orang menanyakan maupun menasihatinya, tapi jawabannya tetap sama.

Hingga di suatu malam, ia bermimpi sedang di sebuah taman yang sangat indah. Rumputnya sangat hijau, berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bisa merasakan segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih hingga dasarnya kelihatan, melintas dipinggir taman. Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya.

Ia tak sendiri. Ada beberapa wanita disitu yang terlihat juga menikmati keindahan taman. Ia pun menghampiri salah satu wanita. Wajahnya sangat bersih seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.

“Assalamu’alaikum, Saudariku….”

“Wa’alaikum salam. Selamat datang, Saudariku.”

“Terima kasih. Apakah ini surga?”

Wanita itu tersenyum. “Tentu saja bukan, Saudariku. Ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga.”

“Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini.”

Wanita itu tersenyum lagi, ”Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, Saudariku?”

“Aku selalu menjaga waktu shalat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah.”

“Alhamdulillah…”

Tiba-tiba jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka. Dan ia melihat beberapa wanita yang berada di taman mulai memasukinya satu-persatu.

“Ayo kita ikuti mereka,” kata wanita itu setengah berlari.

“Ada apa di balik pintu itu?” katanya sambil mengikuti wanita itu.

“Tentu saja surga, Saudariku,” larinya semakin cepat.

“Tunggu…tunggu aku…” teriak si wanita itu. Dia berlari namun tetap tertinggal, padahal wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum kepadanya.

Ia tetap tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari. Ia lalu berteriak, “Amalan apa yang telah kaulakukan hingga engkau begitu ringan?”

“Sama dengan engkau, Saudariku,” jawab wanita itu sambil tersenyum

Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu. “Amalan apalagi yang ka lakukan yang tidak kulakukan?”

WANITA itu menatapnya dan tersenyum. Lalu berkata, “Apakah kau tak memperhatikan dirimu, apa yang membedakan dengan diriku?”

Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab.

“Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke Surga-Nya tanpa jilbab menutup auratmu?”

Tubuh wanita itu telah melewati pintu. Tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar, memandangnya dan berkata, ”Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini untuk dirimu. Cukuplah surga hanya sampai hatimu karena niatmu adalah menghijabi hati.”

Ia tertegun lalu terbangun, beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan shalat malam. Menangis dan menyesali perkataannya dulu. Berjanji pada Allah sejak saat itu ia akan menutup auratnya.

Saudariku, “Sesungguhnya seorang mukmin dosanya itu bagaikan bukit besar yang kuatir jatuh padanya, sedang orang kafir memandang dosanya bagaikan lalat yang hinggap di atas hidungnya.”

Sekarang kaum wanita yang tak mau berjilbab, dapat menanyakannya ke dalam hati nurani mereka masing-masing. Apakah terasa berdosa bagaikan gunung yang sewaktu-waktu jatuh menghimpitnya atau bagaikan lalat yang hinggap dihidung mereka?

Kalau kaum wanita yang tak mau memakai jilbab, menganggap enteng dosa mereka bagaikan lalat yang hinggap dihidungnya, maka tak akan bertobat di dalam hidupnya. Atau dalam perkataan lain tidak ada perasaan takut kepada Allah, sebab itu mereka kekal didalam neraka. Dan mereka tak akan mendapatkan syafaat atau pertolongan Nabi Muhammad SAW nanti di akhirat.

Sesungguhnya banyak kaum wanita yang hapus pahala shalatnya yang hidup di zaman ini dan di zaman yang akan datang. Semata-mata karena mereka tidak memakai jilbab didalam hidup mereka, telah diisyaratkan Nabi Muhammad SAW dikala hidup beliau sebagaimana bunyi hadits dibawah ini yang artinya sebagai berikut: “Ada satu masa yang paling aku takuti, dimana ummatku banyak yang mendirikan shalat, tetapi sebenarnya mereka bukan mendirikan shalat, dan neraka jahanamlah bagi mereka”.

Dari hadits diatas, ada sepenggal kalimat “sebenarnya bukan mendirikan shalat” maksudnya ialah nilai shalat mereka tidak ada di sisi Allah. Karena telah hapus pahalanya disebabkan kaum wanita mengingkari ayat tentang perintah jilbab.

Begitulah Nabi Muhammad SAW memberi peringatan kepada kita semua, bahwa banyak ummatnya dari kaum wanita yang masuk neraka biarpun mereka mendirikan shalat, tetapi tidak memakai jilbab semasa hidupnya. Apakah kita yang mengaku mencintai sesama ummat Nabi Muhammad SAW akan diam berpangku tangan membiarkan kaum wanita berada dalam dosa yang bergelimpangan? Tentu tidak. Mari saling mengingatkan.