Tampilkan postingan dengan label bekerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bekerja. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2016

Masya Allah….Inilah Balasan Seorang Istri yang Bekerja untuk Membantu Suaminya, Bantu Bagikan Ya

perempuan ini galau. namanya zainab as - saqafiyyah. wujud muslimah salehah yang jadi istri salah satu teman nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. tidak hanya salehah, dia pula menggambarkan sedikit di antara muslimah yang menekuni dunia bisnis dan juga niaga. dia jadi pengrajin, dan juga menjual hasil kerajinan tangannya.

dari hasil penjualan kerajinan tangannya itu pula, zainab as - saqafiyyah dapat membagikan makan kepada anak - anaknya dan juga membiayai kehidupan si suami. di situlah dini mula munculnya kegalauan dalam pribadinya. alasannya, karena membagikan hasil berdagangnya kepada anak dan juga suaminya itu, dia tidak sering bersedekah.

“sesungguhnya, engkau dan juga anak kita menghalangiku dari bersedekah di jalur allah, ” demikian tuturnya pada sesuatu kala kepada si suami. pintanya kepada imamnya yang menggambarkan salah satu teman nabi opsi, “tolong tanyakan kepada nabi, ‘jika yang kulakukan ini tercantum kebaikan, saya hendak melanjutkannya. dan juga, bila bukan tercantum kebaikan, saya hendak menyudahi mengerjakannya. ’”

dalam jenak, wujud suami yang kecil betisnya tetapi sangat agung timbangan amal kebaikannya membalas perkataan istrinya, “aku juga tidak suka bila engkau melaksanakannya bahwa benar tidak terdapat pahala bagimu. ”

hingga, suami saleh yang kita tahu dengan ‘abdullah bin mas’ud radhiyallahu ‘anhu ini juga menyambangi si nabi dan juga mengantarkan persoalan terpaut amalan yang dicoba istrinya itu. jawab si nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hilyatul auliya’ dan juga dilansir oleh dokter. thal’at muhammad ‘afifi salim dalam diary kehidupan shahabiyah ini, “nafkahilah mereka (anak dan juga suami) , sebetulnya bagimu pahala yang engkau infaqkan buat mereka. ”

demikian seperti itu salah satu peristiwa agung yang terjalin dalam belantara hikmah teman nabi yang dimuliakan allah ta’ala. yakni keadaan yang tentu dialami pula oleh sebagian kalangan muslimin akhir era serupa kita ini.

hingga di antara hikmah rabbani yang dapat diambil dari cerita luar biasa ini merupakan tentang amal saleh yang tentu memperoleh balasan kebaikan. kalau pembiayaan yang dikasih oleh zainab as - saqafiyyah bagaikan seseorang istri kepada ‘abdullah bin mas’ud bagaikan seseorang suami dan juga anak - anaknya terkategori bagaikan amal saleh yang pahalanya selayak sedekah.

tentu, keadaan ‘abdullah bin mas’ud yang tidak memperoleh pemasukan yang cukup buat menafkahi anak dan juga istrinya tidaklah pembenaran untuk generasi kita buat bermalas - malasan. kalau dia telah mengupayakan yang tersadu, dan juga telah mewakafkan diri dan juga jiwanya kepada allah ta’ala dan juga rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.



(sumber: keluargacinta.com)

Selasa, 26 April 2016

Penyebab Suami-Istri Bekerja Namun Keuangan Tetap Kurang Ini Alasannya

Kesulitan ekonomi kerap kali melanda pasangan yang sudah berumah tangga. Terkadang nafkah yang diberikan oleh suami tidak bisa mencukupi kebutuhan anggota keluarga. Hal tersebut membuat istri harus turun tangan membantu suami dalam mencari uang tambahan.


Mereka mulai berpikir untuk mencari lowongan kerja atau berwirausaha ala kadarnya demi tercukupinya kebutuhan rumahtangga. Tidak jarang di antara mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja di luar rumah demi tercukupinya kebutuhan keluarga.


Namun, pada kenyataannya masih banyak ditemui kasus keuangan keluarga yang masih kurang meskipun keduanya sudah bekerja. Mengapa bisa demikian? Berikut ini ulasan empat alasan keuangan keluarga tetap kurang meski istri ikut bekerja.


1. Bekerja Karena Paksaan

Hal pertama yang bisa menjadi alasan keuangan keluarga tersebut tetap kurang meski keduanya sudah bekerja adalah jika suami yang memaksa istri untuk membantu keuangan keluarga. Padahal sebenarnya si istri tidak mau bekerja karena berbagai alasan, maka bisa jadi suami telah mengabaikan hak istrinya,


Oleh sebab itu, sebelum meminta istri untuk membantu suami bekerja, ada baiknya untuk bertanya kepadanya apakah ia ikhlas melakukan itu semua.  Adapun hal uang harus dilakukan istri yaitu hanya ada dua jalan keluar, yakni mengikhlaskan hati untuk membantu suami atau berhenti bekerja dengan kesepakatan bersama.

Jika istri dipaksa bekerja sementara keungan keluarga tak juga tercukupi, hal ini justru dapat menimbulkan masalah baru yakni hilangnya keharmonisan keluarga karena keduanya terlalu letih bekerja.


2. Istri Melupakan Kewajibannya

Mungkin banyak istri yang mengingingkan memiliki karir dan meminta izin kepada suaminya. Namun setelah sang suami mengizinkan, ternyata istri banyak melupakan hak-hak anak dan suaminya terhadap dirinya. Hal ini tentu saja bisa menyebabkan berkurangnya keberkahan rumah tangga.


Oleh sebab itu, jika istri ingin berkarir di luar ingatlah bahwa kodrat seorang istri adalah untuk melayani suami dan membimbing anak. Tunaikanlah kewajiban tersebut terlebih dahulu baru ikut serta dalam membantu suami mencari nafkah namun jangan sampai mengabaikan hak suami dan anak.


3. Meningkatnya Gaya Hidup

Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan zaman saat ini sangatlah pesat. Ada banyak keinginan yang harus dipenuhi demi gaya hidup. Hal itu pula yang mungkin dialami oleh suami dan istri dalam rumah tangga.


Ketika mereka memiliki penghasilan kecil, pasangan ingin biasanya akan hidup sangat hemat agar keuangan keluarga terkendali. Namun, ketika ada tambahan penghasilan dari sang istri, keinginan untuk menghambur-hamburkan uang pun bermunculan. Meningkatnya gaya hidup ini tentu akan berpengaruh terhadap penghasilan yang diperoleh. Meskipun keduanya bekerja, namun pengeluarannya juga banyak tentu keuangan keluarga tersebut tetap saja kurang.


4. Terjebak Riba

Alasan terakhir yang menyebabkan keuangan keluarga tetap kurang meski istri ikut bekerja adalah terjebak di dalam riba. Seperti yang diketahui bahwa tiba merupakan perbuatan yang diharamkan di dalam Islam. Hal tersebut dikarenakan bisa membuat hilangnya keberkahan dalam keuangan rumah tangga itu.


Demikianlah ulasan mengenai empat alasan keuangan keluarga tetap kurang meski istri ikut bekerja. Meskipun kasus ini tidak terjadi pasang semua pasangan suami istri dalam rumah tangga, namun ada baiknya untuk lebih diperhatikan. Agar segala usaha yang dilakukan itu mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.



(Sumber: silahkanshare-ya.blogspot.co.id)

Sabtu, 14 November 2015

Mengapa Banyak Istri Bekerja Namun Keuangan Keluarga Tetap Kurang?

Sahabat Ummi, ada pertanyaan menggelitik yang terlihat membingungkan namun sebenarnya bisa mudah terjawab jika kita mengetahui kunci rumusnya: Mengapa Banyak Istri Bekerja Namun Keuangan Keluarga Tetap Kurang? 

Dewasa ini hampir setiap rumah tangga memiliki suami dan istri yang sama-sama bekerja. Anehnya, banyak yang mengaku kebutuhan terpenuhi saat suami saja yang bekerja, namun ketika istri ikut membantu bekerja di luar rumah malah semakin banyak utang dan merasa serba kurang. Bagaimana bisa terjadi demikian? 

Jawabannya bervariasi sebenarnya, tapi intinya satu:  rumah tangga kehilangan keberkahan. Bisa jadi karena adanya hak anggota keluarga yang terabaikan. 

Apa sajakah hak-hak keluarga yang biasanya terabaikan oleh pasutri yang sama-sama bekerja? 

1. Jika suami yang memaksa istri untuk bekerja membantu keuangan keluarga, padahal sebenarnya istri tidak mau, maka bisa jadi suami telah mengabaikan hak istri.
Cobalah cek kembali, apakah istri ikhlas membantu suami bekerja? Jalan keluarnya hanya 2: mengikhlaskan hati membantu suami atau berhenti bekerja dengan kesepakatan bersama suami.
Percuma bukan jika suami istri bekerja namun keuangan rumah tangga tetap kurang dan bahkan kehilangan keharmonisan karena pasutri sama-sama kelelahan? 

2. Jika istri yang menginginkan karir, dan meminta suami mengizinkannya, namun ternyata banyak melupakan hak-hak anak dan suami terhadap dirinya, maka ini jugalah yang menyebabkan berkurangnya keberkahan rumah tangga. 

Wahai istri, ingatlah bahwa di hari kiamat nanti kita akan ditanya pertanggungjawaban keluarga, jika ada hak suami dan anak yang tidak kita tunaikan bukankah kita menjadi wanita yang celaka?
Berkarir boleh, namun pastikan tak ada hak keluarga yang kita lalaikan tiap harinya.

3. Meningkatnya gaya hidup
Ketika memiliki penghasilan kecil, pasutri biasanya akan berusaha hidup hemat dan prihatin sehingga keuangan keluarga aman terkendali. Namun begitu ada tambahan penghasilan, keinginan pun bertambah... Ingin ini itu banyak sekali.
Peningkatan gaya hidup ini yang membuat berapapun penghasilan yang diperoleh, sudah pasti akan kurang karena minus! 

4. Terjebak riba
Inilah yang menyebabkan riba diharamkan dalam Islam, karena bisa membuat hilangnya keberkahan dalam keuangan rumah tangga. 

Coba cek apakah ada utang rumah tangga yang mengandung riba? Mintalah Allah untuk menutupinya agar keluarga kita terbebas dari jeratan riba. 

Demikian beberapa hal yang bisa menjawab pertanyaan Mengapa Banyak Istri Bekerja Namun Keuangan Keluarga Tetap Kurang? Semoga bisa menjadi bahan introspeksi bersama. 

Sumber: http_www.ummi-online_com/mengapa-banyak-istri-bekerja-namun-keuangan-keluarga-tetap-kurang_html

Senin, 05 Oktober 2015

Suami Kerja, Istri pun Kerja! Bagaimana Keluarga?

Suami gaji 4 juta, istri gaji 3 juta, total penghasilan keluarga 7 Juta. Kalau istri berhenti kerja, penghasilan keluarga tetap 7 juta. Kok bisa????? Iyaaa!!! Karena Rezeki istri melalui suami. Dengan beragam cara bila Allah sudah berkehendak.

  • Bisa suami naik gaji.
  • Bisa suami dipanggil kerja di tempat lain dengan mendapatkan gaji & fasilitas dua kali lipat dari tempat sebelumnya.
  • Bisa suami memulai bisnis sampingan dan bisnisnya sukses.

(Ingat!!! Allah itu maha besar, masalah gaji suami itu urusan sangat sepele sekali bagi Allah)

Jadi bagi para istri yang masih keukeuh untuk bekerja dengan alasan nanti penghasilan keluarga berkurang. Apakah para istri lupa bahwa ada Allah yang menjamin rizki buat suami yang akan diberikan ke keluarga kecilmu?

Allah sudah memberitahukan kita semua lewat Al-Quran, yang berbunyi:

“Allah telah menjamin rezeki untuk setiap makhluk-Nya. Tiada suatu binatang melatapun yang tidak mendapat jaminan rezeki dari-Nya.” (QS. Huud: ayat 6)

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: ayat 2-3)

Tugas utama seorang istri adalah “Ummu Warobatul Bait” ibu dan pengatur Rumah Tangga. Jika tugas utama ini terabaikan dengan aktifitas mubahnya dalam bekerja maka hukum bekerja menjadi tidak diperbolehlan (Allah membencinya). Karena jika hilang fungsi istri dan seorang ibu maka kehancuran generasi sudah menjadi suatu kepastian, karena mereka adalah madrasatul ula (pendidikan pertama dan utama) bagi anak-anaknya.

BAGAIMANA ATURAN ISLAM AGAR ISTRI BOLEH BEKERJA?

Jika istri mesti keluar dari rumah untuk bekerja, maka hal-hal berikut yang mesti diperhatikan:


1. Mendapatkan izin dari suami

Karena banyak sebagian besar suami tidak menginginkan istrinya bekerja di luar rumah (suami yang menginginkan istri di rumah menjaga hartanya di rumah dan menjaga anaknya). Adapun keluar rumah tanpa izin suami termasuk yang diharamkan dan ia telah berbuat zalim, bahkan Allah melarang wanita yang dicerai suaminya dengan talak raj’i (talak yang masih bisa rujuk) agar tidak keluar rumahnya, bagaimana jika seorang istri yang dicerai saja belum tapi berani keluar rumah. Berikut firman Allah SWT:

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (QS. Ath Thalaq: ayat 1)

2. Mengurus urusan rumah tangga

Ketika istri ingin bekerja keluar dari rumah, apakah sudah istri bekerja untuk suami dan anak-anaknya sebelum melayani urusan pekerjaan di luar? Jadi sebaiknya ketika kerja di luar rumah harus ingat dengan kebutuhan suami sebelum ia bekerja, kebutuhan anak-anak, dll (yang sepatutnya dikerjakan oleh istri). Mungkin jika ada yang membantu di rumah bisa lebih enteng pekerjaannya, namun jika tidak ada orang yang membantu bagaimana? Apa tidak buat keharmonisan rumah tangga jadi rusak, setiap hari suamimu, sarapan masak sendiri, nyuci sendiri, pulang kerja tidak ada makanan, anak-anak tidak belajar, dll.

3. Berpakaian secara syar’i

Syarat pakaian syar’i yaitu menutup seluruh tubuh selain bagian yang dikecualikan (wajah dan telapak tangan), tebal dan tidak transparan, longgar dan tidak ketat, tidak berwarna mencolok (yang menggoda), dan tidak memakai wewangian.

Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa saja perempuan yang memakai minyak wangi, kemudian ia keluar, lalu ia melewati satu kaum (orang banyak) supaya mereka mendapati (mencium) baunya, maka dia itu adalah perempuan zina / tuna susila.” [Hasan riwayat Ahmad, Nasa’i, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Hibban, Hakim, Ibnu Khuzaimah dan Thahawi dari jalan Abu Musa]

Dan Rasulullah SAW bersabda lagi:

“Siapa saja perempuan yang memakai minyak wangi kemudian keluar ke masjid niscaya tidak diterima sholatnya sehingga ia mandi terlebih dahulu (membersihkan dirinya dari wangi-wangian tersebut).” [Shahih riwayat Ibnu Majah dari jalan Abu Hurairah]

Begitu indahnya Islam menjaga wanita, hal sepele wangi-wangian saja sudah diatur, jelas itu sangat bermanfaat untuk kaum wanita agar menghindari suatu fitnah ataupun godaan lelaki.

4. Aman dari fitnah

Yang dimaksud aman dari fitnah adalah wanita tersebut sejak menginjakkan kaki keluar rumah sampai kembali lagi ke rumah, mereka terjaga agamanya, kehormatannya, serta kesucian dirinya.Untuk menjaga hal-hal tersebut, Islam memerintahkan wanita yang keluar rumah untuk menghindari khalwat (berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram, tanpa ditemani mahramnya), ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan wanita tanpa dipisahkan oleh tabir), menjaga sikap dan tutur kata (tidak melembutkan suara, menundukkan pandangan, serta berjalan dengan sewajarnya, tidak berlenggak-lenggok). Adanya mahram ketika melakukan safar Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam, “Seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali bersama mahramnya.” [HR. Bukhari dalan Shahihnya (no. 1862), Kitab “Jazaa-ush Shaid”, Bab “Hajjun Nisaa’”; Muslim (no. 1341), Kitab “al-Hajj”, Bab “Safarul Mar-ah ma’a Mahramin ilal hajji wa Ghairihi”, dari Ibnu ‘Abbas]


5. Pekerjaannya menolong banyak orang

Jika bekerja keluar rumah untuk menolong orang, contoh pekerjaannya adalah seorang ibu bidan/dokter kandungan yang harus menolong ibu lain untuk segera melahirkan, dsb. (Bayangkan jika tidak ada dokter kandungan wanita, karena banyak suami yang hanya mengizinkan istrinya diperiksa kandungannya oleh kaum wanita).

Namun istri harus tetap memperhatikan poin-poin nomor 1 s/d 4 dengan seksama.

Di atas adalah beberapa poin-poin yang harus diperhatikan jika ingin bekerja ke luar dari rumah.

Lalu ada pertanyaan. Bagaimana jika istri bekerja sebagai resepsionis, teller bank, dll yang kebanyakan harus diposisikan sebagai kaum wanita.

Jawab: Harus memperhatikan point-point nomor 1 s/d 4. Islam itu sangat memuliakan kaum wanita, Islam datang untuk menempatkan kedudukan wanita pada posisi yang layak, memberikan hak-haknya dengan sempurna tanpa dikurangi sedikitpun. Islam memuliakan kedudukan kaum wanita, baik sebagai ibu, sebagai anak atau saudara perempuan, juga sebagai istri.


Lalu ada pertanyaan lagi. Bagaimana kalau istri tidak bekerja, nanti suami akan pelit kasih uang dan menginjak-nginjak harga diri istri?

Jawab: Kalau pertanyaan seperti itu tidak usahlah menikah, itu akan membuat dosa dan kezhaliman (itu adalah pikiran kotor dan sangat picik, tidak percaya terhadap suami sendiri), silahkan baca lagi hukum-hukum menikah dan sesudah menikah, suami itu adalah pemimpin. Pasti suami memimpin keluarganya demi kebaikan dan menjauhkan hal-hal yang buruk kepada istri dan anak-anaknya. Maka dari itu jika takut suami seperti itu berdoalah kepada Allah agar suami tidak seperti itu, dan bagi yang belum menikah pilihlah calon suami yang betul-betul baik. Bagaimana cara mendapatkan suami yang baik. Allah SWT sudah berfirman, jika mau mendapatkan suami yang baik maka kitanya harus baik terlebih dahulu. Tidak bisa itu kitanya tidak baik maunya dapat yang baik!


Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran:

“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik.” (QS. An Nur: ayat 26)

Nah kok Allah sudah berfirman seperti itu di Al-Quran sedangkan di kehidupan nyata banyak pula pasangan yang suaminya baik istrinya tidak baik, ataupun istrinya baik tapi suaminya tidak baik.

Jawab: Itulah dunia dan ketetapan Allah, dunia ini adalah tempatnya ujian, jika mendapatkan pasangan yang tidak baik itu adalah ujian dari Allah agar kita bisa menjadi lebih bertakwa dan dekat kepada Allah. Maka tetapkan diri untuk berlandaskan ajaran Allah, Insya Allah suami pelan-pelan yang tadinya tidak baik akan menjadi orang yang baik, hidayah Allah itu bisa turun kepada siapa saja baik sebelum menikah ataupun sesudah menikah untuk orang-orang yang bersungguh-sungguh memintanya, Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat. Siapa yang lulus dari ujian Allah di dunia ini, maka SurgaNyalah tempat ia kelak nanti.

Diceritakan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa baginda bersabda yg bermaksud: “Barang siapa yg sabar atas budi pekerti isterinya yg buruk, maka Allah memberinya pahala sama dgn pahala yg diberikan kpd Nabi Ayub a.s karena sabar atas cobaan-Nya.” ( Cobaan ke alas Nabi Ayub ada 4 hal: Habis harta bendanya., Meninggal dunia semua anaknya, Hancur badannya, Dijauhi oleh manusia kecuali isterinya benama Rahmah )

“Dan seorang isteri yg sabar atas budi pekerti suaminya yg buruk akan diberi oleh Allah pahala sama dgn pahala Asiah isteri Firaun”.

Lalu ada lagi pertanyaan. Bagaimana status pendidikan istri yang sampai sekolah tinggi, percuma saja dong sekolah tinggi-tinggi sampai bangku kuliah D3, S1, S2?

Jawab: Menuntut ilmu setinggi-tingginya di Islam itu dianjurkan, tidak ada yang sia-sia dengan pendidikan sampai bangku D3, S1, S2 bahkan S3. Dengan pendidikan yang tinggi itu bisa terpakai ilmunya untuk kehidupannya kelak. Istri bisa dapat ilmu-ilmu lain yang pasti terpakai untuk menjadi landasan kehidupan sehari-hari bersama suami dan anak-anaknya. Contohnya: berbahasa yang baik, cara berkerabat yang baik, mengajarkan anak-anaknya ilmu-ilmu formal, dll.

Lalu ada lagi pertanyaan. Bagaimana jika yang menyuruh bekerja adalah si suami? Dengan alasan agar bisa membantu ekonomi keluarga karena anak-anak butuh biaya sekolah, makan, dll.

Jawab: Jika suami yang menyuruh istri bekerja keluar dari rumah, maka point1 sudah tidak perlu diperhatikan lagi, tinggal perhatikan poin 2, 3 dan 4.

Ingatlah wahai sahabat Kabar Muslimah kita hidup di dunia ini sangat-sangat sementara. Semua akan dipertanyakan dan dipertanggung jawabkan kelak ketika kita di alam sana. Bagaimana pula nanti ada pertanyaan dari malaikat (Kenapa kau dulu keluar makan siang dengan laki-laki kerabat kantormu tanpa sepengetahuan suamimu? Kenapa kau dahulu bekerja dengan pakaian seksi sehingga para lelaki selalu memperhatikanmu, dan kamu membiarkan hal demikian terjadi? Kenapa dahulu kala tutur katamu lebih baik kepada atasanmu dibandingkan suamimu? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mesti dipertanggung jawabkan).


Sekarang ini, banyak sekali peluang pekerjaan bagi wanita, namun tidak sedikit pula peluang-peluang bisnis yang dapat dikerjakan di rumah. Untuk itu, mari sama-sama kembali meluruskan niat ketika harus meninggalkan keluarga dan bekerja di luar rumah untuk benar-benar membantu suami dan keluarga. Melakukan pekerjaan dengan baik dan menjauhi segala jenis larangan-larangan Allah SWT yang ada di luar sana agar dapat bertemu kembali bersama keluarga tercinta di SurgaNya kelak.

Amiiiin Allahumma Amiiiin…….

Semoga bermanfaat.

sumber : kabar muslimah, redaksi9.com