Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Mei 2016

INILAH GOLONGAN KELUARGA YANG AKAN KEMBALI BERKUMPUL DISURGA, APAKAH KELUARGAMU TERMASUK BACA SELENGKAP NYA...

Keluarga merupakan pondasi awal yang membangun generasi dalam Islam. Tidak dapat disangkal kalau keluarga memiliki fungsi yang begitu penting untuk melakukan hal tersebut . Sebab, berawal dari satu keluargalah seorang anak menjadi baik atau buruk.
Setiap keluarga seharusnya berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadist. Dengan demikian, maka barulah keluarga itu akan jadi keluarga yang selalu berada di dalam naungan Allah SWT. Diluar itu, mahligai rumah tangga yang selalu ada di jalan Allah akan membawa mereka menuju surga.

Ternyata, di surga kelak ada golongan keluarga yang akan berkumpul sama halnya seperti waktu mereka ada didunia. Golongan keluarga yang bagaimanakah yang akan berkumpul bersama didalam surga? Penasaran? Mari simak penjelasan selengkapnya disini.


Golongan keluarga yang bisa berkumpul di surga kelak adalah yang semua anggota keluarganya merupakan hamba Allah yang beriman. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya :

“Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka yang mengikutinya dalam keimanan, kami akan kumpulkan (di Surga) bersama anak-cucu mereka” (QS At-Thuur : 21)

Pada suatu kesempatan, Nabi saw menasihati putri kesayangan beliau yang bernama Fathimah. “Wahai Fathimah binti Muhammad, beramallah untuk bekal (akhirat) -mu. Karena aku (Nabi saw) tidak akan dapat menolong engkau sedikitpun di akhirat kelak, ” tegas Rasulullah saw.

Itulah nasehat yang diberikan oleh Rasulullah SAW untuk anaknya Fatimah. Memang sebagai orang-tua bahkan seorang nabi meskipun tak dapat
memberikan garansi pada anak-anaknya untuk jadi penghuni surga, kecuali anak itu mau berupaya memperoleh surga tersebut .

Kejadian nyatanya dapat diliat dari kisah Nabi Nuh as. Beliay berpisah dengan anaknya karena si anak itu tidak mau mengikutinya beriman pada Allah SWT. Bahkan ketika air banjir datang, anaknya muncul tenggelam dipermainkan oleh air bah. Sebagai seorang ana, pasti nabi Nuh as tak tega untuk memandangnya. Lalu beliau juga berdoa pada Allah SWT :

“Ya Rabbi, itu anakku adalah keluargaku. Sungguh janji Engkau benar, dan cuma Engkau Hakim yang Maha Adil, ” pinta Nuh
as.

Allah swt menjawab : “Wahai Nuh, sebenarnya dia bukanlah tergolong keluargamu, karena dia tidak beramal sholeh. Jadi jangan sampai engkau memohon kepadaKu suatu hal yang engkau tidak tahu, ”.

Hal itu menunjukkan bahwa meskipun anak kandung dari Nabi Nuh as, akan tetapi bila ia tidak beriman, maka Allah SWT mengatakan bahwa anak itu tidaklah termasuk anggota keluarganya.

Sebagai orangtua memiliki tanggung jawab untuk mendidik dan mengarahkan anak-anak mereka. Hal ini mesti dilakukan bersama istri, supaya kelak keluarga tersebut bisa berkumpul di surga Allah SWT. Selain itu, janganlah lupa berdoa supaya mendapatkan kebahagian tersebut .

Sebab, pada dasarnya kebahagiaan hakiki itu merupakan ketika kita dapat berkumpul dengan keluarga dalam keadaan beriman dan bertakwa waktu didunia dan akan berhasil juga berumpul d surga Allah SWT.

Namun ingatlah akan Hadits Nabis saw : “Nanti di hari Kiamat, seseorang suami diseret ke tengah-tengah Padang Mahsyar. Bergelayutan isteri serta anak-anaknya di lengan kanan serta lengan kirinya”

Ketika dihisab, ternyata sang suami bisa masuk surga, lantaran amalnya cukup. Sementara sang isteri dan anak-anaknya dinyatakan masuk neraka, karena kurang amal waktu didunia.

Lalu sang isteri berkata : “Ya Allah, untuk keadilan Engkau. Saya dinikahi dan dipergauli, namun saya tak diajari Islam yang saya tidak tahu. Ambillah hak kami dari lelaki ini, ” tutur isterinya sambil menunjuk-nunjuk suaminya.

Lalu anak-anaknya juga memprotes : “Ya Allah, untuk keadilan Engkau. Saya dinafkahi dan di beri harta, namun saya tak diajari Islam yang saya tidak mengerti. Ambil hak kami dari bapak kami ini” tutur anak-anaknya. Pada akhirnya, semua keluarga itu dimasukkan ke dalam neraka. Nau’dzubillahi min dzalik.

Demikianlah penjelasan mengenai kelompok keluarga yang berkumpul di surga kelak. Untuk itu, jadikanlah keluarga sebagai ladang untuk memperoleh pahala dengan amal shaleh yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist. Supaya kebahagiaan berkumpul didunia akan dirasakan juga saat di surga nanti.



(Sumber: informasi-sehatku.blogspot.co.id)

Senin, 25 April 2016

5 Tanda Keluarga yang Diberkahi Allah

Dalam pengantar Manhaj Tarbiyah Nabawiyah Lith Thifli (Cara Nabi Mendidik Anak), Muhammad Ibnu Abdu Hafidh Suwaid mendahuluinya dengan mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Daruquthni tentang 5 tanda keluarga yang diberkahi Allah.

“Apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap sebuah keluarga,” demikian terjemahan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Anas ini, “Allah berikan kepada mereka kepahaman dalam agama, yang muda menghormati yang tua, kasih sayang menjadi anugerah dalam kehidupan mereka, pengeluaran mereka ekonomis dan diberi kemampuan untuk mengetahui aib diri lalu bertaubat dari kesalahannya. Sebaliknya, jika Allah menghendaki selain itu, mereka dibiarkan begitu saja.”


Paham agama

Tanda pertama sebuah keluarga diberkahi Allah, diberikan kebaikan oleh Allah, adalah anggota-anggota keluarga tersebut diberikan pemahaman agama oleh Allah. Orang tua mau mengaji, anak-anak mau mengaji, bahkan mungkin ke pesantren. Suka ke majelis taklim, aktif tarbiyah dan sebagainya. Yang melalui jalan-jalan itu mereka memahami Islam. Bukan sekedar tahu, tetapi paham yang terwujud dalam pengamalan.


Yang muda menghormati yang tua

Di zaman sekarang, banyak anak yang tak punya adab ke orang tua. Tidak sedikit pula istri yang tidak hormat pada suaminya. Keluarga itu baik, salah satu tandanya adalah yang muda menghormati yang tua. Anak hormat pada orang tuanya, adik hormat pada kakaknya, istri hormat pada suaminya.


Penuh kasih sayang

Keluarga yang berlimpah kebaikan bukanlah keluarga yang kaya secara materi. Tidak sedikit keluarga yang kaya secara materi tetapi gersang dari kebahagiaan karena minim kasih sayang. Orang tua sibuk tak punya waktu untuk membersamai anak-anaknya. Suami dan istri jarang komunikasi, sering berselisih, bertengkar hingga selingkuh karena rapuhnya ikatan kasih sayang. Tanda keluarga yang baik, kasih sayang menjadi landasan interaksi dan menu sehari-hari.


Pengeluaran ekonomis

Mengatur keuangan keluarga itu kuncinya dua; memperbesar pemasukan dan menghemat pengeluaran. Ada keluarga yang pemasukannya besar tapi masih gali lubang tutup lubang. Rupanya mereka terjebak pada anggaran yang tak perlu; tersebab gengsi dan gaya hidup mewah. Keluarga yang baik, salah satu tandanya adalah pengeluarannya ekonomis. Mereka berhemat untuk hal-hal yang bersifat konsumtif demi amal maliyah seperti infaq dan sedekah.


Muhasabah dan taubat nasuha

Tak ada orang yang pernah melakukan dosa dan kesalahan. Termasuk dalam keluarga. Mungkin dosa kepada Allah, atau zalim terhadap anggota keluarga. Orangtua melakukan kesalahan pada anaknya, istri melakukan kesalahan pada suaminya, atau suami melakukan kesalahan istrinya. Jika mereka cepat menyadari kesalahan, mengetahui aibnya masing-masing lalu bertaubat dan memperbaiki diri, itulah tanda keluarga yang diberkahi. Tapi jika masing-masing mengedepankan egonya, merasa selalu benar dan yang lain salah, melakukan dosa tak mau bertaubat, Allah membiarkan mereka tetap dalam dosa dan maksiat, itu benar-benar musibah besar.



[Sumber: Muchlisin BK/Webmuslimah.com]

Minggu, 17 April 2016

6 Langkah Membina Keluarga Sakinah Hingga Ke Surga

Rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah adalah idaman semua orang. Faktanya, menuju sakinah ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam perjalanannya akan banyak onak dan duri yang ditemui ketika dua pribadi disatukan dalam ikatan pernikahan. Tak jarang perbedaan kepribadian ini akan membawa perselisihan bila tak segera disikapi dengan bijak.


Pernikahan yang begitu indah di awal, lambat laun akan berhadapan dengan kenyataan. Pasangan yang dulu ketika masa taaruf terlihat begitu indah, menjadi sosok yang berbeda saat hidup seatap berdua. Di sinilah dibutuhkan saling memaklumi, pengertian, penerimaan, dan ketulusan dalam balutan takwa untuk menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan.

Sakinah bukan ada secara tiba-tiba. Ia butuh upaya terbaik dari dua manusia yang terikat di dalamnya. Apalagi ketika pernikahan ini tujuannya adalah mencapai jannah, maka butuh langkah tertentu untuk meraihnya. Di bawah ini adalah beberapa hal yang bisa diupayakan untuk menciptakan sakinah dalam rumah tangga.

1. Komunikasi. Tak ada masalah tak bisa diselesaikan selama terjalin komunikasi yang baik. Luangkan waktu bersama untuk duduk dan berbicara dari hati ke hati. Ungkapkan dengan jujur dan terbuka apa harapan masing-masing terhadap pasangannya.

2. Berpikir positif. Seberat apa pun masalah menghadang, biasakan berpikir positif tentang pasangan.
Ketika suami sedang murung, jauhkan prasangka negatif bahwa dia sedang marah pada istrinya. Bisa jadi dia hanya lelah atau sedang berpikir untuk mencari sumber baru bagi nafkah keluarga. Begitu sebaliknya, bila istri uring-uringan sikapi dengan tenang. Istri itu hanya butuh lebih diberi perhatian, sentuhan bahkan sekadar pelukan untuk meredakan bad moodnya. Stay positive, inilah yang akan menyelamatkan banyak hal insya Allah.

3. Hargai kepercayaan yang telah diberikan. Jangan mudah mengumbar rahasia, masalah atau aib pasangan terutama ketika hal tersebut adalah hal yang sangat penting baginya. Bila hal tersebut adalah masalah berat yang bahkan kita pun tak sanggup memikulnya sendirian, curhat pada Allah jauh lebih baik.

4. Jadilah pendengar yang baik. Ketika pasangan sedang berbicara, usahakan segala macam gadget, smartphone, HP, laptop dan semacamnya dijauhkan sementara. Fokuskan perhatian padanya saja karena itu menunjukkan betapa penting arti dirinya bagi kita.

5. Memaafkan. Manusia tempat salah dan lupa. Begitu juga dengan suami/istri kita. Memaafkan adalah kunci untuk membuka gerbang sakinah agar jannah sedia menerima kita, insya Allah.
Selingi dengan canda. Saling menggoda pasangan agar ia tersenyum dan berwajah ceria adalah garam untuk membuat rumah tangga terasa lezat. Jangan kaku, tegang atau terlalu serius ketika kekasih hati ada di sisi. Sebaliknya, rilekslah. Suami/istri kita adalah belahan jiwa yang kita merasa tentram di sampingnya. Nikmati kebersamaan yang ada.

6. Pernikahan adalah ibadah, sarana kita untuk semakin mendekat padaNya. Maka di setiap langkahnya, seharusnya nilai ketakwaan  terus menyertai. Satu sama lain adalah partner yang akan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Semoga upaya untuk menciptakan sakinah di dunia ini akan berujung jannah di akhirat kelak, amin. Wallahu alam.



Sumber : voa-islam.com

Senin, 11 April 2016

Keluargaku, Bisakah Kita Berkumpul Kembali Disurga?

Setiap orang tentu menginginkan bisa berkumpul bersama orang-orang yang dicintainya di dalam Surga atau Jannah. Kita semua tentu mengharapkannya dan pada kesempatakan ini akan dibahas Tips agar kumpul bersama keluarga di Surga. Bisa kita bayangkan betapa bahagia kita berkumpul bersama kedua orang tua di dunia ini, dan kebahagiaan itu akan semakin lengkap apabila kita dapat berkumpul dengan mereka juga di Surga kelak. Itulah kebahagiaan dunia dan akhirat yang kita minta kepada Allah Subhanahuwata’ala setiap pagi dan petang, di setiap kali usai shalat.



“Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa naar.” (QS. Al-Baqarah: 201).

Keinginan itu bukanlah suatu perkara yang mustahil, Allah Subhanahuwata’ala telah berfirman dalam kitab-Nya, yang artinya:

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thuur: 21)

Dalam ayat ini Allah Subhanahuwata’ala mengabarkan tentang karunia, anugerah dan kasih sayang-Nya kepada semua makhluk-Nya, bahwa orang-orang mukmin akan dipertemukan dengan orang tua mereka yang mukmin di Jannah kelak. Agar orang tua mereka merasa bahagia dan senang dengan kehadiran anak-anaknya di sisi mereka. Mereka akan dikumpulkan dengan cara yang paling baik, dimana yang kurang amalnya diantara mereka akan ditutupi dan disempurnakan dengan yang sempurna amalnya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman: “Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.”

Demikianlah karunia Allah Subhanahuwata’ala
yang dilimpahkan kepada anak keturunan karena berkah dari amal shalih orang tua mereka dan karunia yang Allah berikan kepada para orang tua disebabkan berkah doa anak keturunan mereka. Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasallam bersabda, yang artinya :
”Sesungguhnya seorang lelaki terangkat derajatnya di Jannah, ia berkata: “Darimanakah ni kuperoleh?” Dikatakan kepadanya: “Dari istighfar anakmu untuk dirimu.”
taman bunga indah

Dan sabda Nabi  Salallahu ‘Alahi Wasallam, yang artinya :
“Apabila seorang anak Adam mati, terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara : Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang selalu mendoakannya.”

Dalam sebuah hadits Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasallam bersabda :
“Akan dikatakan kepada golongan anak-anak di hari kiamat kelak: “Masuklah kalian ke dalam Jannah!” Maka mereka mengatakan: “Ya Rabbi, kami tidak mau sehingga bapak ibu kami masuk Jannah bersama kami.” Merekapun datang, Allah ‘Aza wajalla berkata kepada mereka: “Mengapa Aku lihat kalian cemberut? Masuklah kalian ke dalam Jannah.” Mereka menjawab: “Ya Rabbi, kami tidak mau sehingga bapak ibu kami masuk Jannah bersama kami.” Maka Allah pun berkata: “Masuklah kalian bersama bapak ibu kalian ke dalam Jannah.”

Subhaanallah,begitulah kegigihan anak-anak yang mati sebelum baligh itu meminta kepada Allah ‘Aja wajalla agar kedua orang tua mereka yang mukmin masuk Jannah bersama mereka!
Apakah kita enggan dan berat meminta hal itu kepada Allah Subhanahuwata’ala selagi Allah masih memberi kita kesempatan untuk memanjatkan doa. Meminta kepada-Nya agar kita dikumpulkan bersama ibu bapak kita di dalam Jannah, memohon ampunan bagi keduanya agar derajat mereka terangkat di Jannah. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang berbakti kepada kedua orang tua kita sehingga dapat berkumpul bersama mereka di surga kelak.
wallohua’lam.




Sumber : berbaktikepadaorangtua_com

Inilah Doa yang Di Ajarkan Rasulullah Agar Keluarga Selalu Berkecukupan Rezeki

 
Kadang manusia memiliki harta yang banyak, Namun masih saja terasa sedikit dan kurang, begitu juga sebaliknya, Kadang seseorang memiliki harta yang sedikit, namun mereka merasa berkecukupan.


Bagi orang yang merasa kurang, Terkadang ia mencoba mencukupi dirinya dengan cara yang tidak bena, maka jadilah ia mendapatkan rezeki yang tidak halal. Alangkan Meruginya. Untuk itu doa meminta rezeki yang halal dan meminta kecukupan akan nikmat Allah adalah sangat penting untuk selalu di panjatkan.

Doa Suami Istri Agar Keluarga Kecukupan Rezeki :

Allaahummak fina bihalaalika ‘an haraamika wa aghinaa bi fadhlika ‘amman siwaak.

Artinya : “Ya Allah, cukupilah kami dengan rezeki-Mu yang halal (hingga kami terhindar) dari yang hara. Perkayalah kami dengan karunia-Mu (hingga kami tidak minta) kepada selain-Mu.”(HR. Tirmidzi)


Suami istri dianjurkan membaca doa ini agar kekayaan melimpah dan berkah. Menurut riawayat Tirmidzi, Imam Ali bin Abu Thalib pernah tidak sanggup membayar hutangnya. Setelah beliau mengadukan hal itu kepada Rasulullah Saw. Imam Ali diperintahkan untuk membaca doa diatas sebanyak-banyaknya.[reportaseterkini.net]

Jumat, 04 Desember 2015

Saling Mengerti Dan Berjanji Kunci Keluarga Sakinah dan Mawaddah

Mewujudkan rumah tangga yang bahagia tidaklah mudah. Perlu diketahui, rumah tangga yang sakinah dan mawaddah haruslah didasari dengan saling pengertian dan tidak mengingkari janji.

Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap permasalahan rumah tangga dengan menjelaskan asas pembentuknya dan sebab yang dapat melanggengkan ikatan rumah tangga tersebut. Tujuannya, agar rumah tangga itu menjadi kuat dan tidak tergoyahkan sehingga diliputi dengan rahmat dan kebahagiaan dari Allah Swt.

Janji pertama seorang suami kepada istrinya adalah ketika terjadinya akad pernikahan. Keduanya berjanji untuk saling setia berlabuh dalam bahtera keluarga. Janji itu digenggamnya erat-erat supaya tidak lepas. Namun anehnya, sebagian pasangan ada yang sengaja melepaskan janji-janjinya demi sebuah kesenangan sesaat.

Padahal, menepati janji hukumnya adalah wajib. Wajib bagi seorang suami untuk memberikan kenyamanan dan kebahagiaan kepada istrinya. Wajib pula bagi seorang istri untuk menjalankan amanah sebagai pasangan suami dalam menjaga kehormatannya dan mendidik anak-anak mereka.

Dan masih banyak lagi janji-janji dalam hidup ini yang harus ditepati oleh suami maupun istri. Orang yang tidak menepati janji akan tergolong sebagai orang munafik, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.
"Tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu bila berbicara dia berbohong, apabila berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanat dia mengkhianati." (HR. Bukhari dan Muslim)

Bila kita renungkan, sungguh janji itu mempunyai kedudukan yang penting untuk menilai kualitas keimanan seorang muslim. Maka, apabila seorang suami berjanji kepada istrinya, hendaklah ia menepati. Hendaklah seorang istri menepati janji-janjinya kepada suami agar kelak ia menepati surga Allah.

Begitu besar kedudukan janji dalam syariat Islam dan kehidupan berkeluarga. Oleh sebab itu, berhati-hatilah apabila membuat janji. Anda harus mengingat janji itu dan menepatinya. Namun, apabila ragu dan tidak dapat menunaikan atau menepatinya, maka janganlah sekali-kali membuat sebuah janji walaupun kepada pasangan sendiri.[reportaseterkini]

Sumber: http_www_reportaseterkini_com/2015/12/saling-mengerti-dan-berjanji-kunci.html

Sabtu, 14 November 2015

Mengapa Banyak Istri Bekerja Namun Keuangan Keluarga Tetap Kurang?

Sahabat Ummi, ada pertanyaan menggelitik yang terlihat membingungkan namun sebenarnya bisa mudah terjawab jika kita mengetahui kunci rumusnya: Mengapa Banyak Istri Bekerja Namun Keuangan Keluarga Tetap Kurang? 

Dewasa ini hampir setiap rumah tangga memiliki suami dan istri yang sama-sama bekerja. Anehnya, banyak yang mengaku kebutuhan terpenuhi saat suami saja yang bekerja, namun ketika istri ikut membantu bekerja di luar rumah malah semakin banyak utang dan merasa serba kurang. Bagaimana bisa terjadi demikian? 

Jawabannya bervariasi sebenarnya, tapi intinya satu:  rumah tangga kehilangan keberkahan. Bisa jadi karena adanya hak anggota keluarga yang terabaikan. 

Apa sajakah hak-hak keluarga yang biasanya terabaikan oleh pasutri yang sama-sama bekerja? 

1. Jika suami yang memaksa istri untuk bekerja membantu keuangan keluarga, padahal sebenarnya istri tidak mau, maka bisa jadi suami telah mengabaikan hak istri.
Cobalah cek kembali, apakah istri ikhlas membantu suami bekerja? Jalan keluarnya hanya 2: mengikhlaskan hati membantu suami atau berhenti bekerja dengan kesepakatan bersama suami.
Percuma bukan jika suami istri bekerja namun keuangan rumah tangga tetap kurang dan bahkan kehilangan keharmonisan karena pasutri sama-sama kelelahan? 

2. Jika istri yang menginginkan karir, dan meminta suami mengizinkannya, namun ternyata banyak melupakan hak-hak anak dan suami terhadap dirinya, maka ini jugalah yang menyebabkan berkurangnya keberkahan rumah tangga. 

Wahai istri, ingatlah bahwa di hari kiamat nanti kita akan ditanya pertanggungjawaban keluarga, jika ada hak suami dan anak yang tidak kita tunaikan bukankah kita menjadi wanita yang celaka?
Berkarir boleh, namun pastikan tak ada hak keluarga yang kita lalaikan tiap harinya.

3. Meningkatnya gaya hidup
Ketika memiliki penghasilan kecil, pasutri biasanya akan berusaha hidup hemat dan prihatin sehingga keuangan keluarga aman terkendali. Namun begitu ada tambahan penghasilan, keinginan pun bertambah... Ingin ini itu banyak sekali.
Peningkatan gaya hidup ini yang membuat berapapun penghasilan yang diperoleh, sudah pasti akan kurang karena minus! 

4. Terjebak riba
Inilah yang menyebabkan riba diharamkan dalam Islam, karena bisa membuat hilangnya keberkahan dalam keuangan rumah tangga. 

Coba cek apakah ada utang rumah tangga yang mengandung riba? Mintalah Allah untuk menutupinya agar keluarga kita terbebas dari jeratan riba. 

Demikian beberapa hal yang bisa menjawab pertanyaan Mengapa Banyak Istri Bekerja Namun Keuangan Keluarga Tetap Kurang? Semoga bisa menjadi bahan introspeksi bersama. 

Sumber: http_www.ummi-online_com/mengapa-banyak-istri-bekerja-namun-keuangan-keluarga-tetap-kurang_html

Rabu, 04 November 2015

11 Solusi Mudah Mengatasi Kondisi Keuangan Keluarga

Seluruh hasil jerih payah suami dan atau pun istri merupakan pendapatan bersama yang seharusnya juga diketahui secara bersama atas pengeluaran keuangan mereka.
Masalah dalam keluarga bervariasi. Salah satunya berasal dari finansial keluarga. Kondisi keuangan keluarga yang tidak kunjung sehat, seperti gali lubang tutup lubang bisa menyebabkan defisit. Masalah keuangan yang muncul dapat menjadi suatu masalah emosional dan terkadang membuat suami tertekan oleh permintaan istri yang mengharuskan agar kebutuhan harus terpenuhi saat itu juga, terutama untuk kepentingan si buah hati. Untuk itu diperlukan adanya pembenahan dalam mengatasi kondisi keuangan keluarga.
Anda harus bersikap cerdik dan cermat dalam soal manajemen keuangan karena hal ini menjadi momok yang penting untuk membina hubungan tetap harmonis. Jangan selalu mengandalkan pinjaman dan berutang demi pemenuhan kebutuhan yang kian hari kian meningkat. Kurangi gaya hidup konsumtif untuk menghemat pengeluaran.
Apalagi jika Anda merasa pendapatan yang diterima tiap bulan selalu kurang. Padahal kondisi tersebut timbul akibat dari Anda sendiri yang kurang bisa mengontrol cash flow keuangan Anda. Seharusnya bersama pasangan, Andasudah bisa bahu membahu untuk memberi yang terbaik khususnya dalam masalah keuangan keluarga tersebut.
Jika Anda berdua sama-sama bekerja, penghasilan suami sudah sepatutnya sebagai penghasilan utama untuk membiayai kehidupan Anda dalam berkeluarga, terutama dalam memenuhi beragam kebutuhan. Untuk penghasilan yang diterima oleh seorang istri dari hasil jerih payahnya, memang tidak diwajibkan, penghasilan sang istri tersebut dijadikan juga sebagai sumber penghasilan utama. Untuk pendapatan seorang istri bisa dialokasikan untuk kebutuhan Anda sebagai istri dan juga kebutuhan darurat lainnya, terutama untuk anak Anda.
Lebih baik untuk urusan finansial ini, Anda sudah membicarakannya sejak pertama memutuskan untuk menikah. Tujuannya meminimalisasi hal-hal yang mungkin akan terjadi ke depannya. Sebelum Anda menjalani kehidupan berkeluarga, mungkin uangku, uangmu dan uang kita. Tetapi, apakah akan selalu berjalan mulus ketika sudah menjalani kehidupan sebagai suami istri.
Semua harus dipersiapkan sebaik mungkin supaya keluarga Anda selalu bahagia, namun, jika memang terjadi penghambat dalam berkeluarga nanti, yang masalah utamanya seperti yang sudah dijelaskan di awal, terutama masalah keuangan, kita-kita berikut ini bisa Anda lakukan dalam upaya mengatasi atau pun memulai perencanaan keuangan yang baik bagi keluarga Anda.
1. Terbuka
 
Ilustrasi-Diagram-Cashflow-2
Sikap terbuka sebagai awal Anda menjalan kehidupan berkeluarga, seperti yang telah disebutkan di atas. Baik bagi pasangan yang sama-sama bekerja atau pun hanya salah satu saja, sebaiknya tidak ada yang harus disembunyikan, terlebih untuk masalah pengeluaran nantinya. Selalu diskusikan semua keputusan yang menyangkut keuangan, seperti pengeluaran, pemasukan, tabungan dan lainnya.
2. Bikin kesepakatan
070120a0200
Sebelum menghabiskan uang Anda, ada baiknya untuk membuat aturan yang disepakati bersama. Contohnya, menentukan berapa persen yang harus ditabung, berapa budget yang digunakan untuk membayar tagihan dan lainnya.
3. Menentukan tujuan jangka panjang
Dalam hal finansial, Anda harus cermat dan bijak dalam melihat masa depan. Bukan berarti Anda harus menerawang atau bertindak sebagai paranormal. Pastinya Anda bersama pasangan sudah bisa menentukan hal di masa mendatang yang membutuhkan banyak uang. Seperti; biaya pendidikan anak, liburan dan lainnya. Ini akan membantu Anda dan pasangan untuk menyimpan uang dan tidak akan kewalahan ketika saatnya tiba. Anda juga bisa membaca cara menyiapkan dana pendidikan untuk buah hati Anda di masa depan. (di link)
4. Menabung
bigstock-a-woman-stacks-coins-save-mon-47978543
Anda tidak perlu membuka rekening untuk menabung di salah satu bank, tetapi Anda bisa menyiapkan celengan di rumah yang tidak akan bisa dibuka selama beberapa waktu ke depan. Untuk faktor keamanan, Anda sebaiknya menyimpan tabungan Anda di bank yang tentu sudah menjadi bank kepercayaan Anda. Mungkin terdengar remeh, namun uang yang terkumpul bisa sangat berguna saat dibutuhkan.
5. Tabungan bersama
how_to_buy_your_first_home
Tidak jauh berbeda dengan point sebelumnya, tetapi dengan ada tabungan bersama, Anda berdua sudah pasti mengetahui masuk keluarnya uang dari tabungan tersebut. Sehingga Anda lebih bisa mengantisipasi akan hal-hal yang mungkin terjadi atau pun sekedar mengetahui ke mana dana tersebut dialokasikan, walaupun terkesan tidak etis tetapi satu sama lain mengetahuinya dan tidak menimbulkan kecurigaan.
6. Melacak pengeluaran
financial-coaching
Sebelum mengeposkan uang mungkin di hari pertama Anda menerima gaji sebagai sebuah pasangan. Sebelum hari itu terjadi, Anda apat melacak pengeluaran Anda sehari-hari. Hal ini akan terasa manfaatnya sejak awal pernikahan, karena Anda bisa memperkirakan berapa pengeluaran Anda baik itu untuk harian atau pun bulanan. Dari sudut pandang ini, bisa terlihat apakah Anda orang yang cukup hemat atau justru terlalu boros?
7. Membuat anggaran yang realistis
medium_20150109090056.18-Lakukan-Ini-Agar-Tidak-Kehabisan-Uang-Saat-Berpetualang-1-1
Pastikan anggaran Anda realistis dan bisa dilaksanakan dengan baik. Jangan terlalu membuat anggaran yang justru mencekik keuangan Anda bahkan segala kebutuhan utama dan penting malah tidak terpenuhi. Hidup terlalu hemat menjadikan Anda tidak bisa menikmati hidup bukan merupakan solusi terbaik. Tidak pula melonggarkan anggaran Anda sehingga membuat kehidupan Anda terlalu boros.
8. Sematkan uang untuk membangun koneksi
LbMNoj8L
Di sini mungkin terlalu tinggi bahasanya, apalagi Anda sudah berkeluarga. Namun, jangan dipandang sebelah mata, membangun koneksi juga sama dengan membangun bisnis baru atau dengan kata lain membuka rekening pendapatan baru yang sudah pasti akan berguna bagi kehidupan Anda.
9. Dana hangout
o-RAINING-MONEY-facebook
Sisakan sedikit uang untuk bersenang-senang ini. Jangan terlalu banyak sehingga tidak menimbulkan sikap boros, jika Anda menyukai tantangan, justru besarkan dana untuk senang-senang tersebut, sampai di mana Anda bisa menahannya untuk tidak menghabiskannya, jika sampai hari gajian Anda tiba kembali dan uang ini masih tersisa banyak berarti Anda telah berhasil melewati tantangan tersebut dan Anda bisa mengulangi hal ini sehingga Anda pun dilatih dalam bertanggung jawab soal keuangan.
Bila sudah berkeluarga, uang untuk senang-senang hanya untuk dilingkup keluarga saja, seperti makan malam di luar atau sekedar nonton bioskop bersama, yang paling mahal mungkin jalan-jalan ke luar negeri, tetapi itu pun dari hasil tabungan Anda bersama pasangan. Anggap saja ini semua merupakan penghargaan dari hasil kerja keras Anda bersama.
10. Rapat keuangan
office-meeting
Selalu adakan pertemuan dengan pasangan membicarakan masalah keuangan ini. Bisa dilakukan setiap bulan atau bahkan setiap minggu. Jalani ini dengan suasan senang, santai karena bukan rapat di kantor tetapi rapat bersama pasangan Anda yang selalu menjalani kehidupan bersama-sama.
11. Bekerjasama untuk mengatur keuangan
family_portraits_01
Selalu dan selalu bekerjasama dalam mengatur keuangan. Jangan terlalu mendominasi atau justru pasif jika berkaitan dengan pengeluaran dan pemasukan serta perencanaan keuangan. Di awal-awal mungkin akan canggung, namun jika dibiasakan Anda akan merasakan manfaatnya mengatur keuangan bersama pasangan.
Tak khayal, terkadang pendapatan seorang istri juga bisa lebih besar dari suami, ada yang menerimanya dengan lapang dada dan memang itu semua ditujukan untuk kehidupan keluarga yang lebih baik.
Terkadang, ada pula peran antara suami dan istri dalam keluarga yang menyimpang bahkan berubah total kodratnya, yang terparah ada juga dengan keadaan istri yang berpenghasilan lebih besar dari suami, membuat sang istri menjadi semena-mena dan tidak mau mengikuti perkataan sang suami, bahkan yang lebih mengenaskan adalah tidak menghormatinya sebagai kepala keluarga yang memang berkewajiban mencari nafkah.
Untuk menghindari hal tersebut, dari sisi finansial, Anda bisa saling berbagi tugas, membagi tugas di sini bukan berarti membagi tugas seperti biasa yang dilakukan suami dan istri dalam berkeluarga, melainkan, membagi pos pengeluaran. Contohnya : untuk kebutuhan sehari-hari, dapur bulanan, hingga uang jajan anak, alokasikan dari pendapatan suami. Sementara gaji istri dialokasikan untuk membayar cicilan, tagihan, asuransi serta kebutuhan mendesak lainnya. Dengan ini semua kontribusinya seimbang.
Sebagai panduan untuk Anda, kami akan menyuguhkan secara singkat mengenai managemen keuangan keluarga yang sebaiknya diterapkan dalam sebuah keluarga.
Sumber: Atur Duit


3. Menentukan tujuan jangka panjang

Senin, 02 November 2015

Besar Nafkah Yang Wajib Bagi Suami Untuk Keluarganya

Agama menaruh kewajiban nafkah istri dan anak di bahu seorang suami sebagai kepala keluarga. Meskipun pada praktiknya kadang yang menjadi “kepala keluarga” lain orang dari mereka yang selama ini berkewajiban memberi nafkah. Besaran nafkah itu sendiri berbeda-beda. Ada kelas “eksekutif”, kelas “bisnis”, dan ada juga kelas “ekonomi”.
Setidaknya begitu menurut pandangan Imam Syafi’i. berbeda lagi dengan pandangan mujtahid lainnya. Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyddalam Bidayatul Mujtahid menyebutkan sebagai berikut.



وأما مقدار النفقة فذهب مالك إلى أنها غيرمقدرة بالشرع وأن ذلك راجع إلى ما يقتضيه حال الزوج وحال الزوجة، وأن ذلك يختلف بحسب اختلاف الأمكنة والأزمنة والأحوال، وبه قال أبو حنيفة. وذهب الشافعي إلى أنها مقدرة: فعلى الموسر مدان، وعلى الأوسط مد ونصف، وعلى المعسر مد.
Adapun terkait ukuran nafkah, Imam Malik berpendapat bahwa kadar nafkah tidak ditentukan secara syar’i. Kadar nafkah harus merujuk pada keadaan suami dan keadaan istri yang bersangkutan. Itu pun berbeda-beda sejalan dengan perbedaan tempat, waktu, dan keadaan. Demikian pula pendapat Imam Abu Hanifah. Sedangkan Imam Syafi’i mengatakan bahwa kadar nafkah ditentukan oleh syara’.
Untuk suami dengan penghasilan tinggi, wajib menafkahi istrinya sebanyak dua mud. Untuk kelas menengah, satu setengah mud. Sementara mereka yang berpenghasilan rendah, hanya satu mud setiap harinya.

Satu mud seukuran 543 gram menurut Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Sementara menurut Hanafiyah, satu mud seukuran 815,39 gram.

Yang jelas dibutuhkan ialah kebijaksanaan antara suami dan istri dalam menentukan besaran nafkah sesuai kebutuhan-kebutuhan keluarganya. Begitu juga terkait kebutuhan harian lainnya seperti ongkos pendidikan dan lain sebagainya. Untuk itu, upaya mencari nafkah yang halal memiliki keutamaan yang tinggi.

Karena pada prinsipnya kesepahaman antara pihak suami maupun pihak istri ini yang perlu hadir. Terlebih dalam kondisi suami yang memiliki keterbatasan fisik? Saling menerima dalam batas yang wajar menjadi perhatian utama agar tidak ada yang dizalimi. Wallahu a‘lam.


Oleh : Ust. Alhafiz K, via nu.or.id

Jumat, 09 Oktober 2015

Mana yang Harus diutamakan? Menafkahi ISTRI? Ataukah IBU KANDUNG?

Assalamualaikum wr. Wb.
Ustad/ustdzah saya Iva, wanita dan sudah menikah. Saya bekerja dan memiliki anak 1 masih balita. Saya ingin bertanya, bagaimana islam memandang apabila dalam rumah tangga istri harus memenuhi kebutuhan sendiri & anak, dikarenakan suami harus membyar cicilan pinjaman di bank & memberikan nafkah ke ibunya, sedangkan ibu mertua mampu & msih dapat nafkah dari bapak mertua & dari kakak ipar setiap bulannya.

Suami takut ibunya marah jika tidak dikasih. Jadi suami tidak bisa menafkahi istri dan anak. Apakah dalam islam berdosa ustad/ustdzah ? Apakah islam memandang apabila tidak memberi nafkah ke ibunya, suami saya berdosa ? Apakah tidak bisa memberi nafkah istri dan anak termasuk mendzalimi istri & anak ? Mana yang harus didahulukan istri & anak atau ibunya? Sblm menikah saya seorang yatim & saya juga msih menjadi tulang punggung keluarga untuk menafkahi ibu saya dan adik saya sampai saat ini. Bagaimana islam memandang permasalahan ini, mhon jwabanya ustad/ustadzah. Sukron. Wassalam,
Jawaban

Assalamu alaikum wr.wb Alhamdulillahi Rabbil alamin. Washshalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbih ajmain. Amma ba'du:

Dalam Islam jelas bahwa seorang suami bertanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak-anaknya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Alquran surat an-Nisa ayat 34 dan al-Baqarah 233.    Meskipun kondisi isteri mampu, berkecukupan, bahkan kaya, kewajiban untuk memberikan nafkah keluarga tetap menjadi tanggung jawab suami, kecuali kalau isteri ridha dg keadaan yang ada. Namun jika tidak, dan suami tetap tidak mau memberikan nafkah kepada isteri dan anak, maka sang suami berdosa. Rasul saw bersabda, "Cukuplah seseorang mendapat dosa jika ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya."

Selanjutnya seorang suami memang dituntut untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak, serta kepada kedua orang tuanya jika mereka berada dalam kondisi membutuhkan dan kekurangan. Kalau suami bisa memenuhi kebutuhan mereka semua, maka wajib baginya untuk memenuhi. 

 Namun jika penghasilan atau hartanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua, maka harus ada prioritas. Yaitu yang harus didahulukan adalah isteri dan anak yang memang berada dalam tanggung jawab utamanya sebagai seorang suami. Hal ini berdasarkan sabda Rasul saw, "Mulailah dari dirimu dengan bersedekah (memberikan nafkah) untuknya. Lalu jika ada yang tersisa maka untuk keluargamu (isteri dan anakmu). Jika masih ada yang tersisa, maka untuk karib kerabatmu (orang tua, saudara dst), dan begitu seterusnya."

Imam an-Nawawi berkata, "Apabila pada seseorang berhimpun orang-orang membutuhkan dari mereka yang harus ia nafkahi, maka bila hartanya cukup untuk menafkahi semuanya, ia harus menafkahi semuanya, baik yang dekat maupun yang jauh. Namun apabila sesudah ia menafkahi dirinya, yang tersisa hanya nafkah untuk satu orang, maka ia wajib mendahulukan isteri daripada karib kerabatnya yang lain...(Raudhah ath-Thalibin).

Melihat pada kasus Anda, hendaknya suami mendahulukan yang menjadi kewajibannya, yaitu menafkahi isteri dan anak. Jika kondisinya benar-benar tidak mampu menafkahi ibunya, maka suami tidak berdosa karena Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Hanya saja, hal ini harus dibicarakan secara baik-baik disertai dg pemberian pemahaman. Kalau ibu masih tetap bersikeras untuk mendapat nafkah suami, sementara Anda sebagai isteri ridha demi untuk menjaga keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga, maka Anda mendapatkan pahala yang besar insya Allah. Namun jika tidak ridha, Anda berhak untuk menuntut suami. 

Semoga Allah memberikan keberkahan dan jalan keluar terbaik bagi Anda sekeluarga.
Wallahu a'lam.

Wassalamu alaikum wr.wb.

Rabu, 07 Oktober 2015

3 Tips Menciptakan Keluarga Muslim Kaya Raya

Sahabat Abi Ummi, potret keluarga muslim saat ini tentu jauh dari kata sejahtera. Kebanyakan dari keluarga muslim yang ada adalah mereka yang miskin, mereka yang bodoh, mereka yang jauh dari suasana keislaman. Status dalam KTP-nya tertulis Islam, tetapi salat 5 waktu saja jarang mereka lakukan. Benar, bukan?
Ini bisa kita lihat di jalan-jalan, siapa yang berprofesi menjadi pengamen? Mereka adalah muslim. Siapa yang berprofesi menjadi pengemis? Mereka adalah muslim. Siapa yang berprofesi sebagai buruh? Mereka adalah muslim. Semua adalah berasal dari keluarga muslim. Lalu, bagaimana cara mengubah paradigma semacam ini? Yuk, kita simak tips berikut!
Keluarga muslim kaya
Keluarga muslim kaya raya. (Sumber: bajubusanaterbaru.com)

1. Atur Mindset: Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus

Setiap napas kehidupan kita selalu sertakanlah Allah. Ini karena Allah-lah pencipta kita, yang paling tahu tentang kita. Allah pernah berkata, “Jika hamba-Ku mendekati-Ku satu jengkal, Aku akan mendekatinya satu hasta. Jika dia mendekati-Ku satu hasta, Aku akan mendekatinya satu depa. Jika dia datang pada-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari (H.R. Bukhari – hadis qudsi).”
Sebagai keluarga muslim, prinsip seperti ini tentu harus kita bangun dari awal. Jika keluarga muslim kita ingin kaya raya, seperti yang dicontohkan sahabat nabi, Abdurrahman bin Auf, atur mindset kita, Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Insya Allah harta kita pun akan dicukupkan dan berkah.

2. Perbanyak Sedekah agar Rezeki Berlimpah

Banyak dari keluarga muslim yang enggan bersedekah secara cuma-cuma. Contoh kecilnya, saat ada pengemis di depan kita yang sedang meminta-minta, lalu kita melihat isi dompet, maka diambillah pecahan uang yang paling kecil. Pernahkah kita memilih menyumbangkan uang terbesar kita untuk pengemis? Sepertinya ini jarang terjadi, ya.
Jangan takut miskin wahai keluarga muslim karena Allah sendiri yang akan menjamin kita. “Barang siapa yang mau memberi pinjaman kepada Allah suatu pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan, Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan (QS. Al-Baqarah: 245).”
Belajarlah untuk sedekah secara cuma-cuma. Infakkanlah sebagian harta kita di jalan Allah, seperti membantu saudara yang kesulitan, menyantuni anak yatim, atau membantu menjadi donatur untuk acara-acara keislaman. Jika keluarga muslim semuanya menerapkan cara seperti ini, dijamin rezeki akan berkah dan berlimpah. Aamiin.

3. Berjual-beli dengan Jujur supaya Rezeki Deras Mengucur

Pedagang yang jujur pasti akan disukai oleh pelanggannya. Melihat fenomena saat ini yang sangat mengerikan, berbagai pemalsuan bahan-bahan makanan, hingga pemalsuan identitas kerap terjadi. Siapa pelakunya? Tentu mayoritas keluarga muslim. Alangkah memalukan, bukan? Seorang muslim kok tega-teganya ya menyakiti saudaranya sendiri.
Berjual-belilah dengan cara yang baik. Jika menjual makanan, berikanlah baham baku terbaik supaya pembeli pun mendapatkan manfaat dari makanan tersebut. Jika menjual barang, berikan barang terbaik yang tidak cacat supaya konsumen tidak merasa ditipu atas transaksi jual beli tersebut.
Contohlah Rasulullah yang berdagang secara jujur. Cermin dari keluarga muslim yang patut kita tiru dan kita aplikasikan dalam kegiatan berbisnis kita. Dari kejujuran, kita akan membuat rezeki kita deras mengucur. Ciptakanlah keluarga muslim yang jika berdagang terkenal jujur, terkenal ramah, terkenal baik kondisi barang dagangannya. Jangan menjadi keluarga muslim yang sering menipu, curang, apalagi sampai korupsi. Karena perbuatan tersebut tidak disukai Allah dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Ingat wahai keluarga muslim, siksa Allah amat pedih. Jadi, jika kita ingin jadi keluarga muslim yang kaya raya, mati masuk surga, ikutilah aturan Allah secara kaffah, sesuai Alquran dan sunnah-Nya.