Tampilkan postingan dengan label pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pernikahan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Mei 2016

Tahukah Kamu Ternyata Menikah di Usia Muda Bisa Buat Setan Nangis?

setan merupakan musuh nyata umat manusia yang bertujuan menyesatkan bani adam. laknatullah ini hendak melaksanakan seluruh trik supaya manusia menjajaki tipu dayanya. tanpa ampun dan juga tidak terdapat kata menyerah, begitulah antusias setan dalam menggoda manusia.

tetapi, setan nyatanya dapat menangis pula. dalam hadist riwayat ibnu addi, rasulullah saw menggambarkan gimana setan menangis dan juga meringik karna perihal ini. nyatanya yang membikin anak buah iblis ini berkecil hati merupakan kala manusia memutuskan menikah pada umur muda.

umur muda dalam konteks ini tentu mereka yang sudah baligh. setan terasa celaka karna manusia terpelihara dari godaan buat melaksanakan perbuatan zina. sepert dikenal, salah satu perangkap amat jitu merupakan menggiring manusia buat mendekati perbuatan tersebut.

jabir bin abdullah ra mengutarakan, nabi muhammad saw bersabda, benda siapa diantara anak muda menikah dalam umur muda, hingga menangislah setan. dan juga ia meringik , ‘aduh celaka saya, agamanya telah terpelihara dari godaanku“ (hr. ibnu addi).

sayangnya menikah dikala umur muda jadi perihal yang ditatap aneh dikala ini. terlebih lagi tidak sedikit pihak yang menolak perkawinan muda. dalihnya merupakan mereka masih belia dan juga dinilai belum matang dalam menempuh urusan rumah tangga.

sementara itu tidak sedikit di negeri maju yang melepaskan pergaulan anak - anaknya tanpa jalinan perkawinan hidup mengidap. anak muda wanita yang hadapi kehamilan pra nikah wajib menerima realitas membesarkan anak - anaknya sendirian tanpa suami. dampaknya, banyak balita yang berkembang besar tanpa bapak.

sedangkan permasalahan di indonesia seorang diri bersumber pada penuturan menteri sosial khofifah indah parawansa, pada 2013 kemudian tingkatan permasalahan kehamilan di luar nikah menggapai 2, 2 juta. lazimnya mereka merupakan anak muda yang berumur berkisar antara 15 - 19 tahun. seandainya mereka menikah aja kala menciptakan jodohnya, tentu hendak ini tidak hendak sebesar itu.

nabi muhammad saw sudah menyarankan supaya lekas menikah. serupa sabda nabi berikut ini yang maksudnya.

“wahai pemuda, barangsiapa di antara kamu telah sanggup hingga sebaiknya menikah, karna dia lebih menundukkan pemikiran dan juga lebih memelihara kemaluan. dan juga barangsiapa yang belum sanggup, hingga sebaiknya dia berpuasa, karena dia mampu mengekangnya. ” (hr. bukhari).

jadi sudah jelas gimana nabi memerintahkan umatnya supaya menikah pada umur muda bila sudah baligh dan juga sanggup. dan juga bila terasa belum sanggup, hingga para pemuda diperintahkan berpuasa buat melindungi pribadinya





(sumber: siraman.com)

Rabu, 25 Mei 2016

Tak Miliki Dana Untuk Resepsi Pernikahan, Pengantin Pria Hanya Gunakan Kaos Bola

perkawinan merupakan fitrah manusia buat mampu penuhi kebutuhan biologisnya. dan juga kebutuhan tersebut cuma mampu dipadati lewat jalur perkawinan bukan dengan jalur ataupun cara - cara yang kotor yang terus menjadi banyak dicoba hari ini. gratis sex, lesbi, homo, prostitusi, dll.

tujuan perkawinan merupakan buat melindungi manusia dari watak akhlak yang terpuji yang mampu merendahkan martabat manusia yang mulia. dan juga islam menjadikan perkawinan bagaikan fasilitas buat manusia melindungi dan juga memelihara perihal tersebut.

tetapi, kesusahan dalam menempuh perkawinan banyak mengalami banyak pemuda. dengan bermacam sebab, belum mempunyai pekerjaan senantiasa, belum mempunyai modal dan juga lain sebagainya. dan juga hendak amat menyedihkan para orang tua sering - kali turut mempesulit dan juga malah membiarkan anaknya berposisi dalam bingkai zina yang bernama pacara hingga sang calon mantu baginya mapan. tetapi orang tua hendak panik dan juga terburu - buru malah kala mengenali anaknya telah berbadan dua diluar nikah.

berubah dengan pendamping pengantin baru berikut yang berasal dari negara jiran malaysia. mereka melakukan penuh dengan atmosfer kesederhanaan. terlebih lagi si mempelai laki - laki juga tidak mempunyai modal buat membeli ataupun menyewa baju buat menghiasi pribadinya.
baca : tidak boleh beristri lebih dari 4 (4)

dilansir dari media sosial facebook kepunyaan minyak bezen, di informasikan kalau perkawinan merupakan gimana mampu mengutakan yang harus bukan setelah itu kegiatan yang dipadati dengan kemewahan.

minyak bezen meneruskan kalau islam merupakan agama yang gampang dan juga tidak mempersulit dan juga perihal yang haram malah banyak dicari.

mianyak bezen setelah itu menuliskan mengucapkan selamat kepada mempelai perempuan yang berasal dari rantau panjang kelantan dan juga lelalaki dari terengganu.

rasulullah saw pula menyarankan buat mampu memeprmudah perkawinan meski maharnya berbentuk cincin dari besi. pastinya perihal ini jadi pelajaran untuk kita seluruh. kalau perkawinan merupakan ibadah dan juga janganlah ibadah dirusak dengan kegiatan - kegiatan yang jauh dari allah swt.

barakallahulaka wabaraka ‘alaika, wajama’a bainakuma fii khair



(sumber : serambiminang.com)

Selasa, 26 April 2016

Astaghfirullah. Ternyata Ucapan Semoga Bahagia dan Banyak Anak Untuk Pengantin Baru Dilarang Rasulullah

Pernikahan adalah suatu hal yang diidam-idamkan oleh semua orang. Pada saat melangsungkan pernikahan, pastilah mereka akan mendapatkan banyak doa untuk kebaikan pernikahan kita. Tapi mengapa Rasulullah melarang mendoakan pengantin “semoga bahagia dan banyak anak”? Inilah jawaban dari pertanyaan tersebut.Alasan Mengapa Rasulullah Melarang Mendoakan Pengantin “Semoga Bahagia dan Banyak Anak”?

http://bajumuslimpengantin.com/wp-content/uploads/2015/10/Foto-pre-wedding-muslim-romantis.jpg

Kisah ini bermula ketika Uqail menikah. Pada saat pernikahan ia merasakan kegundahan ketika mendengar doa orang-orang yang datang “semoga bahagia dan banyak anak”. Untuk mengatasi kegundahan itu, Uqail segera meluruskan ucapan untuk pengantin dan mengatakan pada tamu agar mereka tidak mengucapkan doa itu untuknya yang sedang menikah karena Rasulullah telah melarang hal ini. Kemudian, para tamu bertanya doa apa yang harus mereka panjatkan untuk pernikahannya.

Uqail menjelaskan bahwa Rasul telah mengajarkan doa untuk pengantin baru sesuai sunnah, “Semoga Allah memberikan berkah padamu, semoga Allah memberikan berkah atasmu, dan semoga Allah menuntun kalian berdua dalam kebaikan”.

Alasan mengapa Rasulullah melarang mengucapkan doa itu pada pernikahan, hanya Allah yang mengetahuinya. Tapi kita dapat mengambil hikmah dari larangan itu bedasarkan yang disampaikan oleh Muhammad Fauzil di buku yang berjudul Kado Pernikahan untuk Istriku dan buku Bahagianya Merayakan Cinta oleh Ustadz Salim.

Apabila kita lihat dari hukumnya, maka hukum mendoakan pengantin dengan doa itu adalah makruh. Larangan tersebut bukan berarti haram
karena padasuatu waktu, Rasulullah membanggakan umatnya yang semakin banyak dari nabi sebelumnya. Hal ini berarti beliau suka jika umatnya memiliki anak yang banyak. Bahagia dalam pernikahan pun juga tidak dilarang. Tapi doa agar bahagia dan punya anak banyak dirasa kurang tepat.

Terdapat doa untuk calon pengantin yang lebih baik. Doa di atas seharusnya menjadi doa yang dipanjatkan oleh para tamu pada sebuah pernikahan. Alasan mengapa doa itu tidak tepat karena tak semua pernikahan dapat berjalan dengan bahagia. Terlebih pada awal-awal pernikahan biasanya akan terjadi masalah-masalah kecil. Oleh karena itu, bayangan bahwa pernikahan itu akan selalu bahagia dan memiliki banyak anak tak sepenuhnya benar dan tidak semua pernikahan mendapatkan kedua hal itu.

Dalam kehidupan, segala hal dapat terjadi. Termasuk dalam sebuah pernikahan. Hari-hari yang dijalani oleh pasangan suami istri tidak selamanya akan mulus. Pastilah terdapat krikil kecil yang menjadi masalah dalam pernikahan mereka. Oleh karena itu, doa memohon keberkahan dari Allah memanglah lebih baik. Sehingga dalam keadaan bahagia ataupun lagi ada masalah, semoga Allah selalu memberikan berkah pada setiap yang kita lakukan.

Keberkahan yang diberikan Allah dalam suatu pernikahan akan menciptakan kebahagiaan di dalam hari pasangan suami istri. Begitu juga dengan kehadiran seorang anak. Tak semua orang dikaruniai anak yang banyak. Bahkan ada beberapa orang yang diberi ujian oleh Allah tidak memiliki anak. Oleh karena itu, meminta keberkahan dari Allah dirasa paling penting agar kita tetap diberikan keberkahan meskipun tidak memiliki anak banyak.

Selain itu, doa untuk senantiasa dituntun dalm jalan Allah juga lebih penting. Apapun yang kita lakukan apabila itu tidak berada di jalan Allah maka akan menyebabkan dosa bagi diri kita. Oleh karena itu, dalam kondisi apapun, baik itu senang, sedih, punya anak banyak, sedikit, ataupun tidak punya, semoga Allah senantiasa menuntun kita untuk berada di jalan kebenaran, yakni sesuai dengan ajaran agama Islam.



(sumber: ukhtiindonesi via cintaislami)

Sabtu, 16 April 2016

Istri Dipaksa Orangtua Menikah Tanpa Cinta, Laki-Laki Ini Bersabar Tak Sentuh Istrinya

 Seorang akhwat menceritakan kenangan masa lalunya yang tak terlupakan:

“Namaku Mariani, orang-orang biasa memangilku Aryani. Ini adalah kisah perjalanan hidupku yang hingga hari ini masih belum lengkang dalam benakku. Sebuah kisah yang nyaris membuatku menyesal seumur hidup bila aku sendiri saat itu tidak berani mengambil sikap. Yah, sebuah perjalanan kisah yang sungguh aku sendiri takjub dibuatnya, sebab aku sendiri menyangka bahwa di dunia ini mungkin tak ada lagi orang seperti dia.


Tahun 2007 silam, aku dipaksa orang tuaku menikah dengan seorang pria, Kak Arfan namanya. Kak Arfan adalah seorang lelaki yang tinggal sekampung denganku, tapi dia seleting dengan kakakku saat sekolah dulu. Usia kami terpaut 4 Tahun. Yang aku tahu bahwa sejak kecilnya Kak Arfan adalah anak yang taat kepada orang tuanya dan juga rajin ibadah. Tabiatnya yang seperti itu terbawa-bawa sampai ia dewasa. Aku  merasa risih sendiri dengan Kak Arfan apabila berpapasan di jalan, sebab sopan santunnya sepertinya terlalu berlebihan pada orang-orang. Geli aku menyaksikannya, yah, kampungan banget gelagatnya…,

Setiap ada acara-acara ramai di kampung pun Kak Arfan tak pernah kelihatan bergabung sama teman-teman seusianya. Yaah, pasti kalau dicek ke rumahnya pun gak ada, orang tuanya pasti menjawab “Kak Arfan di mesjid nak, menghadiri taklim”. Dan memang mudah sekali mencari Kak Arfan, sejak lulus dari Pesantren Al-Khairat Kota Gorontalo.

Kak Arfan sering menghabiskan waktunya membantu orang tuanya jualan, kadang terlihat bersama bapaknya di kebun atau di sawah. Meskipun kadang sebagian teman sebayanya menyayangkan potensi dan kelebihan-kelebihannya yang tidak tersalurkan. Secara fisik memang Kak Arfan hampir tidak sepadan dengan ukuran ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Sebab kadang gadis-gadis kampung suka menggodanya kalau Kak Arfan dalam keadaan rapi menghadiri acara-acara di desa.

Tapi bagiku sendiri, itu adalah hal yang biasa-biasa saja, sebab aku sendiri merasa bahwa sosok Kak Arfan adalah sosok yang tidak istimewa. Apa istimewanya menghadiri taklim, kuper dan kampungan banget. Kadang hatiku sendiri bertanya, koq bisa yah, ada orang yang sekolah di kota namun begitu kembali tak ada sedikitpun ciri-ciri kekotaan melekat pada dirinya, HP gak ada. Selain bantu orang tua, pasti kerjanya ngaji, sholat, taklim dan kembali ke kerja lagi. Seolah ruang lingkup hidupnya hanya monoton pada itu-itu saja, ke biosokop kek, ngumpul bareng teman-teman kek setiap malam minggunya di pertigaan kampung yang ramainya luar biasa setiap malam minggu dan malam Kamisnya. Apalagi setiap malam Kamis dan malam Minggunya ada acara curhat kisah yang TOP banget di sebuah station Radio Swasta digotontalo, kalau tidak salah ingat nama acaranya Suara Hati dan nama penyiarnya juga Satrio Herlambang.

Waktu terus bergulir dan seperti gadis-gadis modern pada umumnya yang tidak lepas dengan kata Pacaran, akupun demikian. Aku sendiri memiliki kekasih yang begitu sangat aku cintai, namanya Boby. Masa-masa indah kulewati bersama Boby. Indah kurasakan dunia remajaku saat itu. Kedua orang tua Boby sangat menyayangi aku dan sepertinya memiliki sinyal-sinyal restunya atas hubungan kami. Hingga musibah itu tiba, aku dilamar oleh seorang pria yang sudah sangat aku kenal. Yah siapa lagi kalau bukan si kuper Kak Arfan lewat pamanku. Orang tuanya Kak Arfan melamarku untuk anaknya yang kampungan itu.

Mendengar penuturan mama saat memberitahu padaku tentang lamaran itu, kurasakan dunia ini gelap, kepalaku pening…, aku berteriak sekencang-kencangnya menolak permintaan lamaran itu dengan tegas dan terbelit-belit aku sampaikan langsung pada kedua orang tuaku bahwa aku menolak lamaran keluarganya Kak Arfan. dan dengan terang-terangan pula aku sampaikan pula bahwa aku memiliki kekasih pujaan hatiku, Boby.

Mendengar semua itu ibuku shock dan jatuh tersungkur kelantai. Akupun tak menduga kalau sikapku yang egois itu akan membuat mama shock. Baru kutahu bahwa yang menyebabkan mama shok itu karena beliau sudah menerima secara resmi lamaran dari orang tuanya Kak Arfan. Hatiku sedih saat itu, kurasakan dunia begitu kelabu. Aku seperti menelan buah simalakama, seperti orang yang paranoid, tidak tahu harus ikut kata orang tua atau lari bersama kekasih hatiku Boby.

Hatiku sedih saat itu. Dengan berat hati dan penuh kesedihan aku menerima lamaran Kak Arfan untuk menjadi istrinya dan kujadikan malam terakhir perjumpaanku dengan Boby di rumahku untuk meluapkan kesedihanku. Meskipun kami saling mencintai, tapi mau tidak mau Boby harus merelakan aku menikah dengan Kak Arfan. Karena dia sendiri mengakui bahwa dia belum siap membina rumah tangga saat itu.

Tanggal 11 Agustus 2007 akhirnya pernikahanku pun digelar. Aku merasa bahwa pernikahan itu begitu menyesakkan dadaku. Air mataku tumpah di malam resepsi pernikahan itu. Di tengah senyuman orang-orang yang hadir pada acara itu, mungkin akulah yang paling tersiksa. Karena harus melepaskan masa remajaku dan menikah dengan lelaki yang tidak pernah kucintai. Dan yang paling membuatku tak bisa menahan air mataku, mantan kekasihku Boby hadir juga pada resepsi pernikahan tersebut. Ya Allah mengapa semua ini harus terjadi padaku ya Allah… mengapa aku yang harus jadi korban dari semua ini?

Waktu terus berputar dan malam pun semakin merayap. Hingga usailah acara resepsi pernikahan kami. Satu per satu para undangan pamit pulang hingga sepi lah rumah kami. Saat masuk ke dalam kamar, aku tidak mendapati suamiku Kak Arfan di dalamnya. Dan sebagai seorang istri yang hanya terpaksa menikah dengannya, maka aku pun membiarkannya dan langsung membaringkan tubuhku setalah sebelumnya menghapus make-up pengantinku dan melepaskan gaun pengantinku. Aku bahkan tak perduli kemana suamiku saat itu. Karena rasa capek dan diserang kantuk, aku pun akhirnya tertidur.

Tiba-tiba di sepertiga malam, aku tersentak tatkala melihat ada sosok hitam yang berdiri disamping ranjang tidurku. Dadaku berdegup kencang. Aku hampir saja berteriak histeris, andai saja saat itu tak kudengar suara  takbir terucap lirih dari sosok yang berdiri itu. Perlahan kuperhatikan dengan seksama, ternyata sosok yang berdiri di sampingku itu adalah Kak Arfan suamiku yang sedang sholat tahajud. Perlahan aku baringkan tubuhku sambil membalikkan diriku membelakanginya yang saat itu sedang sholat tahajud. Ya Allah aku lupa bahwa sekarang aku telah menjadi istrinya Kak Arfan. Tapi meskipun demikian, aku masih tak bisa menerima kehadirannya dalam hidupku. Saat itu karena masih dibawah perasan ngantuk, aku pun kembali teridur. Hingga pukul 04.00 dini hari, kudapati suamiku sedang tidur beralaskan sajadah di bawah ranjang pengantin kami.

Dadaku kembali berdetak kencang kala mendapatinya. Aku masih belum percaya kalau aku telah bersuami. Tapi ada sebuah pertanyaaan terbetik dalam benakku. Mengapa dia tidak tidur di ranjang bersamaku. Kalaupun dia belum ingin menyentuhku, paling gak dia tidur seranjang denganku itukan logikanya. Ada apa ini? ujarku perlahan dalam hati. Aku sendiri merasa bahwa mungkin malam itu Kak Arfan kecapekan sama sepertiku sehingga dia tidak mendatangiku dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Tapi apa peduliku dengan itu semua, toh akupun tidak menginginkannya, gumamku dalam hati.

Hari-hari terus berlalu. Kami pun mejalani aktifitas kami masing-masing, Kak Arfan bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya. Sedangkan aku di rumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa aku telah bersuami dan memiliki kewajiban melayani suamiku. Yah minimal menyediakan makanannya, meskipun kenangan-kenangan bersama Boby belum hilang dari benakku, aku bahkan masih merindukannya.

Semula kufikir bahwa prilaku Kak Arfan yang tidak pernah menyentuhku dan menunaikan kewajibannya sebagai suami itu hanya terjadi malam pernikahan kami. Tapi ternyata yang terjadi hampir setiap malam sejak malam pengantin itu, Kak Arfan selalu tidur beralaskan permadani di bawah ranjang atau tidur di atas sofa dalam kamar kami. Dia tidak pernah menyentuhku walau hanya menjabat tanganku. Jujur segala kebutuhanku selalu dipenuhinya. Secara lahir dia selalu menafkahiku, bahkan nafkah lahir yang dia berikan lebih dari apa yang aku butuhan. Tapi soal biologis, Kak Arfan tak pernah sama sekali mengungkit- ungkitnya atau menuntutnya dariku. Bahkan yang tidak pernah kufahami, pernah secara tidak sengaja kami bertabrakan di depan pintu kamar, Kak Arfan meminta maaf seolah merasa bersalah karena telah menyentuhku.

Ada apa dengan Kak Arfan? Apakah dia lelaki normal? Kenapa dia begitu dingin padaku? Apakah aku kurang di matanya? atau? Pendengar, jujur merasakan semua itu, membuat banyak pertanyaan berkecamuk dalam benakku. Ada apa dengan suamiku? Bukankah dia adalah pria yang beragama dan tahu bahwa menafkahi istri itu secara lahir dan batin adalah kewajibannya? Ada apa dengannya? padahal setiap hari dia mengisi acara-acara keagamaan di mesjid. Dia begitu santun pada orang-orang dan begitu patuh kepada kedua orangtuanya. Bahkan terhadap aku pun hampir semua kewajibannya telah dia tunaikan dengan hikmah, tidak pernah sekali pun dia bersikap kasar dan berkata-kata keras padaku. Bahkan Kak Arfan terlalu lembut bagiku.

Tapi satu yang belum dia tunaikan yaitu nafkah batinku. Aku sendiri saat mendapat perlakuan darinya setiap hari yang begitu lembutnya mulai menumbuhkan rasa cintaku padanya dan membuatku perlahan-lahan melupakan masa laluku bersama Boby. Aku bahkan mulai merindukannya tatkala dia sedang tidak di rumah. Aku bahkan selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan apa-apa yang dia anjurkannya lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita muslimah, yakni mulai memakai busana muslimah yang syar’i.

Memang dua hari setelah pernikahan kami, Kak Arfan memberiku hadiah yang diisi dalam karton besar. Semula aku mengira bahwa hadiah itu adalah alat-alat rumah tangga. Tapi setelah kubuka, ternyata isinya lima potong jubah panjang berwarna gelap, lima buah jilbab panjang sampai selutut juga berwana gelap, lima buah kaos kaki tebal panjang berwarna hitam dan lima pasang manset berwarna gelap pula. Jujur saat membukanya aku sedikit tersinggung, sebab yang ada dalam bayanganku bahwa inilah konsekuensi menikah dengan seorang ustadz. Aku mengira bahwa dia akan memaksa aku untuk menggunakannya. Ternyata dugaanku salah sama sekali. Sebab hadiah itu tidak pernah disentuhnya atau ditanyakannya.

Kini aku mulai menggunakannya tanpa paksaan siapapun. Kukenakan busana itu agar diatahu bahwa aku mulai menganggapnya istimewa. Bahkan kebiasaannya sebelum tidur dalam mengajipun sudah mulai aku ikuti. Kadang ceramah-ceramahnya di mesjid sering aku ikuti dan aku praktekkan di rumah.

Tapi satu yang belum bisa aku mengerti darinya. Entah mengapa hingga enam bulan pernikahan kami dia tidak pernah menyentuhku. Setiap masuk kamar pasti sebelum tidur, dia selalu mengawali dengan mengaji, lalu tidur di atas hamparan permadani di bawah ranjang hingga terjaga lagi di sepertiga malam, lalu melaksanakan sholat Tahajud. Hingga suatu saat Kak Arfan jatuh sakit. Tubuhnya demam dan panasnya sangat tinggi. Aku sendiri bingung bagaimana cara menanganinya. Sebab Kak Arfan sendiri tidak pernah menyentuhku. Aku khawatir dia akan menolakku bila aku menawarkan jasa membantunya. Ya Allah..apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku ingin sekali meringankan sakitnya, tapi apa yang harus saya lakukan ya Allah..

Malam itu aku tidur dalam kegelisahan. Aku tak bisa tidur mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak. Kudengar Kak Arfan pun sering mengigau kecil. Mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga ia selalu mengigau. Sementara malam begitu dingin, hujan sangat deras disetai angin yang bertiup kencang. Kasihan Kak Arfan, pasti dia sangat kedinginan saat ini. Perlahan aku bangun dari pembaringan dan menatapnya yang sedang tertidur pulas. Kupasangkan selimutnya yang sudah menjulur kekakinya. Ingin sekali aku merebahkan diriku di sampingnya atau sekedar mengompresnya. Tapi aku tak tahu bagaimana harus memulainya. Hingga akhirnya aku tak kuasa menahan keinginan hatiku untuk mendekatkan tanganku di dahinya untuk meraba suhu panas tubuhnya.

Tapi baru beberapa detik tanganku menyentuh kulit dahinya, Kak Arfan terbangun dan langsung duduk agak menjauh dariku sambil berujar ”Afwan dek, kau belum tidur? Kenapa ada di bawah? Nanti kau kedinginan? Ayo naik lagi ke ranjangmu dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit?” pinta kak Arfan padaku. Hatiku miris saat mendengar semua itu. Dadaku sesak, mengapa Kak Arfan selalu dingin padaku. Apakah dia menganggap aku orang lain. Apakah di hatinya tak ada cinta sama sekali untukku. Tanpa kusadari air mataku menetes sambil menahan isak yang ingin sekali kulapkan dengan teriakan. Hingga akhirnya gemuruh di hatiku tak bisa kubendung juga.

”Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku begitu dingin? Kau bahkan tak pernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku? Bukankah aku ini istrimu? Bukankah aku telah halal buatmu? Lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu? Apa artinya diriku bagimu kak? Apa artinya aku bagimu kak? Kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahiku? Mengapa kak? mengapa?” Ujarku disela isak tangis yang tak bisa kutahan.

Tak ada reaksi apapun dari Kak Arfan menanggapi galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu. Yang nampak adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan melirik jam yang menempel di dinding kamar kami. Hingga akhirnya dia mendekatiku dan perlahan berujar padaku:

”Dek, jangan kau pernah bertanya pada kakak tentang perasaan ini padamu. Karena sesungguhnya kakak begitu sangat mencintaimu. Tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri. Apakah saat ini telah ada cinta di hatimu untuk kakak? Kakak tahu dan kakak yakin pasti suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kakak selama ini begitu dingin padamu. Sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya baru kakak kabarkan padamu malam ini. Kau mau tanyakan apa maksud kakak sebenarnya dengan semua ini?” ujar Kak Arfan dengan agak sedikit gugup.

“Iya tolong jelaskan pada saya Kak, mengapa kakak begitu tega melakukan ini padaku? tolong jelaskan Kak?” Ujarku menimpali tuturnya kak Arfan.

“Hhhhhmmm, Dek kau tahu apa itu pelacur? Dan apa pekerjaan seorang pelacur? Afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah di hatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak. Bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata mana kala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat itu. kakak tidak ingin hal itu terjadi padamu dek.

Kau istriku dek, betapa bejatnya kakak ketika kakak harus memaksamu melayani kakak dengan paksaan saat malam pertama pernikahan kita. Sedangkan di hatimu tak ada cinta sama sekali buat kaka. Alangkah berdosanya kakak, bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu malam itu, sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak tetapi ada lelaki lain. Kau tahu dek, sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat datang ke rumahmu untuk memenuhi undangan Bapakmu. Tapi begitu kakak berada di depan pintu pagar rumahmu, kakak melihat dengan mata kepala kakak sendiri kesedihanmu yang kau lampiaskan pada kekasihmu Boby. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau tidak mencintai kakak. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau hanya akan mencintainya selamanya. Saat itu kakak merasa bahwa kakak telah merampas kebahagiaanmu.

Kakak yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu karena terpaksa. Kakak juga mempelajari sikapmu saat di pelaminan. Begitu sedihnya hatimu saat bersanding di pelaminan bersama kakak. Lantas haruskah kakak egois dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu. Sementara tanpa memperdulikan perasaanmu, kakak menunaikan kewajiban kakak sebagai suamimu di malam pertama. Semenatara kau sendiri akan mematung dengan deraian air mata karena terpaksa melayani kakak?

Kau istriku dek, sekali lagi kau istriku. Kau tahu, kakak sangat mencintaimu. Kakak akan menunaikan semua itu manakala di hatimu telah ada cinta untuk kakak. Agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu. Agar kau bisa menikmati apa yang kita lakukan bersama. Alhamdulillah apabila hari ini kau telah mencintai kakak. Kakak juga merasa bersyukur bila kau telah melupakan mantan kekasihmu itu. Beberapa hari ini kakak perhatikan kau juga telah menggunakan busana muslimah yang syar’i. Pinta kakak padamu dek, luruskan niatmu, kalau kemarin kau mengenakan busana itu untuk menyenangkan hati kakak semata. Maka sekarang luruskan niatmu, niatkan semua itu untuk Allah ta’ala selanjutnya untuk kakak.”

Mendengar semua itu, aku memeluk suamiku. Aku merasa bahwa dia adalah lelaki terbaik yang pernah kujumpai selama hidupku. Aku bahkan telah melupakan Boby. Aku merasa bahwa malam itu, aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia. Sebab meskipun dalam keadaan sakit, untuk pertama kalinya Kak Arfan mendatangiku sebagai seorang suami. Hari-hari kami lalui dengan bahagia. Kak Arfan begitu sangat kharismatik. Terkadang dia seperti seorang kakak buatku dan terkadang seperti orang tua. Darinya aku banyak belajar banyak hal. Perlahan aku mulai meluruskan niatku dengan menggunakan busana yang syar’i, semata-mata karena Allah dan untuk menyenangkan hati suamiku.

Sebulan setelah malam itu, dalam rahimku telah tumbuh benih-benih cinta kami berdua. Alhamdulillah, aku sangat bahagia bersuamikan dia. Darinya aku belajar banyak tentang agama. Hari demi hari kami lalui dengan kebahagiaan. Ternyata dia mencintaiku lebih dari apa yang aku bayangkan. Dulu aku hampir saja melakukan tindakan bodoh dengan menolak pinangannya. Aku fikir kebahagiaan itu akan berlangsung lama diantara kami, setelah lahir Abdurrahman, hasil cinta kami berdua.

Di akhir tahun 2008,  Kak Arfan mengalami kecelakaan dan usianya tidak panjang. Sebab Kak Arfan meninggal dunia sehari setelah kecelakaan tersebut. Aku sangat kehilangannya. Aku seperti kehilangan penopang hidupku. Aku kehilangan kekasihku. Aku kehilangan murobbiku, aku kehilangan suamiku. Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa kebahagiaan bersamanya begitu singkat. Yang tidak pernah aku lupakan di akhir kehidupannya Kak Arfan, dia masih sempat menasehatkan sesuatu padaku:

“Dek.. pertemuan dan perpisahan itu adalah fitrahnya kehidupan. Kalau ternyata kita berpisah besok atau lusa, kakak minta padamu Dek.., jaga Abdurrahman dengan baik. Jadikan dia sebagai mujahid yang senantiasa membela agama, senantiasa menjadi yang terbaik untuk ummat. Didik dia dengan baik Dek, jangan sia-siakan dia.

Satu permintaan kakak.., kalau suatu saat ada seorang pria yang datang melamarmu, maka pilihlah pria yang tidak hanya mencintaimu. Tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita.

Maafkan kakak Dek.., bila selama bersamamu, ada kekurangan yang telah kakak perbuat untukmu. Senantiasalah berdoa.., kalau kita berpisah di dunia ini..Insya Allah kita akan berjumpa kembali di akhirat kelak . Kalau Allah mentakdirkan kakak yang pergi lebih dahulu meninggalkanmu, Insya Allah kakak akan senantiasa menantimu..”

Demikianlah pesan terakhir Kak Arfan sebelum keesokan harinya Kak Arfan meninggalkan dunia ini. Hatiku sangat sedih saat itu. Aku merasa sangat kehilangan. Tetapi aku berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga Abdurrahman dengan baik. Selamat jalan Kak Arfan. Aku akan selalu mengenangmu dalam setiap doa-doaku, amiin. Wasallam”

NB : Kisah Nyata dari Akhwat di Gorontalo, Sulawesi Utara

Sumber : Akhwat Muslimah

Rabu, 30 Maret 2016

Nikahilah Wanita Seperti Ini, Pernikahanmu Pasti Bahagia!

 perempuan diseleksi karna 4 hal. Fisik, harta, keturunan, dan juga agama. walaupun seseorang pria dibolehkan buat memilah karna 4 perihal ataupun salah satu di antaranya, terdapat kaidah sangat berarti yang jadi penentu senang ataupun tidaknya suatu pernikahan.

“Orang yang mengutamakan kriteria agama,” tutur Drs Muhammad Thalib dalam mengarah perkawinan Islami, “dijamin oleh Allah Ta’ala hendak memperoleh kebahagiaan dalam berkeluarga.”

Bagi seseorang laki - laki, mutu agama calon istrinya sangat penting. Tidak boleh ditatap sembari lalu. walaupun nanti jadi pemimpin rumah tangga, kesuksesannya sangat bergantung dengan mutu ketaatan seseorang istri yang dasarnya merupakan bagusnya mutu agama.

Seorang istri yang bagus uraian agamanya hendak lebih gampang diatur dan juga diajak melaksanakan kebaikan di banding perempuan yang sama sekali tidak tahu, acuh, terlebih lagi menentang ajaran - ajaran dalam agamanya.

Seorang pria sebaiknya mencermati mutu agama istrinya dari perihal berikut.

Kualitas ketaatannya. Apakah ia teruji bagaikan seseorang Muslimah yang
taat melangsungkan perintah Allah Ta’ala dan juga Rasulullah? ciri utamanya, dia bergegas, rajin, dan juga terdepan dalam melaksanakan ibadah ritual, selayak melangsungkan shalat 5 waktu, puasa wajib, berbakti kepada orang tua, dan juga kewajiban - kewajiban lainnya.

Sebagai suatu kesatuan tidak terpisahkan, seseorang Muslimah yang taat hendak senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan syirik, maksiat, dan juga dosa - dosa, dari yang terkecil sampai yang amat besar. Tiada kompromi dalam soal dosa. Dijauhi seluruhnya. Ditolak. Tidak mendekat. ia tetap melindungi diri dengan memohon proteksi kepada Allah Ta’ala.

Agar tidak tertipu, seseorang pria sebaiknya melaksanakan penialain dengan cermat. tidak hanya mengamati secara sembunyi - sembunyi dengan senantiasa melindungi nilai syar’i, trik lain yang dapat ditempuh merupakan bertanya tentang perihal ini kepada wali, keluarga dekat, tetangga, teman waktu sekolah, dan juga sahabat di tempat kerjanya.

“Laki - laki yang menghendaki membangun rumah tangga yang senang dan juga sejahtera di dunia dan juga akhirat hendaklah memilah wanita yang taat beragama buat diperuntukan istri,” pungkas Drs Muhammad Thalib menarangkan kriteria kesatu seseorang istri idaman, yakni wujud yang beragama Islam.

Penting dicatat untuk seseorang calon suami, kalau mutu istri tidak jauh beda dengan mutu dirinya. bila menghendaki seseorang istri shalihah, dia terlebih dulu wajib bersungguh - sungguh jadi seseorang pria yang shalih.

Wallahu a’lam. [Keluargacinta] 


Sumber:
http_www_muslimsatu_com/2016/01/nikahilah-wanita-seperti-ini.html

Kamis, 25 Februari 2016

Menikah Dengan Kerabat Dekat Itu Berbahaya, Mengapa? Berikut Penjelasannya..

 LARANGAN menikah dengan saudara dekat ataupun kerabat nyatanya benar terdapat iktikad tertentu yang ada di dalamnya. Larangan ini telah teruji lewat cerita desa Kush di Mesir. karna perkawinan di situ terhitung teramat mahal, menyebabkan warga di desa Kush menikahkan anak – anaknya dengan saudara dekat dan juga sepupunya. Yang kesimpulannya melahirkan generasi yang 60 % dari keturunannya itu cacat. Berita ini dikutip dari tulisan laporan dengan oplah terbanyak di Mesir, setiap hari angkatan laut (AL) – Ahram.

Selain peristiwa di Mesir tadi, pula sempat terjalin pada era Khalifah Umar bin Khathab. mengalami mata kanan dari sebagian golongan suku Quraisy lemah fisiknya. memandang keanehan itu lalu Umar juga bertanya, “Mengapa kamu terhina? ” Mereka menjawab, “Bapak – ayah dan juga bunda – bunda kami merupakan saudara dekat.” Umar berkata “Benar kalian!”

Kemudian Imam Syafi’i pula sempat menegaskan hal - hal bahayanya menikah dengan orang yang berasal dari saudara dekat. “Jika seorang menikahi perempuan dari golongan keluarganya sendiri, hingga mungkin besar anaknya memiliki energi pikir yang lemah.”

Jika menyimak dari dunia kedokteran, seseorang ilmuwan ilmu genetika dari University of Hawaii, Debra Lieberman mengemukakan, ”Pernikahan dengan kerabat kandung ataupun kerabat yang amat dekat dapat tingkatkan secara tajam mungkin memperoleh 2 kopian gen yang merugikan, dibanding bila menikah dengan orang yang berasal dari luar keluarga.”

Selain kerugian dari hasil yang diperoleh, kerugian lain pula yang mencuat merupakan tidak hendak menaikkan jalinan kekerabatan yang baru dengan orang lain, dan juga tidak memperluas ikatan persaudaraan antar umat muslim.