Tampilkan postingan dengan label berkah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berkah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Mei 2016

MasyaAllah..Berkah Menyantuni Anak Yatim, Di Terima Jadi PNS dan Hamil Setelah 8 Tahun Penantian

Anugerah Melimpah Berkah Anak Yatim. Kisah berikut di tuturkan astria, seorang PNS di sebuah instansi pemerintah. Ia menuturkan beragam anugerah yang di dapatnya sejak menyantuni seorang anak yatim.

Awalnya ia adalah seorang ustadzah sebuah TPA ( Taman Pendidikan Al-qur’an) ,yang jika menghitung gaji tentu saja sangat kecil, tak cukup untuk kehidupan sehari-hari. Namun hal itu ia nikmati, sebagai bentuk pengabdian pada agama, dan karena ia sangat menyayangi anak-anak.

Hingga suatu ketika ia terenyuh pada nasib salah seorang santri TPA yang yatim, dan bertekad membiayai sekolahnya hingga lulus.

Hal itu ia lakukan selama kurang lebih dua tahun, tanpa ada seorang pun yang tahu. Tak disangka, ketika ia iseng-iseng melamar untuk menjadi PNS . Alhamdulillah ia di terima. Dan beberapa bulan setelah itu, ia hamil setelah hampir delapan tahun menanti si kecil.




(sumber: cerminan.com)

Selasa, 10 Mei 2016

Masya Allah,Benarkah Bila Anak Pertama Itu Perempuan, Jadi Lebih Berkah

Karena anak adalah hibah dari Allah, sementara manusia hanya bisa meminta. Sehingga yang lebih penting adalah berusaha mensyukuri kehadiran semua anaknya.

“Hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. as-Syura: 49)

Dalam ayat ini, ketika Allah menceritakan nikmat anak yang Allah berikan kepada hamba-Nya, Allah awali dengan anak perempuan, baru anak lelaki.

Sebagian ulama memahami, urutan ini bukan tanpa makna. Artinya, bisa jadi mereka yang dikaruniai Allah anak perempuan sebagai anak pertama, itu merupakan tanda kebaikan untuknya.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya membawakan keterangan sahabat Watsilah bin al-Asqa’,

“Bagian dari keberkahan wanita, ketika dia melahirkan anak pertamanya berjenis kelamin perempuan, sebelum anak laki-laki. Karena Allah berfirman, (yang artinya): “Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki”. Dalam ayat ini Allah mulai dengan anak perempuan.” (Tafsir al-Qurthubi, 16/48).
Hadisnya Dhaif

Terdapat riwayat yang marfu’ dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa keberkahan wanita, ketika anak pertamanya perempuan. Namun semua riwayat marfu’ ini statusnya dhaif.

Diantaranya, disebutkan asy-Syaukani dalam tafsirnya, riwayat yang dibawakan Ibnu Mardawaih dan Ibnu Asakir dari Watsilah bin Asqa’ secara marfu’,

“Bagian dari keberkahan wanita, anak pertamanya perempuan. Karena Allah berfirman (yang artinya), “Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Fathul Qadir, 4/776)

Demikian pula diriwayatkan ad-Dailami dalam musnadnya dari Aisyah secara marfu’,

“Bagian dari keberkahan wanita kepada suaminya, mahar yang murah dan anak pertama perempuan”. (hadis ini di-dhaif-kan as-Sakhawi dalam al-Maqashid al-Hasanah).

Terlepas dari status hadisnya yang bermasalah, anak adalah anugrah dari Allah. Sementara manusia tidak memiliki pilihan untuk menentukan jenis kelamin buah hatinya. Karena anak adalah hibah dari Allah, sementara manusia hanya bisa meminta. Sehingga yang lebih penting adalah berusaha mensyukuri kehadiran semua anaknya.

Para ulama menilai keberuntungan bagi yang memiliki anak perempuan, untuk membangun sikap optimis terhadap setiap anugrah yang Allah berikan. Agar jangan sampai muncul perasaan sial, seperti yang diyakini masyarakat jahiliyah.

Allah ceritakan karakter mereka dalam al-Qur’an,

“Apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. ( ) Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?.” (QS. an-Nahl: 58 – 59) (ukthiindo)



(sumber: yangunik.com)

Senin, 25 April 2016

5 Tanda Keluarga yang Diberkahi Allah

Dalam pengantar Manhaj Tarbiyah Nabawiyah Lith Thifli (Cara Nabi Mendidik Anak), Muhammad Ibnu Abdu Hafidh Suwaid mendahuluinya dengan mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Daruquthni tentang 5 tanda keluarga yang diberkahi Allah.

“Apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap sebuah keluarga,” demikian terjemahan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Anas ini, “Allah berikan kepada mereka kepahaman dalam agama, yang muda menghormati yang tua, kasih sayang menjadi anugerah dalam kehidupan mereka, pengeluaran mereka ekonomis dan diberi kemampuan untuk mengetahui aib diri lalu bertaubat dari kesalahannya. Sebaliknya, jika Allah menghendaki selain itu, mereka dibiarkan begitu saja.”


Paham agama

Tanda pertama sebuah keluarga diberkahi Allah, diberikan kebaikan oleh Allah, adalah anggota-anggota keluarga tersebut diberikan pemahaman agama oleh Allah. Orang tua mau mengaji, anak-anak mau mengaji, bahkan mungkin ke pesantren. Suka ke majelis taklim, aktif tarbiyah dan sebagainya. Yang melalui jalan-jalan itu mereka memahami Islam. Bukan sekedar tahu, tetapi paham yang terwujud dalam pengamalan.


Yang muda menghormati yang tua

Di zaman sekarang, banyak anak yang tak punya adab ke orang tua. Tidak sedikit pula istri yang tidak hormat pada suaminya. Keluarga itu baik, salah satu tandanya adalah yang muda menghormati yang tua. Anak hormat pada orang tuanya, adik hormat pada kakaknya, istri hormat pada suaminya.


Penuh kasih sayang

Keluarga yang berlimpah kebaikan bukanlah keluarga yang kaya secara materi. Tidak sedikit keluarga yang kaya secara materi tetapi gersang dari kebahagiaan karena minim kasih sayang. Orang tua sibuk tak punya waktu untuk membersamai anak-anaknya. Suami dan istri jarang komunikasi, sering berselisih, bertengkar hingga selingkuh karena rapuhnya ikatan kasih sayang. Tanda keluarga yang baik, kasih sayang menjadi landasan interaksi dan menu sehari-hari.


Pengeluaran ekonomis

Mengatur keuangan keluarga itu kuncinya dua; memperbesar pemasukan dan menghemat pengeluaran. Ada keluarga yang pemasukannya besar tapi masih gali lubang tutup lubang. Rupanya mereka terjebak pada anggaran yang tak perlu; tersebab gengsi dan gaya hidup mewah. Keluarga yang baik, salah satu tandanya adalah pengeluarannya ekonomis. Mereka berhemat untuk hal-hal yang bersifat konsumtif demi amal maliyah seperti infaq dan sedekah.


Muhasabah dan taubat nasuha

Tak ada orang yang pernah melakukan dosa dan kesalahan. Termasuk dalam keluarga. Mungkin dosa kepada Allah, atau zalim terhadap anggota keluarga. Orangtua melakukan kesalahan pada anaknya, istri melakukan kesalahan pada suaminya, atau suami melakukan kesalahan istrinya. Jika mereka cepat menyadari kesalahan, mengetahui aibnya masing-masing lalu bertaubat dan memperbaiki diri, itulah tanda keluarga yang diberkahi. Tapi jika masing-masing mengedepankan egonya, merasa selalu benar dan yang lain salah, melakukan dosa tak mau bertaubat, Allah membiarkan mereka tetap dalam dosa dan maksiat, itu benar-benar musibah besar.



[Sumber: Muchlisin BK/Webmuslimah.com]

Minggu, 24 April 2016

MasyaAllah..Berkah Menyantuni Anak Yatim Di Terima Jadi PNS dan Hamil Setelah 8 Tahun Penantian

Anugerah Melimpah Berkah Anak Yatim. Kisah berikut di tuturkan astria, seorang PNS di sebuah instansi pemerintah. Ia menuturkan beragam anugerah yang di dapatnya sejak menyantuni seorang anak yatim.

Awalnya ia adalah seorang ustadzah sebuah TPA ( Taman Pendidikan Al-qur’an) ,yang jika menghitung gaji tentu saja sangat kecil, tak cukup untuk kehidupan sehari-hari. Namun hal itu ia nikmati, sebagai bentuk pengabdian pada agama, dan karena ia sangat menyayangi anak-anak.

Hingga suatu ketika ia terenyuh pada nasib salah seorang santri TPA yang yatim, dan bertekad membiayai sekolahnya hingga lulus.

Hal itu ia lakukan selama kurang lebih dua tahun, tanpa ada seorang pun yang tahu. Tak disangka, ketika ia iseng-iseng melamar untuk menjadi PNS . Alhamdulillah ia di terima. Dan beberapa bulan setelah itu, ia hamil setelah hampir delapan tahun menanti si kecil.



(Sumber: cerminan.com)

Minggu, 17 April 2016

Benarkah Anak Pertama Perempuan, Lebih Berkah?

Karena anak adalah hibah dari Allah, sementara manusia hanya bisa meminta. Sehingga yang lebih penting adalah berusaha mensyukuri kehadiran semua anaknya.

13043748_978042955577197_1392866505219600455_n-2

“Hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. as-Syura: 49)

Dalam ayat ini, ketika Allah menceritakan nikmat anak yang Allah berikan kepada hamba-Nya, Allah awali dengan anak perempuan, baru anak lelaki.

Sebagian ulama memahami, urutan ini bukan tanpa makna. Artinya, bisa jadi mereka yang dikaruniai Allah anak perempuan sebagai anak pertama, itu merupakan tanda kebaikan untuknya.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya membawakan keterangan sahabat Watsilah bin al-Asqa’,

“Bagian dari keberkahan wanita, ketika dia melahirkan anak pertamanya berjenis kelamin perempuan, sebelum anak laki-laki. Karena Allah berfirman, (yang artinya): “Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki”. Dalam ayat ini Allah mulai dengan anak perempuan.” (Tafsir al-Qurthubi, 16/48).

Hadisnya Dhaif

Terdapat riwayat yang marfu’ dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa keberkahan wanita, ketika anak pertamanya perempuan. Namun semua riwayat marfu’ ini statusnya dhaif.

Diantaranya, disebutkan asy-Syaukani dalam tafsirnya, riwayat yang dibawakan Ibnu Mardawaih dan Ibnu Asakir dari Watsilah bin Asqa’ secara marfu’,

“Bagian dari keberkahan wanita, anak pertamanya perempuan. Karena Allah berfirman (yang artinya), “Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Fathul Qadir, 4/776)

Demikian pula diriwayatkan ad-Dailami dalam musnadnya dari Aisyah secara marfu’,

“Bagian dari keberkahan wanita kepada suaminya, mahar yang murah dan anak pertama perempuan”. (hadis ini di-dhaif-kan as-Sakhawi dalam al-Maqashid al-Hasanah).

Terlepas dari status hadisnya yang bermasalah, anak adalah anugrah dari Allah. Sementara manusia tidak memiliki pilihan untuk menentukan jenis kelamin buah hatinya. Karena anak adalah hibah dari Allah, sementara manusia hanya bisa meminta. Sehingga yang lebih penting adalah berusaha mensyukuri kehadiran semua anaknya.

Para ulama menilai keberuntungan bagi yang memiliki anak perempuan, untuk membangun sikap optimis terhadap setiap anugrah yang Allah berikan. Agar jangan sampai muncul perasaan sial, seperti yang diyakini masyarakat jahiliyah.

Allah ceritakan karakter mereka dalam al-Qur’an,

“Apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. ( ) Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?.” (QS. an-Nahl: 58 – 59)



(Sumber: situsmuslim.com)

Sabtu, 26 Maret 2016

INILAH RAHASIA MENDOAKAN ORANG TUA YANG BEGITU DAHSYAT

Seandainya kita ketahui keberkahan didalam mendoakan orang tua, hingga tiap hari kita tidak hendak ingin melepaskannya kecuali doa itu pula hendak kita haturkan terhadap kedua orang tua kita.

Doa anak buat orang tuanya tercantum penggalan dari "birrul walidayn" baktinya seseorang anak terhadap orang tua.

Hal ini pula hendak mengalir dalam genetika generasi selanjutnya, bila kita berbakti kepada kedua orang tua, secara tidak langsung kita mulai merangkai membikin anak generasi kita pula hendak berbakti kepada kita kedepannya.

Sesuai penjelasan hadits yang diriwayatkan at - Thabraniy:
(بروا آباءكم تَبرَّكُم أبناؤكم). حديث حسن رواه الطبراني

"Berbaktilah kepada orang tua, tentu anak - anakmu pula hendak berbakti kepadamu".

Pernah sesuatu ketika:
جاء رجل إلى أمير المؤمنين علي عليه السلام يشكو له الفقر وقلة الرزق
Datang seorang kepada Sayyidina Ali mengeluhkan kemiskinan dan juga ketiadaan rezeki;

فقال له :لعلك تتكلم على الخلاء؟ قال الرجل: لايكون ذلك يا أمير المؤمنين
Maka dia tanyakan;
Apakah kalian suka berdialog dikala di kamar mandi ?
"Tidak." katanya.

قال :لعلك تقلم اظفارك باسنانك؟ قال الرجل: لايكون ذلك
Apakah kalian suka menggigit kukumu ?
"Tidak."

قال: لعلك تسمي أبويك باسميهما ؟ قال الرجل: لا يكون ذلك
Apakah kalian memanggil kedua orang - tuamu dengan nama mereka ?
"Tidak."

قال: لعلك تترك القمامة ليلا فى دارك ؟ قال الرجل: لايكون ذلك
Apakah kalian membiarkan sampah bermalam dalam rumah ?
"Tidak."

قال: لعلك تنام من غير وضوء ؟ قال الرجل: لايكون ذلك
Apakah kalian kerap tidur tanpa wudhu ?
"Tidak."

قال: لعلك تتقدم ابويك فى المشي ؟ قال الرجل: لايكون ذلك
Apakah kalian suka berjalan mendahulukan jalannya orang - tuamu ke depan ?
"Tidak."

قال: لعلك تكنس دارك ليلا ؟ قال الرجل: لايكون ذلك ..
Apakah kalian kerap menyapu rumah di malam hari?
"Tidak."

قال: لعلك تقلم اظفارك يوم الاحد؟ قال الرجل: لايكون ذلك
Apakah kalian memotong kuku di hari minggu?
"Tidak"

قال: لعلك تديم اللعن على ابنائك؟ قال الرجل: لايكون ذلك يا أمير المؤمنين
Apakah kalian kerap mengutuk anak2mu?
"Tidak."

قال: لعلك تلقي بالبصاق فى بيت الخلاء ؟ قال الرجل: لايكون ذلك
Apakah kalian terus membuang ludah ke kamar mandi?
"Tidak"

قال: لعلك تترك اسم الله على الطعام؟ والحمد فى آخره ؟ قال الرجل: لايكون ذلك
Apakah kalian tidak ucap bismillah saat sebelum makan maupun Alhamdulillah setelahnya?
"Tidak."

فقال: لعلك لاتدعو لابويك فى الصلاة ؟ قال: الرجل نعم يا أمير المؤمنين هو ذلك
Mungkin kalian tidak mendoakan kedua orang - tuamu dikala shalat ?

"Iya benar wahai Amirul Mu'miniinitulah. ketiadaan saya."

ربي اغفر لي ولوالداي وللمؤمنين يوم يقوم الحساب

SILAHKAN LIKE/SHARE/BAGIKAN, mudah - mudahan berguna dan juga mudah - mudahan kita menemukan kanak - kanak yang sholeh/sholehah.

Fp: Alhabib Quraisy Baharun



sumber: ©SuaraNetizen_com