Tampilkan postingan dengan label bapak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bapak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Mei 2016

Wanita Ini Menunjukkan Ketulusan Cinta Seorang Anak Kepada Ayahnya

buat terus dapat mengasihi seorang dengan kesabaran merupakan suatu yang sulit dicoba.
kasih sayang merupakan kerasa yang mencuat dari hati yang tulus buat menyayangi, mengasihi, dan membagikan kebahagian seluruhnya.

perasaan sayang hendak terjalin, bila kita kenali dekat dengan seorang. serupa dalam keluarga kasih sayang amat diperlukan, baik kasih sayang orang tua kepada anak maupun kebalikannya.

kata kasih sayang hendak tidak bermakna bila tidak diimbangi dengan perbuatan. serupa trik perempuan berbaju kuning yang satu ini, yang lagi menggendong bapaknya.

roda benar berbalik, bila dahulu si bapak kerap menggendongnya waktu kecil saat ini saatnya dia yang menggendong si bapak yang tidak sanggup berjalan karna usia.

begitu inspiratif triknya mengasihi si bapak paling utama buat kanak - kanak yang lebih memilah meninggalkan orang tua mereka di umur tua dan juga membiarkan teman mengasuh orang tua mereka.

dalam serangkaian photo berbarengan yang dibagikan ke media sosial facebook, perempuan ini nampak tulus melaksanakan aktivitas tersebut, dengan tersenyum lebar dikala lagi menggendong dan juga tuntas memandikan si bapak.




(sumber: cerminan.com)

Kamis, 21 April 2016

Walaupun Beda Agama, Sang Ayah Tetap Membiayai Anaknya Sekolah Di Pesantren

Papua – Perbedaan agama dan kepercayaan kerap sekali menjadi perdebatan sensitif yang tak kunjung ada habisnya. Tak jarang perbedaan tersebut sampai mengakibatkan bentrok bahkan menimbulkan korban nyawa melayang.


Namun kisah keharmonisan cinta dan kasih sayang seorang ayah dari Papua ini, harusnya bisa membantah bahwa perbedaan agama dan kepercayaan adalah pemicu perdebatan dan konflik antar penganutnya. Karena oleh agama apapun, perpecahan dan perkelahian memang tidak pernah dibenarkan.

Kisah ini diceritakan oleh Abdul Wahab, salah seorang pemuda yang saat ini sedang menjalani pengabdian di Papua, sebagai salah seorang pengajar agama. Ia menceritakan di tempat tinggalnya saat ini. Ada sebuah potret keharmonisan yang luar biasa, antara orangtua dan anak yang berbeda agama dan keyakinan.

Anak kecil tersebut ialah Rudi, seorang bocah kecil yang memilih untuk memeluk agama Islam, padahal ayah Rudi
merupakan umat beragama Kristen. Kendati berbeda keyakinan, ayah Rudi tak mempermasalahkannya, ia tetap menyayangi anaknya sebagaimana mestinya seorang ayah menyayangi anaknya.

“Meski beda agama keharmonisan anak dan orangtua di Papua ini tidak sedikitpun menimbulkan sebuah masalah dalam kehidupan sehari,” ujar Wahab menceritakan kisah tersebut di akun sosial medianya, seperti dikutip brilio.net, Senin 18 April 2016.

Tak hanya diperbolehkan memeluk agama yang berlainan dengan ayahnya, bahkan Rudi juga diizinkan oleh ayahnya untuk menimba ilmu agama Islam di Pondok Pesantren Al Payage, salah satu pondok pesantren di tanah Papua.

Tentu saja potret seperti ini jelas menohok orang-orang yang selalu menyebar fitnah dan perpecahan atas nama agama. Kisah ini sekaligus menunjukkan betapa perbedaan suatu agama tidak menjadi sebuah sekat dalam keluarga.

“Rudi yang setiap hari mengaji, mendengar petuah gurunya Saiful Islam di pondok dan ia juga mengerti betul pentingnya akhlak terhadap orangtua meski berbeda Agama,” imbuh Wahab yang menjadi salah seorang pengajar di pondok Payage tersebut.

Dari kisah ini, seharusnya manusia belajar bahwa sudah sepatutnya seseorang menjunjung tinggi rasa kemanusiaan dan persaudaraan yang lebih mendalam dan lebih mendasar dibandingkan kepentingan apapun. Sebab rasa kemanusiaan harusnya tidak dibatasi oleh baju luar dan sekat-sekat primordial seperti agama, suku, ras, bahasa, jenis kelamin, dan sebagainya.



(Sumber: Brilio.net)

Selasa, 12 April 2016

Tidak Akan Miskin Orang yang Membelanjakan Hartanya Untuk Menyenangkan Kedua Ibu Bapanya

Bila seseorang bersedekah kepada Ibu Bapaknya, maka tidak terhitung besar pahala yang akan diperoleh orang itu dari Allah Azza Wa Jalla kelak di akherat.  Sementara di dunia orang tersebut akan mendapatkan barokah dan rahmat Allah serta rezeki yang berlimpah sebagai bonus dari-Nya.


Tiada satupun sia2 saat kita keluarkan sebagian rezeki
kita untuk membahagiakan mereka. Bila ada rezeki yg lebih, tidak akan rugi bila kita berikan pada mereka. Karna sebanyak apapun harta yg kita berikan pada mereka.

Tidak akan mampu menggantikan rasa sakit saat ibu mengandung, pertaruhan nyawa saat melahirkan, susahnya merawat, perjuangan dalam menjaga serta waktu dalam mendidik kita. Begitupun dengan Bapak.

Tidak akan bisa kita menggantikan rasa sakit semasa ia muda bekerja pagi sampai malam, lelahnya mencari nafkah untuk biaya sekolah, uang jajan, dan kebutuhan kita. Agar kita tumbuh menjadi anak yg sehat, kuat, cerdas dan shaleh. Maka... jangan pelit untuk menyenangkan hati mereka. Berikanlah kebaikan2 pada mereka, selagi mereka masih ada didunia. Jika mereka telah tiada... tiada guna harta kita. Karna mereka tak bisa menikmatinya. Hanya doa dan akhlak.

Sumber : mulpix_com