Tampilkan postingan dengan label mertua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mertua. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juli 2016

Surat Untuk Menantuku, Yang Nanti Akan Mendampingi Putriku

entah siapa yang hendak terlebih dulu tiba menemuiku. apakah kau yang dengan berani memohon putriku dan juga mengambil alih tugasku bagaikan seseorang bapak. ataupun malaikat maut yang tiba berikan ketahui bahwa tugasku di dunia sudah tuntas dan juga waktuku buat berulang sudah datang.

tulisan buat calon menantuku, yang nanti hendak mendampingi putriku


tulisan ini terencana bapak buat, untukmu wahai menantuku. jangan sempat cemas buat menemuiku, karna kita bersama seseorang pria dan juga bapak juga sempat muda serupa mu. datanglah ke rumah, dan juga ceritakan seluruh suatu tentang dirimu. dan juga bapak hendak dengan bahagia hati berbagi cerita tentang keluarga dan juga hidup gadis bapak tercinta.

gadis bapak adalan anak yang amat mandiri, tetapi sering - kali ia amat manja kepada seorang yang ia cintai. jangan tanyakan ia dapat masak ataupun tidak, sudah tentu masakannya sudah sama lezat dengan ibunya. ia berupaya keras cuma buat memperoleh hatimu, dan juga pastinya bunda yang baik untuk anak - anakmu. ia ingin kau senantiasa menyantap masakan lezat yang kau gemari selepas letih bekerja, ia mau anak - anaknya berkembang sehat dengan masakan yang baik.

tahu lah wahai menantuku, ia kerap menayakan gimana bapak dan juga bunda dapat berjumpa dan juga mengawali rumah tangga. ia kerap terbangun di sepertiga malam dan juga menitikan air mata dalam sujudnya memohon seorang yang baik dan juga sholeh. serupa seperti itu rindunya kepadamu, seorang yang ia seorang diri belum tau sebelumnya. dan juga bapak harap itu merupakan dirimu, jawaban dari seluruh doa dan juga pinta gadis bapak tercinta.

bahwa ia marah ataupun lagi tidak lezat hati, jangan balas dengan kemarahan pula. coba kamu bicarakan dengan hati tenang, dan juga kepala dingin. bisa jadi terdapat pinta yang belum terberi, terdapat harap yang belum terbalas, terdapat cemburu yang tiba menderi, ataupun terdapat kata yang susah terucap. begitulah perempuan dengan seluruh keunikannya. dan juga bapak harap kau paham..

bapak tidak sempat mensyaratkan harta yang melimpah bagimu, pendidkan yang besar, ataupun pangkat bagaikan pejabat. bapak cuma memohon buat melindungi gadis bapak dari panasnya api neraka dan juga munafiknya kehidupan dunia. bimbinglah ia dalam takwa, jaga ia dalam iman, dan juga bekerjalah serupa seseorang pemimpin yang tidak ingin memandang tangis ketiadaan. tetapi yakinlah, bapak senantiasa menanamkan kerasa syukur kepada gadis bapak.

saat ini bapak titipkan gadis yang amat bapak cintai kepadamu. jangan sempat buat hatinya terluka, karna hati ayahpun hendak merasa sakit bila gadis bapak meneteskan air mata. jangan hingga terucap kata perpisahan, sehabis banyak doa yang kau miliki dari tiap tamu undangan yang tiba. cintailah ia karna allah, karena tidak hendak terdapat sebab cinta itu lenyap karna raga yang menua ataupun harta yang menurun. dan juga mudah - mudahan cinta kamu di abadikan hingga surga - nya.


bapak mertuamu, . . .






(sumber: jomloo_com)

Senin, 23 Mei 2016

Wahai Menantuku, Kini Kupasrahkan Putriku Yang Telah Kujaga Hampir Separuh Hidupku Kepadamu

wahai para suami, maupun para calon suami, istrimua merupakan pendampingmu. coba renungkan tulisan dari seseorang bapak ini. bapak yang rela melepas gadis kesayangannya buat diperuntukan pasangan hidup kamu, selamanya.. .


karna nanti, bila kau mempunyai gadis kecil, nanti kau hendak bisa jadi merasakan perihal yang sama.. .

***

dikala kesatu kali gadis kecil kami terlahir di dunia, ia jadi simbol kebahagiaan untuk kami, orang tuanya. senang yang tiada tara kami rasakan karenanya. kami menjaganya siang dan juga malam, hingga kami melupakan kondisi diri seorang diri. kami siuman, benar seharusnyalah serupa itu kewajiban orang tua.
kami besarkan ia dengan segenap jiwa dan juga raga. kami didik dengan semaksimal ilmu yang kami memiliki. dan juga kami jaga ia dengan penuh kehati - hatian.

dan juga waktupun berlalu…

ia saat ini telah jadi sesosok wanita yang menawan. betapa bangga kami memilikinya. kami berpikir, betapa kilat waktu lalu, dan juga terbersit dalam hati kami buat senantiasa menahannnya disini. bukan bermaksud meletakkan ego kami atas hidupnya, tetapi bagaikan orang tua, siapa yang mampu berpisah dari anaknya. gadis kesayangannnya.

tetapi, …

hari ini, kesimpulannya tiba pula. dikala dimana kami wajib melihatnya terbalut dalam baju menawan, ialah gaun pengantinnya. wanita kecil kami telah berkembang berusia. dan juga seusai ijab kabul ini, kau lah saat ini yang jadi penjaganya. mengambil alih kami. ayo ikatkan tanganmu kepadanya.

waktu kesimpulannya memforsir kami berpisah dengannya. meski kau merupakan orang yang asing dan juga baru sebentar dikenalnya, sebaliknya kami merupakan orang tuanya yang telah mempertaruhkan seluruh yang kami memiliki untuknya. tetapi, tidak terdapat sama sekali kemarahan kami atas dirimu, menantuku. tetapi ijinkan kami sedikit meluapkan kesedihan atas seseorang putri
kami yang wajib jauh meninggalkan kami, karna wajib mengikutimu. kamipun tidak hendak keluhan kepadamu, karna mulai hari ini, ia wajib mengutamakan kau diatas kami.

tolong, jangan beratkan hatinya, karna sesungguhnya juga hatinya telah berat buat meninggalkan kami dan juga cuma mengabdi kepadamu. serupa perihal nya anak yang mau berbakti kepada orang tua, juga demikian dengannya. kami tidak keberatan apabila wajib seorang diri, tanpa terdapat wanita kecil kami dahulu yang senantiasa menemani dan juga membantu kami pada waktu tua.
kami menikahkanmu dengan anak wanita kami dan juga membagikan kepadamu dengan cuma - hanya, kami cuma meminta buat ia senantiasa kau jaga dan juga kau bahagiakan.

jangan sakiti hatinya, karna perihal itu berarti pula hendak menyakiti kami. ia kami besarkan dengan segenap jiwa raga, buat jadi penopang harapan kami pada waktu depan, buat mengangkut kehormatan dan juga derajat kami. tetapi saat ini kami wajib menitipkannya kepadamu. kami bukanlah keberatan, karna berarti terjagalah kehormatan gadis kami.

bila kau tidak berkenan atas kekurangannya, ingatkanlah ia dengan trik yang baik, mohon jangan sakiti ia, sekali lagi, jangan sakiti ia.

sesuatu dikala ia menangis karna terasa kasihan dengan kami yang mulai menua, tetapi wajib seorang diri berdua disini, tanpa terdapat kehadirannya lagi. mengerti kah engkau wahai menantuku, kalau kau juga mempunyai orang tua, juga dengan istrimu ini. dikala kau perintahkan ia buat menemani orang tuamu disitu, sempatkah kau berpikir betapa luasnya hati istrimu? ia mempertaruhkan egonya seorang diri buat senantiasa berposisi disamping orang tuamu, melindungi dan juga mengasuh mereka, lagi kami ketahui betapa berkecil hati ia karna dengan itu berarti orang tuanya seorang diri, wajib seorang diri. sama sekali tiada keluh kesah darinya tentang seluruh itu, karna seluruh merupakan buat menepati kewajibannya kepada allah.

ia mementingkan dirimu dan juga cuma dapat mengirim doa kepada kami dari jauh. jujur, berkecil hati hati kami dikala jauh darinya. tetapi apalah energi kami, benar sudah masa sepatutnya serupa itu, kau lebih berhak atasnya dari pada kami, orang tuanya seorang diri.
hingga hargailah ia yang telah dengan rela mengabdi kepadamu. hingga hiburlah ia yang telah membikin keputusan yang sedemikian susah. hingga sayangilah ia atas seluruh pengorbanannya yang cuma demi dirimu. begitulah cantiknya gadis kami, mudah - mudahan kau mengenali betapa berharganya istrimu itu, bila kau menyadari.





(sumber: perindusurga.com)

Inilah Dosa dan Hukuman Untuk Istri Yang Tidak Mau Mengunjungi Mertuanya

dikala seorang perempuan sudah legal buat bersanding dengan seorang lelaki, jadi statusnya bergeser jadi seorang istri. dan keharusan bagaikan seorang istri merupakan mentaati suaminya. tercantum pula buat tinggal dan simaklah seluruh ketentuannya, segali itu masihlah terdapat dalam tuntunan syariat islam. tidak hanya berlaku baik pada suami, si istri pula mesti berperilaku baik pula pada keluarga suami, tercantum pula ke - 2 orang tuanya, bagaikan mertua buat istri.

berikut dosa dan hukuman buat istri yang tidak mau berkunjung ke mertuanya

kadang - kadang terdapat istri yg tidak demikian suka pada mertuanya seorang diri. perihal semacam ini berlangsung akibat sebagian aspek yang tidak sama. namun yang tentu, hal - hal ini pula bagaikan penghalang jalinan bersilahturahmi buat jalur baik. lalu, gimana hukumnya istri yang tidak mau berkunjung ke tempat tinggal mertuanya? dan apa hak mertua atas istri?

seorang istri wajib menaati suami dalam perkara - perkara yg tidak mempunyai isi maksiat pada allah. syariat sudah berikan dorongan yang kokoh pada istri buat menaati suami, dan juga memperingatkannya dari tidak mentaatinya dalam perkara - perkara yang dia mampu patuh padanya.

dalam al - musnad dan shahih ibnu hibban dipaparkan bahwa nabi saw bersabda, “jika seorang perempuan sudah kerjakan shalat 5 dikala, berpuasa sebulan, melindungi kehormatannya dan mentaati suaminya, jadi hendak disebutkan padanya, ‘masuklah kamu kedalam surga dari pintu - pintu surga mana aja yang kamu kehendaki’. ”

dalam al - musnad, shahih ibnu hibban dan al - mustadrak dipaparkan bahwa nabi bersabda, “seandainya aku dapat memerintahkan seseorang buat bersujud pada teman (terkecuali allah) , begitu aku hendak memerintahkan seorang istri buat bersujud pada suaminya. ”

dalam kitab ash - shahih diriwayatkan bahwa nabi saw bersabda, “maukah kamu aku kabarkan menimpa dosa yang terbanyak? ialah, menyekutukan allah dan juga mendurhakai ke - 2 orangtua. ” kemudian dia duduk sebelumnya sehabis bertumpu dan bersabda, “ketahuilah, pula pengucapan percuma. ” dia terus - terusan mengulanginya hingga kami bergumam, “sekiranya

diantara sempurnanya ketaatan istri pada suami merupakan hendaknya dia berbuat baik pada ke - 2 orangtua suami, berbakti pada keduanya, tidak berlaku kurang baik pada keduanya, dan juga bersabar pada apa yang muncuk dari keduanya. seluruhnya dikerjakan buat menggapai ridha suami biar dengan itu dia peroleh pahala dari allah.

apabila bunda kamu geram pada istri kamu karna sesuatu karena yang tiba dari istri kamu, jadi seyogyanya istri kamu mohon maaf darinya sebelumnya dia meninggal, biar dia meninggal dalam keadaan ridha pada istri kamu. namun, apabila bunda kamu sudah meninggal lagi istri kamu belum kerjakan perihal semacam itu jadi istri kamu wajib banyak mendoakannya biar mendapatkan ampunan.

demikian pula seorang anak wajib banyak mendoakan ke - 2 dan juga bapaknya -  ayah dan juga bundanyaibu dan juga bapaknya'>ibu dan juga bapaknya bapaknya'>ibu dan juga bapaknya dikala keduanya masihlah hidup maupun sehabis meninggal. allah berfirman, “dan rendahkanlah dirimu pada mereka berdua dengan penuh yang amat disayangi dan ucapkanlah, ‘wahai rabbku, kasihilah mereka serupa mereka berdua sudah mendidikku dikala kecil’, ” (qs. al - isra’ : 24).

menimpa tentang perihal semacam itu dikira bagaikan kedurhakaan seorang anak pada ibunya ataupun tidak, jadi jawabannya ialah apabila istri menyakiti ibunya sesaat dia tidak menghindarnya, melarangnya dan menghukum perbuatan istri itu jadi perihal semacam itu tercantum pula wujud kedurhakaan. sampai, dia mesti banyak beristighfar dan memperbanyak amal shaleh.

sesungguhnya allah mahamulia dan mahamenerima taubat lagi maha penyayang, apabila ia ketahui dari hamba - nya kejujuran taubatnya jadi ia hendak terima taubatnya.

allah berfirman, “katakanlah, ‘hai hamba - hamba - ku yang melampaui batasan pada diri mereka seorang diri, jangan hingga kamu berputus harapan dari rahmat allah. sesungguhnya allah mengampuni dosa - dosa seluruh. sesungguhnya dialah yang maha pengampun lagi maha penyayang’, ” (qs. az - zumar : 53).




(sumber: mediamasakini.com)

Selasa, 10 Mei 2016

Kisah Nyata & Renungan Buat Para Mertua, Sayangi Menantu Perempuanmu...

Wahai para mertua hormatilah menantu perempuanmu,karena kalian tak pernah mengandungnya, menyusuinya,apalagi menyekolahkannya, tetapi dia rela meninggalkan orang tuanya mengabdi sampai mati demi anak laki2mu, apalagi dia rela meregang nyawa untuk mengandung dan melahirkan cucu penerus keturunanmu...


Rumah mertua ....
Tidak mudah bagi seorang wanita utk "datang" sendirian ke sebuah keluarga baru..
kemudian harus menyesuaikan diri sedemikian rupa..
untuk dapat hidup bersama keluarga baru tersebut juga

Tidak mudah..
Yang sering terjadi adaLah konflik batin..

Tangis..
Ketidak cocokan di banyak haL,
Dan Tetap Bertahan demi Orang Yang Dicintainya Meskipun sebenarnya

Dia stress!!
Para Laki-Laki Kamu harus Tau..
Istrimu rela meninggalkan kedua orangtua yg sudah menyayanginya sejak kecil..
Rela meninggalkan rumahnya yg merupakan tempat ternyamannya sejak kecil..
Hanya demi menaati..mengikutimu dan membahagiakanmu wahai suami...

Ia Hanya berharap Kamu Lah Suami yang akan Menjadi Pengganti Orang Yang menyayanginya Dan Menjadi Tempat Ternyamannya Setelah meninggalkan Rumahnya..
Setengah Dari Suami Memahami HaL itu..
Setengahnya Lagi Tak Mau Tau Akan haL itu..

Maka.. hargai perasaan istrimu..sayangi istrimu.. jangan disakiti lagi dengan hal2 lain..
Sungguh.. kedua orangtuanya mengizinkan ia menikah denganmu..karena mereka berharap,engkau bisa membahagiakannya...
Karena, jika istri sudah bahagia,maka tidak sulit baginya utk selalu menaatimu...SUAMI....

Renungkanlah...



(sumber: siraman.com)

Jumat, 29 April 2016

INILAH DOSA JIKA ISTRI ENGGAN KUNJUNGI MERTUA

Ketika seorang wanita telah sah untuk bersanding dengan seorang laki-laki, maka statusnya berubah menjadi seorang istri. Dan kewajiban sebagai seorang istri ialah mentaati suaminya. Termasuk untuk tinggal dan mengikuti segala aturannya, segali itu masih berada dalam tuntunan syariat Islam. Bukan hanya berlaku baik terhadap suami, sang istri pun harus berperilaku baik pula pada keluarga suami, termasuk kedua orang tuanya, yang menjadi mertua bagi istri.


Terkadang ada istri yang tidak begitu menyukai mertuanya sendiri. Hal ini terjadi akibat beberapa faktor yang berbeda. Namun yang pasti, hal inilah yang menjadi penghambat hubungan silaturahmi untuk berjalan baik. Lalu, bagaimana hukumnya istri yang tidak mau mengunjungi rumah mertuanya? Dan apa hak mertua atas istri?


Seorang istri wajib menaati suami dalam perkara-perkara yang tidak mengandung maksiat kepada Allah. Syariat telah memberikan dorongan yang kuat kepada istri untuk menaati suami, serta memperingatkannya dari tidak mentaatinya dalam perkara-perkara yang ia bisa taat kepadanya.

Dalam Al-Musnad dan Shahih Ibnu Hibban disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Jika seorang wanita telah mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa satu bulan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, ‘Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu-pintu surga mana saja yang kamu kehendaki’.”

Dalam Al-Musnad, Shahih Ibnu Hibban dan Al-Mustadrak disebutkan bahwa Nabi bersabda, “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain (selain Allah), sungguh aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.”
Dalam kitab Ash-Shahih diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Maukah kalian aku kabarkan tentang dosa yang paling besar? Yaitu, menyekutukan Allah dan
mendurhakai kedua orang tua.” Kemudian beliau duduk setelah sebelumnya bersandar dan bersabda, “Ketahuilah, juga perkataan sia-sia.” Beliau terus menerus mengulanginya hingga kami

bergumam, “Sekiranya

Di antara sempurnanya ketaatan istri kepada suami ialah hendaknya ia berbuat baik kepada kedua orang tua suami, berbakti kepada keduanya, tidak berlaku buruk pada keduanya, serta bersabar terhadap apa yang muncuk dari keduanya. Semua itu dilakukan demi meraih ridha suami agar dengan itu ia memperoleh pahala dari Allah.

Jika ibu Anda marah pada istri Anda lantaran suau sebab yang datang dari istri Anda, maka seyogyanya istri Anda meminta maaf darinya sebelum ia meninggal, agar ia meninggal dalam keadaan ridha terhadap istri Anda. Namun, jika ibu Anda telah meninggal sedangkan istri Anda belum mengerjakan hal itu maka istri Anda wajib banyak mendoakannya agar mendapat ampunan.

Demikian pula seorang anak wajib banyak mendoakan kedua orangtuanya ketika keduanya masih hidup maupun sesudah meninggal. Allah berfirman, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil’,” (QS. Al-Isra’: 24).

Adapun mengenai hal itu dianggap sebagai kedurhakaan seorang anak kepada ibunya atau tidak, maka jawabannya adalah jika istri menyakiti ibunya sementara ia tidak mencegahnya, melarangnya dan menghukum perbuatan istri tersebut maka hal itu termasuk bentuk kedurhakaan. Sehingga, ia harus banyak beristighfar dan memperbanyak amal shaleh.

Sesungguhnya Allah Mahamulia dan Mahamenerima taubat lagi Maha Penyayang, Jika Dia mengetahui dari hamba-Nya kejujuran taubatnya maka Dia akan menerima taubatnya.
Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’,” (QS. Az-Zumar: 53).

 


(sumber: MATATASBIH.com)

Kamis, 21 April 2016

Hari Itu Sebuah Muhasabah Cinta Kuterima Dengan Lapang Dada

PERSOALAN antara menantu dan ibu mertua adalah persoalan umum. Hampir sebagian besar menantu perempuan ada jurang pemisah dengan ibu mertuanya (walau sebenarnya tak sedikit yang bisa mengambil hati dan bisa begitu dekat dengan sang ibu mertua).

Begitu pula denganku. Awalnya, mertua memang tak merestui pernikahan kami. Semua karena Mas Adri merupakan anak keempat dan tiga orang kakak perempuannya belum ada yang menikah. Beliau percaya kalau anak-anak perempuannya dilangkahi adiknya yang laki-laki, pasti akan jadi perawan tua, tak laku. Karenanya, aku dianggap menutup pintu jodoh dari kakak-kakaknya.

Dua tahun setelah pernikahan kami, kakak pertamanya menikah. Dua tahun berikutnya kakak keduanya pun menikah. Alhamdulillah, sedikit banyak, ini mengurangi beban perasaan yang kutanggung. Namun, tak ada perubahan sikap yang berarti dari ibu mertua kepadaku. Walaupun demikian, aku berusaha memberikan porsi perhatian yang lebih kepada beliau dan keluarga Mas Adri.

Suatu hari, Mas Adri pulang dengan tergesa-gesa dan segera hendak pergi lagi.

“Ke mana, Bi?” tanyaku.

“Nganter Ibu njemput Mbak Yanti ke Solo. Mbak Yanti pergi dari rumah, anaknya ditinggal sendiri,” jawabnya tergesa.

Kucium tangannya dengan kecamuk rasa dalam dada.

“Sabar Fatimah, Ibunya lebih berhak didahulukan daripada istrinya,” gumamku. Ada rasa perih yang menjalari hati. Agaknya, fase adaptasi ini bisa lebih panjang daripadaku perkiraanku.

“Ah, kamu jadi istri terlalu sabar. Ntar diinjek-injek sama keluarga suamimu baru tau rasa,” sebuah suara tiba-tiba menyeruak dari dalam hatiku.

“Inget gak? Dulu waktu kalian nikah, semua suruh cari dan usahakan sendiri kan. Terus, waktu kakak-kakaknya nikah, kalian disuruh cari biayanya. Terus… tiap kali ada sesuatu dengan keluarganya, suamimu pasti tergopoh-gopoh bersegera ke sana… bla… bla… bla…,” teriaknya lagi.

“Mas Adri memang gak tahu perasaan, coba kalau aku yang ada apa-apa… apa iya dia akan tergopoh-gopoh menolongku… hihhihhih…,” gumamku kesal.

Suara itu pun bersorak.

Malam itu Mas Adri tak pulang, kudekap keempat anakku dengan rasa nelangsa. Rasa kesal itu pun masih terbawa keesokan harinya.

“Istighfar Fatimah, istighfar, engkau ini penyeru kebaikan. Jangan biarkan kemarahan menguasai hatimu. Ingat, hari ini kau harus mengisi tausiyah tentang istri sholihah. Apa yang akan kaukatakan pada jamaah, bila kau tak bisa mengalahkan egomu sendiri,” kata hatiku.

Hatiku masih menggaungkan istighfar, sementara setan terus-menerus membisikkan hawa kebencian kepada keluarga suami. Duuuh, aku sungguh gamang.

Jam berputar cepat, kupersiapkan tiga anakku agar bisa ditinggal di rumah. Sulungku baru berusia enam tahun. Mengisi kajian dikelilingi empat anak kecil akan sangat merepotkan. Untung tempat kajian tak terlalu jauh dari rumah, jadi tak terlalu lama meninggalkan mereka sendirian.

Kupersiapkan segalanya dengan teliti. Aku pun melangkah pergi dengan si bungsu dalam gendongan. Tiba-tiba…

“Brukkk… auuu!” jeritku spontan. Rupanya aku salah mengambil langkah dan tak melihat selokan yang berada persis di depanku. Sebelah kakiku terperosok ke dalamnya, rasanya sakit sekali. Untuk beberapa lama aku hanya bisa duduk sambil menahan sakit yang luar biasa. Tak ada luka di sana, hanya saja kaki kananku langsung memerah dari ujung jari sampai pergelangan. Si bungsu kaget dan menangis dalam gendongan.

“Kami bantu bangun, Bu,” tawar para tetangga yang sudah mengelilingiku. Aku menggeleng menahan malu.

“Ndak usah, Pak, Bu. Saya masih kaget,” tolakku halus.

Perlahan aku mencoba berdiri, menahan rasa sakit yang semakin menjadi. Kakiku tetap sulit kubawa melangkah. Tertatih-tatih kuseret kakiku masuk kembali ke dalam rumah.

“Orang-orang pada ngapain di depan rumah, Mi? Umi jatuh to? Umi ndak jadi pergi?” sambut anak-anak dengan pertanyaan bertubi-tubi. Aku hanya mengangguk lemah.

“Bu, sudah ditunggu.”

Satu pesan masuk dalam handphoneku, dari panitia kajian. Kuketikkan pesan balasan.

“Afwan Ibu-ibu, dengan terpaksa saya tidak dapat mengisi kajian, kaki saya terkilir, tidak bisa berjalan.”

Hari itu kuhabiskan dengan keluhan. Air mataku semakin menderas oleh satu sentuhan kecil saja pada kaki kananku. Dan ada saja yang menyentuh kaki sakit ini. Sungguh, aku ingin marah tapi pada siapa? Hanya ada sulungku yang berumur enam tahun dan tiga adiknya. Bukan salah mereka.

“Umi ndak telpon Abi biar cepet pulang?” tanya Sulung.

“Abi sedang repot, Mas …” jawabku.

“La kalau ndak periksa kan ndak sembuh-sembuh, Mi,” katanya lagi.

Dia benar. Tapi aku hanya bisa diam. Entahlah, ada rasa enggan untuk memberitahukannya. Juga rasa kawatir kalau dia tak mengganggap penderitaanku sebagai sesuatu yang serius.

Malam pun mulai tiba, Mas Adri pulang. Beliau begitu kaget melihatku menyambutnya dengan berjalan tertatih dengan kursi plastik kujadikan pegangan untuk berjalan.

“Kenapa kakimu, Mi?” tanyanya.

Kuangkat kursi yang kujadikan pegangan dan memperlihatkan kaki kananku kepadanya. Tak sampai sehari tapi kakiku sudah berubah merah dan besar hampir dua kali lipatnya.

“Jatuh tadi, keperosok got,” kataku sambil meringis.

“Innalillah, aku panggil Bunda biar dipijit ya,” katanya sambil terus pergi tanpa menunggu jawabanku. Tak berapa lama dia sudah datang dengan Bundaku. Alhamdulillah.

Melihat keadaan kakiku, Bunda tidak berani memijit. Beliau bahkan menyarankan untuk segera ke rumah sakit saja. Malam itu juga Mas Adri cari mobil carteran untuk membawaku ke rumah sakit. Digendongnya aku dengan hati-hati sampai keluar gang karena mobil tak bisa melewati gang di depan rumah kami yang sempit. Kukalungkan kedua lengan melingkari lehernya sambil menahan sakit yang makin menjadi. Amboi, romantis nian, seandainya kakiku tak sedang sakit…, pikirku.

Waktu terasa begitu lama, menunggu pemeriksaan ditemani angin malam yang menusuk tulang kakiku. Alhamdulillah, tak ada yang patah, hanya tulang metatarsalku ada yang berpindah tempat.

Atas saran Bunda, aku dibawa ke Sangkalputung, salah satu pengobatan alternatif yang menangani terkilir dan patah tulang. Konon tak perlu operasi dan tak perlu berbulan-bulan pengobatan.

Malam itu juga Mas Adri membawaku ke Sangkalputung. Kami sampai di sana jam 00.30 dan menunggu pagi di dalam mobil. Kupandangi wajah lelahnya saat tertidur di jok di depanku. Perlahan kesadaranku kembali. Mas Adri suami yang baik, dia benar-benar menyayangiku.

Kutatap wajah lelah itu tanpa bosan. Perlahan air mataku menetes membasahi tangannya yang menggenggam jemariku.

“Umi nangis? Sakit sekali ya…, sabar ya… sebentar lagi buka,” katanya saat terbangun.

“Umi minta maaf ya…,” kataku pelan.

“Tidak, Abi yang minta maaf… terlalu sibuk dengan yang lain,” jawabnya.

“Tidak, Umi yang minta maaf… telah berprasangka kepada Abi,” kataku. Kuceritakan semua yang kurasakan sepeninggalnya kemarin.

“Allah sedang menegurku, Bi. Harusnya aku bangga karena suamiku anak yang berbakti kepada ibunya. Tapi aku cemburu kalau Abi terlalu perhatian pada keluarga besar Abi. Aku kesal, aku jengkel, Mbak Yanti kan sudah punya suami. Beri tanggung jawab dong suaminya, jangan Abi lagi, Abi lagi…,” curhatku padanya.

Laki-laki terkasih itu hanya tersenyum mengusap air mataku.

“Ehm, Umi cemburu ya…,” godanya.

“Mbak Yanti itu dulu pernah depresi berat. Wajar kan kalau Ibu begitu cemas saat mendengar dia pergi dari rumah tanpa pamit. Abi kan hanya ingin menenangkan hati Ibu. Sudah seharusnya seorang anak menyenangkan hati ibunya dan tak membantah perintahnya, selagi itu bukan maksiyat. Bukan begitu Mi?” katanya lagi.

Hari itu sebuah muhasabah cinta kuterima dengan lapang dada. Teguran halus dari Sang Maha Cinta. Bagaimanapun, ridho Ibu mertua adalah pintu surga suami kita dan ridho suami adalah pintu surga kita. Karenanya, kalau menginginkan surga, usahakanlah untuk mengejar ridho keduanya.

Oleh : Titien SDF, titienfatmasari@gmail.com

#Demak, 21032015



(Sumber: muslimbijak.com)

Senin, 11 April 2016

Lakukan 8 Cara ini Agar Mertua Makin Sayang, Cara Nomor 6 Paling Ampuh

Ketika seorang  wanita menikah, maka tanggung jawab orang tuanya sudah terlepas, karena kini tanggung jawab itu beralih pada sang suami, dan kewajiban sebagai istri adalah memenuhi hak-hak suami, demikian juga suami terhadap istri. Namun, ada yang perlu diketahui bahwa wanita menikah bukan pada suami saja, melainkan juga pada semua keluarga besar dan juga kedua orang tuanya.


Perlu dipahami, sekarang Anda menjadi istri dari anak mertua Anda, yang selama ini telah membesarkannya dan berharap suatu hari nanti si anak akan menyayangi dan menjaganya sampai akhir hayat. Karena Anda sebagai istri, Anda juga harus berlaku baik kepada mertua Anda bersikap kepada orang tua Anda sendiri. Berikut ini adalah cara agar Anda bisa disayang mertua:

1. Sopan dan Santun
Seperti halnya pada orang tua. Anda, berlaku sopan dan sopan adalah hal utama saat berada dihadapan mertua. Jangan memperlihatkan muka cemberut atau ketus meski suasana hati Anda sedang buruk. Jika kebetulan mertua Anda mengeluarkan sindiran atau celaan yang membuat Anda tersinggung, lebih baik tanggapi dengan kepala dingin. Kalaupun ada yang tidak berkenan di hati, sampaikan saja semuanya dengan kepala dingin tanpa menanggapinya terlalu serius. Anggap saja itu bentuk perhatian darinya yang mungkin disampaikan dengan cara yang kurang tepat.

2. Berikan Perhatian
Berikan perhatian kepada mertua sesibuk apapun Anda. Untuk itu, Anda bisa memulainya dari hal-hal kecil yang tidak terlalu sulit. Misalnya, disela-sela kesibukan bekerja, tak ada salahnya jika Anda menelepon sekadar mengetahui kabar mertua. Atau, jika punya sedikit waktu sesudah pulang dari kantor, ajaklah suami Anda berkunjung sebentar kerumah orang tuanya. Ini
tentu amat berarti untuk mereka.
3. Belajar sabar menghadapi kebiasaan mertua
Ini sangat diperlukan terutama bagi Anda yang kebetulan mempunyai mertua yang sedikit cerewet dan gemar berkomentar tentang banyak hal. Jangan pernah terpancing menanggapi komentar pedasnya. Sabar dan mencoba tersenyum ialah cara paling ampuh agar ia menyayangi dan menghormati Anda.

4. Perlihatkan bahwa Anda pandai mengurus anaknya
Bagi seorang ibu, anaknya tetaplah menjadi “Bayi kecil” yang perlu diurus dengan baik. Jadi, jangan heran jika ia tidak bisa sepenuhnya memercayakan sang anak kepada Anda, menantu perempuannya, diawal pernikahan nanti. Karena itu, perlihatkan bahwa Anda mampu menggantikan peran ibu untuk mengurus anaknya. Untuk mempermudah jangan pernah malu bertanya kepada mertua tentang hal-hal yang disukai dan tidak disukai pasangan Anda.

5. Tunjukan minat saat mengobrol dengan mertua
Salah satu langkah penting untuk mendapatkan hati mertua ialah dengan menaruh perhatian dan minat saat mengobrol bersamanya. Ketika Anda terlihat memerhatikan dengan saksama dan membalas obrolan mertua, maka dia akan merasa Anda menantu yang peduli terhadapnya.

6. Bawakan Hadiah
Hadiah atau kejutan manis tentunya membahagiakan mertua Anda. Anda dapat membawakan oleh-oleh, makanan, aksesori, atau buku dari penulis favoritnya.

7. Perlihatkan rasa peduli
Menunjukkan kepedulian terhadap mertua ialah salah satu bukti bahwa Anda adalah menantu yang berbakti. Ingatlah bahwa mertua juga orang tua Anda. Kesehatan dan kebahagian hidup mereka merupakanhal penting yang harus diperhatikan.

8. Ajak bicara tentang masa mudahnya
Salah satu cara membuat mertua senang adalah bernostalgia atau meminta mereka untuk bercerita tentang kisah masih mudahnya. Anda juga bisa menanyakan masa kecil pasangan Anda, yang dapat membuat mereka merasa bersemangat dan bahagia kembali.


[sumber: reportaseterkini_net]