Tampilkan postingan dengan label kakek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kakek. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Mei 2016

Subhanallah, Ingin Naik Haji Kakek 83 Tahun Ini Rela Berjualan Tasbih Sambil Berjalan Kaki

Kakek penjual tasbih dan minyak harum (parfum) ini bernama Sarwani (83). Setiap hari, ia berjalan menjajakan tasbih dan minyak harum dengan berjalan kaki. Biasa terlihat di sekitaran Kayutangi, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tak mahal, ia hanya menawarkan tasbihnya Rp 5.000.

Di usia senjanya, pensiunan guru ini tak minta dikasihani. Bila ada yang memberi uang, ia tolak. Sarwani hanya menawarkan barang yang dibawanya untuk dijual.

Minyak harum dan tasbih. Untuk apa? Untuk naik haji. Setiap hari Sarwani berjalan kaki hingga tiga wilayah, Kayutangi, HKSN, hingga Pasar Alalak. Informasi mengenai Sarwani tersebar di dunia maya. Seiring dengan kepedulian warga Kalsel pada pedagang tua.

Memilih untuk tidak mengemis, mencari penghasilan dengan berjualan. Kisahnya ini juga diposting akun @instakalsel di akun instagram. Akun ini mengajak agar warga Kalsel bisa peduli dengan membeli barang dagangan Kakek Sarwani. Demi mewujudkan cita-citanya untuk bisa naik haji. Ini postingan @instakalsel di akun instagramnya dalam bahasa Banjar.



(Sumber: yangunik.com)

Selasa, 19 April 2016

Di Usianya yang Ke-70 Tahun Kakek ini Hafal 30 Juz Quran

 “Usia seperti saya sudah sulit menghafal, berbeda dengan masa kuliah dulu,” mungkin kalimat ini pernah kita dengar. Atau bahkan kalimat ini adalah alasan kita saat dimotivasi untuk menghafal Al Quran.


Seorang kakek asal Jeddah sepatutnya membuat kita malu. Ya, kita sebut kakek karena usianya sudah 70 tahun.

Ia mulai menghafal Al Qur’an pada usia kepala enam. Usia yang jauh lebih tua dibandingkan kita yang kadang mengeluh dengan alasan di atas. Usia yang bagi sebagian orang sudah dilanda kepikunan. Usia yang bagi sebagian orang sudah bergulat dengan berkurangnya daya penglihatan. Usia yang bagi sebagian orang sudah mulai tak sempurna daya ucapnya.

Abdullah Muhammad Musa, namanya. Bukannya ia tak mengalami kesulitan saat menghafal Al Qur’an.

“Tentu saja aku mendapatkan kesulitan,” tuturnya seperti dikutip buku Negeri-Negeri Penghafal Quran,
“terutama dalam masalah makharijul huruf dan
tajwid.”

Namun kendala ini tidak mematahkan semangat Abdullah. Kepada Syaikh Abdullah Husain, Abdullah mulai menghafalkan Al Qur’an. Di bawah bimbingan hafiz berijazah di Masjid Raya Abdul Aziz itu, ia berhasil menghafal 10 juz Al Quran. Kendati usianya sudah tua, Abdullah bersemangat belajar menghafal Al Quran di masjid tersebut selama beberapa tahun. Bandingkan dengan kita yang masih muda namun malas ke masjid. Ke masjid hanya untuk shalat berjamaah, itu pun belum tentu lengkap lima waktu.

Berhasil menghafal 10 juz di Masjid Raya Abdul Aziz, Abdullah kemudian berpindah ke Masjid Shalah Karamah. Di Masjid ini, Abdullah hanya butuh waktu dua setengah tahun untuk dapat menyelesaikan hafalannya. Jadilah ia hafal 30 juz Al Quran di usianya yang ke-70.

Masya Allah... sungguh Allah telah memberinya anugerah setelah kesungguhannya bermujahadah. Meskipun awalnya ia memiliki kendala makharijul huruf dan tajwid, Allah memudahkannya menghafal keseluruhan firman-Nya dalam Al Qur’an. Bahkan yang ajaib, ia bisa menghafal 20 juz dalam dua setengah tahun.

Kita –khususnya saya- pantas malu jika tak memiliki semangat menghafal Al Quran. Usia masih muda, tak ada kendala mengeja dan melafalkan ayat-ayat Al Quran, namun masih juga banyak alasan. Astaghfirullah...

 
(Sumber : Tarbiyah.net)

Kamis, 07 April 2016

Masya Allah! Hafal Quran di Usia 70 Tahun, Tidakkah Kita Malu dengan Kakek Ini

“Usia seperti saya sudah sulit menghafal, berbeda dengan masa kuliah dulu,” mungkin kalimat ini pernah kita dengar. Atau bahkan kalimat ini adalah alasan kita saat dimotivasi untuk menghafal Al Quran.

Seorang kakek asal Jeddah sepatutnya membuat kita malu. Ya, kita sebut kakek karena usianya sudah 70 tahun.

Ia mulai menghafal Al Qur’an pada usia kepala enam. Usia yang jauh lebih tua dibandingkan kita yang kadang mengeluh dengan alasan di atas. Usia yang bagi sebagian orang sudah dilanda kepikunan. Usia yang bagi sebagian orang sudah bergulat dengan berkurangnya daya penglihatan. Usia yang bagi sebagian orang sudah mulai tak sempurna daya ucapnya.

Abdullah Muhammad Musa, namanya. Bukannya ia tak mengalami kesulitan saat menghafal Al Qur’an.

“Tentu saja aku mendapatkan kesulitan,” tuturnya seperti dikutip buku Negeri-Negeri Penghafal Quran, “terutama dalam masalah makharijul huruf dan tajwid.”

Namun kendala ini tidak mematahkan semangat Abdullah. Kepada Syaikh Abdullah Husain, Abdullah mulai menghafalkan Al Qur’an. Di bawah bimbingan hafiz berijazah di Masjid Raya Abdul Aziz itu, ia berhasil menghafal 10 juz Al Quran. Kendati usianya sudah tua, Abdullah bersemangat belajar menghafal Al Quran di masjid tersebut selama beberapa tahun. Bandingkan dengan kita yang masih muda namun malas ke masjid. Ke masjid hanya untuk shalat berjamaah, itu pun belum tentu lengkap lima waktu.

Berhasil menghafal 10 juz di Masjid Raya Abdul Aziz, Abdullah kemudian berpindah ke Masjid Shalah Karamah. Di Masjid ini, Abdullah hanya butuh waktu dua setengah tahun untuk dapat menyelesaikan hafalannya. Jadilah ia hafal 30 juz Al Quran di usianya yang ke-70.

Masya Allah... sungguh Allah telah memberinya anugerah setelah kesungguhannya bermujahadah. Meskipun awalnya ia memiliki kendala makharijul huruf dan tajwid, Allah memudahkannya menghafal keseluruhan firman-Nya dalam Al Qur’an. Bahkan yang ajaib, ia bisa menghafal 20 juz dalam dua setengah tahun.

Kita –khususnya saya- pantas malu jika tak memiliki semangat menghafal Al Quran. Usia masih muda, tak ada kendala mengeja dan melafalkan ayat-ayat Al Quran, namun masih juga banyak alasan. Astaghfirullah... 


[Muchlisin BK/Tarbiyah.net]