Tampilkan postingan dengan label salah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label salah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juli 2016

Ternyata Kita Selama Ini Salah!! Inilah Kesalahan Saat Ucapkan Selamat Idul Fitri - Bantu SHARE!!

perkataan tersebut berbunyi minal aidin wal faizin. arti kalimat ini seolah - olah permohonan maaf lahir dan juga batin kepada siapa aja ditemui. rentetan kata ini begitu sering di dengar dan juga terkenal di golongan warga.

tetapi, tidak terdapat yang tentu tentang kebenaran kalimat ini. terlebih lagi di negara arab seorang diri, tidak terdapat yang mengucapkannya. rasulullah saw pula tidak sempat mengucapkannya kala idul fitri. lalu gimana perkataan yang benarnya?

momentum hari raya idul fitri dikira jadi waktu yang amat pas buat silih bermaaf - maafan kepada keluarga, orang sebelah dan juga saudara yang lain. lazimnya pada hari tersebut, yang muda hendak mendatangi yang tua, buat meminta maaf dan juga memaafkan.

dalam bermaaf - maafan tersebut lazimnya orang kerap mengucapkan minal aidin wal faizin,
mohon maaf lahir dan juga batin. bila dimaksud ke dalam bahasa indonesia, hingga kalimat ini mempunyai makna “termasuk orang yang berulang (memperingati hari raya ied) dan juga orang - orang yang menang. ”.

untuk warga indonesia, kalimat ini sudah begitu menempel. amati aja gimana tv, iklan di media, ataupun perkataan dari pejabat di tv yang mengucapkan kalimat itu. nyatanya nabi muhammad saw malah tidak sempat mengucapkan kalimat ini kala idul fitri.

tetapi bukan berarti nabi tidak sempat mengucapkannya pada hari lain. dia mengucapkan kalimat tersebut cuma pada dikala menyongsong bala tentara yang kembali dari medan perang yang sebetulnya. semisal perang badar, thabut dan juga perang yang lain.

jubair bin nufair: “para teman nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berjumpa pada hari raya, hingga mengatakan sebagian mereka kepada yang yang lain : taqabbalallahu minnaa wa minka (mudah - mudahan allah menerima dari kami dan juga darimu) ”. angkatan laut (AL) hafidh ibnu hajar dalam fathul bari [2/446] dalam angkatan laut (AL) mahamiliyat dengan isnad yang hasan

muhammad bin ziyad mengatakan: “aku sempat berbarengan abu umamah angkatan laut (AL) bahili dan juga selebihnya dari golongan teman nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. mereka apabila berulang dari shalat ied mengatakan sebagiannya kepada sebagian yang lain : taqabbalallahu minnaa wa minka” (ibnu qudamah dalam “al - mughni” (2/259)
sedangkan itu, imam ahmad melaporkan kalau ini merupakan “isnad hadits abu umamah yang jayyid/bagus.

dia meningkatkan : “aku tidak sempat mengawali mengucapkan selamat kepada seorangpun, tetapi apabila terdapat orang yang mendahuluiku mengucapkannya hingga saya menjawabnya. yang demikian itu karna menanggapi perkataan selamat tidaklah sunnah yang diperintahkan dan juga tidak pula dilarang. barangsiapa mengerjakannya hingga menurutnya terdapat contoh dan juga siapa yang meninggalkannya menurutnya pula terdapat contoh, wallahu a’lam. ” [al jauharun naqi 3/320. suyuthi dalam al - hawi: (1/81) : isnadnya hasan]

tetapi, tentu hendak amat susah mengganti kerutinan yang sudah turun temurun ini. bila cuma buat mendoakan, kalimat minal aidin wal faizin sah - sah aja. tetapi, bila bertujuan menjajaki apa yang sudah dianjurkan nabi, hingga kalimat ini terkategori bid’ah. karna sejatinya, nabi tidak sempat mengarahkan demikian. wallahu a’lam bish - shawab.





(source: tausiah-pedia.blogspot.com)

Jumat, 27 Mei 2016

4 Cara Berjilbab Yang Malah Bikin Dosa, Hati Hati Ya Kaum Hawa, SEBARKAN JIKA ANDA PEDULI!

 baru - baru ini hijab telah jadi trend warga indonesia spesialnya kalangan hawa.

dari mereka terdapat yang rela keluarkan isi dompet buat memperdalam ilmu membuat cantik diri dengan hijab. tetapi, apakah mereka ketahui aturan - aturan berjilbab yang sebetulnya? karna, tidak seluruh pemakai hijab telah betul - betul menutup aurot sampai - sampai bebas dari dosa.

terdapat sebagian style berjilbab yang malah menaikkan koleksi dosa untuk pemakai hijab tersebut.

1. hijab dengan olahan tipis terlebih lagi transparan


mengenakan hijab dengan olahan yang tipis benar nampak modis. dan juga olahan ini amat sesuai untuk para muslimah yang berposisi di wilayah yang panas. sampai - sampai kerasa panas tidak begitu menewaskan mereka. tetapi, hijab dengan olahan inilah yang malah membikin dosa.

rosulullah saw menyebut perihal serupa ini dengan istilah " berpakaian tetapi tellaanjangg ".

2. hijab ketat

muslimah diharuskan mengenakan hijab bertujuan supaya menutupi kulit dan lekuk badan yang menggoda para kalangan adam. tetapi, baru - baru ini para muslimah seakan - akan mengacuhkan syarat berjilbab tersebut. mereka benar berjilbab setimpal perintah, namun lekuk - lekuk badan mereka masih aja nampak.

terlebih lagi sebagian dari muslimah tersebut berjilbab cuma buat menonjolkan lekuk badan mereka. perihal serupa inilah yang menaikkan isi dompet dosa mereka.




3. hijab yang mirip baju lelaki

celana jeans dan juga kaos lengan panjang merupakan identik baju pria. pakaian - pakaian tersebut tidak tidak sering pula digunakan oleh para muslimah. meski mereka mengenakan kerudung, tetapi kerudungnya tidak menjuntai sampai dada. terlebih lagi dipadu dengan kaos lengan panjang dan celana jeans. serupa seseorang pria yang mengenakan kerudung.

style serupa ini tidak boleh dirpaktekkan oleh para muslimah. karna style serupa ini merupakan dosa untuk para muslimah. serupa yang tertera dalam al - quran tulisan an nuur ayat 31.



4. hijab yang menyamai perempuan kafir

jaman benar sudah tumbuh, begitu pula dengan model - model berbusana. tetapi, peraturan tidak lah berbeda sedikitpun. begitu halnya peraturan berlilbab. para muslimah sebaiknya betul - betul mengenali gimana tata trik berjilbab yang benar. karna, perihal yang amat membikin dosa merupakan salah penafsiran tentang berjilbab.

bagaikan contoh apabila mereka berjilbab namun membikin serupa perempuan kafir. serupa berkerudung tetapi pa.. . cuma masih jelas nampak, berjilbab tetapi da.. da senantiasa dipamerkan. dengan demikian, berjilbab malah membikin mereka terus menjadi berdosa aja. jadi, pelajarilah peraturan - peraturannya terlebih dulu saat sebelum berperan.



[sumber: halounik. blogspot. com]

Minggu, 08 Mei 2016

Shalatlah yang Khusyuk dan Hindarilah Tanda Hitam di Jidat Sebab Itu Tanda Riya

Perbanyaklah sujud namun jagalah wajahmu supaya tetap tampak bagus dan hindari munculnya tanda hitam di dahi atau jidatmu karena dikhawatirkan timbul riya’, ujub (bangga diri) dan kesombongan…..
Apabila cara sujud benar, maka tidak akan memburukkan wajah melainkan sebaliknya, menjadi bercahaya dan berseri-seri. Adapun jika jidat menjadi ‘kapalan’ maka artinya harus memperbaiki gerakan shalat. Sebab yang menjadi penopang utama adalah kedua tangan, saat sujud, bukan kepala.

Abdullah bin Umar bin Khattab RA. salah seorang shahabat terkemuka tidak menyukai adanya bekas hitam di dahi seorang muslim.

عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَالَ : مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ : أَنَا حَاضِنُكَ فُلاَنٌ. وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟

Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut. Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ رَأَى أَثَرًا فَقَالَ : يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ صُورَتَكَ.

Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!”(Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).


عَنْ أَبِى عَوْنٍ قَالَ : رَأَى أَبُو الدَّرْدَاءِ امْرَأَةً بِوَجْهِهَا أَثَرٌ مِثْلُ ثَفِنَةِ الْعَنْزِ ، فَقَالَ : لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا بِوَجْهِكِ كَانَ خَيْرًا لَكِ.

Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapal’ semisal ‘kapal’ yang ada pada seekor kambing. Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700).


Perbanyaklah sujud namun jagalah wajahmu supaya tetap tampak bagus dan hindari munculnya tanda hitam di dahi atau jidatmu karena dikhawatirkan timbul riya’, ujub (bangga diri) dan kesombongan…..
Apabila cara sujud benar, maka tidak akan memburukkan wajah melainkan sebaliknya, menjadi bercahaya dan berseri-seri. Adapun jika jidat menjadi ‘kapalan’ maka artinya harus memperbaiki gerakan shalat. Sebab yang menjadi penopang utama adalah kedua tangan, saat sujud, bukan kepala.

Abdullah bin Umar bin Khattab RA. salah seorang shahabat terkemuka tidak menyukai adanya bekas hitam di dahi seorang muslim.

عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَالَ : مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ : أَنَا حَاضِنُكَ فُلاَنٌ. وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟

Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut. Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ رَأَى أَثَرًا فَقَالَ : يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ صُورَتَكَ.

Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!”(Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).

عَنْ أَبِى عَوْنٍ قَالَ : رَأَى أَبُو الدَّرْدَاءِ امْرَأَةً بِوَجْهِهَا أَثَرٌ مِثْلُ ثَفِنَةِ الْعَنْزِ ، فَقَالَ : لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا بِوَجْهِكِ كَانَ خَيْرًا لَكِ.

Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapal’ semisal ‘kapal’ yang ada pada seekor kambing. Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700).


عَنْ حُمَيْدٍ هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ إِذْ جَاءَهُ الزُّبَيْرُ بْنُ سُهَيْلِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَالَ : قَدْ أَفْسَدَ وَجْهَهُ ، وَاللَّهِ مَا هِىَ سِيمَاءُ ، وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ عَلَى وَجْهِى مُذْ كَذَا وَكَذَا ، مَا أَثَّرَ السُّجُودُ فِى وَجْهِى شَيْئًا.

Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701).


عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ (سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ) أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِى وَجْهِ الإِنْسَانِ؟ فَقَالَ : لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.

Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari ATSARIS SUJUUD (bekas sujud)’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah? Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapalen’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapalen’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).

Bahkan dalam kitab Hasiyah as-Showi,

وليس المراد به ما بصنعه بعض الجهلة المرائين من العلامة في الجبهة فانه من فعل الخوارج وفي الحديث اني لابغض الرجل واكرهه اذا رايت بين عينيه اثر السجود

“Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan TUKANG RIYA’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij (baca: ahli bid’ah)” dalam sebuah hadits disebutkan sungguh saya benci seseorang yang saya lihat diantara kedua matanya terdapat bekas sujud (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr).



(sumber: bacapos.net)

Selasa, 19 April 2016

Inilah 10 Kesalahan Saat Berwudhu Yang Sering Terjadi Tanpa Kita Sadari

SEBAGAI seorang Muslim, tentu kita melaksanakan wudhu setiap hari. Kewajiban shalat lima waktu, menjadikan wudhu juga wajib ketika akan melakukan shalat. Nah, berikut ini adalah 10 kesalahan umum saat berwudhu, dimana mungkin diantara kita tidak menyadarinya.

1. Tidak membaca Bismillah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sempurna wudhu’ sesorang yang tidak membaca basmallah.” (HR. Ahmad)

2. Tidak sempurna membasuh anggota wudhu

Tidak sempurna dalam membasuh anggota wudhu dan mengakibatkan ada sebagian anggota wudhu yang tidak terbasuh oleh air. Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam kitab Shahihnya.

Dari Muhammad bin Ziyad, dia berkata:’Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu -saat itu beliau melewati kami, dan orang-orang sedang berwudhu: ”Sempurnakanlah wudhu kalian, sesungguhnya Abul Qosim (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

”Celakalah tumit-tumit (yang tidak terbasuh air ketika berwudhu) dari api neraka.”

Dan dari Khalid bin Mi’dan dari sebagian istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

”Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki yang shalat sedangkan di punggung kakinya terdapat bagian mengkilap karena tidak terbasuh oleh air wudhu seukuran uang dirham (uang logam), maka Nabi menyuruhnya untuk mengulang wudhunya.” (HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud menambahkan: dan (mengulang) shalat”)

Al-Atsram berkata: “Aku bertanya kepada imam Ahmad: ’hadits ini sandanya jayyid (bagus)?’ Beliau menjawab: ’jayyid.’

Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata tentang hadits ini: ”Hadits ini menunjukkan wajibnya mengulang wudhu dari awal, bagi orang yang yang meninggalkan membasuh anggota wudhunya sekalipun sekecil apa yang disebutkan dalam hadits.”

“Barangsiapa yang menyempurnakan wudhu sebagaimana yang Allah perintahkan, maka shalat-shalat wajib (yang lima) adalah penghapus dosa (yang terjadi) di antaranya”

3. Membasuh anggota wudhu lebih dari 3x

Ini adalah was-was dari setan, karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- tidak pernah menambah cucian dalam wudhu lebih dari tiga kali, sebagaimana yang tsabit dalam Shohih Al-Bukhary bahwa (Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- berwudhu tiga kali-tiga kali).

Maka yang wajib atas seorang muslim adalah membuang semua was-was dan keragu-raguan (yang muncul) setelah selesainya wudhu dan jangan dia menambah lebih dari tiga kali cucian untuk menolak was-was yang merupakan salah satu dari tipuan setan.

4. Boros dalam penggunaan air

Ini adalah terlarang berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-An’am: 141 dan Al-A’raf: 31)

Rasulullah pun bersabda tentang hal ini:

“Janganlah kalian boros dalam (penggunaan) air”, maka beliau (Sa’ad) berkata, “Apakah dalam (masalah) air ada pemborosan?”, beliau bersabda, “Iya, walaupun kamu berada di sungai yang banyak airnya”. Riwayat Ahmad.

5. Menyebut nama Allah di dalam WC atau masuk ke dalamnya dengan membawa sesuatu yang di dalamnya terdapat dzikir kepada Allah
Ini adalah hal yang makruh maka sepantasnya bagi seorang muslim untuk menjauhinya. Dari Ibnu ‘Umar -radhiallahu ‘anhuma- beliau berkata:

“Ada seorang lelaki yang berlalu sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang kencing. Maka orang itu pun mengucapkan salam tapi Nabi tidak membalas salamnya”. (Riwayat Muslim). Hal ini karena menjawab salam adalah termasuk dzikir.

6. Beristinja (mencuci dubur) setelah buang angin (kentut)

TIDAK ada istinja ketika buang angin (kentut), istinja hanya pada buang air kecil dan buang air besar, maka tidak disyari’atkan bagi orang yang kentut untuk beristinja sebelum berwudhu sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang, karena dalil-dalil syari’at tidak ada yang menjelaskan akan istinja` dari kentut, yang ada hanyalah penjelasan bahwa kentut adalah hadats yang mengharuskan wudhu, dan segala puji hanya milik Allah atas kemudahan dari-Nya.

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Tidak terdapat dalam Al-Kitab, tidak pula dalam sunnah Rasul-Nya adanya istinja dalam kentut, yang ada hanyalah wudhu”.

(Al-Minzhar fi Bayan Al-Akhtha` Asy-Syai’ah karya Asy-Syaikh Saleh bin Abdil Aziz Alu Asy-Syaikh)

7. Tertidur kemudian tidak mengulang wudhu

Sebagian orang tertidur di masjid, kemudian apabila iqamat dikumandangkan dibangunkan oleh orang di sebelahnya lalu langsung bangkit shalat tanpa berwudhu lagi. Orang yang seperti ini wajib baginya untuk berwudhu, karena dia lelap dalam tidurnya. Adapun kalau dia sekedar mengantuk dan tidur ringan sehingga masih mengetahui siapa yang ada di sekitarnya, maka tidak wajib baginya untuk berwudhu lagi.

8. Meninggalkan Istinsyaq dan Istintsar

Istinsyaq adalah menghirup air lewat hidung sampai ke pangkal hidung, dan Istintsar adalah mengeluarkannya (air yang dihirup tadi) dari hidung. Sebagian kaum muslimin ketika bewudhu hanya memasukan jarinya yang basah ke dalam hidung. Dalil tentang Istinsyaq dan istintsar adalah hadits yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari:

Dari Humran, (beliau menyifati wudhu Utsman radhiyallahu ‘anhu). Kemudian ia memasukkan tangan kanannya di bejana, lalu ia berkumur, menghirup air ke hidung [dan mengeluarkannya, l/49].

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Barangsiapa berwudhu, hendaklah ia menghirup air ke hidung (dan mengembuskannya kembali); dan barangsiapa yang melakukan istijmar (bersuci dari buang air besar dengan batu), hendaklah melakukannya dengan ganjil (tidak genap).”

9. Menganggap mengusap leher dianjurkan

Padahal sebenarnya tidak demikian, ia tidak dianjurkan dan tidak termasuk ibadah wudhu.

10. Doa pada saat membasuh anggota wudhu

Imam an-Nawawi berkata, “Doa-doa ini –yakni doa-doa pada saat membasuh anggota wudhu- tidak memiliki dasar.”

Dalam fatwa Lajnah Daimah no. 2588 dikatakan, “Tidak ada doa dari Nabi saw pada saat membasuh dan mengusap anggota wudhu dan doa yang disebutkan dalam hal ini adalah bikinan orang tidak berdasar, yang dikatahui secara syar’i adalah basmalah di awal wudhu, mengucap dua kalimat syahadat di akhir wudhu ditambah dengan: “Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci.”

Semoga Allah memperkenankan segala upaya kita dalam menyempurnakan ibadah dan menerima segala amalan yang kita lakukan semata-mata hanya untuk mengharap keridhoanNya.


(Sumber: silahkanshare-ya.blogspot.co.id)